Luruh Bersama Hujan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Luruh Bersama Hujan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:21 Rating: 4,5

Luruh Bersama Hujan

DARI tengah pintu bergantian mata lelah Sukab menatap anaknya dan langit abu-abu. Hati dan pikirannya berperang. Hatinya memintanya masuk ke dalam, kemudian menutup pintu erat-erat. Dia bisa duduk di sisi Menik, membelai rambut anaknya yang lepek itu.

Ketika hatinya hampir menang, pikirannya menonjok hati itu hingga terjengkang. Pikirannya berkata, ia harus pergi. Demam tinggi Menik tidak turun bila yang ia lakukan hanya mengelus-elus rambutnya. Perut Menik dan perutnya tetap akan merintih serapat apa pun mereka berbaring pada dipan.

Lelaki kurus itu mengembus napas keras. Ia memang harus pergi walau langit seolah tak lagi sanggup menahan hujan.

Menik menatap Sukab. "Bapak pergi saja. Menik nggak apa-apa tinggal sendiri." Pelan juga parau suara anaknya. Ia dapat membaca kebimbangan Sukab.

Di antara senyum, Sukap melangkah mendapati Menik, mengecup kening bocah tujuh tahun itu. Lama sekali bibirnya menempel di kening anaknya. Merasakan panasnya suhu tubuh Menik melalui bibirnya, hati Sukab laksana diremas tangan-tangan besi.

"Semoga hari ini rezeki bapak banyak.

Kata Menik ketika Sukab berdiri di ambang pintu. Ia menatap Menik lagi dengan bibir lebar. Doa sederhana dari Menik telah membakar semangat dan harapannya.

"Jangan lupa makan siangmu. Bapak simpan di dapur. Minum obatmu juga." Sukab mengingatkan.

Menik mengangguk lemah.

Sukab tidak mengunci pintu dari luar. Daun pintu berbahan triplek itu hanya ia tutup rapat, supaya angin tidak berebut masuk ke dalam. Sebelum pergi, ia menitip Menik pada Bariah, tetangganya. Walaupun perempuan gemuk itu hanya mengangguk malas-malasan, Sukab yakin Menik tidak akan sendirian sampai ia pulang sore nanti.

Sudah tiga hari tubuh Menik demam. Suhu tubuhnya semakin panas meskipun Menik telah menelan pil penurun demam yang dibeli Sukab dari warung. Sukab cemas Menik bukan terserang demam biasa. Membawa Menik ke dokter bukanlah pilihan orang-orang semacam dia. Berbagai jenis kartu yang dibagi pemerintah tidak satu pun ia genggam karena ia tidak memiliki KTP dan kartu keluarga.

Dari atas jembatan, Sukab memerhatikan deretan rumah sederhana tidak jauh dari bibir sungai. Tiga tahun lalu, terpaksa ia mendirikan rumah di sana sebab tidak lagi mampu  membayar kontrakan rumah. Di rumah sangat sederhana miskin fasilitas itu ia membangun mimpi-mimpi baru bersama Menik.

Faridah, istrinya, memilih minggat sebelum mereka pindah ke rumah itu. Sukab bersyukur Faridah tidak membawa Menik bersamanya. Dengan kedua tangannya Sukab bertekad memberi Menik kehidupan yang jauh lebih baik dari sekarang.

Sebelum mengayuh sepeda, Sukab menatap luapan sungai di bawah, sementara langit kelabu memayungi. Harapannya hari ini tidak hujan supaya rumah mereka tidak terendam air.

***
PEKERJAAN Sukab hanya menambal ban dan tambah angin sepeda motor. Bila ingin bertemu Sukab, ia menjemput rezeki di Jalan Gatot Subroto. Tempatnya berpindah-pindah, tetapi tetap di jalan itu. Ia meletakkan peralatan kerja di trotoar, biasanya di bawah pohon rindang. Bila terik menyengat, ia merasa bersyukur. Namun bila hujan menari, Sukab hanya bisa berteduh di emperan. Kedua tangannya saling memeluk. Matanya bergantian menatap kompresor dan langit yang begitu tega mencurahkan hujan.

Selepas, Sukab menitip gratis peralatan kerja di warung makanan milik Pak Burhan, letaknya masih berada di Jalan Gatot Subroto. Lelaki tua dan istrinya itu sangat baik hati. Tidak jarang mereka memberikan bungkusan kecil saat Sukab pamit pulang.

"Titip untuk cucuku" Selalu begitu kata mereka.

Tanpa melihat isinya, Sukab ucapkan terimakasih yang paling tulus. Selalu Menik memekik gembira begitu Sukab menyerahkan titipan itu walau hanya berisi permen. Melihat kebahagiaan anaknya, Sukab mengukir nama Pak Burhan dan istri dalam hati. Mereka tidak akan pernah dilupakan Sukab.

Langit yang kelabu berhasil mengelabui orang-orang bila perut mereka berisi. Tetapi tidak bagi Sukab. Walau tanpa matahari ia tahu sekarang sudah jauh lewat tengah hari. Ia tahu dari perutnya yang merintih. Demi Menik ia tidak akan peduli perutnya.

Sembari bersandar di batang pohon, ia menatapi kendaraan yang lalu lalang di hadapannya. Hanya ada tiga lembar seribuan dalam saku kemeja, hasil isi angin tiga sepeda motor. Terkadang, Sukab tergoda menaburi paku di jalanan tidak jauh darinya. Sialnya, godaan itu tidak pernah mengalahkannya sehingga ia merasa bodoh.

Sukab semakin sesak melihat jarum-jarum air melayang dari langit. Semoga hanya seperti itu, tidak deras. Lelaki itu memohon dalam hati. Hari ini ia harus membawa pulang uang. Untuk beli obat Menik, beli beras, beli ikan asin. Beli sabun buat mandi dan nyuci di bibir sungai.

Jarum-jarum air itu bukan lagi melayang, tapi berlari. Semakin cepat dan banyak. Sukab masih terpaku. Lelaki berambut ikal itu menatap hujan, menatap kompressor, menatap kendaraan yang lalu lalang di hadapannya. Angannya melayang, andai saja satpol PP tidak membongkar bangunan sederhana tempatnya membuka tempel ban pada waktu itu. Tidak seperti ini nasibnya. Mungkin juga Faridah tidak minggat dengan lelaki lain. Mungkin hidupnya akan sedikit bahagia. Mungkin...

Sukab masih mematung. Tangannya mengepal, perutnya menggelepar. Hujan mengguyur. Rimbunan ranting tempatnya berteduh tidak berarti apa pun. Hendak Sukab teriak, sungguh hidup ini tidak adil. Tetapi rahangnya terasa keras. Tidka mampu bergerak, hanya bergetar.

Hujan makin menghujam jalanan di depannya. Anehnya, Sukab tidka merasa tersiram. Sampai ia tersadar, sebuah payung menaunginya.

"Kenapa masih di sini?" Pak Burhan menatap. Suaranya teraduk bersama hujan.

Sukab tersentak, seolah barusan terbangun. Dibantu Pak Burhan, ia menaikkan peralatan kerjanya ke dalam becak dayung yang barusan dibawa Pak Burhan. Ia mengayuh becak, sementara Pak Burhan duduk di boncengan, dengan payung mengembang di atas kepala mereka berdua.

Setelah mengeringkan kepala dengan handuk yang diberikan istri Pak Burhan, Sukab duduk menghadapi semangkuk mi instan rebus, di dalam warung Pak Burhan. Sukab menatap smebari mendegut ludah, kemudian ia teringat Menik. Selera makannya jadi hilang. Andai ia bisa memberikan makanan ini pada Menik.

"Makanlah. Kami sudah siapkan rantang untuk Menik."


***
SELEPAS makan, hujan tak tamat-tamat. Sukab pamit pulang, resah memikirkan Menik. Sukab hanya mampu bilang terimakasih melihat Pak Burhan meletakkan rantang ke dalam keranjang sepeda.

"Pulanglah. Hati-hati di jalan." Pak Burhan melepasnya.

Jalan tertutup air sampai semata kaki. Laju sepeda Sukab terseok-seok akibat laju kendaraan menumpuk. Jerit klakson, derum mesin, makian orang, berbaur dengan hujan. Sukab telah terbiasa dengan semuanya. Ia harus segera tiba di rumah. Mungkin Menik sedang cemas. Rumah mereka hanya sejengkal dari sungai. Tanah di sana begitu landai, hingga bisa kebanjiran bila hujan deras selama dua jam.

Di bawah hujan Sukab berusaha merangsek. Namun kendaraan semakin rapat, air yang mengalir menyentuh betisnya. Akhirnya Sukab terpaksa menuntun sepedanya, menyelip di celah yang begitu sempit.

Sekitar dua ratus meter mendekati jembatan, air yang mengalir menyentuh lututnya. Banyak mobil dan sepeda motor mogok di tengah jalan. Sukab melemparkan sepeda begitu saja. Tutup rantang berbahan plastik mengapung di atas air. Tumpahan mi instan serupa geliat cacing di air keruh.

Air mengalur setinggi lututnya membuat lari Sukab terhalang. Seperti ada seorang bocah memukul-mukul dadanya dari dalam. Tadi pagi ia berdiri di tempatnya sekarang, masih kelihatan rumah mereka. Namun, sekarang tidak tampak apapun kecuali ujung-ujung pohon jambu air yang ada di samping rumah. Ia berteriak memanggil Menik.

Sukab menuruni jalan kecil di samping jembatan. Beberapa orang menahan tangannya.

"Jangan, Bang."

"Lepas. Anakku masih di sana." Sukab meronta. Ia harus menyelamatkan Menik, anaknya yang sangat ia sayangi.

"Tak ada yang bisa diselamatkan lagi. Air itu datang serupa air bah."

Sukab melihat Bariah, mendekap dua anaknya di depan sebuah ruko.

"Di mana Menik?"

Bariah hanya menangis sembari memeluk anaknya kian erat.

"Menik! Meniiikk!" Sukab menerjang. Air semakin memakan tubuhnya ketika ia bergerak maju. Tangannya menggapai-gapai, ujung-ujung pohon jambu air itulah patokannya. Besar harapannya rumah mereka masih utuh di dalam air keruh itu. Sedang Menik megap-megap di dalamnya menunggu pertolongan.

Sukab belajar berenang pada saat itu juga. Dna ia hanyalah murid yang tidak pintar karena sesaat saja tubuhnya terseret air. Sukab terdiam, tidak melawan ketika arus memeluknya kian erat. Ia mendengar Menik memanggil namanya di balik air keruh itu.

Sukab tersenyum lega, Ia tidak akan pernah berpisah dengan anak satu-satunya itu. Walau dadanya terasa hendak pecah, Sukab bahagia.   Binjai, 20 Februari 2016 (k)

T Sandi Situmorang: Jalan Sukarno Hatta Km 19,3 No 311 Binjai, Sumatera Utara, 20735


Rujukan:
[1] Disalin dari karya T Sandi Situmorang
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Minggu Pagi" 10 April 2016


0 Response to "Luruh Bersama Hujan"