Perempuan Limited Edition (3) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Limited Edition (3) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:55 Rating: 4,5

Perempuan Limited Edition (3)

"AKU nggak!" Nadia menjawab tegas.

"Itu makanya kamu perlu cuci otak karena kamu sudah nggak waras." Flo malah menyalahkan Nadia.

"Aku atau kamu yang tidak waras?" tanya Nadia.

"Ya kamulah!" tegas Flo.

"Tergantung dengan siapa kita melakukannya!" jawab Nadia dan Flo merasa kena, karena ia biasa menikmati hubungan dengan siapa saja.

Saat Flo datang berkonsultasi dulu, karena terlibat hubungan dengan suami orang yang awalnya hanya sekadar iseng. Namun berkelanjutan menjadi lebih dalam yang akhirnya menjadi cinta dengan suami orang. Akhirnya menjadi permasalahan atas hidupnya sendiri.

"Jadi siapa yang harus dicuci otaknya? Dan satu lagi, jika tontonanmu film-film begituan terus. Otomatis kamu akan melakukan mencontoh dari apa yang kamu lihat! Tetapi jika yang kamu tonton nabi-nabi secara tidak langsung perbuatan kamu akan mencontoh seperti nabi," kata Nadia lagi.

"Ah nggak juga!" protes Flo.

"Ya terserah kamu jika tidak percaya. Tapi saranku, ubah pola pikirmu tentang hubungan bebas!" kata Nadia.

Flo menengadahkan kedua tangannya sambil mengangkat bahu.

"Belum kapok juga kamu atas keruwetan yang kamu ciptakan sendiri itu?"

"Masih dalam proses!" jawab Flo sekenanya.

"Maksudmu?"

"Ya, dia mau ngurus proses cerai sama istrinya," jawab Flo masih mengobrak-abrik koleksi CS Nadia.

"Aduh Flo, karma kamu ngrusak rumah tangga orang."

"Ya, aku kan pengin nomor satu juga, bukan selalu nomor dua," jelas Flo berusaha minta pengertian Nadia.

"Kamu itu yang salah! Udah tahu suami orang malah tetap aja kamu pacari. Kalau akhirnya begini ribet sendiri kan kamu?" kata Nadia gemes.

"Ya, mau gimana lagi."

"Jadi percuma dong saran yang aku berikan ke kamu dulu? Jika akhirnya tetap kamu pertahankan hubungan gelapmu ini."

"Karena aku mulai merasa mencintainya."

"Terserah kamulah jika nggak takut kutukan karma," kata Nadia mengakhiri pembicaraan. Percuma bicara dengan orang yang jelas-jelas tidak sepaham pola pikirnya. Apalagi jika sudah mengatasnamakan cinta. Nadia tidak akan mampu berbicara banyak. Karena cinta baginya adalah anugerah dan sangat abstrak dipahami.

***
HARI ini, Nadia akan menemui teman SMA-nya yang sedang tur ke Yogya, bersama rombongan ibu-ibu muda yang entah dari perkumpulan apa. Yang pasti ia kangen sekali dengan Sinta yang tak pernah bertemu lagi semenjak reuni delapan tahun lalu. Membayangkan wajah Sinta, Nadia tersenyum sendiri. "Pasti akan ada cerita baru lagi," batinnya.

Sinta memang sahabat sejatinya sejak SMP dan kebetulan SMA-nya juga satu sekolah, dan bahkan satu kelas. Sehingga persahabatannya melebihi saudara.

Nadia memasuki halaman hotel yang terletak di Jalan Malioboro, dan langsung menemui Sinta yang sedang makan malam bersama rombongan. 

"Hai, Dhea!" teriak Sinta yang lebih dulu melihat Nadia, saat Nadia masih celingukan mencari sosok Sinta sambil menuju ke arah Nadia.

"Hai kamu segar sekali?" kata Nadia setelah mencium pipi Sinta.

"Kamu lebih kurusan kenapa?" Sinta balik bertanya sambil tangannya menyeret Nadia ke meja makannya.

Nadia hanya tersenyum tanpa menjawab. Kemudian Sinta mengenalkan beberapa temannya yang terdekat dengan mejanya.

"Yuk makan sekalian," ajak Sinta dan Nadia tidak menolak karena ia memang belum makan malam.

"Gimana kabarmu ? Kenapa kurusan?" Sinta mengulang pertanyaannya tadi yang belum terjawab.

"Biasa banting tulang untuk sesuap nasi," jawab Nadia sambil menyendok nasi.

"Kamu memang hebat Dhea," puji Sinta.

"Nggak ada yang hebat dari aku Sin, aku tetap seperti dulu. Buktinya aku tidak menjadi apa-apa kan? Hanya seorang Ibu rumah tangga yang Bapak tangganya udah menjadi Bapak tangga orang lain," jawab Nadia sambil tertawa yang diikuti oleh Sinta.

"Bisa aja kamu ini. Salah sendiri kenapa kamu ceraikan?" kata Sinta. Sinta tahu Nadia yang meminta cerai dengan alasan yang tidak masuk akal menurutnya.

"Pengin jadi janda!," kata Nadia sambil tertawa keras sehingga membuat teman-teman Sinta menoleh semua.

"Kamu nggak berubah sama sekali tetap santai dan lucu Dhea," ujar Sinta masih menyisakan tawa.

"Emang boneka lucu?"

"Ngomong-ngomong udah punya calon jadi Papanya anakmu belum?" tanya Sinta dan Nadia hanya menggeleng.

"Kenapa? Emang nggak ada yang mau dengan Bu Nadia?"

"Ih menghina!"

"Iyaaa, tahulah seperti apa Nadia."

"Makanya...."

"Lalu kenapa nggak nyomot salah satu pangeran yang setia menanti itu?"

"Kamu ini pikirannya sama saja dengan Radmi. Emang apaan nyomot?"

"Asem, disamain sama pembantumu."

"Abisnya pikiranmu sama sih sama Radmi. Suruh pilih salah satu. Emang baju pilih salah satu? Emang makanan nyomot? Sin... Sin, kamu ini." ❑  (c)

Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 7 Februari 2016


0 Response to "Perempuan Limited Edition (3)"