Pesan Air - Kudeta Tubuh | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Pesan Air - Kudeta Tubuh Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:18 Rating: 4,5

Pesan Air - Kudeta Tubuh

Pesan Air 

Kaukirim pesan lewat mendung
Saat hujan mengarsir malam tak henti-hentinya

Amarahmu yang tersumbat pecah sudah
Dirobeknya rembulan
Bintang mencair memenuhi kelopak mata anak-anak yang tersedu
Tubuhmu semakin gemuk memenuhi celah-celah rumah
Melahap parit dan meniduri jalan=jalan

Amarahmu yang kaueram meletus sudah
Tanda-tanda peringatanmu tak pernah diindahkan
Rimbun belantara dan semak-semak di kepala, dada, ketiak, selangkangan,
kuping dan kaki telah sempurna mereka cabuti dengan tangan besar ketamakan
Semua sisik dan sirip di tubuh hutam rontok sudah
Kesaktian alam telah tawar
Azimat dan keramat telah lumat

Sekarang kita tak hanya melihat pesan air
Di televisi dan koran-koran
Dengan kesumat dia datang menggedor pintu
Masuk mengisi kamar dan mengganggu tidur kita

2015


Kudeta Tubuh

: Episode adolcencia

Cuaca di rambutmu begitu karut
Puting Beliung mulai tumbuh dewasa
Ketika pubertas menumbuhkan sabana di hulu paha
Dan guruh bermain bas di pita suara

Tengkorakmu terbakar hebat
Saat turbin di jantung terlepas
Menggelinding membelah matahari logika
Maka otakmu pun digenangi murka

Kenangan berhamburan, berlarian, bermain di rumah-rumah tak beratap
Telinga tersesat di labirinnya sendiri
Terkadang enggan belajar mendengar tanda dan makna kebijaksanaan biru langit

Kepala dan dada
Rasa dan logika
Bertempur, bertumbukan melontarkan percikan jarum api

Mana yang bisa dipercaya
Perkutut yang minm testoteron di susuhnya
Atau lambung, kawah penuh pipa yang menyerap semua saripati makanan
Di muka bumi kelelakiannya
Yang membuka kantung-kantung di pori-pori tulang dan sampan-sampan
hemoglobin terapung di atas riak yang riuh

Lengan dan kaki yang tersekerup sempurna pada sendi-sendi
Rajinlah dia bersolek membangun kejantanan diri
Pesta pora kelenjar. Langu bau yang menguar memikat ribuan kupu-kupu

Lelaki yang mulai tumbuh dewasa
Menyobek membran kehidupan, meraup dan mengumpulkan semua peristiwa
Menjadi relief-relief pengalaman
Dengan tajamnya pisau penasaran yang berkilat-kilat lapar menjilat

Atau akankah dia terjebak adolcencia selamanya?
Sumur-sumur di matanya meluap membanjiri kulit waktu yang fana
Remuk redam jiwa, kertas putih yang tersiram tinta
Ke manakah jalan angin menuju sorga?

2015



Anung Ageng Prihantoko, lahir di Cilacap 8 Desember 1979. Tergabung dalam grup Dapur Sastra Jakarta. Kini tinggal di Cilacap. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anung Ageng Prihantoko  
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 20 Maret 2016

0 Response to "Pesan Air - Kudeta Tubuh"