Tikus Margarong | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tikus Margarong Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:30 Rating: 4,5

Tikus Margarong

SEMUA indra mereka tiba-tiba terasah tajam. Mencium, mengendap, sebelum kemudian serentak berlari menyerbu sasaran.
"Tangkaaap.... Gebuuuk...!"
"Bunuuuh.... Bakaaarrr...!"
Demikianlah semangat bak dendam dalam suatu perang rimba.

SAYA tak tahu, entah sampai kapan suara-suara gaduh itu akan berakhir. Jika saja tak tahu apa yang tengah dilakukan, mereka tentu akan membuat miris, terlebih jika sampai ke telinga para pendosa. Suasana riuh, teriakan penuh amarah itu telah menjadi hari-hari biasa di Desa Margarong. Sebagai pengemban amanah tingkat desa dan kerap bertemu dengan masyarakat, tentu saja saya harus mendukung. Mereka memang tengah memburu tikus.

Karena ulah tikus-tikus itu, Margarong kini bak dilanda krisis. Karena peristiwa itu tak pernah melanda sebelumnya, warga menyebutnya sebagai petakal luar biasa. Aksi gerombolan si monyong ini benar-benar telah membuat kesal dan jengkel tanpa ampun. Betapa tidak, tikus yang pada umumnya diketahui sebagai hama padi --kini telah merembet ke hal lainnya. Mulai dari jenis kacang-kacangan, timun, pisang, dan tanaman lainnya hingga buah kelapa. Bahkan ada kawanan tikus yang berani menggasak beberapa warung warga. Serabi, pisang goreng, lontong, gorengan, bala-bala, tapai, tahu, tempe, gula pasir, terigu, kecimpring, mi instan, dan lainnya sampai bermacam roti, bisa ludes dalam sekejap.

"Jangankan rakyat, warga tani, kalau biadab begini, negara pun bisa bangkrut," teriak mereka dalam keluh kesah.

Maka, binatang pengerat itu tak hentinya terus diburu, tiap hari. Tua muda, lelaki perempuan, semua tak lepas dari senjata serupa alat perang. Golok, kampak, parang, kelewang, cambuk, senapan angin, ketapel, bandring, batangan bambu hingga ada yang membawa racun dan bensin -- ini untuk sekadar berjaga-jaga jika para tikus itu ngotot dan asyik bersemayam di kedalaman lubang. Dengan cara ditaburi racun atau lubangnya dibakar, diperkirakan mereka akan mampus tak berkutik.


Mungkin sudah tabiatnya hama. Meski telah berpuluh, beratus, bahkan sampai ribuan ekor telah terbunuh, tikus-tikus itu tetap tak hilang. Seakan punya nyawa ganda dan berlipat, jumlahnya malah semakin banyak dari sebelumnya. Lebih parahnya, jika sebelumnya hanya merusak tanaman atau mencuri panganan dari warung, pada akhirnya ada yang tega menganiaya manusia. Memang tak samapi mati.

Juriyah, janda penjual kue serabi di tepi sungai Balotrok, tiba-tiba semalam dikabarkan menjerit-jerit. Katanya, saat aliran listrik padam, ia dikejutkan oleh segerombolan tikus yang tiba-tiba menyerang dan menggigit-gigit tubuhnya. Semula, saya menganggap sebuah lelucon atau sindiran untuk para hidung belang yang kerap menyambangi janda tak beranak itu. Tapi, setelah menunjukkan kepedulain terhadap rakyat kecil dengan menjenguknya langsung ke TKP, saya baru percaya. Tubuh Juriyah yang berkulit putih mulus itu penuh luka dan darah.

"Sabar ya, Sayang. Sebagi pemimpin di Desa Margarong, saya dan aparat tengah berusaha untuk segera mengatasi masalah ini," demikianlah kata saya, tentunya dengan mimik serta raut wajah penuh kegetiran dan prihatin. Selain itu, tak lupa saya memberikan amplop yang agak kembung.

Dalam kesakitannya, sang janda tampak senang menerima pemberian dari saya. "Ya, sekadar untuk menambah beli obat," bisik saya ke telinganya.

**
BAGI saya, Margarong memang seperti bergolak. Mungkin bukan cuma soal tikus yang kerap menggasak panganan dan tetek bengeknya. Sepertinya ada tikus lain yang misterius dan lebih meresahkan. Aksi tikus siluman ini tampaknya lebih lihai dan jahat sehingga saya pun sempat puyeng dibuatnya. Jika saja para warga Desa Margarong dapat menghentikan aksinya, mungkin kecemasan ini agak berkurang.

"Lis, coba peras otakmu, bagaimana caranya agar warga tak sampai larut terhadap perburuan tikus-tikus itu? Maksud saya, bagaimana cara mengalihkan perhatian mereka?" kata saya kepada Durja, ulis, juru tulis atau sekdes sekaligus sebagai ajudan terdekat saya. Sengaja persoalan ini dibicarakan empat mata, ketika siang itu para pamong lainnya sudah lebih dulu pulang dari kantor desa.

"Oh itu." Durja menarik napas. Ia mengedip-ngedipkan mata, mungkin tengah memeras otak.

Beberapa saat, ruangan itu hening. Sementara di luar, kendaraan berlalu lalang. Namun, otak sekdes tampaknya tak bisa diperas. Karena solusi tak juga ditemukan, kami pun pulang dengan membawa pikiran hampa.

Untuk sementara, sebagai pucuk pimpinan di Desa Margarong. saya membiarkan warga yang tiap hari terus mencari dan memburu tikus. Memang sangat mencemaskan. Betapa tidak, saking tergila-gila dengan aksinya, mereka tega meninggalkan pekerjaan di sawah dan ladang, padahal sudah ada hujan. Selain itu, tindakan mereka pun mulai melenceng dari misi sebelumnya. Alasan demi perjuangan, mereka tak cuma memungut bekal, seperti beras, lauk pauk, dan sedikit uang. Mereka juga sampai tega mengambil beberapa ekor ayam dari kandang warga yang berada di wilayah terdekat lokasi perburuan.

Kendati telah menjabat kades untuk kali kedua, untuk masalah ini, saya tetap saja kewalahan. Belakangan, para pemburu tikus itu sampai berani mengambil kambing-kambing warga. Satu warga satu ekor. Para pemilik kambing harus rela hewan ternaknya dijadikan santapan siang bersama kendati mereka pun punya hak dan boleh makan. Mungkin, yang selamat jika di kandang hanya ada satu ekor kambing. Pemilik kambing yang cerdas mencermati keadaan segera memisah atau memilah kambingnya dengan kandang yang dibuat terpencar.

"Kalau masalah ini dibiarkan, tak mustahil sapi-spai pun akan kena, Bos," kata Durja setelah beberapa hari mencermati keadaan. Sekdes Durja memang saya suruh berbaur dengan mereka, terutama sepulang dari kantor desa. Bahkan saya tak melarang seandainya ia ikut menikmati daging kambing-kambing itu.

Kecemasan Durja tentang sapi-sapi itu sebenarnya juga kecemasan saya. Bahkan lebih cemas saya ketimbang dia. Itu wajar sebab jumlah sapi yang saya miliki dan telah digaduhkan kepada sebagian warga jauh lebih banyak ketimbang sapi si sekdes itu. Soal kualitas atau kelasnya, perbandingannya dua pertiga. Sapi saya berjumlah 30 ekor berkelas limosin. Sementara sapi si ulis atau Sekdes Durja cuma 10 ekor, itu pun sapi kelas biasa. Perbedaan yang mencolok itulah, dalam lelucon, ia kerap memanggil saya "Bos."

Kendati tak yakin sapi-sapi itu bakal terjamah, kecemasan saya tak mudah ditutupi. Terlebih setelah kehadiran Sarkosih di tengah masyarakat para pemburu tikus-tikus itu. Sarkosih --yang asli turunan Margarong dan selalu kalah bersaing dalam dua pilkades-- kini bak sebuah duri dalam daging. Etis, tetapi dilematis. Ia cerdik men-support dengan macam peluang cerlang, tapi kemudian menancapkan benalu.

Sebenarnya, kepemilikan sapi-sapi saya dan sekdes itu bukan dari patgulipat atau mengambil hak orang lain. Tidak. Namun, Sarkosih mencipta opini lain yang menyatakan bahwa Kades Margarong kerap melakukan korupsi. Wualah korupsi bagaimana, seperti tak tahu saja kamu, Sih, ya?

Uang yang dibelikan sapi-sapi itu mutlak dari hasil bisnis. Sarkosih harusnya sadar, dari hasil pembebasan lahan basa di tepi sungai Bolotrok untuk lahan tambak udang, ia telah menerima jatah 30 persen. Sementara saya, juga sekdes, demi pencitraan, harus menaburkan sebagian laba itu, baik di lingkungan kerja maupun kepada tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. Sekali lagi, ini masalah bisnis dan peluang. Jadi, tak ada kaitan dengan penyimpangan Alokasi Dana Desa (ADD) atau unsur korupsi di dalamnya. Murni bisnis!

**
SEJUJURNYA yang bikin resah adalah soal perilaku tikus yang misterius itu. Kendati dugaan sangat kuat, saya tak berani membawa masalah ini ke ranah hukum. Suka tak suka, masalah bisa berbalik dan saya menjadi terseret karena memegang wilayah.

Dua bulan lalu, Sarkosih dan saya telah menyepakati ide tentang pembebasan tanah sepanjang 500 meter, tak jauh dari bibir pantai. Tanah itu dijual Rp 1miliar kepada orang berduit dari kota. Bisa saja, pembeli aslinya orang luar yang melewati perantara atau para pialang pencari peluang. Memang, areal tanah pesisir yang ditumbuhi beberapa gubuk dan warung-warung kecil itu milik Desa Margarong. Kebanyakan penghuni gubuk merupakan pendatang yang mengadukan nasibnya sebagai nelayan  yang sekadar ikut menjadi kuli pada nelayan pribumi.

Setelah prosedur akta penjualan beres di notaris, pada pekan-pekan berikutnya, uang pun dicairkan melalui bank tertentu. Pencairan tunai itu kehendak Sarkosih. Katanya, demi menghindari pelacakan. Selanjutnya, kami janji bertemu di sebuah hotel demi menindaklanjuti uang 1 miliar itu. Untuk menghindari hal yang tak inginkan, kami --saya dan Durja-- pun sengaja menyewa mobil khusus, sekelas elite pertengahan. Namun, ketika sampai dan masuk hotel, tiba-tiba Sarkosih yang berdomisili di lain kecamatan dan aktif di suatu partai, menelefon bahwa ia akan datang satu jam kemudian.

"Maaf, ada persoalan internal yang harus segera dibereskan. Harap tunggu sebentar," katanya. Oh, baru ingat, ternyata, dengar-dengar, Sarkosih pernah jadi tim sukses pasangan kandidat bupati yang kini terpilih. Berarti, kemunculannya di tengah warga dan para pemburu tikus beberapa waktu lalu, itu juga ada kaitan dalam rangka kampanye. Pantas jika ia membagi-bagi uang.

"Ssst!"

Tiba-tiba kami terkesiap manakala muncul dua orang berseragam khusus yang dikawal beberapa polisi. Tanpa permisi mereka masuk ruangan hotel dan seperti menyergap kami. "Tak perlu takut. Sebagai Kades dan Sekdes yang sadar hukum, Anda berdua tinggal pasrah saja!" kata seseorang. Saya dan Durja langsung berkeringat ketika dua orang polisi mengarahkan senjata.

"Kami petugas dari kabupaten yang hendak mengambil uang itu," katanya. Saya tak bisa berkutik ketika koper yang didekap Durja berpindah tangan begitu cepat, secepat tindakan mereka yang segera lenyap di pintu hotel.

"Sesaat lagi saya datang, jaga uang itu baik-baik. Awas, jangan sampai tertipu oleh penyamaran!" kata Sarkosih di telefon. Saya tak ingin menjawabnya bahkan ketika tim sukses bupati terpilih itu datang marah-marah. Ia mengutuk saya seekor tikus yang bodoh, tikus berotak lemot. Namun, di balik amarah, ia tampak menyimpan kesenangan.

"Tapi, biarlah, sebab masalah ini tak sampai dibawa ke pengadilan!" ujar Sarkosih suatu pagi, saat sengaja menemui saya di rumah. Sebelum pergi dengan mobil mewahnya, ia melemparkan beberapa lembar uang. Ya, untuk sekadar obat trauma, katanya

Sebelum uang receh itu diraih, saya tersentak ketika tiba-tiba Durja mendobrak pintu dnegan tubuh hangus terbakar. Saking paniknya, tubuh saya pun menciut seraya mencari lubang untuk sembunyi. Sementara para pemburu itu terus mengompori aksi yang berkobar.

"Kalau tetap saja ngumpet, taburkan racuuun... Siramkan bensin ituuu!" teriak mereka seraya melemparkan banyak batu, sebelum kemudian membakar rumah dan mobil saya.***

(Pangandaran, akhir tahun 2015)

Otang K Baddy, penulis cerpen dan puisi di sejumlah media, tinggal di Pangandaran.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Otang K Baddy
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 14 Februri 2016


0 Response to "Tikus Margarong"