Menunggu Keadilan Pulang - Hidup di Negeri Palsu | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Menunggu Keadilan Pulang - Hidup di Negeri Palsu Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 00:30 Rating: 4,5

Menunggu Keadilan Pulang - Hidup di Negeri Palsu

Menunggu Keadilan Pulang

Aku hidup di antara orang-orang yang lebih suka
menghitung angka-angka dibanding membaca kata-kata
Satu-satunya yang dirapal dan dia hapal
adalah nama-nama pahlawan pada kertas berangka
yang diagung-agungkan seperti Tuhan

ia tahu Tuhan selalu mengikuti dan melihat
apa yang dilakukan oleh manusia dan
menilai perbuatan itu baik atau buruk
"Tugas wasit sepak bola pun demikian,"
sangkalnya secara sadar tanpa sedikit pun gentar.

Dia, dia, dia, dan dia kian menjelma kucing liar.
Diberikan ikan asin tak berhenti mengunyah,
tak ada ikan asin berarti harus mencari atau mencuri.
Dan aku bertanya-tanya; dia itu kucing yang senantiasa
lapar, apa kucing yang tak mengenal kenyang?

Ia menghitung satu sampai sejuta.
tapi angka-angka masih banyak dan selalu kurang.
Ia jua tak minta diberikan sepuluh pemuda
terlalu banyak makan serta menghabiskan uang.

Beberapa kali aku melihat kutipan Rene Descartes
lalu membacanya dengan lantang.
"Aku berpikir, maka aku ada!"
Tapi bantahan mereka selalu lebih unggul meski
sorak-semarai hanya terjadi dalam kalbu.
"Aku korupsi, maka aku ada!"

Penderitaanku--kita, menjadi hidangan pencuci mulut
yang dia makan sambil tertawa bersama rekan-rekan.
Suara kita semata-mata dentingan sendok pengaduk
kopi yang mengusir sungi. Mengganggu percakapan!
Sedang, dia menikmati waktunya yang sebenarnya tidak
lebih panjang dari tinggi badanku.

Pada kematiannya yang dingin, orang-orang akan
berduka cita dan bersuka cita sambil terbahak-bahak
kala tiba hari di mana ia akan diadili tanpa remisi.

2015



Hidup di Negeri Palsu

makanan di negeri palsu serba palsu
beras palsu, bakso palsu, ikan palsu
gorengan palsu, daging sapi palsu
semua terasa halal selama tak melumpuhkan kantung celana
dan langsung menenggelamkan tubuh menjadi rongsok
yang siap jadi santapan rakusnya burung pemakan bangkai,

tak perlu pendidikan tinggi-tinggi dan melawat
jauh sampai ke negeri cina yang barangkali
garis hitam kumbang menggarit cakar ayam
di atas lembar kosong berwarna awan
sudah bisa mewujudkan mimpi masa kanak-kanak
bernaung di gedung besar berbalut asap kendaraan
pinggir ibukota yang berdiri angkuh.

para petinggi di negeri palsu yang kerap kali
melontar ujaran dengkul nan elok serta terbuat
dari tak setianya semburat senja
yang dikulum lembayungnya lama-lama
sampai membuat langit-langit mulut dan lidahnya
menampakkan keindahan yang alangkah raya

dan rakyat yang tubuhnya kian jadi mayat
seolah terpana melihat keindahan dan
kelihaiannya bermain sulap dan saling salip
dalam upaya mengabur segala rahasia dan
mengubur banyak orang yang mulai sia-sia.

satu-satunya yang asli dari negeri palsu
adalah kepalsuan itu sendiri.
dengan mata lipas tertutup tiras, rakyat
negeri palsu berjuang melacak yang tak palsu
bahkan untuk asih dari seorang kekasih
yang dirisaukan juga semu.

2015








*) Jemmy Tanuwijaya, penikmat sastra dan sepak bola. Sedang menjalani studi Sastra Inggris di Universitas Gunadarma.







Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jemmy Tanuwijaya
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi Minggu, 3 April 2016



0 Response to "Menunggu Keadilan Pulang - Hidup di Negeri Palsu"