Ulang Tahun di Kedai Sate Padang - Lidah - Lidah Marunyang - Di Pantai Keramas - Peringatan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Ulang Tahun di Kedai Sate Padang - Lidah - Lidah Marunyang - Di Pantai Keramas - Peringatan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:52 Rating: 4,5

Ulang Tahun di Kedai Sate Padang - Lidah - Lidah Marunyang - Di Pantai Keramas - Peringatan

Ulang Tahun di Kedai Sate Padang

Baik, tuan, 49 tusuk daging lidah

(Maaf, sekali ini saja tuan ingatlah
padaku. Lidah senyap yang mengunyah,
melembutkan muslihat)

lidah lembu yang pedas
lidah pengicuh bergerak lemas

Kuhuni mulutmu serupa hewan penunggu
guha keramat. Guha yang mengeluarkan 
sekalian gema dan bayang. Ada banyak 
peristiwa ketika tuan diam-diam datang
mengucap mantera penjinak. Berbaring
di bawah tubuhku tuan mengikat leherku

lidah berkuah yang hangat
lidah kata yang melihat

Sejak itu, tuan, aku tumbuh
sebagai pesuruh. Seekor anjing putih
dari jenisnya yang paling indah. Matanya
serlang, taringnya berkilauan. Yang setia
menjaga selimut cahaya bulan sementara
tuan mengendap-endap ke dalam guha
Mengubah sekalian bayang, mengicuh
jantung terang

(Maaf, sekali ini saja tuan ingatlah
padaku. Lidah senyap yang mengunyah,
melembutkan muslihat)

Baik, ini tuan, 49 tusuk daging lidah 

2015

Lidah

Sehangat tubuh anak dara
aku bilah lembut yang berpilin
Bersimpanglah jalan kata
Menapak ke tanah licin

Serupa lelaki bernama Isa
di jalan kata aku memanggul manusia
Darahku air perigi; mandi dan minumlah
Kutebus nestapa dalam merah jantung tanah

Selembut tubuh senggama
pengerang manusia dan kata
pagut memagut di puncak lengang

Ke tanah licin kupanggul bayang...

2016

Lidah Marunyang

Terbentuk dari gema lonceng
lidahmu memasuki pikiran. Memenuhi
tubuhku dengan tubuh yang lain. Tubuh
yang membawaku berjalan keluar

Kutanggalkan sepatu dan arloji
Kubiarkan orang-orang membongkar
lemari pakaianku, memakainya
dalam upacara peribadatan

Lidahmu mengandung ribuan sayap
yang tak memisahkan terang dan bayangan
Dalam keduanay lidahmu berayun-ayun
dan selalu luput menyentuh tubuhku

Dalam keduanya aku berjalan di atas
jembatan gantung. Di bawah lonceng
yang menggema ke dalam pikiran;
pikiran yang terus mengerang

Di ujung gema lonceng, di gerbang
kota berwarna putih, kitanggalkan 
tubuhku. Kumasuki tubuhmu, memilin
lidahmu, mereguk air liurmu

Lalu kubiarkan kau membingkar
lemariu pakaianku. Memakainya

dalam upacara pemakaman

2016

Di Pantai Keramas

Dari nusa panida gemerincing angin memasuki suaramu

Menghembuslah diri ke jantung hilang
Badan menyelam ke lubuk bayang

Jejak kakimu di pasir hitam, dada laut
yang berkilauan, kail tersangkut dalam buih

Di balik pulau-pulau karang
waktu adalah ular naga yang memanggul
dunia manusia. Mengeluarkan isi perutnya
Helai-helai rambut, jemari tangan
dan potongan-potongan lidah

Bersama ikan-ikan yang berdarah,
tetabuhan dan harum dupa, para penari
memanggul sisa tubuhku. Menyelam
ke akar pulau. Mencari-cari suaramu

Pasir dan selat tak berangin
Di air alun serupa batu-batu nisan tua
Tekstur tulisan yang rumit, gambar ular naga
Dan sisik-sisiknya yang mengelupas

Berdiri di atas air
Di antara helai-helai rambut, jemari
tangan dan potongan-potongan lidah
Diamlah badan dalam sesaji,
asap dupa dan para penari

Dari Nusa Panida gemerincing langit memenuhi suaraku

2016

Peringatan

Langit melapisi punggungku dengan musim
paling dingin. Punggungku seakan terikat
balok es. Sayapku hitam dan berat. Tak ada
apapun yang diwariskan leluhurku
selain kesepian dan kesummat

Aku terbang sambil mendengar suara 
yang datang dari dalam kubur. Bila
kau mendengar suaraku kau sedang
mendengar apa yang sedang kudengar

Jangan tatap aku sebab setelah itu
kau tak akan bisa menatap apapun

Aku berasal dari jantung
seekor burung gagak. Degupku
menghembuskan kejahatan dan ketakutan
Bayang tubuhku atas danau membuat bulan
dipenuhi bangkai ikan. Sedang suaraku
mengandung gema yang mengubah rasa air

Ini musim paling dingin
Di punggungku kebosanan lebih
mengerikan dari kegelapan. Aku terbang
sambil mendengar kesedihan mendesis
dalam mulutku

Jangan mengingatku sebab setelah itu
kau tak akan bisa mengingat apapun

2016

Ahda Imron lahir di Kanagarian Buruhgunung, Payakumbuh, Sumatera Barat, 10 Agustus. Kumpulan puisinya Pengunggang Kuda Negeri Malam (2008) dan Rusa Berbulu Merah (2014). Ia bergiat di Selasar Bahasa Kebun Seni bandung.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ahda Imran
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi 26 Maret 2016

0 Response to "Ulang Tahun di Kedai Sate Padang - Lidah - Lidah Marunyang - Di Pantai Keramas - Peringatan"