Alamat Kebahagiaan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Alamat Kebahagiaan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:15 Rating: 4,5

Alamat Kebahagiaan

SEORANG teman, Andy Sri Wahyudi, sibuk mencari alamat kebahagiaan. Sebegitu sibuknya, ia sampai menuliskan upaya pencarian itu di media sosial. Pastilah banyak orang berkomentar. Ada yang bilang hanya terselip saja di saku bajumu. Ada yang bilang ada di dalam laci meja kerjamu. Ada yang bilang di jalan raya. Ada yang bilang di rumah makan. Ada yang bilang di toko besi. Ada yang bilang di bioskop. Dan sebagainya. 

Namun, rupanya, Andy menggubris semua itu. Dan ia terus mencari dan mencari. Di jalan raya ia mencari dan tak dapat. Yang didapat malah ketakutan. 

“Kamu carinya di jalan apa, sih?” tanya seseorang lewat status di media sosial. 

“Jalan Thamrin-Sarinah itu,” jawab Andy lugas. 

“Wow jelas tidak ada. Di jalan itu bukan kebahagiaan yang didapat hari-hari belakangan ini. Tapi, kengerian.” 

Andy pun mencari di bioskop. 

“Sepertinya semua orang di sini memang sangat berbahagia,” demikian Andy bergumam ketika menonton sebuah film tertentu bersama puluhan orang lain yang tak dikenalnya, “Ya, mereka berbahagia karena tertawa.” 

“Tapi, tidak semua tawa menunjukkan kebahagiaan, lho. Ada yang sakit kanker bisa tertawa. Apakah ia berbahagia? Jangan-jangan yang datang ke bioskop ini kebanyakan juga sakit kanker. Lihat saja makanan mereka yang serba instan,” sahut seseorang di sebelah Andy. Ia merespons gumaman Andy secara tiba-tiba. Ternyata ia mendengar gumaman Andy. 

Andy pun kembali bingung. Kebahagiaan tak ia dapatkan dalam hari-hari yang ia lalui. 

*** 
KETIKA berkumpul bersama banyak kawan di tempat mana pun, Andy terus memperdebatkan perihal kebahagiaan. Kini, wawasan Andy makin bertambah. Karena ada temannya yang menyebut bahwa alamat kebahagiaan itu ada di dalam perkawinan. 

“Sssstttt, perkawinan itu sumber petaka!” sergah Andy cepat. 

“Petaka bagaimana? Buktinya aku yang menjalani, aku sudah menikah dan aku bahagia. Lahir dan batin. Lihat kehidupanku. Lihat ekspresiku yang ceria. Lihat perutku yang gendut! Jangan-jangan kamu pernah bercerai, ya?” sanggah teman Andy. “Belum!” jawab Andy tangkas, “Tidak ada perceraian atau perpisahan dalam kamus hidupku.” 

“Dalam hidupmu bisa tidak ada perceraian atau perpisahan. Tapi dalam kenyataan hidup secara luas, dua hal itu ada!” 

“Tapi, ada orang yang bercerai atau berpisah justru bahagia. Bagaimana hayo?” 

“Iya, benar juga kamu,” teman Andy pun cuma garuk-garuk kepala. 

“Terus jadinya di mana kebahagiaan itu?í 

“Kata Mario Teguh sih kebahagiaan itu adalah sebuah keputusan. Keberanian memutuskan untuk bahagia.” 

“Lho itu namanya ada unsur keterpaksaannya. Bahagia itu kan alamiah. Tapi, di mana?” 

“Di dalam tawa kita yang lepas, ya?” 

“Ada benarnya. Meskipun aku belum sepenuhnya sepakat. Karena orang gila itu bisa saja terus tertawa lepas dan ia tidak bisa merasakan apakah ia berbahagia atau tidak. Jadi?” 

“Ah nggak usah mikir yang berat-beratlah. Kayak filsuf zaman dulu saja.” 

“Memangnya filsuf zaman sekarang mikir yang enteng-enteng? 

“Iyalah. Tinggal buka internet semua ada. Lagi pula tidak banyak persoalan yang kini menuntut dipecahkan. Banyak orang malas berpikir berat. Ladang kerja filsuf juga malah seperti bualan. Seperti pertemuan kita kali ini. Padahal ini sangat penting, bukan?” 

Andy dan temannya pun mengakhiri pertemuan di kafe kali itu dengan sama-sama melengos saja. Lantas bergegas ke kasir. Dan mereka, ternyata, membayar sendiri-sendiri. “Tidak ada kesepakatan di antara kita untuk saling membahagiakan dengan cara siapa dulu yang mau traktir. Dan, tentunya, tidak perlu ada ketersinggungan di antara kita. Selamat malam,” ujar Andy polos. 

*** 
TEMAN-TEMAN Andy makin ramai memperbincangkan soal Andy di media sosial. Banyak yang mengajukan gurauan. Jangan-jangan Andy sudah sableng. Salah satu yang mem-posting foto dengan gurauan Andy sudah sableng itu adalah temannya yang ketika di kafe pulangnya bayar sendiri-sendiri itu. 

Namun, tentu saja postingan teman Andy itu hanya ditanggapi sebagai gurauan saja oleh teman-teman Andy lainnya di media sosial. Melihat hal itu, Andy berubah jadi marah. “Wah, kok kalian menganggap aku bergurau terus, ya?! Padahal aku serius lho!” demikian bunyi salah satu status Andy. 

Status itu makin direspons penuh gurauan oleh teman-teman Andy yang bejibun. Hingga ratusan orang merespons. Dan tak ada satu pun yang menganggap apa yang dilakukan Andy sebagai tindakan serius. 

“Wah, celaka. Hidupku sudah dianggap tidak ada yang serius oleh teman-temanku,” Andy pun berkeluh kesah. Ia tujukan melalui SMS kepada para mantan kekasihnya. Sebab, ia kini melajang. Kosong kekasih. Ia berharap ada secercah pembelaan dari para mantan kekasihnya. Ternyata, para mantan kekasih Andy juga menganggap Andy hanya bercanda saja. 

Andy kebingungan bukan kepalang tanggung. Ia gelisah bagaimana agar teman-temannya tahu bahwa ia serius. Tidak bercanda atas upayanya melempar pertanyaan guna mencari kebahagiaan. 

“Sudahlah. Kamu jalani saja hidup ini. Bahagia dan tidak serahkan pada Tuhan. Mungkin takdirmu untuk tidak berbahagia,” demikian sebuah respons ketus, sebuah status ke 199 yang dituliskan teman Andy di media sosial. Status itulah yang membuat Andy tak lagi menanyakan lagi soal kebahagiaan. Bukan soal ketusnya respons itu yang membuat Andy berhenti mencari alamat kebahagiaan. Tapi, ia suka dengan kata takdir yang tertuliskan di situ. Sebuah keputusan yang ia percayai. Sebuah surat tak tertulis dari langit yang bisa terbaca ketika seseorang menjalaninya. Andy pun sadar ia berada di bagian mana di dalam surat dari langit yang tak tertuliskan itu. 

*** 
HARI berlalu, lama Andy tak menulis status di media sosial. Banyak temannya menanyakan apakah ia sudah menemukan kebahagiaan? 

Andy tak mau sibuk menjawab pertanyaan temantemannya. Ia diamkan saja. Namun ia mengikuti siapa saja yang menanyakan perihal dirinya, kenapa tak lagi aktif membuat status, dan lain sebagainya. Rupanya, banyak temannya yang menjadi jengkel lantaran Andy tak lagi mau merespons status mereka. 

“Hei, jangan sombong, dong. Kamu dulu mengeluh mencari alamat kebahagiaan. Sekarang, dapat nggak dapat, nggak mau lagi merespons kita. Apa gunanya pertemanan kita?” ini salah satu celotehan status teman Andy. 

“Wah, egois kamu. Giliran nggak butuh benar-benar ngilang,” beginilah status temannya yang lain. 

“Akhiri saja pertemanan kita yang tiada berkesan ini,” demikian temannya yang lain menimpali. 

“Masukkan saja ia sebagai kawan berpredikat ‘hitam dan berbahaya’ karena bisa datang dan ngilang sewaktu-waktu tanpa permisi. Seperti teroris!” ada yang menuliskan status begitu. Andy tertawa-tawa geli membaca semua status temannya. Ia terus tertawa dan tertawa. Semakin ngakak saja. - g 


*) Satmoko Budi Santoso, 
Sastrawan. Tinggal di Yogya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 27 Maret 2016

0 Response to "Alamat Kebahagiaan"