Roman Platonis - KDRT - Rahasia Ibu - Instrumen Diam - Paragraf Cikupa - Jejak Cemara - Boulevard Jakarta - Monolog Lajang - Foot Note sang Plagiat | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Roman Platonis - KDRT - Rahasia Ibu - Instrumen Diam - Paragraf Cikupa - Jejak Cemara - Boulevard Jakarta - Monolog Lajang - Foot Note sang Plagiat Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:01 Rating: 4,5

Roman Platonis - KDRT - Rahasia Ibu - Instrumen Diam - Paragraf Cikupa - Jejak Cemara - Boulevard Jakarta - Monolog Lajang - Foot Note sang Plagiat

Roman Platonis

Lalu berkali-kali kita bersula tatapan
berzinah mata
setiap ada kesempatan
tak peduli debudebu memergoki
tak peduli lalu lintas lalang
mencibir penuh keki
terus saja roman
menikmati percintaan imajinasi
sekalipun tanpa diawali kuldi

berkalikali kita bertukar tatapan
sembari menadah tangan
ada garis takdir berkenan jadi comblang
mengantarkan waktu
pada hasrat yang diamdiam membiru
di seberang malu

berkalikali kita beradu tatapan
menjalani kencan bawah sadar

Solo, 2016


KDRT

1/
Sebab katamu
Lebam di tubuh itu adalah grafiti cinta
Yang harus dilakoni
Sebagaimana rekaat-rekaat dalam keyakinan
Menjadi istri
Dan makmum abadi

2/
Iya, kurelakan
Raga ini mati pelan-pelan
Setiap kali kau jatuhkan ciuman
Seiring cambukan

3/
Kelak kau mengerti
Kematianku adalah berkah
Dengan tasbih cinta yang terus tengadah
Dari hati
Yang melafal namamu berkali-kali
Sepanjang biduk perjalanan

Solo, 2015


Rahasia Ibu

Jangan lagi tanya soal bapak, Ngger.
Satu saat kau akan paham
Kenapa ibu memilih bungkam

Tak berkisah perihal masa lalu
Siapa dan di mana bapakmu?
Cukup, ibu simpan semua

Bahwa kau lahir dari benih luka
Dari malam yang nyeri
Dari sunyi yang tak manusiawi

Satu saat kau paham, Ngger
Tentang ketakadilan ini
Dan rasa sakit bernama aib
Ketika waktu melecehkan
Mengoyak kehormatan
Menjakinamu haram ...

Solo, 2015


Instrumen Diam

1/
Lalu kupilih diam
Tanpa pernah ingin menjajakan pilu
Di sela percakapan juga kopi instan
Yang kuteguk pelan-pelan

2/
Kemudian cukuplah
Gelisah ini kusanding sendiri
Soal pertemuan-pertemuan alang
Hanya awal dari kenangan
Dari galaxy waktu brenama tepi
Saat siang memunggungi

3/
Aku, kau pula debu-
debu demikian karib
Menuliskan perjalanan
pada lembaran nasib
Di semesta masing-masing
Dalam riuh dan hening

Solo, 2016


Paragraf Cikupa

: Aulia Nur Inayah
Di matamu aku sinau
mengelabuhi rindu
dan sepi yang menghantui
lekuk perempuan
saat usia memburu
semesta pelaminan

Jagalah keagungan dada
jagalah kesucian gua garba
sebelum akad menghampiri
biarkan tubuh bertapa
dalam hening mukena, katamu
saat angin meniup tengkuk
menemani langkah dengan khusuk
sore itu di Cikupa
kita berjalan menyusuri hampa

Di matamu aku sinau, Aulia
ihwal warna cinta
di balik kebesaran jilbab dara

Solo, 2016



Jejak Cemara

Sepi, selebihnya mimpi
bergelantung di reranting
sementara kisah kita
melenting di ujung kelokan
bahkan ketika senja menghampiri
sapamu semakin meninggi
menghadiahi kisah kidal
agar dada tekun istighfar
di situ
dan aku kian kerdil menyentuhmu

Solo, 2016


Boulevard Jakarta

Dua kopi berbeda rasa menjadi penanda
pertemuan kita yang sesaat
kau pilih pekat, aku coklat
kau datang di kawal teman
sedang aku sendiri
kau serupa begawan
aku tak lebih abadi

tak ada perbincangan lain
selain diksi dan kopi
lalu sesekali berdiam mengundang sepi
hanya aku menahan horny
di jarak sekilan tanpa sentuhan
aku tetaplah pecundang
selalu tak fasih
menanggalkanmu dari ingatan

Solo, 2016

Monolog Lajang


1/
Aku mulai tak yakin dengan ketabahan musim
yang tiba-tiba keawalahan, melukiskan sepi
setelah waktu memergoki

Sujud ini tak lagi khusuk
selalu kasak
selalu berderak
siapa kelak? penghibah kecupan
di akhir sembahyang
saat renta menghampiri, saat
pipi tak ranum lagi
sementara malam kian nglangut
: mendeklarasi uban dan keriput

2/
Andai takdir bisa kumainkan
barangkali malam ini kita bisa kencan
berciuman
sembari menghayati doa
yang memilih pejam
setelah sahadat diucapkan
andai ...

Solo, 2016

Menyusuri Candi Sukuh
1/
Pada sapaan pinus-pinus tua,
diamdiam aku terus meraba
Akan berujung di mana langkah ini ...
Sedang dingin cuma menyisakan
kalimat sepi pada setapak jalan

Relief menuju malam
Aku atau kau? yang lebih dulu sampai
Di pemberhentian
Mengecupkan nama di balik kabut tebal
: sebagai salam perpisahan

2/
akan kutunjukkan padamu
perihal aurat waktu
terjaga dari subuh hingga isya
demi semesta
dan darah dari selaput dara
adalah keperawanan yang kau minta
dalam mitos purba

3/
di depan lingga dan yoni
adam hawa memilih khuldi
aku menahlil namamu ribuan kali

Solo, 2015/2016


Foot Note sang Plagiat

Pada penyair yang memilih undur diri
Kau curi diamdiam
Mahakarya yang dulu dituliskan
Di jubah sejarah
Hingga seluruh pagi dan penikmat malam
Memuja, menjadikan bungah

Maka, padanya, kau ingin mereplay
Kejayaan rasa selai
Mengundang setiap mata,
mengelukanmu sebagai diva

Pada sungsang waktu
Berharap Tuhan maha (tak) tahu
Lantas kau tulikan segala
Saat esok mengabarkan, namamu bau
: mencemari udara

Solo, 2015


Serunie Unie, penikmati sastra asal Solo. Puisinya terangkum dalama antologi tunggal Catatan Perempuan (2011) dan Andrawina (2015); serta antologi bersama: 100 Penyair Perempuan (2014), Negeri Poci 5 (2015), dan Tifa Nusantara 1 & 2. Bergiat di Sastra Pawon. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Serunie Unie
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi 27 Maret 2016

0 Response to "Roman Platonis - KDRT - Rahasia Ibu - Instrumen Diam - Paragraf Cikupa - Jejak Cemara - Boulevard Jakarta - Monolog Lajang - Foot Note sang Plagiat"