Pasang Selamanya - Riung Awan - Menunggu Gadis Cantik - Ladang Puisi - Menanam Puisi - Teman Sejati | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pasang Selamanya - Riung Awan - Menunggu Gadis Cantik - Ladang Puisi - Menanam Puisi - Teman Sejati Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:45 Rating: 4,5

Pasang Selamanya - Riung Awan - Menunggu Gadis Cantik - Ladang Puisi - Menanam Puisi - Teman Sejati

Pasang Selamanya

Air laut boleh pasang
boleh surut. Tapi tidak
dengan cinta kita.
Seperti ikrar cinta yang
kita pahat di dinding
karang:
sekali pasang surut pantang.

The sunrise of Java, 2015

Riung Awan

Awan berarak.
Dari segala penjuru.
Meriun menjadi satu.
Pecah di atas kepala.
Mengucurkan air mata.

The sunrise of Java, 2015

Menunggu Gadis Cantik

Demi Subuh, kurela wajah,
tangan, dan kaki ini beku
disaput air wudu.

Di hampar sajadah
dingin pecah. Leleh dari
tubuh sekujur.

Gigil terusir
dari surau kecil.

Subuh luruh. Kaki-kaki kembali menderu
memanjat punggung Bromo.
Kaki-kaki meringis memanggul tubuh
tubuh berbalut beribu warna, beribu selera,
beribu bahasa.

Lamat-lamat mega melabur kaki
cakrawala. Kabut mulai
berguguran. Di ufuk timur senyum gadis cantik
pecah. Merekah. Buncah dalam dada.

Ceklak-ceklik kamera berderik.
Berlomba melukis senyum teranggun
di sudut bibir gadis bernama 
Bromo.

The sunrise of Java, 2015

Ladang Puisi

Seperti tanaman, puisi bisa tumbuh
di tmpat sembarang. Di sembarang
waktu.
--Kapan pun. Di mana pun--

Di ladang gersang, puisi tumbuh
menjadi peneduh. Teteduhan
yang bertumbuh-tumbuh

Di lahan teduh, puisi
adalah penumbuh.

The sunrise of Java, 2015

Menanam Puisi

KUncup mulai bersemi
merimbun di kepala puisi
yang kutanam dalam hati.

Aku mulai membayangkan
puisiku menjadi pohon raksasa, kelak.
Dahan ia punya menyulur
ke mana-mana. Merambati tembok
penjuru dunia.

Pada dahan tumbuh ranting.
Pada ranting tumbuh daun.
Pada daun terlukis puisi.

The Sunrise of Java, 2015

Teman Sejati

Adakah teman paling setia
selain pagi. Pagi yang setia. Datang tanpa 
menunggu datang udangan. Datang pagi 
lebih dini dari matahari.

Tak peduli marah kita
sedang pecah. Tak peduli riang
semburat di wajah.
Ia tetap menziarahi kita. Menjumputi sisa
sisa malas. Yang semayam
semalam di badan.

The sunrise of Java, 2015


Samsudin Salawi, lahir 7 April di Banyuwangi, ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB). Menulis buku "Rahasia Doa Sapu Jagad" (2006) dan "Kampanye Dunia Akhirat" (2009). Buku puisinya antara lain Jaran Goyang (2009) dan Haiku Sunrise of Java (2011).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Samsudin Salawi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" Minggu 21 Februari 2016

0 Response to " Pasang Selamanya - Riung Awan - Menunggu Gadis Cantik - Ladang Puisi - Menanam Puisi - Teman Sejati"