Satu Hari di Awal Musim Semi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Satu Hari di Awal Musim Semi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:08 Rating: 4,5

Satu Hari di Awal Musim Semi

GADIS itu sedang mengamati deretan bunga Peony yang berbaris di halaman kuil ketika seorang lelaki muda menyentuh pundaknya.

Sore itu adalah awal musim semi, setelah bulan-bulan dengan suhu setajam jarum es, kini bungabunga mulai bermekaran, kuncup bunga Peony adalah yang pertama menarik perhatian gadis itu.

“Aku membayangkan mereka berbaris menyambut keberuntungan tahun baru. Kelopaknya lebar dan berdesakan.” 

“Bunganya lebih lebat dari tahun lalu. Mungkin Nenek Shin menanam yang baru.” 

Lelaki muda itu senang karena si gadis tidak mempermasalahkan keterlambatannya. Padahal ia sudah terburu-buru karena sempat tertidur setelah menjaga ibunya yang sakit semenjak beberapa hari ini.

“Oh, apakah Ibumu sudah lebih baik?” tanya gadis itu, ia membersihkan telapak tangannya dari jejak tanah basah, kemudian bangkit dan mengibaskan ujung pakaiannya.

“Masih seperti kemarin.” 

“Seharusnya kita bertemu di rumahmu.” 

“Untuk apa? Kita sudah berjanji untuk membantu Nenek Shin. Sekarang kakakku yang menjaga Ibu. Jadi, tidak masalah.” Lelaki itu berdiri di bawah lonceng yang baru saja berbunyi karena angin yang tiba-tiba bertiup.

“Kau sudah bertemu Nenek di dalam?” tanya lelaki itu lagi.

“Belum. Ayo!” 

Keduanya kemudian masuk ke bagian utama kuil. Ornamen merah terpasang merata hampir di setiap dindingnya. Aroma hio yang tengah menyala tercium hampir di seluruh ruangan, sebagian hio tersimpan di sebuah wadah bambu. Di samping altar, ada seorang wanita tua yang sedang duduk sambil membungkus sebuah lampion.

“Ah, kukira kalian tidak akan kemari,” ujar wanita tua itu ketika melihat si gadis menggandeng tangan lelaki muda itu. Pekerjaannya hampir selesai, tinggal beberapa gulung kertas lagi.

“Besar sekali lampion yang ini dibanding yang lainnya.” 

“Ini akan digantungkan di tengah langit-langit.” 

“Apa tidak ada yang membantu Nenek sejak tadi?” 

“Lian yang mengerjakan lampion-lampion ini, tapi dia sedang ke kota mengirim surat.” 

Di sisi kiri ruangan itu ada jendela yang terbuka, matahari sore membuat kotak cahaya sesuai bingkai jendela di permukaaan lantai yang terbuat dari papan kayu berwarna kecokelatan.

“Sebentar lagi senja selesai,” gumam gadis itu, ia menekan-nekan dagunya.

“Tinggal satu lampion ini. Tolong,” ucap Nenek Shin.

Gadis itu menarik sebuah kursi, menggesernya ke tengah. Lelaki itu kemudian naik. Namun tangannya tidak sampai.

“Bisa kau ambil kursi kecil yang di ujung itu? Kita harus menyusunnya.” 

“Hati-hati, kau bisa jatuh...” 

“Tidak Nek, dia lelaki yang kuat. Aku yang menjamin masa depannya,” ucap si gadis.

Lelaki itu langsung tertawa sampai-sampai hampir kehilangan keseimbangan.

Gadis itu sangat mencintai kuil ini. Kuil yang hanya dijaga oleh Nenek Shin. Ketika pertama kali melihat kuil ini bersama ayahnya, gadis itu sudah jatuh cinta dengan suara lonceng lonceng kecil yang berpadu dengan suara angin yang diusik aliran sungai di belakangnya.

Ada rumpun bambu dan hamparan rerumputan setinggi pinggangnya, disibak oleh jalan setapak yang berkerikil. Juga sepasang pohon Mei Hwa yang bisa berbunga sepanjang tahun. Ia seperti menemukan istana kecil di pedalaman.

Ketika itu ia masih berusia tujuh tahun. Saat itulah ia bertemu lelaki muda itu, yang usianya setahun lebih tua. Keluarga mereka sangat dekat, sebab memang tidak banyak keluarga yang menghuni daerah terpencil Changshu, desa yang dilingkari oleh busur bukit. Gadis kecil dan lelaki itu pun bersahabat. Namun mereka hanya berkunjung ke kuil ini pada tanggal 15 setiap bulan, juga saat menjelang tahun baru seperti sekarang. Itu pun mereka selalu datang bersama orangtuanya. Barulah di tahun ini, ketika si gadis telah berusia enam belas tahun, mereka untuk pertama kalinya datang ke kuil Nenek Shin berdua saja.

Di masa lalu, ketika banyak keluarga belum memiliki kuil sendiri, kuil ini begitu ramai. Nenek Shin bersama suaminya selalu sibuk menata tempat ini sehingga siap untuk menyambut keluarga yang hendak sembahyang. Beberapa di antara mereka bahkan menitipkan abu leluhur di sini. Namun sekarang banyak yang telah membuat kuil keluarga. Kuil ini makin sepi. Setelah suami Nenek Shin meninggal, praktis hanya dia dan Lian, anak semata wayangnya, yang selalu mengurus kuil.

Sekarang gadis itu membersihkan beberapa lukisan yang terpajang di kanan dan kiri altar. Perhatiannya tertuju pada salah satu lukisan. Lelaki itu ikut mengamatinya. Dia seperti tidak pernah ingin jauh dari gadis itu.

“Aku membayangkan kelak kita berkeliling dunia, berlayar menyeberangi lautan, seperti Chen Fu Zhen Ren.” 

“Maksudmu, kau ingin aku menjadi arsitek?” 

“Ya. Kupikir kau berbakat mewarisinya.” 

Chen Fu Zen Ren adalah salah satu leluhur mereka yang menurut kisah, telah melakukan perjalanan jauh hingga ke Indonesia. Ia berlayar bersama kedua adiknya, tapi kapal mereka tenggelam di selat Bali dan hanya ia yang selamat setelah terdampar di Banyuwangi. Ia kemudian bekerja sebagai arsitek untuk Kerajaan Blambangan. Membuat sebuah kuil besar yang kelak dinamakan Kelenteng Rogojampi.

“Keberuntungan telah menyelamatkan para leluhur. Meski berada di tempat paling asing sekalipun.” 

Gadis itu menipiskan senyumnya, pipinya sedikit mengembang seperti keju yang didinginkan.

Lelaki itu telah lama menaruh perasaan tertentu kepadanya. Gadis itu pun barangkali mengerti. Namun mereka seakan tak terlalu memikirkan itu. Kini lampion telah menyala, beberapa hiasan kertas bergerak-gerak tertiup angin. Keduanya duduk di sebuah balok kayu yang telah diukir sedemikian rupa sehingga terlihat lebih kuno dari usianya. Gadis itu mengeluarkan bekal dari tas kain bermotif burung bangau.

Lelaki itu mengamati rerumputan, warna hijau segar yang mengingatkannya pada senyum gadis itu.

“Rumput-rumput itu seperti menunggu untuk dipanen.” 

“Bagaimana mungkin kita memanen rumput?” Keduanya menikmati bekal yang telah disiapkan gadis itu dari rumah. Selanjutnya mereka kembali menyelesaikan beberapa hiasan yang belum terpasang hingga menjelang malam.

“Semoga kalian tetap datang kemari. Sebab kalian tahu, mungkin Nenek tidak akan lama lagi...”

 “Jangan begitu, Nenek Shin masih sehat. Ramuan awet muda pasti bisa membuat Nenek hidup setidaknya 50 tahun lagi.” Ketiganya tertawa.

*** 
Malam harinya, kuil itu menjadi cukup ramai. Suara gelak tawa anak-anak berderai di pelataran. Hiasan kertas merah bertuliskan puisi-puisi kuno telah ditata sedemikian rupa. Biasanya, orang-orang tua akan bergiliran berdoa di altar. Nenek Shin juga telah memegang lembaran angpau. Setiap anak kecil yang mendatanginya selalu didoakan agar beruntung. Anak-anak juga menggantungkan sesuatu di ranting-ranting sepasang pohon Mei Hwa. Warna dedaunannya merah muda, membiaskan cahaya lampu dari tiang-tiang yang dipancangkan ke udara.

Tidak ada yang lebih membahagiakan Nenek Shin selain perayaan malam tahun baru di kuil ini. Sesuatu yang ditunggunya setiap tahun. Sesuatu yang entah kapan akan menjadi yang terakhir baginya. Orang-orang yang datang seperti menganggap wanita tua itu sebagai keluarga mereka. Terkadang mereka menebak-nebak mana yang lebih tua, usia kuil itu, atau usia sang Nenek.

Di gerbang depan, lelaki dan gadis itu sedang berdiri melihat beberapa anak kecil menyalakan kembang api.

“Sayang sekali, kuil ini hanya bahagia di awal tahun. Setelah itu ia kembali terasing.” 

“Setidaknya, tak sepenuhnya ditinggalkan.” 

“Oh, tapi kita hampir lupa berdoa.” Gadis itu sesaat menoleh ke arah ruang utama.

“Apa yang harus didoakan?“ 

“Ini malam Imlek. Bukankah kau juga harus meminta keberuntungan?“ 

“Aku... Aku sudah cukup beruntung sehingga aku bingung harus meminta yang mana lagi.“

Tiba-tiba, seperti gugupnya dedaunan, lelaki itu menggenggam tangan gadis itu, tapi buru-buru melepaskannya kembali.

Gadis itu tersenyum. Matanya menerawang jauh pada bukit yang semakin gelap, seperti suara burung gagak yang masih bergema tipis setelah hilang dari pandangan.

Kelak, jika keberuntungan tahun baru terus menyelimuti mereka, barangkali enam puluh tahun kemudian, gadis dan lelaki itu masih akan datang ke pelataran kuil, dituntun oleh cucu-cucu mereka, atau mungkin hanya seorang yang akan berkunjung kembali, dengan perasaan sendu mengingat masa lalu. Namun siapa yang bisa menentukan masa depan? Mungkin saja suatu hari nanti tidak ada lagi bunga Peony yang berbaris di halaman seperti menyambut kehangatan matahari awal musim semi di pedalaman Changshu. Tidak ada kuil yang berdiri kokoh dijaga oleh sepasang pohon Mei Hwa. Dan tidak ada yang mengetahui kabar tentang gadis dan lelaki itu lagi...

2016 

Sungging Raga, tinggal di Situbondo, Jawa Timur.Buku cerpen terkininya, Reruntuhan Musim Dingin (2016).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sungging Raga
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 7 Februari 2016

0 Response to "Satu Hari di Awal Musim Semi"