Tanduk Hitam Kemarau - Biografi Sepi - Locus - Luka, 2 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tanduk Hitam Kemarau - Biografi Sepi - Locus - Luka, 2 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:21 Rating: 4,5

Tanduk Hitam Kemarau - Biografi Sepi - Locus - Luka, 2

Tanduk Hitam Kemarau

Hujan masih jauh 
Hijau masih malu 

“Kemarau adalah seorang wanita!“ 
(Kalimat itu pernah didengarnya 
Dari seseorang yang putus asa 
Jauh sebelum ia mengenal cinta) 

Dan kini: 
Dua mata pisau menghunus di pelupuk 
Setiap kali dijumpai dan dipandangnya 
kemarau ­­ 
seperti di mata si wanita: 
Di kedua sisinya tak bisa disembunyikan 
Kilaunya cermin dan 
Bayangan para lelaki yang dibunuh dengan 
rindu; 
Serupa tanduk hitam kemarau ­­ 
Yang kelam 
Mengancam hujan di wajahnya 

Pisau telah diceritakan 
Oleh lambung yang dicucukkan 
Juga dari jantung para penyair 

Maka kepada Ibu yang diam di tanah 
Dan Bapa yang sunyi di langit 
Ia berdoa bagi puisi yang belum selesai itu 

“Kemanakah arah hujan, Tuhan?
Betapa kutunggu jalan turun 
Kedalam gersang dan keras tanah 
Serupa gerimis bertangga-tangga 

Dari langit yang terbuka lembing“ 

(2015) 

Biografi Sepi 

Pada mulanya engkau meninggalkan setia 
Sehingga kecewa adalah tangis pertama 
Di langit ganih; luka menampung air 
matanya 
Sendiri 
Seperti mati 
Seperti padi jauh dari kerumunan tanah 
Pada ripuknya cuaca 

(2015) 

Locus 

Seperti ketika engkau menerka arah angin 
Meniup dingin di tengah malam 
Neraka dan surga, akhirnya 
Hanya dapat diduga lapiknya 
Sebab tentang tempat 
Yang akrab ditebak-tebak itu 
Keduanya kerap bertukar alamat 
Secara suci dan dosa 
Bahkan kobar api atau kapela 
Tak mampu menahan dalam ingatan 
Yang mendalam di kepala kita 
Tentang peristiwa sebelum semesta 
Tapi mungkin juga telah direncanakan 
Bahwa kita hanya bisa mencari 
Dan menemukanNya dengan renjana 

(2015) 

Luka, 2 

Ditemukannya sebuah luka putih susu 
Di telapak tangan kiri 
Ibunya 
Luka paling putih 
Dengan tangis paling merah 
“Ibu.Ini masih Indonesia?“ 

(Lewoleba, 2015) 

Gregorius Duli Langobelen atau Erich Langobelen, lahir di Lewoleba, Lembata, Nusa Tenggara Timur, 29 Januari 1994. Saat ini menempuh studi filsafat di STFK Ledalero, Maumere, Flores, NTT, dan aktif bergiat di komunitas sastra Teater Tanya Ritapiret, Maumere.

Rujukan:
[1] Dislain dari karya Gregorius Duli Langobelen atau Erich Langobelen
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 7 Februari 2016

0 Response to " Tanduk Hitam Kemarau - Biografi Sepi - Locus - Luka, 2 "