Demi Bayangmu - Igau - Kabut - Kau Mengukur Jiwamu - Serenade Malam - Dua Jiwa Disatukan Semesta | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Demi Bayangmu - Igau - Kabut - Kau Mengukur Jiwamu - Serenade Malam - Dua Jiwa Disatukan Semesta Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 01:33 Rating: 4,5

Demi Bayangmu - Igau - Kabut - Kau Mengukur Jiwamu - Serenade Malam - Dua Jiwa Disatukan Semesta

Demi Bayangmu

demi bayangmu yang lekat
entah puisi apa mampu kugurat
senja tiba tertatih di berandamu
mengiringi langkah letihku

kau resah meraih aksara demi aksara
tepi-tepi mimpi kelabumu
risau serupa halimun danau
siapa mampu menerka segala peristiwa

nujuman apa merasuki langkahmu
menjadi penyair ketika segala aksara
raib di hingar bingar mayapada

malam begitu terburu kelam
aku pun sirna di jelita matamu
lalu kan tiba matahari baru
angankan puisi sejatimu

Igau

senja di gang-gang kota
paripurna tanpa senyummu
kau berlalu seperti masa lalu
sebilah rahasia menggigil
dalam dingin udara juli

sarang telah lama usang
hanya kenangan membayang
di urat leherku
tak lekang dari parasmu

mimpi jadi serpih gerabah
aku menjaga senja
dalam bening botol arak

ini pertaruhan terakhir
serpih sumpah serapah
dan keping-keping puisi
menebar teluh dan kutukan

wajah-wajah dingin melintas
menyempurnakan waktu kematian
tak ada yang pasti
dan aku terjebak tanpa sisa

Kabut

kabut riang menari
di langsat kulitmu
bulan rebah
di geliat pinggulmu

segala cuaca menyusup
ke dalam igau demi igau
hutan-hutan basah hujan
ranggas daun

kau puisi
sejati puisi
aku hilang kata
sirna makna

kabut dan hutan
menjelma impian
di mata kanak-kanak

benih akan kembali tumbuh
di rahimmu yang merindukan cinta
hutan-hutan tropika
membayang di bening jiwamu


Kau Mengukur Jiwamu

kau coba mengukur jiwamu
entah di mana kedalamannya
matamu memeram sisa malam
musim bunga akan kembali tiba

taman-taman membuka rahasianya
alunan genta dan taburan doa
upacara-upacara mendedah jiwa
tuhan pun mabuk kata-kata

langit memberi restu
puisi demi puisi lahir
letihmu mekar di ujung pagi
halimun membasahi dedaun

Serenade Malam

malam mengelus
bahumu putih mulus
waktu yang merayap pelan
hampir tergelincir di situ

kau meraba pergelangan tanganku
meyakinkan darah mengalir
lebih deras dari biasanya

aku hanyut dalam arus deras darah
di tubuhku sendiri
arus deras dari sungai-sungai purbani
yang berpusaran di dasar lingga

malam mencium keningmu
membelai rambutmu
nadiku berpacu

ubun-ubunku menyala
segala yang rahasia
membuka diri perlahan
kelopak-kelopak padma merekah
benih-benih embun tercurah
tanah basah...

Dua Jiwa Disatukan Semesta

cahaya senja menyepuh
pepucuk pohon cempaka
bayangmu merekah
di ubun-ubunku

kau tiba dari tiada
menjadi ada
menjalani garis karma

semesta selalu tak terduga
meski kita berada
dalam lingkaran yang sama
begitu akrab, begitu dekat

siapakah kau, siapakah aku
hanya semesta yang maha tahu
ke manakah kita, mau apakah kita
hanya semesta yang maha rahasia

kita, dua jiwa
yang disatukan semesta
bergandengan tangan
menari riang di taman rahasia
menjelajahi langit warna ungu



Wayan Jengki Sunarta, lahir di Denpasar, Bali, 22 Juni 1975. Lulusan Antropologi Budaya Fakultas Sastra Universitas Udayana. Buku kumpulan cerpennya Cakra Punarbhawa (2005), Purnama di Atas Pura (2005), Perempuan yang Mengawini Keris (2011). Buku kumpulan puisinya Pada Lingkar Putingmu (2005). Impian Usai (2007), Malam Cinta (2007), Pekarangan Tubuhku (2010). Buku novelnya Magening (2015). 




Rujukan:
[1] Disalin dari karya Wayan Jengki Sunarta
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Jawa Pos" edisi Minggu, 3 April 2016

0 Response to "Demi Bayangmu - Igau - Kabut - Kau Mengukur Jiwamu - Serenade Malam - Dua Jiwa Disatukan Semesta"