Kobra Menunggu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kobra Menunggu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:00 Rating: 4,5

Kobra Menunggu

SEBENARNYA kobra itu yang menunggu di bawah pohon nangka atau Martagambreng yang menunggu di atas amben bambu wulung agar penderitaannya berakhir selamanya? 

Di amben yang rentan dan menimbulkan bau lapuk dan busuk itu, Martagambreng telentang selama sembilan tahun, sebelas bulan, dan dua puluh dua hari. 

Temannya laba-laba di langit-langit yang bergerak menurun seakan pemanjat tebing profesional. 

Dan ia tak bisa berbuat banyak, selain setengah mati berusaha meniup-niupnya, hingga laba-laba tergantung itu bergoyang manja seakan polah anak kecil dalam ayunan ban bekas di pohon nangka. Anak Martagambreng ada tiga, sudah berkeluarga semua, kerja dan tinggal di kota sebagai buruh pabrik tekstil. Kalau lebaran baru kumpul, itu pun sebentar. 

Ia sempat takut laba-laba itu akan menggigit wajahnya, bibirnya, hidungnya, menyuntik bisa, atau mencolok matanya. 

Namun, akhir-akhir ini ia sering tertawa dan memanggilmanggil nama-nama laba-laba itu dengan nama-nama anaknya yang jauh, hingga istrinya yang menyusun kapuk bantal mendamik dada di bale depan; mengira Martagambreng mulai sakit jiwa akibat lumpuh badan yang dideritanya selama tahun-tahun penderitaan. 

Senin pagi, istrinya berpikir untuk membuat Martagambreng lebih sering berada di luar rumah. 

Selama ini hanya dua kali seminggu. Istrinya harus merepotkan empat orang lelaki dewasa untuk mengangkat amben ke halaman. 

‘Dia mulai sering bicara sendiri,’ istrinya menemui tetangga, ‘tubuhnya rusak, lama-lama jiwanya juga. Terus aku punya apa?’ 

‘Kita akan menaruhnya di bawah pohon nangka, biar kalau siang tidak kepanasan. Dan bisa ditinggal.’ 

Setelah dipindah, empat orang mengobrol sebentar, memberi lelucon, lalu pamit bersiap panen padi. Buat membunuh sepi, tetangga membawakan radio; digantung pada ranting dekat babal-anak buah nangka.

Suapan sarapan selesai dan istrinya pamit untuk pergi ngasag-mencari sisa-sisa padi pada jerami yang telah dirontokkan petani. Ia menyiapkan caping, tenggok, air minum, selendang, karung kecil, getik-bilah buat menyerit sisa padi, dan berkumpul bersama orang-orang desa yang tidak punya sawah.

Yang tidak punya sawah di musim tanam akan bekerja menanam padi, kemudian menyiangi rumput, dan di musim panen membantu memanen atau disebut mbawon. Upahnya berbentuk padi.

Perempuan-perempuan perkasa pergi mengasag. Dahulu, sebelum menggunakan mesin perontok, masih manual dengan gepyok bambu, sisa padinya banyak, bahkan banyak yang sengaja disisakan oleh pemanen agar para pengasag mendapat cukup sisa.

Sawah Martagambreng habis dijual buat berobat, sepetak demi sepetak, sampai pada akhirnya tinggal ruang kosong dalam jeda jaring laba-laba. Anak-anaknya juga tidak tertarik jadi petani. Seperti kebanyakan, lebih milih pergi ke kota atau jadi buruh migran di luar negeri.

‘Ya, wajar,’ lanjut obrolan di sawah yang sedang panen. ‘Tani sekarang dapat apa? Ini, musim tidak jelas, padinya kimpes dan hitam-hitam ujungnya.’

‘Pupuk mahal, bibit mahal,’ yang lain menimpali, ‘Pas panen, beras impor Thailand datang!’

‘Karena orang-orang pinter di atas itu makannya roti, Kang,’ yang lain lagi, ‘jadi tidak mikirin petani yang nanam padi. Bikin alat apalah, irigasi, atau bagaimana biar petani sejahtera. Coba kalau mereka makannya nasi, ‘kan mikir!’

Di tempat lain, Martagambreng sedang berpikir tentang dirinya ketika di radio yang digantung muncul berulang iklan tabib mujarab obat perkasa dan kebahagiaan rumah tangga. Dia ingat istrinya.

Ada yang bilang, lumpuh tubuhnya karena kesambet terkena jin saat membuang sesaji, ada yang bilang karena stroke, meski dia masih lancar bicara. Apapun, yang jelas semua seperti ini keadaannya.

Dan ular kobra yang menunggu sejak semula itu, kini keluar dari sela-sela genting bekas, merambat ke amben, lalu ke sisi Martagambreng, melalui tulang kering, ke perut, dan kini sudah ada di dada, terdengar jelas desis, dan terlihat nyata gerak lidahnya.

Ular itu menegak kepalanya seperti sendok. Matanya beradu pandang dengan mata Martagambreng yang takut! Tidak tahan pada maut, ia menjerit! Dan seketika kobra itu mematuk mulutnya.

Gelap dan kejang merambatkan sakit yang bersamaan.

Ia menggelinjang, mengibaskan ular kobra itu, jatuh dari amben rapuh, berguling-guling di tanah, seakan ajal sedang mengunyahnya.

Tetapi sepertinya ada yang lain: saat sadar, Martagambreng mendapati dirinya meringkuk dan tangannya memegang kuat-kuat mulutnya yang luka darah oleh gigitan kobra.

Martagambreng melonjak! Tergirang. Ia sembuh dari lumpuh tubuh!

Ia lari secepat kambing, mencari istrinya, melonjak-lonjak seperti tingkah laba-laba genit. Orang-orang di sawah kaget lihat si Pesakitan, yang hampir sepuluh tahun lumpuh tubuh, datang.

Ketika ditanya bagaimana bisa sembuh? Martagambreng merasa sudah berkata-kata. Ia bahkan berteriak, tetapi telinganya sendiri ternyata tidak mendengar apa yang ia katakan.

‘Lumpuhnya sembuh, Yu,’ kata seorang tani, ‘Tapi sekarang, dia bisu.’

‘Tidak apa-apa,’ jawab istri Martagambreng penuh cinta.

Martagambreng ketawa. Tanpa suara.
Cilacap, 2016 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eko Triono 
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" edisi Minggu 24 April 2016

0 Response to "Kobra Menunggu"