Penari - Sebelum Musim di Bulu Patila - Bunga Kamboja - Yang Memahat Cinta - Di Ruang Tunggu - Bulu Mata | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Penari - Sebelum Musim di Bulu Patila - Bunga Kamboja - Yang Memahat Cinta - Di Ruang Tunggu - Bulu Mata Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:02 Rating: 4,5

Penari - Sebelum Musim di Bulu Patila - Bunga Kamboja - Yang Memahat Cinta - Di Ruang Tunggu - Bulu Mata

Penari

Ia ingin kaku waktu
Lungkah di lentik jemari
Sebaris riang menghujan
Di alis matanya

Ia tak lupa
Gemulai tubuh adalah sepenggal cerita
Sepotong kelahiran milik lampau
Mata-mata pukau
Terbata membaca amsa lalu
Seperti terasing
Menyusuri tambir dan tambur

Panggung yang canggung
Menyamar pengelana serupa dahulu
Sedang ia menyemai decak
Menyiangi ingatan
Tak berusaha mengurai
Ataupun mengurangi kesedihan yang geming

Diam-diam mengirim separuh umur
Ke dalam riwayat

Usia akankah sia-sia tanpa menjadi tua
Dalam riwayat itu?

Jiwanya tersenyum
Bening
Juga diam-diam
Belawa, 2014

Sebelum Musim di Bulu Patila

Perdu sepagi ini membangunkan
Berbukit sakit dan tabah petani
Sebab tahun-tahun telah retak pecah
Juga tanah sawah dan dada yang lupa musim

Ke arah mana doa mesti dialirkan
Sedang sungai memilih
Kampung di balik bukit
Yang bibirnya mengalirkan tuak

Bunga Kamboja

Kepadanya orang gamang bukan kepalang
Semisal menjumpai Izrail
Di tengah riuh pesta

Padahal, tubuhnya hanya penanda
Yang ditempa manusia sendiri
Tanpa pernah berdoa hal serupa

Barangkali, dalam sunyi dirinya
Diam-diam ia bermunajat
Menjadi air mata saja

Yang kadang lupa berhenti
Melahatkan sedih

Yang Memahat Cinta

Bahwa aku diciptakan sempurna
Tanpa ruh dari gading yang ranum
Tempat Pygmalion memahat
Cinta dan segala kebutaannya
Hingga lupa hatinya adalah merah
Yang semenjak lahir terbuat dari kesepian
Dibiakkannya hingga bertahun-tahun

Aku Galatea
Yang bagimu tak punya alasan
Selain memohonkan
Tambur dalam debur dada yang utuh
Dari ciuman seusai pesta
Ketika malam merangkak dan tua
Belawa, 2015

Di Ruang Tunggu

Dari jauh kau melambai
Menyerukan namaku berkali-kali
Dari langit warna tembaga
Warna yang sering lekat di wajah kekasihku

Gigil ini adalah udara yang keras kepala
Sekeras kepala yang sering kekasihku sodorkan
Gigil ini adalah batu tubuhku;
Kami bertengkar pagi ini
Menyebut diri tak mudah rubuh

Tetapi waktu juga yang selalu memenangkannya
Aku harus gegas, menggigilkan panggilanmu
Sedang angin menemukan petarung baru

Bulu Mata

Sehelai bulu mata melayang
Mengetuk pintu

Luas pengembaraan
Mengurai jalan pulang
Ke rinndu yang berkobar-kobar

Nyala api dari tungku
Menghangatkan doa

Ketika itu,
Aku temukan getarku
Adalah Sangkuriang belia


Dalasari Pera: alumnus Pascasarjana Universitas Negeri Makassar, pendiri Komunitas Lego-lego Makassar.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dalasari Pera
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" edisi 27 Maret 2016

0 Response to "Penari - Sebelum Musim di Bulu Patila - Bunga Kamboja - Yang Memahat Cinta - Di Ruang Tunggu - Bulu Mata"