Pembaca Tanda | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pembaca Tanda Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:35 Rating: 4,5

Pembaca Tanda

SALAH satu cara untuk mengenang masa lalu adalah duduk di dalam bus yang sedang melaju. Sambil menikmati kemolekan alam di luar bus, perlahan tanpa disadari, masa lalu akan berkeliaran di benak.

Cara itulah yang kini digunakan Damhuri. Bukan sekali ini saja ia pergi sendirian menggunakan bus. Jika ia merasakan pikirannya sedang penat, jenuh di rumah, atau ingin mengenang kembali masa-masa yang telah ia lalui, maka ia akan memberi tahu istrinya, ingin pergi keluar kota. Ia tak perlu khawatir istrinya tak akan memberi izin. Pasti istrinya memberi izin. Mereka sudah sama-sama berumur, tak ada alasan istrinya mencemburuinya. Anak-anaknya juga sudah besar.

”Berapa hari ke luar kota?” tanya istrinya sebelum Damhuri berangkat.

”Mungkin tiga hari.”

Satu jam setelah bus meninggalkan terminal, pemandangan di luar bus terhampar persawahan, pohon-pohon berdiri berderet di kanan-kiri bus. Damhuri menikmati pemandangan itu. Percikan-percikan masa lalu mulai muncul di otaknya. Berloncatan. Pada pemandangan kumpulan rumah di tengah rimbunan pohon jati, Damhuri teringat pada kampung halamannya. Masa kecil ia lalui dengan kesusahan. Kampung yang dikelilingi bukit-bukit kering. Jika musim kemarau air sulit didapat. Dan yang lebih membuat Damhuri kecil sedih adalah ayahnya tewas dibunuh tentara. Ia baru berumur 10 tahun ketika 1 pasukan tentara menangkap ayahnya.

”Mana anjing komunis itu?!”

Damhuri yang sedang tertidur pulas, terbangun karena teriakan itu. Suara-suara peralatan rumah tangga berhamburan di seluruh ruangan.

Ayahnya yang tidur di sebelah Damhuri diseret tentara-tentara itu.

”Ini anjing komunis itu?”

Ayahnya diam. Sebuah hantaman keras popor senjata mendarat di wajah ayahnya. Para tentara lalu mengikat kedua tangan ayahnya dan menyeretnya keluar.

Itulah terakhir kali Damhuri melihat wajah ayahnya. Konon menurut cerita, ayah Damhuri dibunuh di tengah hutan jati tak jauh dari kampungnya.

Sepeninggalan ayahnya, kehidupan Damhuri bertambah susah. Para tetangga memvonis keluarga Damhuri adalah antek komunis. Antek setan. Semua itu membuat ibunya tertekan. Maka ibunya memutuskan keluar dari kampung itu. Entah kampung mana yang akan dituju. Berhari-hari dengan bekal seadanya, Damhuri dan ibunya berjalan menjauhi kampung halamannya.

Ketika bus yang ia tumpangi melewati sebuah jembatan panjang dan di bawah jembatan ada sebuah sungai terbentang luas, maka Damhuri teringat pada masa saat ia sudah remaja. Ia sedang memancing
saat itu. Sudah hampir 2 jam ia duduk menunggu umpannya dimakan ikan, tapi tak ada 1 pun ikan memakan umpannya. Datanglah seorang lelaki mungkin usianya di atas 60 tahun. Rambut di kepalanya nyaris putih. Lelaki itu mendekatinya.

”Sudah ada berapa ikan yang kau tangkap?” tanya lelaki itu.

Sesaat Damhuri melihat ke arah lelaki itu. Damhuri menggeleng. ”Sepertinya bukan hari baik saya.”

Lelaki itu tersenyum. ”Coba aku pinjam kailmu.”

Damhuri memberikan kailnya. Setelah kailnya berpindah tangan, lelaki itu menepuk-nepuk kail Damhuri. Kail kemudian diberikan lagi ke Damhuri. ”Sekarang cobalah memancing lagi.”

Meski tak bersemangat, Damhuri melemparkan umpannya ke dalam sungai. Tak butuh waktu lama, senar terasa kencang, itu berarti ada ikan memakan umpannya. Damhuri segera menarik kailnya. Seekor ikan mujahir sebesar telapak tangan terangkat menempel di mata pancingnya. Damhuri melonjak gembira. Sejak saat itu sepertinya ikan-ikan di sungai tertarik dengan umpannya.

”Ketahuilah, kelak kau akan menjadi orang kaya,” kata lelaki itu kemudian meninggalkan Damhuri yang masih terpana.

***
Bus berhenti menaikkan penumpang. Seorang lelaki tua naik ke dalam bus. Sekilas lelaki itu melihat
Damhuri. Tiba-tiba sekujur Damhuri berkeringat. Ia ingin muntah. Lelaki itu adalah lelaki yang ia temui di pinggir sungai. Ia masih ingat dengan pesannya sebelum berpisah, ”Kelak jika kau bertemu aku lagi, itu berarti ajalmu sudah dekat.” - g

Rumah Mimpi, 2016

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Basuki Fitrianto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 31 Januari 2016


0 Response to "Pembaca Tanda"