Malalayang - Bahu - Minggu Pagi di Pineleng - Epitaf - Terdampar di Muntok | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Malalayang - Bahu - Minggu Pagi di Pineleng - Epitaf - Terdampar di Muntok Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:48 Rating: 4,5

Malalayang - Bahu - Minggu Pagi di Pineleng - Epitaf - Terdampar di Muntok

Malalayang 

Pandanganmu mendatar searah tembok dermaga
Tumpahan cat air merona di pipimu. Rambut ikalmu 
Seringkali menjadi mainan angin nakal serta udara gatal
Leher dan pundakmu basah, kau berlari tanpa sepatu

Kulihat punggungmu sedikit terbuka, tapi bisa diduga
Tak ada tato di sana. Kali ini pertemuan kita yang kedua
Pertemuan yang menakutkan kembali laut dan gunung
Lama kita slaing mencari, takdirlah yang mempertemukan

Keasingan antara kita ibarat ciuman yang lama tertunda
Hingga kecelakaan itu terjadi: kau tersungkur di depanku
Dan pantai segera menghamparkan karpet putih untuk kita

Bertahun-tahun aku melukis gadis remaja berambut ikal 
dengan latar laut dan gunung. Kini aku tengah sarapan pagi
Bersama seorang yang berambut ikal dan beralis tebal

2015

Bahu 

Kulihat ujung rambutmu berkibaran, sesekali tatapanmu
Dilempar ke pantai. Sambil tersenyum kau menata kembali
Hidangan segar di meja: sebuah makan siang yang langka
Dengan ikan bobara dan goropa hasil tangkapan subuh tadi

Tiba-tiba matamu berair dan pipimu merona, sambal pedas
Mungkin bukan satu-satunya alasan kenapa kau menangis
Kadang kegembiraan juga butuh airmata, seperti halnya laut
Memerlukan pasang dan surut. Kitalah pasang dan surut itu

Kesementaraan ibarat pulau tanpa penghuni, dan waktu
Tak mampu membasuh rasa panas di hati. Kita terpesona
Memandang ufuk yang samar seperti irisan kenangan

Dalam menyelami kesementaraan, pada lautlah kita belajar
Berdua kita menyelam, terus menyelam sampai ke dasar
Menyelam dan menyelam sampai menjadi terumbu karang

2015

Minggu Pagi di Pineleng 

Pelupukku masih setengah tertutup saat fajar tiba
Serta membukakan celah kecil untuk sinar matahari
Harum kembang cengkih dan buah pala sayup tercium
Dari kebun belakang. Aku berdiri dan mendekati jendela
Pohon-pohon kelapa menghampar pada lereng dan lembah
Mungkin awal musim hujan, atau masih penghujung kemarau
Atap-atap seng nampak basah, menara gereja digenangi embun
Lampu-lampu natal mulai bergelantungan di skeitar kampung
Kulihat makam-makam dengan ukiran indah pada nisannya
Jalan setapak ke gunung seperti bubur tinutuan yang likat
Paduan antara pasir, butiran kerikil serta pecahan apdas
Dalam adonan yang pas. Aku menghirup napas panjang
Betapa rasa lapang ini tercipta dari kemurnian udara
Serta angin yang sebenarnya berhembus rutin saja
Betapa rasa tenang ini terlahir dari kata-kata
Yang tidak diniatkan menjadi senjata

2015

Epitaf

1

Di gunung Poteng
Aku memetik bunga krisan
Untuk menguburkan seseorang
Lalu pada dinding karang
Aku memahat sepotong nama
Agar terkenang. Ada yang berdesir 
Dingin yang dikirimkan petang
Seperti baris-baris sajak
Yang semilir. Mungkin luka
Atau sejenis kesakitan
Yang bisa dinikmati
Kala senggang

2

Di Cetya Tri Dharma Bumi Raya
Aku menaruh sekuntum peoni
Pada altar batu merah muda
Lalu menyalakan dupa
Untuk memberkati seseorang 
Yang telah pergi. Ada yang berkelebat
Api yang dikedipkan deretan lilin
Seperti refrein-refrein lagu
Yang mengendap. Mungkin jejak
Atau sejenis burung gagak
Yang suka berkoak
Tengah malam

3

di pasar Hongkong
Aku memesan bakmie
Dan goreng ayam kampung
Sekedar ziarah pada seseorang
Yang pernah menemaniku minum
Di sebuah warung. Ada yang berderak
Bau arak yang ditiupkan dini hari
Seperti mantera-mantera sunyi
Yang meledak. Mungkin rindu
Atau sejenis kemabukan
Yang tak terhapus
Oleh waktu

2014

Terdampar di Muntok

Bintang-bintang berguguran sebelum fajar tiba
Di kejauhan titik-titik samar bergerak menuju ufuk
Mungkin kunang-kunang, mungkin perahu-perahu ikan
Atau mungkin pulau-pulau kecil yang jauh terdampar

Kekhusuyukan muncul dari cahaya yang masih tersisa
Sejumlah selat kulewati
dalam perjalanan menemui diri
Delta, teluk dan tanjung kulampaui dlama hening semadi
Tapi jarak keterpisahan kita semakin melebar ke utara

Pada kubangan-kubangan tambang akhirnya aku berkaca
Betapa berkilauan sunyi yang digali dari kedalaman tanah
Seperti setitik kuarsa di tengah tumpukan lumpur dan pasir
Jika suatu saat aku benar-benar ditinggalkan dunia
Akan kukubur dalam-dalam semua hal ihwal antara kita
Sebatangkara membuatku tak merasa kehilangan apa-apa

2014


Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sehari-hari ia bergiat di Sanggar Sastra Trasik dan Komunitas Azan di kota kelahirannya. Kumpulan puisinya, antara lain, Bagian dari Kegembiraan (2013) dan Like Death Approaching and Other Poems (dalam terjemahan Inggris dan jerman, 2015).


Rujukan:
[1] Dislain dari karya Acep Zamzam Noor
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" edisi 23-24 April 2016


0 Response to "Malalayang - Bahu - Minggu Pagi di Pineleng - Epitaf - Terdampar di Muntok"