Naga Banda - Taji - Batu Mimpi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Naga Banda - Taji - Batu Mimpi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:48 Rating: 4,5

Naga Banda - Taji - Batu Mimpi

Naga Banda

Dengan meletakkan kepala di timur laut
1.600 depa jarak kesunyian kita
sebelum penuh mata panah mengarah ke tenggara
terimalah tarian mudra terakhir bhagawanta sogata
terimalah selembar kajang modre
selimut kewaktuanku yang menggurat gunung
                                            menyurat laut
mengayuh cahaya di hijau kemilau sisikku
ke sepuluh penjuru di mana hanya terdengar lenguh lembu
setipis gerimis senja
berpupur cendana dan rajah mirah windhusara

Dengan meletakkan kepala di timur laut
1.600 depa jarak kesunyian kita
sebelum penuh mata panah mengarah ke tenggara
terimalah puspa lingga
tubuh dari tubuhku yang abu
sesaji, api akar wangi, daun aswattha,
seuntai padi, bulu ayam, angsa dan kain sutra
dalam kibasan burung cendrawasih bermata kalpika rukmi mulia
melintas pohon-pohon tua yang menyulam doa

Dengan meletakkan kepala di timur laut
1.600 depa jarak kesunyian kita
bukakanlah ketujuh gerbang
yang kuketuk sekian lama dengan kedalamanku
sebelum 1.000 panah bunga teratai Dananjaya mengarah ke tenggara

sebab telah kukenakan jubah antakusuma
melepaskan lingkar getahku
agar kelak kutiupkan wewangi rumput dan embun
dan menusuk di liang-liang kulitmu
pada api aku terlahir
pada air aku berakhir
pada udara kuserahkan segenap sisa rahasia

Maret 2016

Taji

Telah kupasang taji dengan racik bisa paling murni
taji bermata kilat pada kaki bersisik naga mangsa
sebab hanya darah
tempatku menadah kesangsianmu akan kewaktuanku
waktu yang bergetar seperti sepasang sayap sajagat mata

Telah kupasang taji dengan racik bisa paling murni
dengan tetes getah ketatai
sementara kau melamunkan tipis gerimis bertangga pelangi
dan mengapa bulan setia menyusun angka mati di atas sesaji

mungkin kau lebih lihai memantik api dengan nafas panjangmu
menyimpul mantra dalam getah lidahmu
berangan sendiri menjamah surya koti
mendaki tapak dupa yang menyala di sumsum tulang gigirku
tapak yang berdenyar seperti sinar kunang-kunang
sinar yang membangun candi-candi segenap ganjilnya tujuan

dengan dada sesak kubilas pamor saat kau lengah dan tertidur
terimalah kekuatanku
dan arahkan nanar liang matamu pada lengkung langitku
menyerahlah pada ketabahanku
sebab puncak rasa laparku adalah akhir pertarungan kita

Maafkan, demi merubuhkanmu:
kutorehkan bisa murni itu berkali-kali ke arahmu
dan menusukkannya dengan teramat perlahan
lebih dalam dan lebar dari perkiraan
dengan hari yang disisakan dewata-dewati

sebab telah kupasang taji dengan racik bisa paling murni
taji bermata kilat pada kaki bersisik naga mangsa
di mana ulang-alik bintang melesat dalam pahatan hujan dan malam
malam yang memanjang di kening bersurat windu nadha
telah menawarkan pilihan:
jangan jelmakan aku kembali

Sukra Pon, 04 Maret 2016

Batu Mimpi

Tubuhmu sepenuh pekat bulan ketujuh
bulan yang menumbuhkan sisik selaka, sayap kesara
merangkum nafas api ke dalam cupu selaka
mencuatkan gelungan ekorku yang mulia di senyap cahaya

Tubuhmu sepenuh pekat bulan ketujuh
pekat yang nikmat di mana kureguk madu kelulut dan susu lembu
dalam cengkeram kuku kawang berpucuk bunga campaga
dalam lingkar tempurung pancadhatu

Tubuhmu sepenuh pekat bulan ketujuh
Kegelapan tempat kurebahkan rentang gerak saksi bintang katai
yang mengintai mematah arah langkah bintang para majusi
dengan nyala sumbuku bhanimaya

Tubuhmu sepenuh pekat bulan ketujuh
Meru di antara gunung, Gayatri di antara mantra, Amerta di antara segala yang cair,
petapa di antara yang berkaki dua, Kapila di antara makhluk berkaki empat
Wisnu di antara laki-laki dan Arundhati di antara wanita

Tubuhmu yang sepenuh pekat bulan ketujuh
beri aku nikmat melebihi madu kelulut dan susu lembu
hingga wujudku melebihi ramping buluhtamblang gading
udara kewaktuanku menuju arahmu airsanya

Demi tubuhmu yang sepenuh pekat bulan ketujuh
terpetik sudah seratus helai petikan daun bilwa tua ke dalam ranu
sungguh, sekali ini saja kau jelmakan aku sebagai penempuh
penempuh dengan sesayut pengukub jiwa

Jiwa yang menuntun kuda-kuda sukma merendah
ke sebuah diam lembah yang semerbak kelopak pudak dan kuning seroja
lembah dengan jalan keindahan di mana tak terdengar lagi kisah
tentang pemburu yang pernah tanpa sengaja tersesat di tubuhmu

Siwaratri, 8 Januari 2016


Mira MM Astra lahir di Denpasar, Bali, 1978. Puisinya termuat, antara lain, dalam antologi Langit Terbakar Saat Anak-anak Itu Lapar (2013).



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mira MM Astra
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas" edisi Sabtu 23 April 2016

0 Response to "Naga Banda - Taji - Batu Mimpi "