Sebuah Rumah yang Jauh | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sebuah Rumah yang Jauh Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 19:43 Rating: 4,5

Sebuah Rumah yang Jauh

RUMAH itu sangat jauh. Tak tertangkap pancaindra. Tapi, aku tahu rumah itu karena aku pernah ada di sana. Aku ingat segala yang ada di dalamnya. Segala hal yang kini sudah berpindah ke dalam kepalaku, menjadi ingatanku. Menjadi sebuah rumah yang ada di bagian terdalam otakku.

Tidakkah menurutmu begitu? Segala hal yang kulihat akan menjadi ada bagiku karena ia telah ada dalam kepalaku setelah melalui pancaindraku. Tidakkah begitu? Karena segala yang ada tidak akan menjadi ada bagiku jika tak berhasil melalui pancaindraku dan masuk ke dalam kepalaku.

Ada gerbang kayu yang harus dilalui sebelum mencapai jalan kecil dengan tanah cokelat kemerahan, jalan untuk mencapai beranda rumah itu. Rumah yang punya pekarangan sangat luas dengan rumput hijau yang menghampar laiknya rumput sintetis.

Di sepanjang jalan menuju rumah itu, di sisi kiri kanan, ada kembang-kembang krisan yang sedang mekar. Di jalan itu seakan hanya ada sepi. Burung-burung yang berlalu lalang seakan telah kehilangan suara kepaknya, seakan sudah tidak mau bernyanyi--atau mungkin memang tidak bisa, atau mungkin aku yang tak bisa mendengarnya. Mereka seakan sudah tidak ingin menyapa siapa pun. Mereka hanya terbang, berputar-putar di atasku, terbang rendah di sekitarku, terbang di atas kembang-kembang krisan, lalu melesat pergi dan menghilang.

Ke manakah burung-burung itu?Di manakah rumah mereka? Sementara aku tak melihat sebatang pohon di sekitar tempat itu. Mungkin mereka punya rumah di tempat yang sangat jauh. Tidakkah menurutmu begitu? Bukankah burung-burung butuh rumah? Sebuah sarang.

Aku terus berjalan tanpa bisa berhenti, serupa orang tuli yang tak mampu mendengar perintah berhenti. Satu-satunya suara yang mampu kudengar adalah suara dari benda yang sepertinya sedang berayun-ayun, seperti suara sebuah ayunan atau sebuah kursi goyang. Suara yang datang dari arah rumah itu.

Entah bagaimana aku bisa mendengarnya sedari memasuki gerbang? Mungkin karena suasana sangat sepi sehingga suara itu menjadi satu-satunya suara yang mampu ditangkap telingaku.

Jalan itu terasa begitu keras seperti tanah bukit-bukit yang tandus. Seperti tanah bukit yang baru saja dilalui kendaraan-kendaraan berat yang hendak menggundulinya. Tak ada aroma kehidupan dari dalam tanah itu. Tak ada aroma kehidupan di tempat itu. Tapi, kembang-kembang krisan, kelopak-kelopaknya yang sesekali kuinjak, burung-burung, juga suara dari dalam rumah itu membuatku merasa hidup. Suara yang seakan tak mengenal jarak sebab terdengar sama saja sedari aku meninggalkan gerbang kayu hingga saat aku sudah berada di depan beranda.

Tak sedikit pun suara itu mengecil atau mengeras, bahkan saat aku menjejaki tangga kayu, berdiri di beranda, tepat di depan pintu. Suara itu masih terdnegar sama. Membuatku semakin yakin, suara itu datang dari dalam rumah. Rumah yang dindingnya dibuat dengan kayu-kayu gelondongan yang tersusun rapi, atapnya dari kulit-kulit kayu.

Iya, dari kayu. Segala bagian rumah itu benar-benar dari kayu. Kau tak akan menemukan rumah seperti itu di tempat kita. Jendelanya tidak menggunakan kaca. Lantainya tidak menggunakan semen atau tegel.

Rumah itu seperti rumah burung. Di setiap jengkalnya aada burung. Begitu aku masuk, burung-burung menggerakkan kepala ke arahku. Tidak ada keterkejutan. Tidak ada ketakutan. Mata mereka yang hitam bundar itu melihatku seakan aku adalah makhluk yang serupa dengan mereka. Seakan aku bukan makhluk asing yang pantas membuat mereka terkejut. Seakan aku adalah seekor burung yang sedang kembali ke sarang.

Setelah menatapku beberapa saat, burung-burung yang berada di lantai bergerak, membuka jalan untukku. Ketika jalan sudah terbentuk menuju sebuah tangga, mereka kembali mematuk-matuk lantai, seakan di lantai itu ada biji-biji beras yang bisa mereka nikmati.

Mungkin mereka memang sedang makan, memakan kayu rumah itu. Bisa jadi begitu? Mungkin kayu rumah itu memberikan kehidupan bagi burung-burung. Kalau tidak begitu, tidak mungkin mereka bisa sebanyak itu dan hidup tanpa ada pepohonan sama sekali.

Aku melangkah mengikuti arah datangnya suara benda berayun yang sepertinya datang dari lantai dua. Sebuah lantai dengan burung-burung yang tak kalah banyaknya dengan lantai bawah. Tak ada apa pun, kecuali burung dan sebuah kursi goyang di depan jendela. Kursi yang terus bergerak dan mengeluarkan suara yang sepertinya kudengar sejak memasuki gerbang.

Iya. Aku yakin, suara kursi goyang itulah yang aku dengar. Suara yang seakan memanggilku untuk datang dan duduk di atasnya. Itulah yang aku lakukan.

Aku duduk di kursi goyang itu. Menatap jendela yang terbuka dan melihat pekarangan hijau yang menghampar seakan tanpa batas.

Jalan yang tadi kulalui terlihat jelas. Jalan itu semakin kecil dan mengecil hingga jarak yang tak mungkin kuperkirakan. Gerbang yang sempat kulalui seakan tak pernah ada. Seakan warna hijau itu telah menggulungnya.

Lama aku duduk di kursi goyang itu, menatap ke luar. Melihat matahari dan bulan bertukar tempat. Aku tak melakukan apa pun, kecuali duduk dan melihat burung-burung  datang dan pergi. Entah dari mana datangnya. Entah ke mana perginya.

Aku tak melakukan apa pun, kecuali mengikuti gerak kursi goyang dan melihat ke pekarangan. Kadang saja aku terlelap menyaksikan apa yang ada dalam kepalaku. Begitu seterusnya. Tak ada yang terasa ganjil dan aneh. Semuanya begitu sepi dan tenang. Hanya ada suara kursi goyang.

Aku merasa berada di sana sangat lama hingga rambutku terasa mulai memutih. Kulit-kulitku terasa mulai mengerut. Tulang-tulangku terasa makin rapuh, lalu tiba-tiba kursi itu berhenti bergoyang.

Pada saat itulah aku mulai mendengar suara tangis orang-orang. Pada saat itulah kau dan ibumu berhamburan memelukku. Tapi, anehnya, pada saat itu pula aku mulai mendengar suara burung-burung bernyanyi. Suara yang terdengar sangat menyenangkan. Suara yang sekarang kerap membuatku ingin kembali ke rumah itu. Rumah dengan burung-burung dan sebuah kursi goyang. Rumah yang sangat jauh. Rumah yang tertanam dalam bagian terdalam pikiranku. Rumah yang kudatangi ketika kalian sedang meratapiku. 

#Mataram, Januari 2015

Budi Afandi, lahir di Dusun Bilatepung, Desa Beleka, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, 20 Juni 1983. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Menulis novel, cerpen, dan puisi. Bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Afandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 7 Februari 2016


0 Response to "Sebuah Rumah yang Jauh"