Semua akan Puitis pada Waktunya - Aku Mencari Diriku pada Selembar Wajah | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Semua akan Puitis pada Waktunya - Aku Mencari Diriku pada Selembar Wajah Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:51 Rating: 4,5

Semua akan Puitis pada Waktunya - Aku Mencari Diriku pada Selembar Wajah

Semua akan Puitis pada Waktunya 

Kau pun terasing menyesapi doa orang-orang kalah
betapa hanya yang tak tampak tempat rebah paling
nyenyak
hingga gemericik terdengar dari rahim hening
lalu kau makin tak paham makna apa gerangan
disampaikan denyut peristiwa

kau pun membujur saat dentang jam mensepertigakan
malam
dan keterasinganmu kian meradang
mencoba bergeming namun kata mengering
mencoba bicara namun mulut hilang suara

o, apa yang tambat tapi tak tercecap bibir letih
pun zikir-zikir yang tak terhitung biji-biji tasbih
ialah gemericik kausar mengalir dalam kebeningan
sungai waktu
dan apa yang retap dalam dadamu
pun tak terjumlah kelihnya, ialah detak-detak
yang mendenyut kalbu ibumu

semua akan puitis pada waktunya
ketika puisi belum jua sampai dikirimkan kabut
lewat udara hening yang kau hirup
kepada kemarau panjang di mana kau terasingkan
dan pada detik yang sama, ibumu senantiasa berdoa
ludah rapalannya lebih basah dari biasanya

“semoga ricik gerimis malam nanti berbisik
kepada kerutan-kerutan keningmu, nak
semoga hujan malam nanti bicara
kepada api yang tak tahan tumpah
dari merah matamu, nak
: bahwa puisi butuh waktu
meruncingkan ujung jarumnya
untuk menusuk degub jantungmu“

Ganding Pustaka, 2015 

Aku Mencari Diriku pada Selembar Wajah 

aku mencari diriku pada selembar wajah kenangan
satu wajah yang menancap pucuk-pucuk setiap de-
guban
kemudian memarahi kegelisahan bila lekang ingatan
kepadanya, yang telah berabad lama dikebumikan
namun setiap degub meyakini ia masih hidup

bukan wajah ayah atau ibuku, bukan pula perem-
puanku
aku tak menemukan diriku di wajah mereka
karena selembar wajah itu
merangkum semua wajah yang kurindukan
termasuk asal mula darah dagingku bermula
termasuk silsilah bagaimana hasratku mencari

orang-orang tak begitu jelas mengingat garis wajah
itu
meski setiap degub mereka merangkum salam dan
doa
setiap angin berhembus ke pohon-pohon, burung-
burung juga lupa
mengingat wajahnya walau setiap saat bernyanyian
menyebut namanya dalam kicau-kicau paling purba

ia susah untuk dimuntahkan tinta ke setiap kanvas
sebab setiap pelukis akan gemetar hebat
menyentuhkan imaji dalam polesan wajah yang terlalu
bercahaya itu
siapa dia yang kucari diriku padanya dalam ritual
demi ritual
dalam sajak demi sajak dalam amal demi amal
dalam gerak sadar dalam ruang mimpi-mimpi indah

bagaimana bibirku tahan menyebutkan namanya
sedangkan pucuk jantungku lebih cepat mendegub
kannya

Ganding Pustaka, 2015 


Raedu Basha, lahiran Madura, 3 Juni 1988. Sejak tahun 2006 karyanya banyak memenangkan perlombaan puisi di antaranya Anugerah Sastra UGM. Karyanya dipublikasikan Horison, Jawa Pos, Media Indonesia, Republika, Basis, dan lain-lain, juga buku bersama seperti 17.000 Islands of Imagination (Ubud Writers & Readers Festival, 2015). Buku puisi tunggalnya yang terbit, Matapangara (2014).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Raedu Basha
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 14 Februari 2016



0 Response to "Semua akan Puitis pada Waktunya - Aku Mencari Diriku pada Selembar Wajah"