Sang Pemimpin | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sang Pemimpin Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:16 Rating: 4,5

Sang Pemimpin

DI sebuah Sabtu siang, Billy Buck, si buruh tani, sibuk menyapu timbunan jerami. Dengan garpu jeraminya, Buck meletakkan segarpu penuh jerami di atas pagar untuk sapi-sapi pertanian. Di udara, awan-awan kecil tampak seperti gumpalan-gumpalan asap meriam, bergerak ke timur tertiup angin bulan Maret. Desiran angin terdengar di semak-semak puncak bukit, namun tak ada desiran yang menyuruk ke lembah pertanian. 

Seorang anak laki-laki kecil, Jody, muncul dari dalam rumah sambil makan roti tebal yang diolesi mentega. Pandangannya tertuju pada Billy yang sedang membersihkan sisa-sisa jerami. Ia pun berjalan turun ke tempat Billy. Cara jalannya itu membuat sepatunya terkelupas, demikian yang selalu dikatakan orang-orang rumah kepadanya. Sekumpulan merpati putih beterbangan dari pohon cemara hitam ketika Jody melewati pohon itu. Sejenak kumpulan burung merpati itu terbang mengelilingi pohon cemara dan kemudian hinggap lagi di sana. Jody memungut sebuah kerikil untuk membuat pertunjukan terus berlangsung. Tapi terlambat sudah. Kucing anak ini sudah berdiri di serambi. Namun akhirnya ia lemparkan juga batu di tangannya itu ke arah pohon cemara, dan mulailah burung dara putih itu beterbangan dan saling bertubrukan satu sama lain. 

Sesampai di tempat gundukan-gundukan jerami, Jody menyandarkan tubuhnya ke pagar kawat. “Ini sudah semua?” tanyanya. 

Pekerja usia setengah baya itu menghentikan kegiatannya dan menancapkan garpu jeraminya ke tanah. Ia mencopot topinya yang berwarna hitam dan kemudian meratakan rambutnya. “Tak ada sisa yang tak basah kena embun,” ujarnya. Ia kembali mengenakan topinya dan kemudian saling menggosokkan kedua tangannya yang kering. 

“Pasti banyak tikus,” Jody mengingatkan.

“Ambil saja semua,” ujar Billy. “Lari saja sama tikus-tikus itu.”

“Kalau semuanya sudah beres, saya mau ajak anjing-anjing kita memburu tikus.”

“Beres. Engkau tentu bisa melakukannya,” ujar Billy Buck. Ia mengangkat satu sekop penuh jerami dan melemparkannya ke udara. Tiba-tiba tiga ekor tikus turut terlempar, dan dengan penuh ketakutan binatang-binatang itu menyelinap lagi di bawah tumpukan jerami.

Jody menghela napas dengan perasaan puas. Tikus-tikus sombong, gemuk dan licin itu akan dihukum mati. Selama delapan bulan mereka telah hidup dan beranak pinak di dalam tumpukan jerami. Mereka sudah terbebaskan dari kucing-kucing, dari perangkap, dari racun, dan dari Jody. Mereka jadi puas dengan rasa aman yang mereka peroleh, dan karenanya bisa gemuk dan berkembang biak. Sekarang saatnya datang malapetaka; besok mereka tak akan bisa hidup lagi. 

Billy memandangi puncak-puncak bukit yang mengelilingi tanah pertanian. 

“Mungkin engkau perlu bertanya pada ayahmu dulu sebelum melakukannya,” ia menyarankan. 
“Sekarang Ayah ada di mana? Saya mau tanya pada Ayah sekarang juga.”

“Tadi setelah makan siang Ayahmu pergi ke daerah pertanian. Tapi ia akan segera pulang, kok.”
Jody memlorotkan badannya di tiang pagar. “Rasanya Ayah tak akan peduli.”

Sambil kembali bekerja, Billy berkata dengan nada tak senang, “Lebih baik kamu tanya dulu. Kamu kan tahu bagaimana Ayahmu itu.”

Jody memang benar-benar tahu. Ayahnya, Carl Tiflin, selalu harus memberi izin terhadap apa saja yang hendak dilakukan di tanah pertaniannya, apakah itu merupakan sesuatu yang penting ataupun sekadar masalah sepele. Jody terus melorotkan badannya sampai akhirnya terduduk di tanah. Ia menengadah, memandang gumpalan-gumpalan kecil awan yang ditiup angin pembawa mendung. “Kayaknya mau hujan ya?”

“Bisa jadi. Anginnya cukup kuat untuk menurunkan hujan, tapi tidak terlalu kuat, sih.”

“Semoga tidak ada hujan sampai tikus-tikus keparat itu habis.” Melalui bahu Billy ia mencari tahu apakah laki-laki itu memperhatikan kata-kata kasar yang baru saja diucapkannya. Tapi Billy terus saja bekerja tanpa mengeluarkan komentar sepatah kata pun.

Jody membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah samping bukit, tempat munculnya jalanan menurun dari dunia luar. Daerah perbukitan tampak bersih karena bermandikan cahaya matahari bulan Maret. Semak-semak berduri, bunga lupin biru, dan segerombol popi bermekaran di sela-sela semak liar. Di kejauhan, di tengah bukit, Jody bisa melihat Doubletree Mutt, anjing hitamnya, sedang menggali liang bajing. Ia mengais-ngais tanah, dan kemudian beristirahat sejenak untuk menendang-nendang kotoran yang ada di antara kedua kaki belakangnya; dan ia menggali dengan sungguh-sungguh, seolah tak pernah ada anjing yang menangkap bajing dengan cara seperti itu. 

Sementara Jody memandangi kegiatannya, anjing hitam itu mendadak jadi tegang. Dibelakanginya liang yang sedang digalinya, matanya terarah ke bukit, ke belahan punggung bukit, tempat jalanan terbentang. Akhirnya Jody pun mengarahkan pandangannya ke tempat yang sama. Tampak Carl Tiflin di atas kudanya, tegak di bawah langit yang pucat, dan kemudian bergerak turun menuju rumah. Ia memegangi sesuatu yang berwarna putih.

Anak laki-laki itu berdiri tegak. “Ayah bawa surat,” teriaknya. Ia bangkit dan berlari menuju rumah sambil membayangkan surat itu akan dibaca keras-keras di rumah, dan ia ingin berada di sana. Jody mencapai rumah sebelum ayahnya sampai. Ia mendengar bunyi berkeriut, saat ayahnya turun dari punggung kuda, dan ia tahu ketika ayahnya menepuk kudanya untuk menghalaunya ke gudang, tempat Billy akan melepas pelananya dan kemudian menghalau kuda itu ke udara bebas. 
Jody berlari ke tempat ibunya. “Kita dapat surat!” teriaknya. 

Ibunya menengadah, mengalihkan pandangannya dari panci berisi kacang yang ada di depannya. “Untuk siapa?”

“Ayah yang membawanya. Saya tadi lihat.”

Carl melangkah memasuki dapur, dan ibu Jody langsung bertanya, “Surat dari siapa, Carl?”

Segera saja wajah Carl berubah jadi masam. “Kok, tahu kalau ada surat?”

Istrinya melempar pandangan ke arah anak laki-lakinya. “Tuan Jody yang memberi tahu.”

Carl menatap anaknya dengan pandangan merendahkan. “Ia memang ingin menjadi Tuan Besar,” ujar Carl. “Ia selalu mencampuri urusan setiap orang kecuali urusannya sendiri. Hidungnya yang besar itu selalu saja mengendus ke mana-mana.”

Nyonya Tiflin merasa kasihan pada Jody. “Yaah, dia ‘kan tidak punya sesuatu untuk disibuki. Suratnya dari siapa?”

Carl masih menampakkan kemarahannya pada Jody. “Aku akan membuatnya sibuk jika ia tidak hati-hati.” Carl mengeluarkan surat yang masih tertutup. “Kurasa dari Ayahmu.”

Nyonya Tiflin mengambil sebuah jepit dari rambutnya dan menyobek sampul surat dengan benda itu. Gerak bibirnya menampakkan pengertian. Jody melihat mata ibunya yang bergerak ke kiri dan kanan melewati baris-baris kalimat dalam surat itu. “Kata Ayah,” ujar Nyonya Tiflin membaca isi surat, “Ayah akan datang hari Sabtu dan akan tinggal di sini beberapa lama. Sekarang hari Sabtu. Surat ini datangnya terlambat.” Ia melihat ke perangko. “Sudah diposkan kemarin dulu. Seharusnya kemarin sudah sampai sini.” Nyonya Tiflin memandang suaminya dengan wajah tanda tanya, dan kemudian wajahnya menjadi gelap karena diliputi kemarahan. “Apa maumu, Carl? Ayah ‘kan tidak terlalu sering datang kemari.”

Carl mengalihkan pandangannya dari kemarahan istrinya. Ia biasa bersikap keras pada istrinya. Tapi jika istrinya naik darah, ia tak pernah bisa melawannya. 

“Ada apa rupanya?” tantang istrinya. 

Carl memberi penjelasan dengan nada minta maaf seperti yang biasa digunakan Jody. “Pembicaraannya itu,” ujarnya takut-takut. “Pembicaraannya itu.”

“Bagus, pembicaraan yang mana itu? Engkau sendiri selalu bicara tentang dirimu sendiri.”

“Memang. Tapi ayahmu hanya membicarakan satu hal.”

“Orang-orang Indian!” Jody menyahut dengan semangat. “Orang-orang Indian dan penyeberangan-penyeberangan.”

Carl memandang anaknya dengan marah. “Kau, keluar Tuan Besar! Keluar sekarang! Keluar!”
Dengan wajah murung Jody berjalan ke luar dapur, menuju pintu belakang, dan dengan perlahan sekali ditutupnya pintu dapur. Di bawah jendela dapur, rasa malu yang menyelimutinya membuat anak ini terus tertunduk. Tapi kemudian matanya tertumbuk pada sebuah batu yang bentuknya amat menarik, yang membuatnya berjongkok dan memungutnya dan kemudian menimang-nimangnya dengan kedua tangannya, berganti-ganti.

Percakapan orang tuanya sampai ke telinga Jody melalui jendela dapur yang terbuka. “Jody memang benar,” ia mendengar kata-kata ayahnya. “Melulu tentang orang-orang Indian dan penyeberangan-penyeberangan. Sudah ribuan kali aku mendengar cerita tentang bagaimana kuda-kuda dihalau. Tapi ayahmu terus dan terus saja bercerita, dan ia tak pernah mengubah kata-katanya, itu pun, setiap kali ia mengulang ceritanya.”

Ketika Nyonya Tiflin menjawab, nada suaranya begitu lain sehingga Jody yang berada di luar mendongakkan kepalanya dari batu yang sedang diamatinya. Suara ibunya menjadi lembut dan penuh pengertian. Jody tahu bagaimana wajah ibunya sekarang, yang tentu sudah berubah mengikuti nada suaranya. Dengan tenang Nyonya Tiflin berkata, “Lihatlah masalah ini dengan cara lain, Carl. Semua yang diceritakan Ayah itu merupakan sesuatu yang amat berarti baginya. Setiap kali Ayah membawa sebuah kereta barang, kemudian menyeberangi daratan menuju pantai. Dan ketika hal itu sudah selesai ia kerjakan, hidupnya pun terasa lengkap. Ketahuilah!” Nyonya Tiflin melanjutkan, “Sepertinya Ayah memang dilahirkan untuk melakukan hal itu, dan setelah ia menyelesaikannya, tak ada hal lain yang dilakukannya kecuali memikirkan dan membicarakannya. Jika Ayah bisa pergi ke barat lebih jauh lagi, tentu ia akan melakukannya. Ayah mengatakan itu padaku. Tapi ternyata di sana ada pantai. Lalu ia pun hidup di pinggir pantai, tempat ia memang harus berhenti.”

Wanita itu telah menangkap Carl, menangkapnya dan menjeratnya dengan nada suaranya yang lembut.

“Aku tahu,” Carl menjawab dengan tenang. “Aku melihatnya berjalan turun dan pandangannya ke bawah melintasi laut.” Suaranya sedikit meninggi. “Dan kemudian ia pergi menuju Klub Sepatu Kuda di Belahan Pasifik, dan ia bercerita pada semua orang tentang bagaimana orang-orang Indian menghalau kuda-kuda.”

Nyonya Tiflin berusaha menangkapnya lagi. “Ya, tapi itu semua merupakan segalanya bagi Ayah. Engkau ‘kan bisa bersabar dan berpura-pura mendengarkan ceritanya.”

Carl mendadak jadi tak sabar. “Tapi jika keadaannya jadi terlalu buruk, aku selalu bisa ke dangau dan duduk-duduk di sana bersama Billy,” ujarnya marah. Ia pun berjalan ke luar dan membanting pintu depan.

Jody berlari ke tempat kerjanya. Ia menaburkan makanan ke ayam-ayam tanpa berusaha mengejar-ngejar satu pun dari mereka. Ia juga segera mengumpulkan telur-telur ayam. Ia masuk ke rumah sambil membawa kayu-kayu yang diikat begitu rapi dalam kotak kayu sehingga beban di kedua lengannya tampak penuh. 

Sekarang Nyonya Tiflin telah selesai memasak kacang. Ia membesarkan api kompor dan mulai memasak sayap kalkun. Dengan penuh rasa ingin tahu Jody mengawasi ibunya, sambil menebak-nebak apakah masih tersisa kemarahan untuknya. 

“Kakek mau datang hari ni, ya?” tanya Jody.

“Suratnya mengatakan begitu.”

“Saya mau ke jalanan, mau menjemput Kakek.”

Nyonya Tiflin memasang penutup wajan, bunyinya bergemerincing. “Bagus sekali,” ujarnya. “Kakek akan senang sekali kalau engkau menjemputnya.”

“Saya mau pergi sekarang.”

Di luar, Jody bersiul nyaring ke arah anjing-anjingnya. “Ayo ikut ke bukit,” perintahnya. Kedua anjingnya menggoyang-goyangkan ekornya dan kemudian berlari mendahuluinya. Di tepian jalan, pohon-pohon sage  dengan pucuk-pucuk daunnya yang halus merangsang Jody untuk menariknya dan kemudian meremas-remasnya. Segera udara dipenuhi aroma bumbu-bumbu yang menyengat. 

Dengan sekali lompatan, anjing-anjing Jody berbelok dari jalanan dan kemudian berlari menuju semak-semak, memburu seekor kelinci. Itu terakhir kali Jody melihat mereka. Karena ketika kedua anjing itu tak berhasil menangkap buruannya, mereka langsung saja pulang ke rumah. 

Dengan susah payah Jody berjalan mendaki bukit. Ketika mencapai sebuah belahan bukit, tempat jalan membentang, angin siang menerpanya, menerbang-nerbangkan rambutnya, dan membuat kusut bajunya. Ia memandang ke bawah, ke arah bukit-bukit kecil, kemudian matanya tertuju ke lembah Salinas yang luas dan hijau. Ia juga bisa melihat kota Salinas dengan bayangan jendela-jendela dari rumah-rumah yang ada di sana. Sinar matahari mulai menyusut. Di bawah tempatnya berdiri, di sebuah pohon ek, sekumpulan gagak telah membuat pohon itu menjadi hitam. Gagak-gagak itu juga menggaok bersamaan. 

Mata Jody mengikuti jalanan kereta yang menurun dari bukit tempatnya berdiri, yang kemudian lenyap di balik sebuah bukit, kemudian muncul lagi di sisi bukit yang lain. Di kejauhan seperti itu, mendadak Jody melihat sebuah kereta sedang bergerak perlahan. Kereta itu hanya ditarik oleh seekor kuda berwarna cokelat kemerahan. Sekarang kereta itu menghilang di balik bukit. Jody berteriak gembira, dan langsung berlari menuruni jalanan yang menuju ke arah kereta itu. Di tepi jalan, bajing-bajing berlari bertubrukan, namun seekor dari mereka berlari kencang di jalanan, seolah berpacu dengan Jody, melewati tepian bukit dan meluncur seperti pesawat terbang layang. 

Setiap melangkah Jody mencoba melompati bayangannya sendiri. Sebuah batu terguling di dekat kakinya, tapi anak ini terus saja berlari, dan di depan sana tampak Kakek dengan kereta kudanya. Mendadak Jody menghentikan larinya, kemudian mendekati kakeknya dengan langkah-langkah lebar. 

Kuda cokelat kemerahan itu dengan susah payah berjalan mendaki bukit, sementara laki-laki tua itu berjalan di sampingnya. Ia memakai baju setelan berwarna hitam dan ada dasi yang juga berwarna hitam pada kerah bajunya yang pendek dan keras itu. Kakek juga mengenakan kain penutup sepatu. 
Di tangannya ada topi berwarna hitam dan sudah tampak lusuh. Jenggotnya yang putih dicukur pendek dan alisnya yang putih menggantung seperti kumis di atas matanya. Mata Kakek yang biru memancarkan kebahagiaan. Raut wajah dan bentuk tubuhnya memancarkan kewibawaan. Setiap berhenti melangkah, tubuh laki-laki tua itu kelihatan tegak seperti batu, seolah tak akan pernah bisa bergerak lagi. Langkahnya pelan dan pasti. Setiap kali ia menghadapkan tubuhnya ke arah lain, langkahnya tetap saja lurus dan tak pernah menjadi lambat atau cepat. 

Ketika Jody muncul di tikungan jalan, Kakek melambaikan topinya, menyambut kedatangan cucunya. Dan ia berteriak, “Jody! Engkau kemari mau menjemputku, ‘kan?”

Pelan-pelan Jody mendekati kakeknya dan berjalan berbalik, lalu berusaha menyesuaikan langkah kakinya dengan langkah laki-laki tua itu, sambil berusaha menegakkan tubuhnya. “Ya, Kek,” ujarnya. “Kami terima surat Kakek hari ini.”

“Seharusnya kalian sudah menerimanya kemarin,” ujar Kakek. “Seharusnya kemarin. Bagaimana kabar orang-orang rumah?”

“Baik, Kek.” Dengan agak malu-malu Jody mengajukan usulan. “Kakek besok mau berburu tikus?”
“Berburu tikus?” Kakek tertawa. “Apakah orang-orang generasi sekarang itu dilahirkan hanya untuk memburu tikus-tikus? Mereka itu orang-orang yang lemah. Sulit bagiku membayangkan tikus-tikus itu bisa menjadi bahan permainan mereka.”

“Bukan begitu, Kek. Timbunan jerami itu ‘kan mau dibersihkan. Saya ingin mengusir tikus-tikus itu dengan anjing kita. Kakek bisa nonton, atau kalau Kakek mau, bisa mengaduk-aduk jerami.”

Mata yang keras dan bahagia itu beralih ke Jody. “Aku tahu, engkau tak akan memakannya. Kalian belum sampai ke situ ‘kan?”

Jody menambahkan, “Anjing-anjing itu yang akan memakannya. Mirip dengan cerita perburuan orang-orang Indian, ya?”

“Tidak, ketika para tentara itu sedang memburu orang-orang Indian dan menembaki anak-anak dan membakari rumah-rumah mereka, semua itu lain sekali dengan acaramu berburu tikus itu.”

Kedua orang ini mencapai tanjakan bukit dan mulai berjalan turun ke daerah pertanian. Sinar matahari sudah tak menerpa bahu-bahu mereka lagi. “Engkau sudah tambah besar,” ujar Kakek. “Tambah tingginya hampir satu inci, ya?”

“Lebih,” Jody membual. “Waktu Thanksgiving, tinggi saya diukur di pintu, dan tambahnya sudah lebih dari satu inci.”

Dengan suaranya yang serak Kakek berkata, “Mungkin engkau terlalu banyak disiram air, jadinya sekarang sudah seperti tangkai. Coba kita lihat nanti, kalau engkau sudah berbuah.”

Dengan cepat Jody memandang wajah laki-laki tua itu untuk melihat apakah Kakek tersinggung. Namun tak ada tanda sakit hati di sana, dan tak ada tanda menghukum atau menekan pada mata biru yang tajam itu. “Kita juga bisa berburu babi,” Jody mengajukan saran lain.

“Tidak. Tak akan kubiarkan dirimu melakukan itu. Sekarang ‘kan bukan musimnya, dan engkau tahu itu.”

“Kakek kenal Riley si babi hutan besar itu ‘kan?”

“Ya, aku ingat Riley.”

“Riley makan jerami bersama tikus-tikus itu, dan tumpukan jerami menimbuni tubuhnya.”

“Babi-babi akan melakukan itu jika merasa bisa melakukannya,” ujar Kakek.

“Untuk ukuran babi hutan, Riley itu babi yang baik. Saya suka naik ke punggungnya, dan ia tidak marah kok.”

Terdengar suara pintu dibanting dari rumah di bawah mereka, dan kedua orang ini melihat ibu Jody berdiri di depan rumah sambil melambaikan celemeknya. Mereka juga melihat Carl Tiflin ke luar dari gudang dan berjalan menuju rumah untuk menyambut kedatangan Kakek.

Sekarang matahari telah menghilang dari daerah perbukitan. Asap biru yang keluar dari cerobong asap menggantung di udara, membentuk lapisan-lapisan di atas daerah pertanian yang berwarna lembayung. Awan berbentuk bulatan-bulatan jatuh tertiup angin musim gugur, dan menggantung di udara. 

Billy Buck keluar dari dangau untuk membuang air sabun dari sebuah baskom. Ia habis bercukur, kebiasaan yang selalu dilakukannya pada pertengahan minggu. Billy meniru kebiasaan Kakek. Dan Kakek berkata bahwa Billy merupakan salah seorang generasi baru yang tidak lemah. Meski Billy berumur 50-an, Kakek tetap memandangnya sebagai seorang anak. Sekarang tampak Billy berjalan tergesa menuju rumah. 

Ketika Jody dan Kakek tiba, sudah ada tiga orang yang menunggu mereka di pintu depan.

“Halo, Sir,” ujar Carl. “Kami sudah menunggu-nunggu kedatangan Anda.” Nyonya Tiflin mencium pipi Kakek, badannya tegak sementara tangan Kakek yang besar menekan pundaknya. Billy menjabat tangan Kakek dengan sepenuh hati. Bibirnya tersenyum di bawah kumisnya yang berwarna pirang. “Saya akan mengurus kuda Tuan,” ujar Billy, dan ia pun segera menarik tali kuda Kakek.

Kakek memandangi kepergian Billy, lalu kembali memperhatikan yang lain. Dan Kakek mulai berbicara, seperti ratusan kali sebelumnya. “Dia itu anak baik. Aku kenal ayahnya, si ekor Bagal tua. Aku tak tahu kenapa orang-orang itu menjulukinya si Ekor Bagal. Tugasnya memang memasukkan bagal-bagal ke kotak kandangnya.”

Nyonya Tiflin membalikkan tubuhnya dan berjalan mendahului menuju rumah. “Berapa lama Ayah akan tinggal di sini? Surat Ayah tidak menceritakan itu.”

“Aku sendiri tak tahu. Tapi kurasa aku akan berada di sini sekitar dua minggu. Tapi aku ‘kan tak pernah di sini selama yang kurencanakan.”

Sebentar kemudian mereka sudah mengelilingi meja makan yang bertaplak putih, siap untuk makan malam. Lampu minyak dengan kapnya yang terbuat dari timah tergantung di atas meja. Dari luar jendela, laron-laron besar beterbangan dan menubruk-nubruk kaca jendela. 

Kakek memotong daging bistiknya menjadi irisan-irisan kecil, kemudian pelan-pelan memakannya. “Aku lapar,” ujarnya. “Perjalanan ke sini telah membuat nafsu makanku bangkit. Kejadiannya mirip dengan ketika kami melakukan penyeberangan. Setiap malam kami semua menjadi begitu lapar sehingga menjadi tak sabar saat menunggu daging selesai dimasak. Aku sendiri bisa makan sekitar lima pon daging kerbau setiap malamnya.”

“Masih cerita sekitar itu,” sambung Billy. “Ayah saya ‘kan karyawan pengepakan milik pemerintah. Dulu, ketika masih kecil, saya suka membantu Ayah. Kami berdua bisa menghabiskan satu paha rusa.”

“Aku kenal ayahmu, Billy,” ujar Kakek. “Ia orang baik. Orang-orang menyebutnya Ekor Bagal. Aku tak tahu mengapa, kecuali bahwa pekerjaannya memang mengepak bagal-bagal.”

“Memang benar,” ujar Billy. “Ayah saya memasukkan bagal-bagal ke kotak kandangnya.”

Kakek meletakkan pisau dan garpunya dan mengarahkan pandangannya ke sekeliling meja. “Aku jadi ingat, suatu kali kami mencari-cari daging.” Suaranya merendah, seperti orang yang sedang bersenandung perlahan. “Tak ada kerbau waktu itu, tak ada antilop, kelinci-kelinci pun tak ada. Para pemburu bahkan tak bisa menembak seekor anjing hutan. Ini saatnya bagi seorang pemimpin untuk waspada. Dan akulah pemimpin itu, dan aku tetap membuka mata. Tahu sebabnya? Ketika tiba saatnya orang-orang mulai kelaparan, mereka akan menyembelih sapi jantan milik rombongan. Kalian percaya itu? Aku pernah mendengar cerita tentang rombongan penyeberangan yang menghabiskan sendiri sapi penarik kereta mereka. Mereka mulai memakannya dari tengah, bergerak ke belakang. Akhirnya mereka makan juga sang pemimpin dan kereta-keretanya. Ketua rombongan harus bisa mencegah mereka melakukan itu.”

Seekor laron memasuki ruangan dan terbang mengitari lampu minyak yang tergantung. Billy bangkit dan mencoba menepuk laron itu dengan kedua belah tangannya. Carl memukulnya dengan satu kibasan tangannya dan kemudian meremasnya. Ia berjalan menuju pintu dan membuangnya ke luar. 
“Seperti yang pernah kuceritakan,” Kakek memulai bicaranya lagi, tapi dengan cepat Carl menyelanya. “Lebih baik Ayah makan dagingnya lagi. Kami semua sudah siap makan puding.”

Jody melihat kilatan cahaya kemarahan di mata ibunya. Kakek mengambil kembali pisau dan garpunya. “Baik, aku memang lapar,” katanya. “Akan kuceritakan hal itu nanti.”

Ketika acara makan malam selesai, seluruh anggota keluarga dan Billy Buck duduk di depan perapian di ruangan lain. Dengan penuh rasa ingin tahu Jody memandang Kakek. Ia menangkap isyarat-isyarat yang sudah dikenalnya. Kepala yang bercambang itu terpaku dan condong ke depan; kedua matanya kehilangan ketajamannya dan tampak ragu-ragu memandang ke arah api; jari-jari tangan Kakek yang besar itu bertumpu di lututnya. “Aku ragu,” ia mulai bicara, “aku ragu apakah aku pernah bercerita pada kalian bagaimana pencuri-pencuri Piutes itu menghalau tiga puluh lima ekor kuda kami.”

“Saya kira sudah pernah,” Carl menyela. “Bukankah peristiwa itu terjadi sebelum penyeberangan ke Tahoe?”

Dengan cepat Kakek memandang menantunya. “Ya, betul. Kurasa aku pernah menceritakan itu pada kalian.”

“Berulang kali,” Carl berkata dengan kasar, dan ia segera menghindari tatapan mata istrinya. Tapi ia bisa merasakan sepasang mata yang memancarkan kemarahan sedang tertuju padanya. Dan akhirnya ia pun berkata, “Tentu saja mau mendengarnya lagi.”

Kakek kembali memandangi api. Jari-jari tangannya saling mengatup, kemudian lepas lagi. Jody tahu apa yang Kakek rasakan, bagaimana dada orang tua itu menjadi runtuh dan hampa. Bukankah tadi siang ia juga telah dijuluki Tuan Besar? Anak kecil ini bangkit dan membukakan dirinya untuk julukan itu lagi: “Kakek cerita dong tentang orang-orang Indian,” kata Jody pelan.

Mata Kakek mendadak bersinar kembali. “Anak laki-laki selalu ingin mendengar tentang orang-orang Indian. Meskipun itu sebenarnya tugas kaum laki-laki, tapi anak-anak selalu saja ingin mendengarnya. Baik, mari kita mulai. Apakah aku pernah cerita pada kalian tentang bagaimana aku ingin setiap kereta membawa sebuah lempengan besi panjang?”

“Tidak, belum pernah,” ujar Jody, yang lain tetap diam.

“Baik, ketika orang-orang Indian itu diserang, kami selalu menempatkan kereta-kereta kami dalam sebuah lingkaran. Dan kami bertempur dari sela-sela roda. Aku berpikir seandainya setiap kereta membawa sebuah lempengan besi yang diberi lubang senapan, orang-orang bisa menempatkan lempengan itu di bagian luar roda kereta, dan dengan begitu kami akan terlindung. Tapi tentu saja orang-orang itu tidak melakukannya. Sebelumnya juga tak pernah ada rombongan lain yang melakukannya. Dan orang-orang itu tidak bisa mengerti mengapa mereka harus pergi untuk mengorbankan diri. Hidup mereka juga untuk menyesali hal itu.”

Jody memandang ke arah ibunya, dan dari ekspresi wajah ibunya ia tahu bahwa sang ibu tak sepenuhnya mendengarkan pembicaraan Kakek. Carl kelihatan sibuk menarik-narik kutil yang ada di jempol tangannya, dan Billy memandangi laba-laba yang merambat di tembok. 

Nada suara Kakek terdengar turun dan jadi meliuk-liuk lagi. Jody sudah tahu kata-kata apa yang akan meluncur. Cerita jadi tampak membosankan, dipercepat untuk segera sampai ke bagian serangan, munculnya kesedihan karena luka-luka yang diderita, mengalunnya lagu penguburan. Jody duduk tenang-tenang sambil memandangi Kakek. Mata biru yang tajam itu memiliki kelopak yang jelas. Kakek jadi kelihatan tak tertarik dengan ceritanya sendiri.

Ketika cerita usai, ketika tiba saat diam, Billy Buck bangkit dan merapikan celananya. “Saya kira saya harus segera tidur,” ujarnya. Kemudian ia memandang Kakek. “Saya sudah punya mesiu kuno, topi dan pistol, semuanya saya simpan di gudang. Apa saya pernah menunjukkannya pada Anda?”

Pelan Kakek mengiyakan. “Ya, kurasa engkau pernah menunjukkannya, Billy. Barang-barangmu itu mengingatkanku pada sebuah pistol yang kumiliki ketika aku memimpin orang-orang melakukan penyeberangan.” Berdiri dengan sopan Billy menunggu cerita kecil itu selesai, lalu ia berkata, “Selamat malam,” dan kemudian keluar dari rumah. 

Carl Tiflin mencoba mengalihkan pembicaraan. “Bagaimana keadaan daerah antara di sini dan Monterey? Saya dengar dilanda kekeringan.”

“Memang kering,” ujar Kakek. “Tak ada setetes air pun di Laguna Seca. Tapi itu merupakan perjalanan panjang sejak tahun 1887. Dan di tahun 1961 nanti, aku percaya semua anjing hutan akan mati. Tahun ini curah hujan mencapai lima belas inci.”

“Ya, tapi semua itu datang terlalu cepat. Sekarang ini kita bisa melakukan beberapa hal.” Pandangan Carl tertuju pada Jody. “Apa tidak lebih baik kalau engkau tidur sekarang?”

Dengan patuh Jody bangkit. “Ayah, boleh saya membunuh tikus-tikus di jerami tua?”

“Tikus? Oh, tentu, bunuh saja semuanya. Menurut Billy, tak ada lagi sisa jerami bagus.”

Jody saling bertukar pandang dan rahasia dengan Kakek. “Saya mau bunuh setiap tikus,” ia berjanji.
Sambil berbaring di tempat tidurnya, Jody memikirkan dunia orang-orang Indian serta kerbau-kerbaunya, dunia yang serba tak mungkin, dunia yang telah berakhir untuk selamanya. Ia berharap dirinya hidup pada zaman heroik. Tapi ia tahu dirinya bukanlah seorang yang gagah berani. Sekarang ini, tak seorang pun, seperti Billy Buck misalnya, pernah melakukan sesuatu yang berarti seperti yang pernah terjadi. Zaman dulu, hiduplah raksasa-raksasa, hidup pula orang-orang yang memiliki rasa takut, orang-orang yang kesetiaannya tak dimiliki lagi oleh orang-orang zaman sekarang. Jody membayangkan dataran-dataran luas dan kereta-kereta yang bergerak menyeberang seperti lipan. Ia membayangkan Kakek sedang berada di atas kudanya yang putih dan besar, memimpin orang-orang. Dalam benaknya, terlintas gambaran hantu-hantu besar. Mereka ini berbondong-bondong ke luar dari bumi dan kemudian lenyap.

Kemudian ia kembali ke daerah pertanian lagi. Ia mendengar suara-suara yang memancar dari kesunyian. Ia juga mendengar salah seekor anjingnya berada di luar kandang, sedang menggaruk-garuk kutu di bulunya dan kemudian menggosok-gosokkan sikunya ke lantai. Lalu angin kembali bertiup, dan pohon cemara hitam pun merintih, dan Jody segera jatuh tertidur. 

Ia terbangun hanya setengah jam sebelum tiba waktu makan pagi. Ketika berjalan melintasi dapur, ibunya sedang menggoyang-goyangkan kompor supaya api menjadi besar. “Kok bangun pagi,” sapa ibunya. “Mau ke mana?”

“Keluar, cari tongkat yang bagus. Hari ini kita akan membunuh tikus-tikus.”

“Kita siapa?”

“Kakek dan saya.”

“Jody, engkau mulai melibatkan Kakek. Engkau selalu ingin orang lain terlibat dalam pekerjaanmu supaya ada tempat berbagi kesalahan.”

“Saya pergi sebentar. Cuma mau menyiapkan tongkat yang bagus, biar habis makan bisa langsung kerja.”

Ia menutup pintu di belakangnya, lalu keluar ke udara yang dingin dan biru. Burung-burung ramai berkicau sementara kucing-kucing pertanian turun dari bukit, seperti ular-ular buntung. Mereka habis berburu tikus tanah di kegelapan malam. Dan meskipun perut keempat kucing itu dipenuhi daging tikus, mereka tetap saja duduk berdekatan membentuk setengah lingkaran di belakang pintu dapur, dan mengeong sedih agar diberi susu. Doubletree Mutt dan Smasher sedang mengendus-endus ujung sapu. Namun ketika Jody bersiul, kepala mereka tegak dan ekor keduanya bergoyang-goyang. Kedua anjing itu langsung melompat ke arah Jody, menggosok-gosokkan tubuh mereka dan menguap. Jody menekan-nekan kepala mereka dengan kesungguhan hati. Lalu ia mulai memilih sebuah tangkai sapu tua dan sebatang kayu yang pendek. Dari sakunya ia mengeluarkan tali sepatu dan mengikatkannya pada ujung-ujung tongkat, untuk membuat sebuah cambuk. Ia melecutkan senjata barunya itu ke udara dan memukul-mukulkannya ke tanah. Sementara kedua anjingnya melompat-lompat di sampingnya sambil menyalak gembira. 

Jody membalikkan tubuhnya dan pergi menuju tumpukan jerami kering untuk mencari tempat penyembelihan. Namun Billy Buck yang sedang duduk di tangga belakang rumah memanggilnya, “Sebaiknya kamu pulang dulu. Beberapa menit lagi kita harus makan.”

Jody mengubah arah langkahnya dan berjalan menuju rumah. Ia meletakkan cambuknya di anak tangga. “Ini untuk mengusir tikus,” katanya. “Taruhan, mereka pasti gendut-gendut. Mereka juga pasti tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diri mereka hari ini.”

“Engkau sendiri juga tidak tahu,” Billy menjawab dengan nada filosofis. “Aku pun tidak, setiap orang juga tidak.”

Jody kelihatan kaget dengan ide pemikiran itu. Ia tahu itu benar. Imajinasinya terbang dari acara perburuan tikus. Dan semua angan-angannya terlempar ketika ibunya ke luar rumah sambil memukul-mukul kerincingan. 

Kakek belum muncul di meja makan ketika mereka semua telah duduk mengelilingi meja. Billy mengamati kursi Kakek yang kosong. “Apa ia baik-baik saja? Tidak sakit?”

“Ayah butuh waktu lama untuk berpakaian,” ujar Nyonya Tiflin. “Ayah selalu menyisir janggutnya dan melap sepatunya dan menyikat bajunya.”

Carl mulai menaburkan gula pada buburnya. “Seorang laki-laki yang memimpin penyeberangan kereta-kereta memang harus selalu berpakaian rapi.”

Nyonya Tiflin memandangnya. “Jangan bicara seperti itu, Carl! Tolong, jangan!” Lebih terdengar nada ancaman daripada permintaan dalam nada suaranya. Dan ancaman itu membuat Carl marah.
“Bagus, berapa kali aku harus mendengar lempengan-lempengan besi dan tiga puluh lima ekor kuda itu? Zaman itu telah lewat. Mengapa ia tak bisa melupakannya? Sekarang, semua itu telah berlalu.” Carl tampak bertambah marah sewaktu bicara. Nada suaranya meninggi. “Mengapa ia harus menceritakan itu berulang-ulang? Ia menyeberangi dataran-dataran. Benar! Tapi sekarang ‘kan semuanya sudah selesai. Dan tak seorang pun yang ingin terus-terusan mendengar cerita itu.” 

Pintu yang menuju dapur tertutup pelan. Keempat orang itu mendadak duduk mematung. Carl meletakkan sendok buburnya di meja dan mulai meraba dagunya dengan jari-jarinya. 

Kemudian pintu dapur terbuka dan Kakek masuk ke tempat mereka. Mulutnya tersenyum kaku dan matanya melirik. “Selamat pagi,” ujarnya, dan ia pun segera duduk dan memandang lurus-lurus ke piring buburnya. 

Carl merasa tak tahan untuk tetap berdiam diri. “Ayah dengar apa yang saya katakan?”
Kakek mengangguk kecil.

“Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan diri saya. Saya tidak bermaksud mengatakan itu. Saya hanya ingin melucu.”

Jody memandang ibunya dengan rasa malu, dan ia melihat ibunya sedang memandang ayahnya sambil menahan napas. Sesuatu yang mengerikan telah dilakukan ayahnya. Dengan berbicara seperti itu, ia sedang mencabik dirinya menjadi serpihan-serpihan. Merupakan sesuatu yang mengerikan bagi Carl untuk menarik kembali ucapannya, namun menariknya kembali dengan disertai rasa malu merupakan hal yang lebih buruk lagi. 

Kakek tampak menunjukkan sikap bijaksana. “Aku sedang mencoba memandang hal itu sebagaimana adanya,” ujarnya lembut. “Aku tidak sedang gila. Tapi sungguh, aku tak merasa apa-apa dengan apa yang kau katakan. Mungkin saja itu benar. Dan aku perlu memperhatikannnya.”

“Itu tadi tidak betul,” ujar Carl. “Saya merasa tidak sehat pagi ini. Maaf, saya telah berbicara seperti itu.”

“Jangan merasa bersalah, Carl. Terkadang orang tua memang tak bisa melihat sesuatu dengan baik. Mungkin engkau benar. Penyeberangan itu telah berakhir. Mungkin seharusnya hal itu memang dilupakan saja.”

Carl berdiri. “Saya sudah kenyang. Saya mau langsung kerja. Tenang-tenang saja, Billy!” Dengan cepat ia keluar dari ruang makan. Billy menelan sisa-sisa makanannya dan segera mengikuti Carl. Tapi Jody merasa tak bisa meninggalkan tempat duduknya. 

“Kakek tak akan cerita lagi?” tanya Jody.

“Mengapa? Tentu saja aku mau cerita lagi. Tapi kalau aku yakin orang-orang memang ingin mendengarnya.”

“Saya suka cerita Kakek.”

“Oh! Tentu saja engkau suka. Tapi engkau ‘kan masih kecil. Sebenarnya itu tugas seorang laki-laki dewasa. Tapi nyatanya, hanya anak kecil yang suka mendengar tentang hal itu.”

Jody bangkit dari tempat duduknya. “Saya tunggu Kakek di luar, ya. Saya sudah mendapat tongkat untuk membunuh tikus-tikus.”

Jody menunggu di pintu gerbang sampai laki-laki tua itu muncul di beranda. “Ayo kita turun dan mulai berburu.”

“Kurasa aku akan duduk-duduk di sini. Engkau sajalah yang membunuhi tikus-tikus itu.”

“Kalau Kakek mau, Kakek bisa pakai tongkat saya.”

“Tidak, aku akan duduk-duduk di sini sebentar.”

Dengan sedih Jody pergi, berjalan turun menuju timbunan jerami tua. Ia mencoba membangkitkan semangatnya dengan membayangkan tikus-tikus gemuk itu menjadi hancur-lebur. Ia memukul-mukul tanah dengan cambuknya. Anjing-anjingnya berusaha membujuknya, tapi Jody tetap saja tak bersemangat. Kembali menuju rumah, ia bisa melihat Kakek yang sedang duduk di beranda. Kakek tampak kecil dan kurus dan hitam. 

Jody menyerah dan kemudian duduk di dekat laki-laki tua itu. 

“Kok sudah kembali? Sudah kau bunuh tikus-tikus kecil itu?”

“Tidak, Kek. Saya mau membunuhnya lain hari saja.”

Serangga-serangga berdesing-desing di permukaan tanah, dan semut-semut berlari di depan anak tangga. Bau sage yang menyengat terasa meluncur dari bukit. Serambi depan terasa hangat oleh sinar matahari. 

Jody tidak tahu kapan Kakek mulai bicara. “Seharusnya aku tidak berada di sini, melakukan sesuatu seperti yang kuinginkan.” Ia mengamati tangannya yang kokoh. “Aku merasa seolah penyeberangan itu bukan pekerjaan yang berarti.” Matanya bergerak menuju ketinggian bukit, dan berhenti dengan sebuah tatapan tajam dan lurus pada sebuah dahan kering. “Aku memang menceritakan peristiwa-peristiwa lama. Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin kukatakan. Aku hanya ingin tahu bagaimana orang lain merasakan hal itu ketika aku menceritakannya pada mereka.

“Bukan orang-orang Indian itu yang jadi masalah utama! Bukan petualangan-petualangan itu. Rombongan yang melakukan penyeberangan itu merupakan sekumpulan orang-orang yang setelah bergabung menjadi kumpulan binatang buas. Dan akulah pemimpinnya. Kami bergerak ke barat dan terus ke barat. Setiap orang menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri, tapi seluruh binatang buas itu hanya ingin berjalan ke barat. Aku pemimpinnya, tapi jika aku tak berada di sana, atau ada orang lain yang menjadi kepalanya …. Segala sesuatu itu harus memiliki kepala.

“Di bawah semak-semak kecil, bayangan-bayangan menjadi hitam. Ketika akhirnya kami melihat gunung-gunung, kami menangis—kami semua. Tapi bukan itu yang jadi masalah. Itu hanyalah acara perpindahan dan perjalanan ke barat.

“Kami membawa hidup kami ke luar dari tempat ini dan meletakkannya seperti semut-semut membawa telur-telurnya. Dan aku pemimpinnya. Perjalanan ke barat itu sesuatu yang besar dan langkah-langkah pelan membuat rombongan membengkak dan membengkak sampai akhirnya kami bisa menyeberangi benua.

“Kemudian kami berjalan turun ke arah laut, dan selesailah penyeberangan itu.” Ia berhenti bicara dan mengusap matanya sampai lingkaran matanya menjadi merah. “Itu yang seharusnya kuceritakan di balik cerita yang sesungguhnya.”

Ketika Jody mulai bicara, Kakek memandang ke bawah, ke arahnya. “Mungkin suatu saat saya juga akan bisa memimpin orang-orang,” ujar Jody.

Laki-laki tua itu tersenyum. “Tak ada tempat yang dituju. Ada lautan yang akan menghentikan perjalananmu. Ada barisan orang tua-tua di sepanjang pantai, mereka ini membenci lautan yang telah menghentikan perjalanan mereka.”

“Kalau saya dengan kapal, Kek.”

“Tak ada tempat untuk dituju, Jody. Setiap tempat telah diambil. Tapi itu bukan yang terburuk—bukan, bukan yang terburuk. Perjalanan ke barat telah menyebabkan banyak orang mati. Perjalanan ke barat sudah tak lapar lagi. Semua telah selesai. Ayahmu benar. Perjalanan itu telah selesai.” Kakek meletakkan tangan-tangannya pada lututnya, dan ia memandangi jari-jarinya yang mengait lututnya. 
Jody merasa amat sedih. “Kalau Kakek mau segelas limun, saya bisa membuatnya.”

Kakek sudah akan menolak tapi kemudian melihat wajah Jody. “Bagus,” ujarnya. “Ya, bagus sekali kalau kita bisa minum limun.”

Jody berlari ke dapur, sementara itu ibunya sedang membersihkan piring terakhir yang dipakai sarapan tadi. “Boleh saya minta jeruk, untuk membuat limun?”

Ibunya menirukan—“Dan sebuah jeruk lagi untuk membuat limunmu.”

“Tidak, saya tidak mau.”

“Jody! Engkau sedang sakit, Nak!” Mendadak Nyonya Tiflin menghentikan pekerjaannya. “Ambil jeruk dari pendingin,” ujarnya lembut. “Ini, Ibu ambilkan pemerasnya.”

Alih bahasa SZL dari judul asli “The Leader of the People”


John Steinbeck. Orang Amerika kelima yang memperoleh Hadiah Nobel untuk sastra, John Steinbeck (1902-1968) lahir di Salinas, California, dan masuk sekolah umum di sana. Ia melakukan berbagai macam pekerjaan dari 1925-1935, termasuk menjadi pemetik buah, sebelum akhirnya menjadi penulis sepenuhnya. Dan tulisannya memenangkan Drama Critics Circle Award dan Hadiah Pulitzer sebelum akhirnya meraih Nobel. Setelah novel-novelnya beroleh sukses, Steinbeck juga bekerja sebagai seorang penulis skenario. Ia membuat skenario dalam film-film seperti Lifeboat (1944, bersama Jo Swerling) dan Viva Zapata! (1952).

Sebagai seorang penulis terkemuka di tahun 1930-an, Steinbeck memiliki selera kerja orang Amerika, yang dalam masa-masa sulit sering kali tampak lebih baik dibanding orang lain. Gaya berceritanya yang ironis dan bakat naturalismenya telah melambungkan dirinya ke kemasyhuran. Dan ini diperkuat oleh film-film yang dibuat dari buku-bukunya. Keprihatinannya yang besar terhadap masalah-masalah sosial ia ungkapkan dalam buku-bukunya seperti Tortilla Flat (1935), Of Mice and Men (1937), The Grapes of Wrath (1938), dan Cannery Row (1945). 

Karya-karyanya setelah Perang Dunia II tak pernah mencapai kekuatan seperti karya-karya besarnya yang terdahulu. Namun ini merupakan hal yang biasa terjadi pada para penulis, dan tidak mengurangi pengaruh dan nama besarnya. Steinbeck pernah mengunjungi Jakarta dan bertemu dengan sejumlah penulis yang tinggal di Jakarta. (Matra, Juni 1990)


***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya John Steinbeck yang dialihbahasakan oleh S Z Luxfianti 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" Juni 1990

0 Response to "Sang Pemimpin"