Mencuri Matahari | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Mencuri Matahari Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:12 Rating: 4,5

Mencuri Matahari

BEGITU cinta kepada kekasihnya, Tarno ingin memberikan sesuatu yang berbeda. Hal yang tidak masuk akal. Bahkan bila dinalar dengan pikiran sehat, seorang lekas mengumpatnya: Gila! Akan tetapi, pria itu yakin dapat memberikan hadiah tersebut kepada kekasihnya yang kini sedang melanjutkan kuliah Antropologi di Jerman. Pria dengan jiwa sedikit terguncang serta sulit membedakan antara kenyataan dan khayalan karena terlalu banyak membaca buku; kukuh ingin memberikan sebongkah matahari kepada kekasihnya. 

Tidak masuk nalar memang memberikan sebuah matahari kepada seorang. Mengingat: ukuran besar melebihi bumi serta sengat cahayanya yang dapat membakar apa saja, adalah sebuah kemungkinan yang sangat muskil. Konyol. Semua hal itu mungkin hanya bisa terjadi di dalam mimpi atau kisah-kisah di fiksi. Namun pria itu percaya kehidupan yang dijalaninya ini bukan fiksi; ia dapat mengambil matahari kemudian memberikan kepada kekasihnya. Pun matahari itu juga tidak akan melukai karena sengatnya yang panas. 

Untuk menjalankan rencana, Tarno mendiskusikan terlebih dahulu: 

“Kau terlalu banyak menulis kisah fiksi, Kawan,” pitam sahabatnya mengulum tawa. 

“Bagaimana mungkin kau bisa mengambil matahari. Jangan gila! 

“Kau tidak percaya: Aku bisa mengambil matahari.” 

“Kau butuh liburan, Kawan. Kau terlalu banyak bekerja keras. Ambillah liburan singkat: Ke Eropa, susul pacarmu, atau pulang ke Lombok, kota kelahiranmu.” 

Tarno terdiam. Lama ia melamun memandang terik sinar matahari pagi yang hangat. Hatinya mendadak mengkerut ketika lamat-lamat mendengar kekeh tawa sahabatnya. Pria itu meninggalkan sahabatnya tanpa banyak kata. Sedangkan kawannya tak surut menertawai rencana Tarno yang tidak bisa diterima itu.

***
Sepanjang jalan terus terlintas gagasan untuk mencuri matahari. Sikap keras kepala Tarno ingin mengambil matahari memang tidak terjadi begitu saja. Ada sesuatu yang ingin ia tunjukkan. Terkhusus pada kekasihnya: Theresia. 

Sudah lama wanita itu ragu dengan cintanya. Hari-hari Tarno yang sibuk di depan laptop untuk menulis atau membolak-balik lembar demi lembar buku mencari data agar ia dapat menulis kisah fiksi atau kajian ilmiah akurat; dipadang sebagai lain oleh kekasihnya. Semua kegiatan dilakukannya itu hanya alasan klasik. Kekasihnya meyakini Tarno lebih suntuk merayu wanita-wanita cantik yang terhipnotis oleh tulisan-tulisannya. 

Awalnya Tarno panas hati mendapat tuduhan yang tidak pernah dilakukannya. Bahkan, acap terjadi pertengkaran. Akan tetapi menyadari hubungan mereka yang rumit; yang harus melawan batas waktu dan ruang untuk saling bersapa; membuat hati Tarno melunak: meminta maaf. Untuk sesaat mereka memang akan berdamai. Tetapi mudah juga bertengkar lagi kalau komunikasi yang mereka jalin rusak karena hubungan jarak jauh itu. 

“Lama sekali kau membalas email-emailku!” Setiap kali pertengkaran dimulai. 

“Maafkan aku, Sayang. Aku seharian di depan laptop: menulis.” 

“Aku tak yakin,” gerutu kekasihnya pada email berikutnya. “Kau pasti lebih sibuk merayu wanita lain.” 

Tarno termenung. Ia sering memilih tidak membalas pesan tersebut. Kadang bahkan membiarkan beberapa hari dahulu hingga kekasihnya menghubungi melalui telepon dengan tarif internasional. Mereka berdamai lagi. 

“Kau seharusnya percaya kepadaku, sayang,” tukas Tarno setelah panjang lebar menjelaskan. “Aku sudah terlalu tua untuk bermain-main dengan cinta. Kau tidak ingat bagaimana dahulu aku harus menemui ayahmu saat kencan pertama, dan meyakinkan kalau aku layak bersamamu.” 

“Maafkan aku, sayang,” kekasihnya melunak. 

“Apakah perlu aku mengambil matahari dan mengirimkannya kepadamu,” ucap Tarno terdengar merayu. Mendadak telepon itu hening sesaat. Tidak ada balasan dari ujung telepon. Tarno panik: 

“Hallo!” Balas kekasihnya tanpa diduga. “Kau yakin dengan ucapanmu itu?” 

Tarno seperti terjebak. Ia lupa kalau kekasihnya bukan seorang wanita bodoh yang mudah dirayu. Kini giliran Tarno yang bingung menjawab. Terlintas juga karakter kekasihnya yang keras kalau berhubungan dengan komitmen. 

“Apa kau yakin dengan ucapanmu itu?!” Kekasihnya mengulang. “Bila kau benar-benar bisa mengambilkan matahari, aku tidak akan menggerutumu lagi.” 

Seperti mendapatkan dorongan gaib, Tarno menyetujui keinginan kekasihnya. Ia akan mengambil matahari tersebut untuk kekasihnya. 

***
Sore harinya Tarno melakukan rencana yang dianggap tidak masuk akal itu. Ia benar-benar mengambil matahari yang menggantung di langit. Dengan cara yang tidak masuk akal ia menggondol matahari itu. Bahkan, apabila dijabarkan dalam satu kisah pendek di sini akan sangat panjang. Karena harus melalui tahap-tahap yang rumit. Yang jelas ia tidak memotong seperti yang dilakukan oleh Sukap dahulu ketika mencuri senja untuk Alina dan menimbulkan kepanikan banyak orang; tidak juga dengan memanjat langit untuk meraih matahari itu. Tarno hanya menunggu waktu yang tepat: saat gerhana matahari. 

Begitulah. Tarno berhasil mengambil matahari itu. Banyak orang yang tidak menyadari kalau matahari yang hilang itu sebenarnya tidak akan pernah muncul lagi. Hingga kemudian selama berhari-hari setelah gerhana matahari, orang-orang mulai ribut. Mereka merasa ada yang hilang. 

“Kenapa mataharinya belum keluar juga?” 

“Apa yang sedang terjadi?” 

“Ini gerhana matahari yang paling lama.” 

“Betul. Sudah satu minggu matahari menghilang!” 

“Apakah matahari itu dimakan raksasa?” 

“Apakah dunia akan kiamat?” 

“Ini semua di luar batas-batas alam.” 

Orang-orang meributkan matahari yang hilang. Kepanikan terjadi. Namun, mereka tidak pernah tahu kalau matahari itu kini sedang tersemat dalam saku seorang pemuda yang ingin menunjukkan cintanya yang tulus kepada kekasihnya. (*) -g

Risda Nur Widia, Belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa se-Indonesia UGM (2013), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo Uhamka (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Risda Nur Widia
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 13 Maret 2016



0 Response to "Mencuri Matahari "