Bulan Jatuh di Selokan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bulan Jatuh di Selokan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 08:14 Rating: 4,5

Bulan Jatuh di Selokan

"DI MANA bulanku? Siapa yang menyembunyikannya? Dia hilang dari singgasananya."

Amad berteriak-teriak di tengah keramaian pasar, meneriaki setiap wajah yang ia temui. Ditanyai. "Siapa yang melihat Bulan, tolong kembalikan pada langit."

Amad malang benar nasibnya. Pemuda lumayan tampan. Setiap memandangi langit, syair-syair indah keluar melantun dari mulutnya. Saat matahari yang menjulang ia untaikan syair pencarian, pesakitan dan kehilangan. Namun ketika rembulan yang bertengger di kaki langit. Amad teriakkan syair kasih, cinta dan kerinduan.

"Jangan pedulikan pemuda itu, dia kurang waras," bisik ibu-ibu pengunjung pasar merentet dari satu mulut ke mulut lain.

"Pemuda yang telalu memuja cinta, begitulah jadinya," kata salah seorang lagi di tengah-tengah kerumunan yang seolah tak memedulikan suara Amad yang terjerik sakit.

***
"LAN. Kasihku. Lihat aku yang sangat mencintaimu" teriak Amad kepada kekasihnya Bulan Novitari yang terduduk cantik emmakai riasan cindai di pelaminan, nikah dengan pemuda pilihan ayahnya.

Amad ditarik-tarik orang-orang yang menjaga perkawinan itu. Dilempar keluar dari gedung.

"Maafkan aku, Amad. Ini pilihan Ayahanda," jerit Bulan dalam hati. Air mata tertahankan di sudut kaca dunia dalam wajahnya.

"Larilah bersamaku Bulan, kau hanya boleh bersanding dengan aku." Amad etrsu berteriak hingga parau. Tak jelas kalimat yang ia luapkan.

Amad dibawa ke tempat jauh. Ia terus meronta. Hatinya terasa mati setelah kekasih yang sungguh-sungguh ia cinta telah dinikah pria lain di depan matanya. Amad terjatuh, tenggelam dalam luka kehilangan mendalam.

Amad ramadhan. Paras dan kelakuannya patut menjadi teladan. Rajin. Pekerjaannya berjualan minyak wangi di pasar. Tak heran banyak perempuan dari yang biasa hingga cantik luar biasa, naksir dirinya.

Entah kesialan atau keberuntungan Amad sering mendengar gombalan perempuan-perempuan genit yang ramai berdatangan ke tokonya. Namun pintu hati Amad tak berderit sedikit pun pada perempuan. Hingga ia melihat perempuan yang kecantikannya berbeda dari kebanyakan perempuan yang ia lihat. Perempuan itu Bulan Novitari. Hampir tiap malam ia tak dapat tidur mengingat Bulan. Tidur pun wajah dan suara Bulan terbawa ke dalam mimpi.

"Mas ada wangi mawar?" tanya Bulan.

Amad tertegun memandang Bulan sekali pandang. Kala itu perjumpaan pertama mereka, ada sesuatu yang aneh berdesir di bawah kulit Amad kala mendengar suara kembut Bulan. 

"Mas, halo. Ada tidak?" tanya Bulan sekali lagi.

"Ada aroma kasih yang berhamburan di udara," jawab Amad begitu saja. Kepandaian bersyair terlontar tanpa ia sadari.

***
AMAD kembali meneriakkan syair kerinduan di paru malam yang telah menggantikan siang. Amad berjalan pergi menjauhi jam raksasa yang emnjadi temannya bicara selama ini. Agaknya Amad bosan berbicara pada benda mati itu. Tiap Amad bersyair menceritakan kerinduannya pada Bulan, kekasihnya, jam itu hanya menjawab dengan detik-detik serta dentang lonceng yang membunyi tiap jamnya saja. Amad yang kurang waras menjadi semakin tak waras tiap kali bertanya pada jam raksasa.

Amad tertunduk. Berjalan tak tentu arah. Siapa yang ada di depannya tak ia pedulikan ia tabrak saja dan ia terus berjalan. Ia tak mendongak ke atas memandang langit yang di dalamnya bulan purnama menggantung cerah nan indah. 

"Bulan... Bulan... Lan kasihku," rintih Amad sepanjang jalan.

Orang-orang yang tertuju pandang padanya merasa kasihan, selain terlihat kacau dan nampak benar-benar tak waras, Amad juga kelihatan sangat lapar.

"Ya Tuhan, Bulan," kata Amad histeris.

Ia berjalan menjauhi jam sampai di seberang jalan raya. Amad melihat bayangan bulan purnama di dalam air yang mengalir di selokan itu. Ingatan terhadap bulan kekasihnya tiba-tiba datang tak terkendalikan. Amad melihat wajah Bulan dalam pantulan bulan purnama di permukaan air selokan.

"Aku akan emnolongmu naik, Lan. Kau tenang saja," teriak Amad pada bayangan bulan dari tepian selokan. Ia ulurkan tangannya, namun tak sampai.

Selokan itu lumayan tinggi, kira-kira satu setengah meter dengan genangan air yang mengarus deras pula.

"Tolong... tolong... seseorang tercebur di selokan dan membutuhkan bantuan. Tolooong..."

"Mana, siapa yang tercebur?"

"Bagaimana keadannya, masih bernapas kan?"

"Jangan kebanyakan tanya, ayo tolong kekasihku cepat," ujar Amad sambil menunjuk ke selokan.

Orang-orang geram dans ebal emndengar jawaban Amad. Sadarlah mereka kalau Amad kurang waras. Ada juga yang tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Amad yang konyol.

"Gila! Itu cuma bayangan bulan. Bulan yang asli masih ada di langit sana!"

"Kenapa masih diam saja, ayo cepat tolong kekasihku. Dia bisa mati tenggelam di selokan," ujar Amad berkeras hati.

Orang-orang tak mempedulikan Amad, meskipun ia menarik-narik tangan merekameminta pertolongan, tetap saja Amad diacuhkan. Amad tergopoh-gopoh ke sana ke mari menghampiri selokan, pergi emngambil sesuatu lalu kembali lagi ke tepian selokan.

Amad melemparkan tali. Bulan dalam selokan itu tak mau menggenggam. Amad jatuhkan tangga, bulan itu juga tak mau naik menitinya. Amad sodorkan kayu pegangan, bulan itu lagi-lagi tak mau mengulurkan tangankarena sebenarnya bulan itu hanya sebuah lingkaran cahaya semu, tak bertangan.

"Harus dengan benda apa lagi agar kau mau naik, Lan, kekasihku?" tanya Amad bersedih. "Apa kau ingin aku menggendongmu naik?"

Byuuurr.

Amad menjatuhkan diri ke selokan. Ternyata airnya dalam dan deras. Amad lupa kalau ia tak pandai berenang. Amad tenggelam, terseret arus air selokan, terseret akan ingatan tentang Bulan. 

"Lan, kekasihku... tolong aku!" 


Uni Hanik. Lahir di Pati, mahasiswa Sastra Arab Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Uni Hanik
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 20 Maret 2016

0 Response to "Bulan Jatuh di Selokan"