Plagiator | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Plagiator Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:27 Rating: 4,5

Plagiator

"MENANTI kemenangan. Humaidi. Begitu judul dan nama penulis cerpen di halaman budaya sebuah koran yang baru kubuka. Baru membaca paragraf pertama, aku langsung terpekik.

"Hei, aku sudah pernah baca cerpen ini!"

"Bagus kan ceritanya, Ndra?" sahit Firman, karib yang merekomendasikan cerpen itu.

Aku berusaha mengingat kapan terakhir membaca cerpen yang memang menarik ini, tapi seingatku penulisnya bukan Humaidi.

"Tunggu, Fir!"

Aku menghambur ke kamar. Tak sampai dua menit, aku telah keluar membopong laptop dan membukanya. Dengan cekatan jemariku menelusuri file kumpulan cerpen yang secara rutin ku-download.

"Lihat! Cerpen Menanti Kemenangan ini ternyata hasil menjiplak penulis terkenal, dan telah dimuat di koran tahun 2002 silam!"

"Masa sih?" Firman menggeser tubuhnya, melotot di depan laptopku.

Beberapa menit kemudian....

"Ini harus ditindaklanjuti," ujar Firman usia membaca cerpen karya penulis ternama yang ternyata sama persis dengan cerpen Humaidi. Bedanya hanya nama tokoh, tempat, serta judul cerpennya saja yang diganti.

***
AKU dan Firman pun melayangkan surat pemberitahuan ke koran yang memuat cerpen hasil plagiat itu. Tak lupa, kulampirkan naskah cerpen karya penulis aslinya yang tanggal pemuatannya di salah satu koran nasional itu.

"Kok ada ya, orang ingin jadi penulis secara instan. Kulakan kata-kata kan gratis," ujar Firman dengan raut kesal.

"Iya. Aku juga heran. Terlebih yang dijiplak itu cerpennya Sujatmiko, sastrawan favoritku."

Sungguh aku sangat penasaran dengan sosok plagiatir satu ini. Pokoknya aku akan memburu informasi tentang siapa sebenarnya Humaidi.

***
HARI ini, biodata Humaidi telah kukantong (meski belum lengkap) melalui akun facebook-nya. Ternyata, dia alumni PTN ternama di kota J. Saat ini dia juga mengelola Rumah Baca Pintar di Purwokerto, kota kelahirannya. Ah, sayangnya, di akun FB-nya, dia tak memajang foto dirinya.

Saat sedang bersibuk mencari data-data Humaidi lain di Google, tiba-tiba ponselku berdering. Firman.

"Ndra, kamu lagi di mana?"

"Warnet, Fir."

"Eh, bisa temani aku nggak?"

"Ke mana?"

"Membesuk istri abangku di rumah sakit Purwokerto."

Begitu mendengar nama Purwokerto, entah mengapa aku langsung mengangguk meski aku sadara anggukan kepalaku tak mustahil terlihat oleh karibku di ujung sana.

"EH, kebetulan, Fir, sekalian kita lacak keberadaan Humaidi, sungguh aku  penasaran banget kepingin tahu kayak gimana tampangnya," sahutku bersemangat.

"Tepat! Aku juga berebcana ingin mencari alamat rumah bacanya, Ndra. Eh, nanti kalau sudah ketemu, kita pura-pura saja nggak tahu apa-apa," ujarnya bersemangat.

Berbonncenan naik motor, kami pun meluncur ke kota Purwokerto yang membutuhkan waktu kurang lebih dua jam perjalanan dari kota kelahiranku.

***
"BAGAIMANA kondisi Mbak Widi, Mas?" tanya Firman pada Mas Teguh, abangnya, begitu kami sudah tiba di depan Wisma Anggrek, tempat istri abangnya (yang menurut cerita Firman terkena gejala tipus) dirawat.

"Alhamdulillah sudah mendingan. Sekarang dia lagi ditungguin ponakannya," terang Mas Teguh seraya melirikku. Aku tersenyum dan segera mengulur tangan.

"Ini Andra, bukan?" Mas Teguh menjabat erat tanganku.

"Iya, Mas."

"Wah, pangling aku. Dulu waktu Mas SMA, kamu masih SD masih segini lho," ujar Mas Teguh seraya mengangkat telapak tangannya dan mensejajarkan ke perutnya yang gempal. Aku mengiyakan ucapan Mas Teguh dengan angguk dan tertawa kecil.

Lagi asyik mengobrol, seorang pria usia kisaran 21 tahun, berperawakan lebih tinggi dariku dan wajah tampan menghampiri kami.

"GImana, Dik?" Mas Teguh langsung menanyai pria itu.

Oh, mungkin ini ponakannya Mbak Widi yang barusan diceritakan mas Teguh, tebakku. 

"Lik Widi baru tertidur. Mungkin efek obat yang diberikan dokter barusan," jawabnya.

"Syukurlah," kata Mas Teguh.

"EH iya, kenalkan ini adikku, dan yang ini temannya," lanjut Mas Teguh kemudian. Lalu, aku dan Firman pun bergantian salaman dengan pria itu.

"Namanya siapa, ya?" tanya pria itu menatap aku dan Firman dengan raut bersahabat. Sepertinya, dia tipikal orang supel yang menyenangkan.

"Ahmad Firmansyah." Firman menganggukkan kepala tanda hormat.

"Saya Andra Gunawan, Mas." Seraya mengulas senyum.

"Andra Gunawan? Sepertinya saya pernah dengar nama itu."

"Dia memang terkenal kok, Mas. Maklum cerpenis kondang, karyanya biasa nongol di koran." Firman tersenyum menggoda dan melirik ke arahku. Reflek, aku menyikut pinggang Firman sembari bilang "lebay."

"Oh, iya iya. Saya ingat! Saya pernah beberapa kali baca cerpenmu di koran, bagus-bagus ceritanya meski selalu berakhir dengan kesedihan," ujar lelaki itu seraya manggut-manggut dan tersenyum.

Aku tertawa salah tingkah. Ada rasa bangga yang menyusupi relung hati ketika mendengar penuturannya. Ya, aku yakin,  tiap penulis pasti merasa bangga dan senang jika karyanya dibaca dan mendapat apresisasi.

"Eh, sloal nulis cerpen dia juga jago, lho? Sudah sering dimuat juga, kan, Dik?" tiba-tiba Mas Teguh  ikut komentar.

"Apa sih, Mas. Aku kan baru belajar, masih pemula," sahut pria itu merendah.

"Oh, jadi Mas penulis juga?" tanya Firman penasaran. 

"Masih belajar, sih," sahutnya tersenyum malu-malu.

"Oiya, kalau boleh tahu, nama Mas siapa ya? Siapa tahu saya pernah baca cerpen Anda, Mas," tanyaku antusias.

"Ya, ampun! Maaf. Sampai kelupaan belum memperkenalkan diri, ya?" Pria itu tertawa kecil.

"Nama saya, Humaidi," ucapnya sambil tersenyum manis, membikin aku  dan Firman sontak saling pandang dengan raut kaget tak tertahankan.

"Humaidi?" ucapku dan Firman serentak. Spontan.  ❑ Puring Kebumen, 2010-2011

Sam Edy Yuswanto, Purwosari RT 1 RW 3 Puring Kebumen Jateng 54383

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sam Edy Yuswanto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 13 Maret 2016


0 Response to "Plagiator"