Perempuan Limited Edition (5) | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Perempuan Limited Edition (5) Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:41 Rating: 4,5

Perempuan Limited Edition (5)

NADIA segera meneliti wajah normatif yang ada di sekelilingnya. Memejamkan matanya sambil menggeleng-gelengkan kepala yang dirasa mulai pusing. Sungguh tak pernah diduga sedikitpun, meski dalam secuil pikirannya. Mana mungkin orang-orang berkelas, orang-orang yang dianggap panutan, ternyata rata-rata pernah selingkuh! Sedang wajah-wajah itu sungguh polos, berpakaian santun dan brukut. Tidak seperti dirinya yang selalu ditemani rokok ke manapun pergi, yang kadang menimbulkan persepsi lain orang yang melihatnya.

"Dhea, itulah sebabnya aku sangat salut denganmu. Kamu tidak pernah menghakimi siapapun dan tetap mau bersahabat dengan pelacur sekalipun, meski itu bertolak belakang denganmu. Itulah sebabnya aku berani cerita sama kamu," kata Sinta lagi.

"Sin aku juga manusia, aku tidak berhak mencibir kelakuan orang lain hanya karena tidak sesuai dengan pikiranku," jawab Nadya.

Itulah yang aku lihat dari kamu. Sayangnya aku tidak bisa seperti kamu," kata Sinta dengan nada berbeda. Entah apa yang ada di pikiran serta hatinya sekarang.

"Aku hanya menunggu kabar baikmu selanjutnya, Sin. Jika kita bertemu lagi nanti."

"Oke aku juga berharap begitu dan belajar punya keberanian mengambilsikap seperti kamu apa pun risikonya."

"Saranku hanya itu tadi, cerai atau hentikan hubunganmu dengan pacarmu ini."

Sinta hanya mengangguk-angguk.

"Sekarang aku pulang dulu ya, takut kemalaman. Kamu kan tahu rumahku jauh dari sini." Nadia pamit.

"Lagian kenapa nggak cari sopir lagi sih, Dhe?"

"Belum dapat-dapat. Besok deh tak coba mulai cari lagi."

"Hati-hati ya di jalan."

"Oke. Dan ingat pesanku tadi!"

"Siop!" Sinta mengangkat jempolnya.

***
SAMPAI rumah, setelah mengganti dengan baju tidur, Nadia masih memikirkan Sinta . Mana mungkin perselingkuhan selama delapan tahun bisa bertahan tanpa ketahuan? Dan selama itu pula Sinta bertopeng di depan suaminya. Bagaimana itu bisa dijalani Sinta? Berbagai pikiran bersarang di otak Nadia, namun tak bisa ditemukan jawaban yang benar. Semua itu, sekali lagi di luar konsep hidupnya. Berapa orang lagi yang harus ditemuinya dengan kasus serupa selain Sinta dan Flo? Nadia hanya bisa menarik napas panjangmengingat itu semua.

"Ya, Tuhanku berilah kekuatan pada hambamu ini, agar bisa memberikan masukan yang benar terhadap teman-temanku ini. Dan biarlah hambamu ini berpijak pada jalan kebenaranmu," pintanya terhadap Tuhan Semesta Alam.

***
NADIA dikejutkan sosok yang datang melamar pekerjaan. Hari ini Nadia memang sedang membuka lowongan yang diiklankan di surat kabar. Orang ini rasanya tidka pantas untuk kerja sebagai cleaning service seperti yang dibutuhkan Nadia. Selain berpenampilan rapi, wajahnya sangat lumayan dan rasanya tidak cocok bekerja di bidang itu. Dan yang lebih membuat Nadia terkejut, sosoknya ada kemiripan dengan Rivan.

"Maaf Bu, saya membaca iklan bahwa Ibu membutuhkan cleaning servis. Apa benar Bu?" kata orang itu.

"Iya benar," jawab Nadia pendek karena masih tertegun sosok yang ada di hadapannya.

"Kalau boleh tahu syaratnya apa Bu?"

"Rajin jujur dan bersih itu aja sih, dan KTP kamu. Nama kamu siapa?" tanya Nadia.

"Aditya Bu, dari banjarnegara."

"Sebelumnya pernah bekerja di mana?"

"Pernah sebelumnya bekerja di toko karpet Bu, tapi cuma dua bulan," jelas orang yang bernama Aditya.

"Kenapa keluar? Kan lebih bagus kerja di toko karpet daripada jadi cleaning servis?"

"Iya Bu, tapi kerjaannya tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Saya harus mengerjakan yang lain."

"Di sini juga srabutan lho, setelah bersih-bersih rumah kos, juga bantuin jaga toko," jelas Nadia.

"Saya siap Bu."

"Dan gaji di sini kecil."

"Gak papa, Bu, yang penting saya bisa bekerja."

"Kamu yakin? Karena kerja itu di mana-mana nggak enak," terang Nadia lagi, merasa tidak yakin orang di depannya sebagai cleaning servis.

"Yakin Bu," jawab Aditya tegas.

"Kamu lulusan apa?"

"SMP, Bu!"

"SMP? Kenapa tidak sekolah?"

"Lulusannya SMP tapi saya pernah di SMA, Bu. Cuma mau naik kelas tiga saya keluar."

"Kenapa?" potong Nadia karena sangat menyayangkan melihat orang yang tidak lulus SMA.

"Saya sakit berkepanjangan, Bu. Akhirnya saya memutuskan berhenti. Saat mau masuk lagi saya sudah malu karena dikata-katain teman. Karena setahun lebih tidak masuk sekolah, dan teman-teman seangkatan saya sudah lulus, Bu," jelas Aditya. Nadia mengangguk-angguk. ❑  (bersambung)-c


Wiwik Karyono. Cerpenis/novelis kelahiran Banyuwangi, 30 Desember 1961. Tinggal di Jalan Candi Indah Wedomartani Ngemplak Kalasan Sleman Yogyakarta. Karya novelnya "Galau" (1999), "Pacarku Ibu Kosku" (2005), dan "Terjebak Sebuah Janji."

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wiwik Karyono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 21 Februari 2016

0 Response to "Perempuan Limited Edition (5)"