Siwa | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Siwa Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 10:12 Rating: 4,5

Siwa

SULI menelan ludah pahitnya saat suaminya berkata, “Atas restu Ibu Ratu, sudah kuputuskan, kau harus melacur, Suli!”

Ucapannya persis desisan beludak siap menyemburkan bisa. Kepulan asap kretek Siwa, lelaki itu, meliuk-liuk di depan muka dinginnya, memedihkan mata Suli. Perempuan itu tak berani menengadahkan wajah. Serupa tawanan kalah perang. Dia tak pernah mampu menatap muka lelaki yang lima belas tahun jadi suaminya itu. Hanya sekejap saja tak mampu. Sebab pada muka itu, dia selalu melihat kebengisan Dasamuka menjelang tiwikrama.

Suli menggigit bibir bawahnya yang bergetaran. Lidahnya sepejal lempengan logam. Mati kata. Tapi lalu dia berani sekilas melihat muka bengis itu. Sempat memandang matanya. Tak berani lama-lama. Mata itu sebengis milik Medusa. Suli pun selalu jadi patung di depannya.

Siwa mengisap rokok dan mengempaskan asap ke muka Suli. Dada perempuan itu sontak seperti terbebat selotif tebal. Unjalan napasnya memberat. Mata Suli remang oleh rembang air mata. Hop! Aku tak boleh menangis di depan iblis ini. Suli menyergah hatinya. Siwa amat benci perempuan cengeng. Mulutnya bakal meluapkan kutuk-pastu. Umpatan-umpatan racun dan menistakan. Huh, mulut senyinyir nenek sihir itu! Satu titik air mata saja cukup buat lelaki itu melempar Suli ke neraka makian.

“Besok malam kau bisa mulai.” Masih bengis suaranya. Ringan tapi dingin membekukan. Lugas meringsangkan hati Suli. “Sunar sudah kuhubungi. Kau patuh saja pada dia. Dia yang cari orang, kau tinggal terima. Kau cukup beruntung karena kau tak harus jadi pelacur pinggir jalan.”

Suli sibuk membendung air mata. Akhirnya juga tumpah, membuncah tanpa suara. Mata Siwa melotot seperti bola api di moncong meriam pelontar. Rokok dibantingnya dan bak beludak mendesis-desis lagi, “Kenapa menangis? Kita sudah sepakat, kau bakal patuh apa pun yang kupilihkan untukmu. Ini memang pilihanku, tapi tentu saja atas restu Ibu Ratu.”

Ibu Ratu, Ibu Ratu! Benak Suli digenangi gambar sesosok perempuan molek berselubung kain hijau dengan payudara tegak di balik kemben. Sosok yang dipuja-puja suaminya, tapi bagi Suli, ia lebih mirip iblis betina jalang. Ia lebih mirip perempuan bengis yang memperhamba suaminya sepulang dari Gunung Lawu suatu hari. Ibu Ratu yang kata suaminya datang ketika dia bertapa tujuh hari tujuh malam di sebuah gua di gunung itu. Ibu Ratu yang kata suaminya memberi restu lelaki itu untuk tidak mencari nafkah sebab sewaktu-waktu harus sedia kalau diundang menghadapnya. Ibu Ratu yang sesaat lagi, setelah Sunar datang nanti, hanya akan memberi dia predikat baru: pelacur.

Ingin rasanya Suli mengumpat bahwa Ibu Ratu yang dimuliakan suaminya hanyalah ratu pelacur. Tapi tentu saja Suli tak berani. Ia tak pernah sekali pun berani menentang keputusan suaminya. Juga pilihan-pilihannya untuk dilakukan Suli. Aku tak pernah bisa memilih, gerutunya hanya di dalam hati. Selalu dia, dia, dan dia yang memilihkan sesuatu untukku. Seolah-olah dialah Tuhan yang menentukan nasibku.

“Jangan kaupikir kau sekadar melacur,” ujar suaminya lagi, agak pelan tapi nadanya masih sedingin malam. “Tidak sekadar itu! Ini masalah ritual. Atas titah dan restu Ibu Ratu tentu saja. Mestinya kau bersyukur. Sebab, kau yang dipilih untuk menghukum para lelaki hidung belang. Ingat, kau menghukum mereka yang memberhalakan syahwat. Kau harus menjalaninya, satu malam minimal satu lelaki. Itu perjanjianku dengan Ibu Ratu. Ingat kau bukan pelacur. Kau penghukum lelaki pemuja syahwat. Kalau kau terima uang dari mereka, anggap itu denda yang harus dibayarkan orang yang kauhukum. Dan karena Sunar punya peran, wajar saja dia punya hak dari hasil tugasmu. Aku sudah sepakat soal berapa jumlahnya.”

Kata-kata api itu menjilati hati Suli dan menggosongkannya. Suli merasa sebentar tempo tubuhnya bakal melepuh terbakar amarah terpendam. Hanya air matanya yang terus membuncah. Siwa memicing sinis ketika Suli membesut air mata dengan ujung baju. Lelaki itu bangkit ke meja komputer. Tangannya langsung sibuk dengan mouse dan keyboard. Game “Empire” segera memaku matanya. Selain merutuk-rutuk, itulah yang dilakukan Siwa siang dan malam.

Suli mulai beringsut ketika suaminya mendesis lagi, “Besok siapkan ubarampe untuk mandi kembang. Butuh kesucian untuk memulai sesuatu, apalagi ini titah Kanjeng Ibu Ratu.”

Sebelum tidur, Suli menjenguk tiga anaknya yang telah lelap di kamar mereka. Dari pintu ia memandangi Linta, Jalu, dan Lanang yang berjajaran di satu ranjang. Seperti ada tusukan belati berkarat di jantung Suli ketika memandangi mereka. Apa reaksi mereka kalau tahu ibunya bakal melacur dan itu atas perintah ayahnya? Tajam-tajam ia memandangi Linta, putri sulungnya yang baru beranjak remaja itu. Suli mengibas perasaan cemas yang mendadak meruyak hatinya. Ia mengibas pikirannya yang mendadak memikirkan seandainya putrinya itu bernasib seperti dirinya.

***
SUNAR datang keesokan malamnya. Begitu masuk, dia duduk di sofa sementara Siwa tetap asyik dengan “Empire” di layar komputer. Sunar membuka jaketnya dan menyulut sebatang kretek. Asap yang diempaskannya seolah-olah berkejaran dengan asap dari kretek Siwa. Ruangan jadi terasa sangat pengap. Angin basah sisa hujan sesorean tak cukup menyejukkan.

Hening sebentar tempo. Kericik air dari kamar mandi terdengar bertingkahan dengan detak jam dinding dan dengus napas kelesah kedua lelaki itu. Itu suara Suli yang tengah mandi air kembang.

“Dia bersedia?” tanya Sunar memecah keheningan.

Siwa mendengus. “Mana bisa dia menolak? Bagaimana klien-klien?”

Sunar mengacungkan jempol sambil terkekeh. Deretan giginya jelek, hitam tersepuh asap rokok. Kekehannya mirip tawa seronok nenek sihir. Nadanya mengandung racun kelicikan.

“Satu malam minimal satu lelaki, bukan?” tanya Sunar lagi.

Siwa mendengus lagi. Matanya masih lengket pada layar monitor. “Kau sudah tahu, ini bukan sekadar jualan daging dan lendir. Ini ritus yang harus dijalani Suli. Ingat-ingat itu!”

Sunar terkekeh lagi. “Beres. Satu malam minimal satu lelaki, untuk orang secantik istrimu, mudahlah itu.”

Siwa menoleh sebentar ke arah lelaki yang masih terus terkekeh itu. Kernyitan dahi dan picingan matanya penuh kecurigaan. Sikap itu membuat Sunar sedikit gelisah. Buru-buru dia mematikan rokok dan menyergah, “Siwa, kau tak perlu mencurigaiku. Aku hanya mau uang komisi, bukan tubuh istrimu. Seorang pialang tak mungkin memakai barang yang ditawarkan, bukan?”

Siwa kini menatapnya dengan tajam dan itu membuat Sunar salah tingkah. “Sori, sori. Aku tak bermaksud menyamakan istrimu dengan barang. Lagi pula, aku kan temanmu. Percayalah. Tak mungkinlah aku….”

Siwa kembali ke layar monitor. Terdengar lagi kalimat-kalimat bengisnya, “Aku tak suka gurauanmu. Rupanya kau belum betul-betul paham bahwa ini semua atas titah dan restu Ibu Ratu. Suli hanya akan menghukum lelaki hidung belang. Kalau kau belum paham juga, kau tak perlu melanjutkannya.”

“Hoho, jangan begitu. Aku tahu, aku tahu.”

Kehadiran Suli segera menghentikan dialog tegang dua lelaki itu. Agak terkesima Sunar memandangi istri temannya itu. Dalam balutan tank-top hitam berpadu jeans, dan riasan mukanya yang tak menor, meskipun muka itu seperti tergayuti mendung kelam, Suli terlihat sangat memberahikan. Tubuhnya masih sintal dan resam. Sunar seolah-olah melihat ladang subur yang menjanjikan panen bagus. Lelaki itu mendekut ludah di tenggorokannya sementara Siwa tetap terpaku ke layar monitor. Tak sekilas pun ia menoleh ke arah istrinya. Tak berlama-lama, Suli mengambil tas dan jaket.

“Kita pergi sekarang?” tanya Sunar masih dengan dekutan ludah di tenggorokannya. Suli hanya mengangguk pelan sembari beranjak mendekat ke tempat suaminya. Dua tangannya merengkuh tangan kanan sang suami dan takzim menciumnya. Tapi lelaki itu tetap terpaku ke layar monitor dan Suli merasa tengah mencium tangan sesosok patung batu dewa perang di kuil tua.

***
MALAM itu, di beranda motel, Suli duduk di kursi yang berkeriut setiap kali dia menyandarkan punggung. Sunar duduk agak menjauh. Dia terlihat gelisah. Sejak berada di situ tanpa saling bicara, Suli menghitung empat batang rokok sudah habis disedot lelaki pengantar dan penarik komisi dari kerjanya itu.

Angin sudah membawa embun. Kulit bahu Suli yang terbuka merasakan dingin dan kelembabannya. Perempuan itu segera mengenakan jaket dan merapatkannya.

“Bagaimana kalau dia tak datang?” tanya Sunar mengurai kekakuan dan kebekuan antara dirinya dan Suli.

Suli hanya mendengus. Sejak malam pertama itu, tak pernah dia berbicara pada Sunar. Biasanya begitu Sunar datang menjemput, Suli segera berpamitan pada Siwa dengan mencium tangannya. Selama membonceng Sunar pun bibirnya terus mengerucut dengan muka bermimik kecut. Sampai di tempat yang telah dijanjikan seorang klien, umumnya sebuah motel atau sesekali hotel berbintang, Suli tetap membisu saat turun dari boncengan. Pun saat Sunar menyebut nama dan ciri-ciri klien atau hanya nomor kamarnya. Bahkan, saat Sunar meneriakinya untuk mengirim SMS kalau urusannya sudah selesai, Suli hanya memberi isyarat tangan agar lelaki itu segera saja berlalu.

“Bagaimana kalau dia membatalkan kencan?” tanya Sunar lagi.

Lelaki itu sangat gelisah memikirkan dirinya bakal tidak mendapat komisi sebab sampai dini hari itu belum seorang pun yang mem-booking Suli. Padahal biasanya minimal dua orang semalam dan Sunar akan puas mengantongi bagiannya.

Suli sebenarnya juga gelisah. Tapi dia sudah pintar menyimpannya, sepintar dirinya memendam kemarahan terus-menerus pada suaminya. Dia gelisah mengingat keharusan yang ditetapkan Siwa: satu malam minimal satu lelaki.

Tiba-tiba dia tersenyum. Dia mendapat peluang bagus untuk melampiaskan kemarahannya pada Siwa. Dia punya kesempatan menyakiti suaminya. Tak terhitung banyaknya dia telah menyakitiku, pikirnya, tapi aku mungkin cukup menyakitinya satu kali, dan itu lewat Sunar.

“Sudah jam sekian dan lelaki yang Mas janjikan tak datang. Kita pesan kamar saja.”

Sunar tersedak dan terbatuk-batuk. Rokoknya dia buang. Sejak malam pertama menjadi penyeranta Suli dengan klien, baru kali itu si perempuan bicara. Dan sekalinya bicara, kata-kata Suli membuat jantungnya mau pecah.

“Mas tahu sendiri peraturan suamiku. Jangan khawatir, aku gratiskan asal aku bisa menunaikan tugas dari suamiku. Kamar, aku yang bayar. Aku juga akan membayar jatah Mas untuk satu klien.”

Suli sudah bangkit dan masuk menuju meja resepsionis. Sunar menyusul dengan langkah bimbang. Tapi waktu Suli sudah berjalan menuju kamar yang baru saja dia pesan, Sunar bergegas menyusul. Sudah lama dia memendam berahi pada perempuan itu, tapi dia sangat takut pada Siwa. Kini, Suli sendiri yang melapangkan jalan penuntasannya.

Begitu masuk kamar, Sunar langsung menubruk tubuh Suli, persis elang lapar menyambar seekor kelinci. Suli tersenyum. Dia tahu, jalan untuk menyakiti Siwa sudah dibuka. Meski untuk itu, sepulang nanti, dia harus rela mengeluarkan lagi uang untuk setoran wajib pada suaminya. Tak masalah, dia punya banyak duit yang dikumpulkan dari tip klien selama ini, uang yang tak perlu dia laporkan pada Siwa.

Selama Sunar menggumuli tubuhnya, Suli selalu tersenyum membayangkan reaksi Siwa saat nanti dia menceritakan siapa kliennya malam itu.

***
TIDAK mudah buat Suli yang terbiasa disakiti Siwa itu melakukan sesuatu untuk balas menyakiti lelaki itu. Maka, setelah Sunar yang mengantarnya pulang itu berlalu, dia tak segera membuka pintu. Terlebih dulu Suli mengintip lewat jendela. Dari sela-sela gorden, dia tak melihat suaminya di depan komputer yang masih menyala.

Suli lalu duduk beberapa saat di beranda, mengumpulkan kembali keberanian untuk menceritakan kisahnya dengan Sunar. Dia tahu suaminya bakal gila oleh kemarahan. Dia bisa saja kalap.

Tapi akhirnya Suli mantap. Sekalap apa pun suaminya nanti, dia sudah siap. Yang penting Siwa merasa disakiti. Sekali sudah bisa menyakitinya, dia yakin kesempatan berikutnya bakal datang.

Dia membuka pintu dengan kunci duplikat yang selalu berada di tasnya. Begitu terbuka, dia mendengar suara rintihan dari kamarnya. Jantungnya sontak berdegup kencang. Bergegas dia lari ke sumber suara. Dari kamar yang terbuka dia melihat Siwa yang telanjang sedang menggumuli Linta.

Saat itu Suli merasa dirinya ber-tiwikrama menjadi raksasa segunung yang menggunturkan kutukan. “Iblis laknat kau, Siwa! Itu juga atas restu ratu pelacurmu?”

Semarang, Oktober 2011


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Saroni Asikin
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 20 Maret 2016

0 Response to "Siwa"