takdir seekor puisi - puisi yang tak terjinakkan - pada liang sebuah kubur - angelique mahreen raushani | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
takdir seekor puisi - puisi yang tak terjinakkan - pada liang sebuah kubur - angelique mahreen raushani Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:52 Rating: 4,5

takdir seekor puisi - puisi yang tak terjinakkan - pada liang sebuah kubur - angelique mahreen raushani

takdir seekor puisi

seekor puisi mirip ikan sapu-sapu
merayap menghinggapi punggungku
punggung yang sejak lama dentum-dentang
seolah di dalamnya seorang petarung sedang berpencak
mengulangi jurus demi jurus
tanpa lawan

lalu ritmis langkahmu menghampiri
seketika rentaknya mengayun tenang

kaulepaskan puisi itu dari rangkulan tulang igaku
sebentuk waktu membuatnya bertubuh
merah marun seperti mawar yang menua
lalu secercah cahaya mirip sebilah pisau
melibasnya dengan gerakan membantai
mengakhiri gerak dan detak pada urat lehernya
ia tergelimpang
tubuhnya melambung-lambung
menggelepar-meregang
menahan pelepasan cahaya dari binar matanya
mata yang jatuh cinta
mata yang begitu diam

2015

puisi yang tak terjinakkan

ini musim subur petaka
aku mengintai kata jua
kata yang tak terjinakkan
menggembala di hamparan kamus
menyusun kabar tentang kandang dan sarang

aku asah mata panah
aku sepuh kerambik dan pisau
tombak di punggung parang di pinggang

dari sudut sunyi aku membidik
ke tubuh huruf dan angka melantun-lantun
di sela rimbun kelumun daun
bersebab mereka tak jinak jua
aku tandai setiap titik pedih
yang melekat di setiap rangka aksara
menancapkan bunyi ke dalam sepi

2015

pada liang sebuah kubur

aku simak pongang rindu pada liang sebuah kubur
ketika bunga-bunga yang bertanggalan dari tampukku ditaburkan
selirih bisik angin agustus yang panas:
kemarau akan berakhir

bisikan itu mengelombang
menyusup menyisip ke umbut rumput
melambangkan cintaku
cinta salah musim yang menyemak
merambati tanah ini

di atas timbunan kubur itu
pucuk pucatnya menjangkau bahuku
mengabarkan muasal segala ingin
aku pun mendekap mereka
mendekatkan pada apa yang mungkin masih menyisa
betapa pucuk-pucuk itu hijau merona
seperti menemukan udara surga
hingga berdesau suara, bahwa pada diriku
yang baru saja menggugurkan bunga-bunga
hanya getah tampuk yang tersisa

2015

angelique mahreen raushani

mahreen raushani berdiri di trotoar
perumahan listrik pintar
di selatan harimau kuranji berkubur
sebuah taman berpagar kamboja
dan cahaya lampu yang sabar

ia ceritakan padaku ihwal rumahnya
ada ukiran anak dipangku di pintu
di situ ayahnya sering duduk bersandar
ke tiang beranda bergambar bendera
mengunduh berita tentang jakarta

oi, jakarta yang selalu gaduh itu
dari kuranji terlihat begitu benderang malam hari

ia ceritakan pula ibunya pernah menato lengan
dengan inai dari mekah
ada gambar belalai kupu-kupu di bahu ibu
mata harimau kuranji
moncong ikan gergaji
kelopak bunga matahari

mahreen raushani berkobar berkoar
bila besar dirinya akan berlayar
belajar ke benua biru
ia cinta sekali pada biru
ia akan menulis buku
beli mobil untuk ibu

dengan patah lidah seorang bocah
mahreen raushani bernyanyi:

ompimpa oma opa
selamat ulang tahun
balonku tak lagi lima
ompimpa oma opa
sampai jumpa lagi ayah
terbanglah ke jakarta
ompimpa oma opa
hari minggu ke rumah kakek
amak beli baju baru
ompimpa oma opa
banyak bunga di rumah kita
rumah kita semua
ompimpa oma opa

mahreen raushani kini menari
di altar rumah singgah kami
di utara pasar terdengar ingar-bingar
selalu setiap kepala kampung bertukar
orang-orang membayar sabar dengan gusar

2015


Zelfeni Wimra lahir di Sungai Naniang, Sumatera Barat, 26 Oktober 1979. Buku puisinya berjudul Air Tulang Ibu (2012).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zelfeni Wimra 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" Minggu 31 Januari 2016

0 Response to "takdir seekor puisi - puisi yang tak terjinakkan - pada liang sebuah kubur - angelique mahreen raushani"