Pidato Cinta Pengembara Sunyi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pidato Cinta Pengembara Sunyi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 14:06 Rating: 4,5

Pidato Cinta Pengembara Sunyi

SEJAK Muhammad Naim meninggalkan desa itu, warga tidak pernah lagi mendengar suara adzannya yang merdu. Di masjid desa itu para jamaah selalu menunggu suara Naim. Ada yang menjulukinya suara malaikat Jibril. Ada yang mengatakan suara dari langit. Suara dari surga dan lain sebagainya. Bahkan Mak Bibah perempuan tua yang paling rajin berjamaah itu mengatakan suara Muhammad Naim bagaikan suara Bilal bin Rabah Sahabat Rasul Muhammad, seorang budak tapi kualitas imannya sulit disamai. Bilal adalah pengumandang adzan pertama kali dalam sejarah Islam. 

Di desa itu siapa yang tidak kenal Muhammad Naim yang dijuluki lelaki muda dengan suara emas.. Muhammad Naim suara adzannya membuat para warga lebih rajin berjamaah. Naim, suara adzannya menggetarkan hati. Suara yang mampu membuat orang-orang yang lewat dekat masjid berhenti sejenak. Kalau suara adzan Naim sudah terdengar kehidupan seperti berhenti beberapa saat.. Orang yang bermobil di dekat masjid menghentikan mobilnya. Ibu yang sedang ngegosip akan menghentikan bicara mereka. Kalau adzan itu menjelang sholat Zuhur, orang-orang bengkel menghentikan pekerjaannya. Tukang becak akan menghentikan becaknya dan mengambil air wudhu. Pengaspal jalan juga segera menghentikan pekerjaan sejenak memasang telinga untuk mendengar suara Naim. Sepertinya kehidupan daerah dekat masjid menjadi mati. Orang-orang terpaku di tempatnya dan tersihir suara emas. 

Muhammad Naim. Karena suara adzan Naim itulah masjid selalu penuh, Orang akan kecewa apabila pada suatu waktu bukan Muhammad Naim. yang menumandangkan adzan. Suara Jibril, suara dari langit, suara dari surga atau suara sahabat Bilal bin Rabah. 

Lalu tiba-tiba Naim menghilang dari desa. Tidak tahu ia pergi ke mana dan untuk apa. Hanya kepada Ahmad Fauzan sahabatnya paling akrab Naim bilang akan pergi jauh untuk membuktikan bahwa ia pantas dicintai. Fauzan tidak tahu maksud kata-kata Naim. Sebab Naim enggan menjelaskan maksud kata-katanya itu. Sambil menjabat tangan Fauzan, Naim hanya bilang. Kelak semua warga desa akan tahu siapa aku ini. Entah berapa tahun Naim menghilang, tiba-tiba 10 hari lalu muncul kembali di desa itu. Hanya saja Naim sepertinya berubah. Sahabat-sahabat desanya merasakan wajah, tubuh, rambut, adalah Muhammad Naim yang dulu. Tapi pembawaannya seperti bukan Naim yang mereka kenal selama ini. Naim yang sekarang sama sekali kehilangan senyum. Naim bukan yang dulu suka berceloteh dengan humor-himor segarnya. 

Naim sekarang terasa amat pendiam. Sejak dulu Naim memang rajin beribadah, tapi sekarang, rajin ibadahnya berkali lipat. Naim sangat sedikit bicara tapi sangat banyak sholat malam dan dzikir. Setelah sholat Subuh biasanya tidak langsung pulang, tetapi dzikir dulu sampai matahari terbit sepenggalah. Kemudian penjaga masjid akan selalu menjumpainya sholat dhuha 4 rakaat. Begitu yang ia lakukan selama 10 hari kepulangannya. Rasanya desa kami yang tenang itu menjadi lebih tenang setelah kepulangan Muhammad Naim. Suara adzannya masih seperti dulu, suara Jibril, suara dari langit, suara dari surga atau suara sahabat Rasul Bilal bin Rabah. 

Sampai suatu Subuh yang dingin setelah sholat Subuh selesai. Tiba-tiba para jamaah dikejutkan suara amat gaduh. Mobil-mobil berhenti di depan masjid. Polisi berhamburan keluar dari mobil dengan senjata-senjata. Semua orang panik. Tapi Naim dengan tenang menyelesaikan dzikirnya. 

”Bapak-bapak, ibu, adik-adik semuanya tenang. Mereka mencari saya.” Dan Naim keluar dengan mengangkat tangan. Di depan masjid, polisi berteriak agar Naim menyerah. Naim berdiri di serambi masjid dan memandang semua orang di depannya. Selain para polisi, warga desa datang berbondongbondong ingin menyaksikan apa yang terjadi. 

Muhammad Naim berdiri di serambi masjid. Ketika polisi menodongkan senjata ke dadanya, Naim tersenyum lalu berbisik kepada komandan polisi itu. Dan Pak polisi itu mengangguk-anggukkan kepala. 

”Assalamulaikum bapak-bapak aparat. Assalamulaikum semuanya, saya tidak akan lari. Kalau saya lari tembaklah saya. Saya ingin menjelaskan semuanya. Memang sayalah yang meledakkan bom di tiga tempat dan semuanya tempat para wanita berkumpul. Sata tidak tahu berapa yang menjadi korban, tapi menurut media cukup banyak juga.” 

Naim menarik napas dalamdalam kemudian meneruskan pidatonya. ”Bapak-bapak saya tidak anti Pancasila, saya Muslim yang bersalah karena telah membunuh dan mencederai banyak orang dan sebagian besar perempuan. Bertahun-tahun saya belajar merakit bom tidak untuk melawan negara tetapi untuk membunuh perempuan. Saya benci, sangat benci perempuan. Saya hanya meledakkan bom di saat ada perempuan berkumpul. Memang setiap ketemu perempuan saya selalu ingin membunuhnya. Bapak-bapak aparat saya berkerja sendiri. Tidak seorangpun keluarga saya dan warga desa ini yang berkaitan dengan kejahatan saya. Semua warga desa ini Muslim yang taat, sekaligus menerima Pancasila dengan sangat baik dan sepenuh hati/ Jadi apa yang saya lakukan dengan meledakkan bom-bom itu adalah tangging jawab saya sendiri.” 

Semua yang ada di depan masjid itu menarik napas dalam-dalam. ”Bapak-bapak aparat, saya lahir di desa ini, saya mencintai desa ini, saya juga mencintai perawan desa ini. Bapak-bapak, nama gadis itu Salmah. Perawan paling cantik di desa ini. Cinta saya kepadanya amat besar. Tapi Salmah gadis itu lebih memilih sahabat saya sendiri Ahmad Bisri. Saya terpukul. Hati saya hancur. Saya bagaikan burung elang yang patah sayap. Mungkin karena saya sombong, saya tidak bisa menerima kenyataan pahit itu. Saya merasa lebih baik dibanding Ahmad Bisri. 

Suara saya adzan dan suara bacaan Qur’an saya lebih bagus. Saya merasa lebih tekun dalam beribadah. Karena kesombongan itulah saya membenci Salmah yang saya anggap menghina saya karena menolak saya. Saya benci Salmah. Lalu saya benci semua perempuan. Saya anggap semua perempuan seperti Salmah memilih laki-laki yang bukan saya. Sejak sepuluh hari lalu saya tidak lagi membenci Salmah dan tidak lagi membenci perempuan. Saya sadar kalau saya membenci perempuan, sama artinya saya membenci ibu saya karena ibu saya juga perempuan.” 

Beberapa perempuan tampak menangis. ”Bapak-bapak dan ibu-ibu, Saya mengembara sendiri dalam kesunyian sambil belajar merakit bom dan 3 bom sudah saya ledakkan. Tiba-tiba pada suatu malam seperti ada yang berbisik di telinga saya bahwa saya telah mengambil jalan sesat, yaitu jalan setan. Cinta itu tidak melukai, cinta itu memberikan kasih sayang. Cinta yang melukai itu adalah cinta buta. Cintanya orang yang berpikir tidak melukai apalagi membunuh. Sebab membunuh satu orang sama dengan membunuh semua orang. Selain sombong barangkali saya juga tidak memiliki rasa kesabaran. Saya lalu ingat ayat Allah ”Yaa ‘ayyuhal laziina aamanuus biruu wasaabiruu, waraabituu, wattaqullaha la’akalim tuflihuun (a) -- Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan tingkatkan kesabaranmu, dan waspadalah kamu dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu beruntung.” 

Tiba terdengar tangis sesenggrukan seorang perempuan. Semua orang berpaling kepada suara tangis itu. Salmah tidak mampu membendung kesedihannya. Ia telah memilih orang yang salah. Suaminya Ahmad Bisri telah meningalkannya dan menikah lagi dengan perempuan lain. 

”Bapak-bapak dan ibu-ibu, saya juga pernah mendengar riwayat bahwa seorang sahabat datang kepada Rasulullah dan minta nasihat. Rasul hanya bersabda, kamu jangan mudah marah. Ketika sahabat itu bertanya apa lagi Rasul? Rasul bersabda jangan mudah marah. Lalu apalagi Rasul? Rasul bersabda lagi jangan marah. Dan saya justru marah besar ketika cinta saya ditolak Salmah. Semoga kjini Salmah berbahagia dengan suami dan anak-anaknya.” Tiba-tiba Salmah lari menorobos kerumunan orang, masih dalam tangisnya. 

”Bapak-bapak dan ibu-ibu, saya salah karena saya tidak menempuh jalan yang dicontohkan Rasul yaitu jalan rahmatan lil alaamiin. Saya ingat kisah Rasul, ketika beliau di Thaif dilempari batu sampai berdarah-darah, sampai ada malaikat yang tidak kuasa menyaksikannya menawarkan kepada Rasul, bila Rasul berkenan Malaikat akan menghancurkan penduduk Thaif dengan menjatuhkan gunung-gunung batu di kepala mereka. Jangan sabda Rasul, mereka melakukan semua ini karena mereka belum tahu saja, Innahum laa ta’lamuun.” 

Muhammad Naim berhenti beberapa saat. ”Bapak-bapak dan ibu-ibu, sekarang saya pulang ke desa yang saya cintai ini. Saya kembali dari kegelapan ke cahaya terang-minaz zulumaati ilan nuur (i). Selama ini saya telah menuruti jalan setan. Namun saya tetap bertanggungjawab atas kejahatan saya. Negaraku yang tercinta hukumlah saya, agamaku yang aku cintai hukumlah saya. Kalau saya memang akan dihukum mati maka hukumlah saya. Tapi Yaa Allah, berilah saya umur panjang agar saya punya waktu bertaubat kepada-Mu. Agar saya punya waktu untuk berdzikir, bertasbih, bertakbir, bertahmit dan bertahlil pada waktu pagi, petang dan waktu malam.” 

Muhammad Naim lalu tercenung sebentar lalu senyum kepada semua orang. ”Assalamualaikum bapak-bapak aparat. Assalamulaikum semuanya. Muhammad Naim kemudian menyodorkan kedua tangannya untuk diborgol. Tapi polisi komandan operasi anti teroris itu menggelangkan kepala. Ia tepuk-tepuk bahu Naim dan menggandengnya masuk ke dalam mobil tahanan. 

Semua orang terharu. Perempuan-perempuan menangis. Juga Salmah menangis di kamar di rumahnya samping masjid. Ia baru sadar ketika mendengar mobil-mobil itu pergi. Perempuan yang dikhianati suaminya itu menadahkan tangan dan berdoa semoga Allah memberikan umur panjang kepada Naim. Lalu ia bersujud di sajadah di kamarnya. ***-d

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Munif
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 21 Februari 2016

0 Response to "Pidato Cinta Pengembara Sunyi"