Deparpolisasi Wisanggeni | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Deparpolisasi Wisanggeni Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:06 Rating: 4,5

Deparpolisasi Wisanggeni

BANYAK pimpinan partai elite di Negeri Amarta mencak-mencak, ketika Wisanggeni mendeklarasikan sebagai calon gubernur Dresilageni melalui jalur independen. Sampaisampai Trustajumena yang merupakan orang terdekat Srikandi, pimpinan partai berlambang Kuda Putih, menuduh Wisanggeni melakukan deparpolisasi. Istilah baru untuk pengertian ëusaha peniadaan peran partai politikí. Bukan pengertian ‘pengurangan jumlah partai politik’, sebagaimana tertulis dalam KBBI. 

Mendengar istilah deparpolisasi yang tak dipahami arti sebenarnya oleh Trustajumena, Wisanggeni tertawa ngakak. Dalam hati, Wisanggeni membatin, “Kalau ada seribu Trustajumena menjadi anggota setiap partai elite, hancurlah negeri ini. Bukan lantaran serangan musuh dari Hastinapura, Pasetran Gandamayit, atau negeri seberang; namun karena ketololan orangorang partai.” 

Apa yang dipikirkan Wisanggeni, terpikirkan pula oleh Kawan Wisanggeni ñ Bawor, Gareng, dan Petruk. Sekawanan warga biasa yang tak lagi mempercayai orangorang partai yang mengaku sebagai wakil rakyat; namun gagal paham istilah, tolol, omdo, korup, dan suka tidur waktu sidang. 

Karena tak lagi percaya dengan peran partai, Bawor, Gareng, dan Petruk mendukung Wisanggeni untuk mencalonkan sebagai gubernur melalui jalur independen. Siang-malam, mereka bekerja keras. Mengumpulkan sejuta KTP warga Dresilageni yang masih bisa berpikir sehat.

Dengan bantuan Kyai Semar; Bawor, Gareng, dan Petruk mampu mengumpulkan KTP warga Dresilageni dengan jumlah sangat fantastis - 1.243.678 lembar - hanya dalam waktu 2,5 bulan. Melihat kenyataan di lapangan, dua partai pro pemerintahan Yudistira yang semula menentang deparpolisasi Wisanggeni berubah mendukungnya tanpa syarat. Sungguhpun begitu, kedua partai itu tidak bodoh. Karena saat pemilihan wakil rakyat mendatang, mereka akan mendapat simpatik dari warga. 

*** 
Semakin hari, popularitas Wisanggeni semakin membumbung. Lantaran suara akar rumput semakin mengelu-elukan Wisanggeni, partai pro pemerintahan Yudistira lainnya yang semula menjagokan Prabakusuma sebagai calon gubernur Dresilageni berangsur-angsur melirik Wisanggeni. Sontak Prabakusuma yang berprofesi sebagai artis itu mengumpat kebijakan partai pengusungnya melalui akun twitter-nya, ìPartai plin-plan. Pagi tempe, sore kedelai!î 

Membaca tweet Prabakusuma, Nakula sang pemimpin partai yang semula menjagokan Prabakusuma sebagai calon gubernur Dresilageni hanya tersenyum dingin. Memberikan tanggapan pada Prabakusuma bukan melalui akun twitter-nya, melainkan lewat para wartawan televisi, koran, dan medsos. “Politik itu tak ada bedanya dengan berdagang. Masak kami harus membeli dan menjual barang dagangan yang kurang diminati pembeli? Tekor, dong. Ha..., ha..., ha....” 

Merasa dianggap barang dagangan, Prabakusuma yang baru saja mendengar komentar Nakula lewat breaking news dari salah satu televisi itu tersinggung berat. Dengan menggunakan jurus babi buta, Prabakusuma berkicau miring pada Nakula dan partai yang dipimpinnya melalui akun twitter-nya. Hati Prabakusuma kian sakit. Ketika banyak netizen menanggapi kicauan miring Prabakusuma itu disamakan dengan bualan seorang pengigau besar. “Bagaimana mungkin seorang mampu memimpin warga Dresilageni, kalau memimpin keluarganya sendiri tak pecus.” 

*** 
Pada H-15 Pemilukada di Dresilageni, jumlah pendukung Wisanggeni semakin tak tersaingi. Menurut survei, warga Dresilageni yang akan memilih Wisanggeni sebagai gubernur mencapai 72%. Hasil survei itulah yang membuat Srikandi pusing 1001 keliling. Karena meragukan suara warga yang bakal diberikan pada Larasati jagonya tak mampu melampaui suara untuk Wisanggeni, Srikandi meminta bantuan Nyai Durga. Kepada ratu bekasakan Pasetran Gandamayit itu, Srikandi meminta agar mengirim tenung pada Wisanggeni. 

Nyai Durga menyanggupi permintaan Srikandi. Sebagai imbalannya, Srikandi harus mengizinkan pasukan bekasakan Pasetran Gandamayit dengan bebas memasuki wilayah Dresilageni untuk mengendalikan jiwa para pejabat pemerintah dan orang-orang partai yang menjadi anggota wakil rakyat. 

Sepulang Srikandi dari Pasetran Gandamayit, Dresilageni dalam kekacauan politik. Tak hanya sebagian besar anggota wakil rakyat, namun pula banyak pejabat pemerintah yang jiwanya telah dirasuki roh bekasakan itu berusaha menjegal Wisanggeni sebagai gubernur Dresilageni dengan black campaign. Tak hanya itu. Tenung kiriman Nyai Durga mulai mengincar jiwa Wisanggeni. Berkat perlindungan Kyai Semar yang mendapatkan restu dari Gusti Kang Hamurbeng Dumadi, tenung itu tak mampu menyentuh sasarannya. 

*** 
Hari pencoblosan telah tiba. Sejak matahari dimuntahkan dari lambung malam, banyak warga Dresilageni telah berkumpul di TPS-TPS. Kawan Wisanggeni serempak melakukan sujud syukur seusai mengetahui hasil quick count yang disiarkan televisi, kalau suara yang diraih jagonya melampaui suara yang diperoleh Larasati. Sungguhpun hanya terpaut tipis. 

Tak mau menerima kekalahan, Srikandi melakukan gugat ke Mahkamah Agung dengan alasan Kawan Wisanggeni telah bertindak curang. Namun Sadewa, pimpinan Mahkamah Agung, yang dijelmai kawaskitaan Bambang Sukaca itu tak mengabulkan gugatan Srikandi. 

Menyaksikan penetapan Wisanggeni sebagai gubernur Dresilageni dari Mahkamah Agung, Kawan Wisanggeni serempak berseru ‘Allahu Akbar’ dalam ruang sidang. Namun sesudah pelantikan Wisanggeni sebagai gubernur oleh Presiden Yudistira, banyak warga dalam ketakutan luar biasa. Di mata mereka, awan pekat yang berarak di bentangan langit itu senampak barisan bekasakan Pasetran Gandamayit. Mengintai kelengahan Wisanggeni yang telah berkalungkan bunga amanat seluruh warga Dresilageni di tahta kekuasaannya. 

Cilacap, Maret 2016 

Sri Wintala Achmad, sastrawan. Menulis dalam tiga bahasa (Inggris, Indonesia dan Jawa). Nama kesastrawanannya dicatat dalam: Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste, Penerbit Kompas), Tinggal di Cilacap Utara, Cilacap, Jawa Tengah. ❑-k

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Wintala Achmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu, 3 April 2016

0 Response to "Deparpolisasi Wisanggeni"