Perempuan Limited Edition (4) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Limited Edition (4) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:41 Rating: 4,5

Perempuan Limited Edition (4)

"YA abis kamu sih terlalu detail menilai orang. Di dunia ini nggak ada yang sempurna, Non!" jawab Sinta.

"Ya aku tahulah, nggak ada manusia yang sempurna."

"Jadi kenapa kamu mau yang sempurna?" paksa Sinta lagi.

"Siapa tahu ada nyelip satu manusia sempurna," jawab Nadia sekenanya.

"Kamu ini ngeselin deh. Katanya ngerti kalau manusia nggak ada yang sempurna?" Sinta gregetan dengan jawaban Nadia yang berputar-putar.

"Gini lho Bu Sinta. Mbok jangan marah dulu, aku memang tahu kalau manusia nggak ada yang sempurna, makanya aku tidak menentukan pilihan. Kecuali aku tetap pingin punya pendamping dan memaksa orang untuk jadi sempurna. Lha aku nggak kan? Makanya aku tetap sendiri sampai sekarang," jelas Nadia.

"Biar sampai buyuten juga nggak mungkin ketemu kamu!" kata Sinta kesal. 

"Ya paling tidak mendekati sempurnalah," kata Nadia, lagi senyum-senyum..

"Ribet kamu! Tertarik sama orang susah, setelah ada yang tertarik lebih susah lagi, ada saja kekurangannya."

"Iya ya, untuk bisa tertarik saja kalau kliknya nggak pas nggak bisa! Sudah klik ada saja yang aku protes."

"Tapi yang tak herankan kenapa dulu kamu bisa tertarik sama Rivan ya? Padahal dari fisik Rivan nggak menonjol banget dan sangat biasa."

"Itulah anehnya hatiku. Aku sendiri juga bingung kok. Apalagi kamu?" Nadia masih tertawa-tawa. Sinta geleng-geleng kepala.

"Intinya gini deh, aku nggak peduli orang itu yang penting hatiku bicara ya jalan. Kalau sudah jalan ternyata banyak kekurangannya ya mending kuakhiri daripada aku harus membohongi hati, apalagi selingkuh," jelas Nadia dan Sinta merasa kena dengan kata-kata Nadia.

"Ups sori, Sin."

"Nggak papa kamu kalau bicara kan memang ceplas-ceplos."

"By the way, gimana dengan pacarmu?" tanya nadia.

Sinta melotot.

"Ssssst...." Sinta segera menempelkan telunjuknya di bibir sambil menoleh kiri kanan, takut teman-teman rombongannya ada yang mendengar karena suara Nadia terdengar sedikit keras.

"Sori, nggak kedengeran nggak."

"Banyak dinding bertelinga, Dhea ngaco kamu," kata Sinta, masih matanya berkeliling, takut ada yang memerhatikan dan mendengarkan apa yang dibicarakan dengan Nadia.

"Masih berjalan, dan sekarang justru semakin dekat karena kami saling mencintai!" kata Sinta dengan suara pelan.

"Kamu memang gila ya? Trus dengan suamimu namanya apa?"

"Aku nggak tahu, Dhea." Sinta menggeleng lemah.

"Astaga San, kenapa sampai begini?" Nadia memegang keningnya sendiri. Tak mengerti kenapa orang bisa melakukan selingkuh dengan rapi hingga berjalan delapan tahun.

"Kenapa sih kamu nggak minta cerai aja sama suamimu?" kata Nadia sambil menarik napas panjang.

"Sudah kubilang aku tidak punya keberanian kayak kamu! Dan aku juga memikirkan anak-anakku," jelas Sinta, dan Nadia menghela napas panjang. Tak mengerti mengapa orang-orang di sekitarnya mudah sekali berbagi cinta.

"Jika sampai ketahuan kan lebih parah lagi efeknya bagi anak-anak kamu," kata Nadia gemes serta geregetan melihat sahabat karibnya itu tetap memertahankan selingkuhannya.

Nadia sangat tidak setuju. Tapi Nadia tidak punya hak mengatur hidup Sinta.

"Apalagi tahun ini aku mendapat nominasi wanita teladan, kalau rumah tanggaku terlihat hancur. Aku nggak bakalan menang!" jawab Sinta.

"Apa? Wanita teladan? Penilaiannya dari mana itu?" Suara Nadia sedikit mengeras lagi karena terkejut mendengar penuturan Sinta yang dinominasikan menjadi wanita teladan.

"Sssst, suaramu."

Lagi-lagi Sinta menempelkan telunjuk di bibirnya. Nadia menepuk-nepuk jidatnya pertanda tak habis pikir.

"Hanya terhadap kamu aku bercerita Dhea, karena aku percaya kamu tidak akan bercerita terhadap siapapun. Dan aku harap memang bisa seperti itu," kata-kata Sinta terlihat memohon.

"Soal itu kamu bisa percaya aku, Sin. Yang aku herankan gimana perasaanmu ini apabila abis kencan dengan pacarmu, kemudian kamu harus melayani suamimu?" tanya Nadia dengan alis yang semakin berkerut.

"Awalnya memang tidak enak tapi lama-lama terbiasa!" jawab Sinta yang dirasa Nadia sedikit kaku berterus terang begitu pada Nadia.

Ia sangat tahu Nadia sangat benci perselingkuhan . Dan Nadia memang tidak pernah menghakimi ataupun memusuhi orang-orang seperti Sinta. Nadia hanya bisa jadi pendengar dan menyarankan apa yang mesti disarankan. Namun jika yang bersangkutan mempunyai cara pandang sendiri. Ya itu terserah dengan yang bersangkutan. Yang pasti Nadia tetap  berteman dengan siapa saja meskipun berbeda cara pandang.

"Coba kamu perhatikan teman-temanku itu semua, rata-rata mereka pernah melakukan kesalahan," kata Sinta lagi.

"Yang bener Sin?" Nadia tidak percaya.

"Iya benar, cuma mereka tidak berlangsung lama seperti aku," kaat Sinta membongkar aib teman-temannya. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 7 Februari 2016

0 Response to "Perempuan Limited Edition (4)"