Sianida | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sianida Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:22 Rating: 4,5

Sianida

Sianida Satu

: -Wayan Mirna

Udara terasa benar-benar hampa
Saat jejak kaki menginjak warna
Tak terbersit rasa curiga manakala
Sahabat menawarkan penakluk dahaga
Semerbak aneh dalam secangkir kopi
Menjadikan diri diam serupa arca
Tatkala seduhan awal laksana anak panah
Menancap di lidah dan langit-langit

Cuaca pun tak lagi bis aditerka
Siapa yang memulai dan mengakhiri
Ketika tubuh kaku hendak diselamatkan
Melawan dan menghindari intaian maut
Orang datang orang pergi mempersaksi
Selarik peristiwa yang mencekam jiwa
Pertanyaan demi pertanyaan menggema
Siapa menabur sianida penyabut nyawa

Sianida Dua

: -Jessica

Meyakini diri sambil mengulum dusta
Menghindar dari tudingan dan prasangka
Sesekali berusaha mengerdipkan mata
Segaris senyum pun terasa jadi misteri
Cerita apalagi yang mesti diurai
Di udara atau di dalam gelap kamar
Jika telunjuk banyak orang mengarah
Tepat di kening atau di pinggir jidat

Menepis atau melawan kesaksian alam
Tidak smeudah membalik telapak tangan
Demikian pula ketika diri mempercayai
Ungkapan memang lidah tak bertulang
Niscaya tentu tak bisa jadi alasan
Sekadar berkelit dari hal kasat mata
Ketika bening kaca mempersaksi tangan
Menabur senyawa serupa serbuk sianida

Sianida Tiga

: Dharmawan Salihin

Bukan lantaran buah hati tercerabut
Ke mana sarang angin harus dikejar
Sekaligus ditemukan demi kepastian
Dan cerita dari dalam cerita dari luar
Tentu tak boleh diabaikan atau dihapus
Sebab berbagai kemungkinan bisa terjadi
Ketika nyawa tak lagi bersatu dengan raga
Karena ayunan tangan kawan atau lawan

Menghidupkan yang terlanjur mergang nyawa
Tentu tidka tersurat dalam garis hidup
Meski itu menimpa darah daging tercinta
Tetap saja kematian telah menjadi abadi
Seiring diturunkannya jasad ke liang lahat
Tetapi berharap dan menuntut keadilan
Harus tetap diperjuangkan sampai kapan pun
Untuk memastikan dari siapa sianida berasal

Sianida Empat

: -Arief Sumarko

Perih terasa menyayat-nyayat diri
Manakala terkirim kabar belahan hati
Tak bisa lagi bercanda dan bermanja-manja
Karena secangkir kopi bercampur sianida
Terlanjur mengalir melalui jenjang leher
Menghentikan helaan dan terikan napas
Sejenak kemudian mengirim kabar duka
Bahwa tak bis alagi nyawa dipertahankan

Dan cinta dan kesetiaan seakan terputus
Bukan karena pengkhianatan atau keculasan
Tetapi lebih karena naluri kebiadaban
Manakala menghadapi kenyataan tak terduga
Tak bisa ditahannya gelora teriakan jiwa
Karib yang sama-sama menghirup udara di luar
Bersanding dengan tambatan hati di dalam
Setelah cukup lama berada di cakrawala berebda

Sianida Lima

: -Krishna Murti

Diam dan tak ingin mengumbar kata-kata
Bukan berarti sebagai cermin tak berdaya
Terlebih ketika menyangkut hilangnya nyawa
Tentu nurani dan jiwa yang mesti dicerna
Sebab kebenaran dan keadilan bernama hukum
Tak bisa dicapai berdasar asumsi dan praduga
Karenanya tak perlu berkecil hati manakala
Cibiran dan ketidakpercayaan kencang berhembus

Apa yang harus diyakini dalam satu pertempuran
Manakala kalah-menang dan manakala salah-benar
Masih sebatas tawar-menawar tentu tak boleh
Diri menyerah sebelum ditemukan satu kepastian
Bahwa meregangnya nyawa seseorang lebih karena
Tangan-tangan durhaka ketimbang suratan hidup
Ibarat menatap kabut tetap harus dipastikan
Siapa pencabut nyawa yang berkarib sianida
Yogyakarta, Februari 2016

M Haryadi Hadipranoto: lahir 31 Januari 1964 di Klaten. Alumnus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Ketua Forum Silaturahmi Sastra dan Budaya Yogyakarta. Karya-karyanya terangkum dalam sejumlah antologi, di antaranya: Kidung Pendopo Momentum, Lirik-lirik Kemenangan, Antologi Puisi Jelek, Begini, Begini dan Begitu, Zamrud Khatulistiwa, Code, Gerbong, Equator, Rumah Sunyi, dan lelaki Sunyi. bersama istri (Aryati Haryadi), serta dua anak (Maharani Puspita dan Laksmi Narasita) tinggal di Dusun Demangan Tegal Jambidan Banguntapan Bantul



Rujukan:
[1] Disalin dari karya M Haryadi Hadipranoto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 21 Februari 2016

0 Response to "Sianida"