Perempuan Limited Edition (2) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Limited Edition (2) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 06:59 Rating: 4,5

Perempuan Limited Edition (2)

"SUDAH Bu, tidak usah dimasukin hati orang-orang seperti itu," kata Radmi yang sudah berada di kamar Nadia. 

Bukan bermaksud lancang, namun Radmi memang sudah terbiasa keluar masuk kamar majikannya itu. Nadia sudah menganggap Radmi bukan sekadar pembantu. Sudah seperti keluarga sendiri. Sudah 11 tahun Radmi bekerja di rumah Nadia, sejak putra majikannya berusia enam tahun. 

Nadia menarik napas panjang saat mendengar suara Radmi.

"Kadang capek juga aku Mi," kata Nadia sambil bangun dari tempat tidurnya. 

"Iya Bu, saya paham. Tapi jangan sampai mas Adrian tahu kalau Ibu menangis, sebentar lagi mas Adrian pulang lho Bu. Kalo tahu Mamanya menangis, Mas Adrian nanti bingung dan sedih, Bu," kata Radmi mengingatkan bahwa putra tunggalnya sebentar lagi akan pulang dari sekolah.

Nadia segera melihat jam dinding yang tergantung diatas bingkai foto dan membersihkan airmata yang sempat keluar karena rasa kesalnya tak dapat dibendungnya tadi.

"Iya Mi... makasih, hanya kamu yang tahu bahwa aku pernah menangis," kata Nadia sambil menghela napas panjang.

Nadia memang tidak ingin diketahui siapapun jika ia menangis, lebih-lebih oleh putranya. Putranya akan sedih dan kebingungan bila melihat mamanya menangis. Nadia sangat bersyukur mempunyai buah hati yang sangat mengerti keadaan dan tidak terlalu banyak tuntutan.

"Ibu kok malah melamun," kata Radmi yang sejaki tadi masih di kamar Nadia. 

"Enggak kok, hanya capek ngadepi orang-orang yang pikirannya kotor begitu," jawab Nadia. 

"Maaf ya Bu, bukannya saya lancang. Ibu kenapa sih tidak mau menikah lagi? Ibu kan tinggal pilih dengan Om Yuda, Om Denny atau Om Reza."

"Aduh Mi... ini bukan masalah tinggal pilih, tapi Ibu memang tidak punya perasaan apa-apa terhadap mereka. 

"Ibu masih tidak bisa melupakan Om Rivan ya?" tanya Radmi lagi saat dilihatnya sang majikan matanya menerawang jauh setelah menjawab pertanyaannya.

Nadia tak menjawab. Namun tarikan napas panjangnya membuat Radmi merasa bersalah.

"Maaf Bu jika saya terlalu lancang."

"Nggap apa-apa, Mi. Kamu tahu kan bagaimana perasaanku terhadap Rivan," jelas Nadia dan Radmi mengangguk angguk.

Radmi tahu saat ia mulai bekerja, majikannya masih menjalin hubungan dengan Rivan yang biasa dipanggil Oom Ipan oleh Adrian semasa kecil. Hanya sebentar Radmi mengenal Oom Rivan, karena setelah itu entah apa penyebabnya Oom Rivan tak pernah datang lagi. Radmi juga menyayangkan itu, karena menurutnya mereka pasangan serasi. Oom Rivan orangnya sabar dan dapat membuat hati majikannya menjadi dingin ketika ada persoalan yang harus diselesaikan.

Sungguh disayangkan jika akhirnya mereka harus berpisah dan Radmi tak pernah tahu apa yang menjadi penyebab perpisahan itu. Dan sejak itu Nadia tak pernah tertarik dengan laki-laki manapun. Padahal ada beberapa orang yang dengan setia menunggu Nadia, namun seperti biasa jawaban nadia tetap satu: hatinya tidak merespons, ia memilih berteman saja. Walau taruhannya Nadia akan menerima sikap-sikap yang tidak pada tempatnya, bahkan sering dibilang kurang ajar menurut telinganya. Nadia tetap harus menelan itu semua.

Sedang Radmi tak pernah tahu mengapa sang majikan ini susah sekali menentukan pilihan semenjak perpisahannya dengan Oom Rivan. Terhadap suami majikannya Radmi tidak mengenal sam sekali. Hanya yang sering ia dengar dari cerita teman-teman majikannya, bahwa majikannya memang aneh. Orang tidak punya salah apa-apa tapi dicerai. Kemudian dekat dengan orang yang bernama Rivan, namun belum sempat kejenjang pernikahan, mereka sudah berpisah. Dan sekarang sudah 12 tahun majikannya sendiri tanpa pendamping.

Bukan tidak ada laki-laki yang mendekat namun majikannya hanya menganggap sebagai teman semua. Ah Bu Nadia ini sebenarnya apa sih yang dicari? Begitu seringkali Radmi bertanya-tanya dalam hati. 

***
SEKALI lagi, Nadia sangat paham dengan keadaan dunia sekarang yang carut marut, kata kata malu sudah hilang entah sejak kapan. Keanehan-keanehan sering dilihat dan didengar Nadia. Selain ia tidak tertarik fenomena kebobrokan itu, hatinya tak bisa mengikuti cara pandang dan pola pikir yang jelas-jelas bertentangan norma, ada. Pernah sekali temannya yang bernama Flo mengobrak-abrik koleksi VCD film yang ada di kamarnya. 

"Kamu nyari film apa?" tanya Nadia.

"Idiih koleksi kamu kok film beginian sih?" jawab Flo kecewa karena merasa tidak menemukan apa yang dicari.

"Maksudmu?" Nadia balik bertanya.

"Ya film bokeplah, masak koleksi kok film suci semua?" jawab Flo santai.

Nadia menarik napas panjang geleng-geleng kepala, satu lagi ia menemukan orang yang otaknya dipenuhi pikiran kotor. Memang Nadia baru akrab sekitar empat bulan dengan Flo. Sejak ia datang berkonsultasi tentang masalahnya. Nadia memang membuka jasa konsultasi selain ia harus mengurusi toko-tokonya. Sejak itu Flo sering curhat kepadanya sehingga menjadi teman akrab walaupun sangat berbeda prinsip.

"Aduh kamu ini... apa sih asyiknya nonton film begitu? Nonton sekali kan sudah cukup!" jawab Nadia.

"Siapa tahu beda variasi!" katanya lagi-lagi nyantai.

"Flo! Gimana jika otak kamu dicuci dulu agar tidak seks saja isinya."

"Lho yang harus dicuci otak itu kamu dong, masak menjanda sekian tahun kok anteng-anteng aja!"

"Siapa bilang?" bantah Nadia.

"Rata-rata begitu!" ❑  (c)

Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 24 Januari 2016

0 Response to "Perempuan Limited Edition (2)"