Seorang Tamu Istimewa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Seorang Tamu Istimewa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:45 Rating: 4,5

Seorang Tamu Istimewa

BAND baru saja memulai They Can't Take That Away from Me milik Diana Krall saat lampu di meja lelaki itu menyala. Seorang pelayan mendekat sambil membawakan sebotol Chivas Regal, menggeser gelas dan meletakkan gelas baru di atas tatakan lalu menuang minuman. Lelaki itu tersenyum, mengangguk kepada pelayan sebelum meletakkan punggungnya ke sandaran kursi. 

Pelayan yang membawakan lelaki itu minuman melintas di depanku. Aku mengerlingkan mata. Ia mendekat. "Penambang emas," katanya dan aku tersenyum.

Bagi kami, para pemilik tempat hiburan di Senggigi, penambang emas adalah tamu istimewa yang lebih istimewa dari tamu asing dari berbagai negara. Sebabnya sederhana, para penambang itu lebih royal dibanding tamu dari negara mana pun.

Dulu, khususnya sebelum peristiwa Bom Bali, hampir semua pemilik tempat hiburan di Senggigi memrioritaskan pelayanan terhadap tamu-tamu asing, khususnya dari Amerika Serikat sebab tamu dari negara itu lebih royal dari tamu dari negara lain. Namun setelah Bom Bali, saat tamu-tamu asing mulai jarang datang ke Senggigi, kami punya tamu yang setara dengan tamu-tamu asing, itulah para penambang, yang royalnya tak jarang mengalahkan tamu-tamu dari Amerika Serita.

Sejak para penambang sering datang ke tempat hiburan di Senggigi, kami sudah mengingatkan para pelayan untuk tidak lagi meremehkan penampilan seseorang, sebab kami tidak ingin terjebak dalam situasi seperti yang dialami Sarah, seorang kawanku yang memiliki rumah karaoke. 

Waktu itu hampir terjadi keributan di tempat Sarah karena petugas keamanan melarang masuk beberapa pria yang mengenakan kaos oblong lusuh dan sarung. Sebenarnya petugas keamanan tidaklah salah sebab mereka hanya menjalankan tugas, dan dalam menjalankan tugas mereka harus waspada dan harus selalu curiga. 

Malam itu petugas keamanan di tempat Sarah hampir berkelahi. Adu fisik sepertinya sudah tidak mungkin dihindari saat Sarah datang dan menenangkan suasana. Perempuan bersuamikan orang Belanda itu meminta maaf kepada orang-orang bersarung itu. Namun mereka telanjur kesal dan ujung-ujungnya ketiga orang itu melempar segepok kepeng lembar seratus ribu dan lima puluh ribu ke udara kemudian meninggalkan tempat Sarah sambil berkata: Anggap saja sedekah!

Peristiwa itu langsung menjadi buah bibir di setiap gang di Senggigi. Tidak ada yang tidak yang membicarakannya, mulai supir taksi yang merangkap germo, pria dan wanita penghibur, pedagang nasi, juru parkir, hingga anak-anak sekolahan. Lambat laun wujud asli cerita itu makin tidak jelas karena terus berkembang sesuai kehendak dan lidah orang yang menceritakannya. Kemudian muncul cerita-cerita lain tentang para penambang yang datang ke Senggigi. Cerita-cerita yang menggambarkan betapa royal para bekas petani dan nelayan yang kini menjadi raja baru di Senggigi.

Tidak jarang para penambang itu menyewa sebuah restoran atau tempat karaoke hanya untuk diri mereka, seperti sengaja tidak ingin membagi kesenangannya dengan orang lain. Lelaki itu kerap membuat kesal tamu lainnya, khususnya tamu-tamu lokal. Tapi tidak dengan tamu dari negara lain, sebab para penambang itu tak jarang ngebosi para tamu asing, sesuatu yang membuat tamu lokal semakin tidak suka. Para penambang itu seperti sengaja ingin menunjukkan persamaan derajat dengan orang-orang asing dalam soal kemampuan mendapat hiburan. 

Namun bagi kami, para pemilik tempat hiburan, semua hal menyenangkan selama hal itu menguntungkan. Dan selama para penambang menghamburkan uang mereka di Senggigi, mereka bisa melakukan apa saja. Termasuk di tempatku, di mana lelaki penambang itu telah duduk sejak sore lalu memesan berbagai makanan ringan dan minuman. Awalnya ia hanya memesan beberapa botol bir, kemudian pesanannya meningkat dan terus meningkat saat ia ngebosi beberapa meja.

***
DIANA Krall sudah memasuki bagian akhir saat aku mendekati meja lelaki itu dan menyapa, "Semoga Anda puas di tempat kami yang sederhana ini?"

Dia menatapku. Memerhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Keningnya berkerut dan membuat dua tanda hitam, seperti tanda di kening orang yang tekun beribadah, ikut mengerut. Aku tersenyum. Ia tersenyum. Ia mengangguk lalu berakta, "Nyonya mau duduk?"

"Panggil saja Ellena," jawabku sambil menarik kursi.

Ia menekan tombol, lampu merah berkelap-kelip kemudian seorang pelayan berkemeja putih mendekat. Setelah menerima pesanan, pelayan itu berlalu, segera kembali dan menuangkan minuman ke gelas berisi potongan-potongan es.

"Terima kasih untuk tempat Nyinya yang sangat nyaman ini," ucapnya saat kami mengangkat gelas.

"Ellena saja," timpalku dan ia mengangguk.

Namanya Ismail dan berasal dari salah satu kampung di mana penambangan emas oleh masyarakat sedang terjadi. Malam itu ia bercerita banyak soal lokasi penambangan emas yang sudah ia datangi di berbagai lokasi di dua pulau yang ada di provinsi kami.

Aku menduga Ismail berusia sekitar 40 tahun lebih sedikit. Ia mengaku memiliki seorang istri yang ia nikahi saat perempuan itu baru saja lulus Sekolah Menengah Pertama. Saat mendengar cerita itu aku sempat tersenyum dan berceloteh tentang betapa beruntungnya ia karena memiliki istri yang begitu muda. Mendengarku, Ismail hanya tersenyum.

Ismail mengaku senang dengan adanya tambang emas di kampungnya. Ia menganggapnya sebagai anugerah yang luar biasa dari Yang Maha Kuasa. Karena tambang emas itu kini kampungnya berubah. Dulu, di kampungnya sangat jarang petani dan nelayan memiliki sepeda motor, jarang pula ada yang mempunyai rumah batu. Namun sekarang, motor dan mobil mewah seperti laron di sekitar lampu, rumah-rumah batu. Namun sekarang, motor dan mobil mewah seperti jamur. Selain itu sudah banyak toko-toko yang menyediakan kebutuhan yang, dahulunya, hanya bisa mereka temukan di kota atau mereka lihat di televisi.

Karena itu warga kampungnya tidak akan membiarkan lokasi tambang emas dikuasai oleh perusahaan mana pun. Mereka akan bertarung sampai titik darah penghabisan jika ada perusahaan atau siapa pun yang berencana mengambil lokasi tambang emas itu. Dan aku sendiri sudah tahu hal itu, sebab belum lama ini ada kerusuhan cukup besar yang terjadi di kampung Ismail, semua televisi lokas dan nasional mengabarkannya.

Minuman terus dituang, musik sudah berganti, malam semakin dalam. Kini band sedang menyanyikan My Baby Just Cares for Me-nya Natalie Cole.

Jika dilihat dari penampilannya, Ismail jelas orang yang taat beribadah sebab ada ciri-ciri itu di keningnya. Dan ia membenarkan hal tersebut sambil melepas tawa, tawa yang sepertinya sudah berminggu-minggu tak lepas, sampai-sampai matanya digenangi air seperti orang yang hendak menangis.

Setelah mengusap air di matanya ia melanjutkan ceritanya. Ismail dan kelompoknya baru beberap hari lalu keluar dari lubang emas setelah dua minggu mendekam dalam perut bukit. Mereka keluar lalu mencairkan emas senilai dua miliar lebih yang kemudian mereka bagi lima. Aku tentu mengatakan turut senang mendengarnya. Dan saat mengucapkan kalimat itu aku tidak menduga ia akan menjawab: Ya, tapi hal menyenangkan selalu saja cepat hilang.

Aku benar-benar tidak menduga ia berkata demikian. Pernyataan yang membuatku hendak bertanya lebih jauh, tapi tertahan oleh beberapa tamu yang hendak pulang. Aku sempat mengenalkan Ismail sebagai temanku, dan tamu-tamu itu terlihat antusias saat mengetahui Ismail adalah penambang emas. Ismail adalah penambang emas. Ismail menawari mereka bergabung, namun mereka menolak karena malam sudah semakin dalam. Saat rombongan tamu itu meninggalkan kafe, band sudah berhenti berhenti bermain dan hanya terdengar suara dari stereo yang memutar You Don't Know Me At All-nya Michael Buble.

Setelah kepergian tamu-tamu asing itu Ismail mulai bercerita tentang keluarganya. Istrinya terdengar sangat baik dan penurut. Ia menceritakannya dengan kesenduan yang terasa aneh. Entah kenapa aku merasa ada kepahitan dalam suaranya saat ia menceritakan tentang istrinya, seolah mereka adalah pasangan yang tidak berbahagia. Aku ingin sekali bertnaya lebih jauh, tapi selain merasa kurang sopan aku juga berpikir: Toh aku hanya ingin membuatnya duduk lebih lama.

Dua minggu di dalam lubang emas bukanlah hal berat bagi Ismail. Ia sudah pernah meninggalkan istrinya lebih lama, dan permepuan itu tidak pernah marah atau berkomentar macam-macam, meski kadang kepergian Ismail tidak menghasilkan apa pun selain kelelahan. Meski begitu ia mengaku mereka tetap bersyukur, toh sekarang kampung mereka terasa sudah seperti daerah lain di kota.

Emas di kampung Ismail telah membuat kampung itu seperti segumpal madu yang jatuh ke lantai dan segera dikerumuni semut. Begitu banyak pendatang, mereka yang semata datang untuk mendapatkan emas. Kampung Ismail semakin ramai dan keramaian semakin tak terkendali. Orang-orang yang datang dan mendaki bukit tidak lagi hanya mereka yang ingin masuk lubang emas, namun juga orang-orang yang menyediakan berbagai kebutuhan bagi para penambang.

"Dari sebuah kesenangan, manusia elalu menghendakli kesenangan lain, dan kesenangan sudah ditakdirkan tumbuh seperti jamur di musim hujan saat manusia dalam puncak kejayaan," katanya.

Ucapan itu membuatku merasa aneh sebab terdengar sangat bijak dan tidak kubayangkan akan keluar dari mulut seorang penambang. "Dulu saya sempat mondok," kaanya saat aku menyatakan kagum pada perkataannya.

Ismail sempat berkeinginan menjadi ulama, karenanya ia mondok, karena itu juga yang menjadi mimpi orangtuanya.

***
THEY Can't Take That Away frim Me Diana Krall sudah dinyanyikan oleh band yang kini sudah pulang, tapi terdengar mengalun kembali dai stereo. Aku dan Ismail sudah bercakap cukup bercakap cukup lama dan tak terasa sudah cukup banyak makanan ringan kami santap dan banyak pula minuman yang masuk ke lambung.

Aku percaya, sebelumnya Ismail belum pernah datang ke Senggigi. Meski untuk urusan minuman beralkohol dia pasti sudah terbiasa, sebab di kampungnya hal itu bukanlah barang tabu.

"Orang mabuk-mabukan tidak akan pernah digunjing, tapi orang berzina akan mendapat hukuman lebih dari sekadar digunjingkan," katanya.

"Tapi itu dulu, sebelum ditemukan lokasi tambang emas," tambahnya.

"Sekarang, berzina tidak berbeda dengan mabuk-mabukan."

"Di bukit-bukit emas, kesenangan-kesenangan datang dan pergi dengan sendirinya. Banyak orang mulai berjualan minuman beralkohol dengan harga berkali lipat. Lalu datang perempuan-perempuan penghibur dari berbagai daerah. Dan jika semua hal sudah dalam puncak, kejumudan dan kesepian, maka batasan menjadi tiada," kata Ismail.

"Anehnya, batasan itu kemudian muncul saat kita tidak sedang dalam keadaan menerobosnya, tapi saat kita berada dalam puncak kesenangan yang lebih tidak berbatas," lanjutnya.

Dan itu yang, katanya, terjadi saat ia begitu senang mengetahui kehamilan istrinya. Kabar yang membuatnya berat menatap wajah istrinya. Entah mengapa, setelah Ismail pulang aku terus tersenyum mengingat percakapan kami.

Suara Diana Krall masih mengalun, pelayan-pelayan mulai berbenah. Pelayan yang membawakan minuman ke meja Ismail terlihat bercakap dengan pelayan perempuan. Ia memegang sapu di tangan kirinya, merogoh kantung celana dan melemparkan sesuatu sambil menggerutu. Samar kulihat selembar uang tergeletak di lantai, tidak bisa kupastikan itu pecahan dua puluh, lima puluh atau seratus ribu. Pelayan perempuan itu mengambilnya sambil tersenyum ke arahku. Mungkin uang tips yang diberikan Ismail, pikirku. [] - k Mataram, Nusa Tenggara Barat



Budi Afandi: Lahir di Bilatepung Beleka Lombok Barat, NTB 20 Juni 1983. Menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Menulis novel, cerpen dan puisi. Bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Afandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 7 Februari 2016


0 Response to "Seorang Tamu Istimewa"