Rumah - Piano - Daun | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Rumah - Piano - Daun Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:14 Rating: 4,5

Rumah - Piano - Daun

Rumah 

Ia melindungimu 367 kali putaran bumi 
dari tikaman hujan 
dan sengat matahari dan takkan mengubah dirinya menjadi limbubu 
atau bom paku yang ledakan sebuah kafe, 
mesjid, dan gereja kelabu. 

Ia hanya memberimu buku-buku tua 
gramofon kaca yang memutar lagu malam 
gelisah matamu terpejam 
atau aroma masakan di meja makan: 
nasi liwet ayam bakar sayur lodeh
sambal goang wedang teh 
hingga lidahmu meleleh 
dan jendela yang tercipta dari udara; 
burung dara di pohon cemara 
sepasang kelinci dan kembang melati 
kolam ikan serta senyum mungil 
di muka halaman. 

Ia pun tak pernah mengeluh saat sepi 
seketika mencekik lehernya 
tapi ia bisa saja menjadi taring serigala 
atau desis ular kobra saat piring dan gelas 
lepas ke udara, memecah jerit ibumu 
di ruang tamu, dan selembar kenangan 
masa kecil dalam pigura 
memberimu rasa sakit tanpa jeda.

2016 


Piano 

Malam menggeser jarum jam ke angka 12 
jemari rampingmu kembali mainkan Bach 
dan aroma kematian menyergap ruang tamu 

di luar mulai terdengar kepak gagak, 
teriak seorang anak, derap sepatu serdadu di antara 
pohon pinus 
dan jendela bulan beku dalam dingin pandangku.

“Fugue, katamu, mengingatkanku pada Celan 
yang mencipta puisi dengan tinta kematian.“
tapi, tak ada Yahudi yang rambutnya terbakar jilat 
api 
hanya keringat panas menetes dari pori-pori 

membasahi tuts, lantai, dan kisi-kisi, 
hanya sunyi mematuki sepasang mata kenari 
dan kenangan dari abad-abad silam 
menjelma rumpun berduri di ingatan yang hitam.

2016 

Daun 

Pada bening muka kolam 
ia lihat garis-garis usia di wajahnya 
serupa guratan di daun-daun kuning 
yang tergeletak di hamparan rumput 
dan ia mendesau “adakah aku takut?“ 

Kemudian ia ingin sebuah pelukan 
yang bisa mengakhiri gigil sepi di tubuhnya.
Ia pun teringat: sepasang mata remaja 
secerlang bintang-bintang, 
sepasang bibir yang mencecap 
madu cinta di mambang petang.

“Ah, kenapa yang sementara 
selalu menyisakan nestapa 
di sepanjang usia?“ 

Dan saat selirih angin memetik selembar daun ter-
akhir di pucuk ranting kering, lalu menyentuh pucat kening 
seketika ia merasa seakan ada yang menunggunya 
di ujung jalan, mengenakan jubah putih 
dan ia pun mendesau, “mungkin aku takut.“


Hingga sebelum malam menghamburkan pekat mi
asma 
sebelum taman semakin jauh meninggalkannya 
pada gelap paling cekam 
ia lipat luka di daun-daun trembesi 
dan melangkah pergi, tergesa 
seakan ada yang dengan tajam melihatnya.

2016


Dedi Sahara, lahir di Bandung. Mahasiswa Jurdiksatrasia FPBS UPI. Bergiat bersama Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS UPI). Beberapa karyanya dimuat dalam buku antologi puisi bersama Nun (2015), Ritus Kesunyian (2015).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dedi Sahara
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 21 Februari 2016

0 Response to "Rumah - Piano - Daun "