Tiong Hoa Hwee Koan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Tiong Hoa Hwee Koan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:52 Rating: 4,5

Tiong Hoa Hwee Koan

Tiong Hoa Hwee Koan

(ypn, belinyu) 

1/ 
empat kitab, lima pustaka yang mulia 
takkan bangkitkan sang naga
dari lelap tidur panjangnya 

sebab itu kita kudu berpaling 

ke ufuk barat, ke ufuk barat; 
tempat rel-rel kereta api dibangun 
oleh tangan-tangan kasar para migran kanton 
yang berbagi semangkuk nasi bertiga 

“hoi, revolusi dapat terjadi di mana saja, 
kapan saja, dalam hati siapa pun,“ kata Sun Wen 
: meliuk-liuk ia seperti ular naga, melintasi kota, 
pertanian, dan ngarai, membelah gunung-gunung 

dan hari itu, bertarikh masehi 1908, 
saat batu pertama diletakkan 
kita masih ingat seorang pemuda di Shanghai 
sembilan belas tahun usianya 
yang mati dalam demonstrasi 
menentang culasnya kongsi empat negara 

di kepalan tangannya: ada sekerat bakpao 
dan sebait sajak penuh amarah 

maka, di sini, di seberang lautan pun 
revolusi harus digemakan 
pada hati setiap anak Cina 

ajarkan mereka aljabar, 
ilmu hayat dan ilmu bumi 
ajarkan mereka setiap huruf kanji 
dan e-bi-ci-di 

agar nanti, selamanya 
tak takut lagi kita pada bangsa asing 
tak lagi ada negara feodal dan bangsawan 
tak lagi ada kemiskinan 

dan kita dapat berdiri tegak di timur...* 

/2/ 
ya, hanya bangsa besar 
yang bisa maknai arti sebuah penderitaan 
dan tak menginginkan perbudakan 

hanya dengan ikhlas belajar 
kelak kita bakal punya rel kereta, 
bank, pabrik-pabrik, dan tambang 

pun di tanah moyang 

karena itulah, sebelum 
para dewa kembali ke langit 
dan logat kita semakin ganjil 

mari dengarkan petuah Kong Fu Chu 
dalam bahasa inggris, mari baca lagi 
kata-kata bijak Lincoln dalam Mandarin 

seraya mengenang setiap tetes 
kesedihan di hari tadi, 
    yang paham tabahnya rintik gerimis 

: ah, pada dunia kita busungkan dada 
--tak perlu ada kosakata Belanda! 

/3/ 
dari waktu kini, kami pun membaca 
sepenggal ingatan: 

itu masa yang penuh bara, tapi juga lelah 
jauh sebelum perang Asia raya bagai topan 
  melanda, dan kebencian pribumi merajalela 

lihatlah! kata ayah, ijazah yang kudapat 
setelah sembilan tahun bersekolah 

dan di sebuah buku tentang timah dan lada 
kutemukan foto gedung sekolah 
yang seolah tegak menentang masa 

kubayang juga bendera Kuo Min Tang 
di ruang kelas, tempat anak-anak 
Melayu dan Cina 
kini belajar mengeja 
ini ibu Budi dan Pancasila 

setelah enam lima 
setelah huru-hara 

ah, masih juga kausebut gedung itu 
sekolah Chung Hwa! 

Belinyu-Yogyakarta, Agustus-September 2015 

*Kutipan kata-kata Dr Sun Yat-sen 


Sunlie Thomas Alexander, lahir 7 Juni 1977 di Belinyu, Pulau Bangka. Menyelesaikan studi Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Bergiat di Komunitas Rumahlebah, Yogyakarta, dan mengelola penerbit Indie, Ladang Pustaka. Buku puisinya yang sudah terbit berjudul Sisik Ular Tangga (Halindo, 2014).


Rujukan:
[1] Disalin dari Sunlie Thomas Alexander
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 21 Februari 2016

0 Response to "Tiong Hoa Hwee Koan"