Juru Kunci | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Juru Kunci Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 09:13 Rating: 4,5

Juru Kunci

MAS Kliwon, penjual nasi goreng keliling mengeluh sering bertemu wanita berbaju merah menyeret rambut, di pojokan makam di mana Mas Pon menjadi juru kunci. Sudah seminggu itu terjadi dan selalu menjelang tengah malam. Mas Kliwon terpaksa melewati kuburan. Tidak ada jalan lain untuk pulang usai mendorong gerobak nasi goreng. Dia bercerita kesal. Kalau hanya diperlihatkan, dia lelaki tidak mudah takut. Tapi akhir-akhir ini sosok wanita itu mulai genit dan mengganggu. 

“Dia bilang begini, ‘Mas Kliwon, nggak mampir?’ 

Kujawab saja, ‘Emang mau dikasih apa? Di rumah aku bisa kelonan sama istri. 

‘Aku juga bisa jadi istrimu, Mas Kliwon. Aku kangen.’ Banjur dia membuka pakaian atas. Betapa kagetnya, ternyata buah dadanya sudah hancur. Dipenuhi ulat.” 

Mas Pon mesam-mesem. 

Tidak terlihat tegang. Keseharian bersama-sama dengan makhluk halus, atau sudah bosan dengan godaan macam itu, membuatnya kalem. Berbeda dengan Mas Kliwon dan pendengar , yang merasakan punggung dingin dan kuduk berdiri. 

“Salawat dulu Mas Kliwon kalau lewat,” sambil meraih ubi rebus menutupi perubahan wajahnya yang tiba-tiba. 

Mendapat ronda malam bersama Mas Kliwon dan Mas Pon bukan hal menyenangkan. Hawa semakin dingin. Suara daun kering digoyang angin lamat-lamat seperti bisikan seseorang. Tokek bersuara menambah seram. 

Cerita Mas Kliwon juga dibenarkan beberapa orang. Seorang tukang ojek dekat pasar, pernah mengantarkan seorang wanita yang kepayahan membawa dua kardus. Ternyata si wanita minta diantar ke kuburan. Sesampainya di kuburan, tukang ojek menoleh dan dia berubah sosok wanita berbaju merah menyeret rambut. Ada juga penjual wedang ronde, yang dipanggil seorang wanita dan ternyata itu berasal dari kuburan. 

Sosok wanita berbaju merah dan menyeret rambut itu tidak lepas dari sosok Mbak Rahayu, penyanyi dangdut yang meninggal dalam kecelakaan sedan dengan truk. Memang saat ditemukan di bawah ban truk, Mbak Rahayu memakai terusan abang branang. 

Kematian tidak wajar membuat sukma ngumbara, arwah penasaran. Kematian Mbak Rahayu menjadi teror bagi Mas Pon. Dari ceritanya, sebelum kematian Mbak Rahayu, ada banyak hal yang mengganggu. Tidur tidak nyaman. Keranda yang disimpan di bangunan pojok kuburan dipukul-pukul. Dinding rumahnya seperti dibaret dengan sebilah bambu. Dipan seperti digoyang lindu. Kendi air putihnya cepat habis. 

“Siapa sih yang besok meninggal?” 

Hingga seminggu tidur malam Mas Pon terus diganggu. Ternyata kejadian seminggu itu dipersiapkan untuk menyambut kematian tragis Mbak Rahayu. Ketika muncul sosok wanita menyeramkan berbaju merah menyeret rambut, kematian Mbak Rahayu dikait-kaitkan. 

Mas Pon sudah sering bicara tidak ada orang mati yang bangkit lagi. Jazad hancur dimakan ulat. Sedang roh orang meninggal dijaga malaikat. Wanita berbaju merah menyeret rambut itu jin usil atau sekadar imaji - nasi orang-orang kelelahan. Seperti Mas Kliwon dan lainnya. Tetapi sekuat apa usaha Mas Pon, orang desa tetaplah percaya hal-hal tak terlihat mata.

***
Tanpa dinyana mitos itu mulai hancur . Sudah tidak ada yang takut akan kuburan. Justru berbondong-bondong ke kuburan yang dijaga Mas Pon. Setelah diteliti pengunjung kuburan bukan hanya penduduk sekitar, atau anggota keluarga yang berziarah, tetapi pengunjung khusus dari luar kota, disertai juru kamera dan juru berita. 

Ini akibat seorang ulama yang wafat dan disemayamkan di sana. Ulama itu memiliki ribuan jemaah fanatik. Ketika pemakaman, Mas Pon merasa kuwalahan maksimal. Tenda dan kursi untuk hajatan nikah, khusus didatangkan untuk menampung tamu undangan. Ilalang di tanah tegalan dekat kuburan dibabat, dipersiapkan untuk area parkir mobil dan bus pengantar jenazah. 

Penjual bunga berdatangan. Penjual buku tahlil dan doa menggelar dagangan sepanjang jalan menuju makam. Rangkaian bunga terus mengalir. Besar-besar . Belum lagi penjual payung, penjual minuman dan makanan ringan. Kuburan siang itu disulap seperti pasar malam. 

Setiap hari berjubel pelayat. Hingga hampir sebulan. Mereka datang bertujuan macam-macam. Aneka penjual masih bertahan. Dagangan ditambah kenang-kenangan bergambar wajah ulama. Dari berbagai pengakuan, makam itu mendatangkan kemanfaatan. Mas Pon menambah cerita istimewa makam tersebut. 

“Kamu mimpi bertemu dengan ulama itu, Mas Pon?” Mas Pon mengangguk. 

“Apa yang dikatakan beliau?” 

“Seperti yang kalian dengar?” 

“Dia menasihati kalau dunia akan berakhir?”

“Benar Mas Pon?” 

Aku hanya heran mengapa sikap Mas Pon berbeda pada isu arwah Mbak Rahayu dan keberkahan ulama itu. Apa di kuburan itu Mbak Rahayu mendapat nasihat dari ulama? 

“Kamu bisa menjaga rahasiakan?” 

Mas Pon menyeringai. Aku tidak bisa membedakan mana batas nyata dan permainan imajinasi belaka. Sejak itu aku tak lagi menanyakan kebenaran arwah Mbak Rahayu, ulama salih pada Mas Pon. (*) θ 

Blora, September 2013 


Teguh Affandi, lahir di Blora, 26 Juli 1990. Cerpennya dimuat di berbagai media. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Teguh Affandi
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 10 April 2016

0 Response to "Juru Kunci"