Negeri Impian | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Negeri Impian Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 11:35 Rating: 4,5

Negeri Impian

DI manakah negeri aman itu? Negeri tanpa kekerasan, tanpa kepalsuan, tanpa rekayasa. Aku telah mengikuti tuanku sejak bapak menjadi pelayan di rumahnya. Tuanku meninggal dan negeri ini kehilangan pemimpinnya sehingga manusia kalang kabut, kehilangan sang Tuan yang sangat dicintai, sampai pada titik semua orang ingin menggantikan posisi Tuanku. Negeri ini memerah dengan darah yang tumpah karena amarah. Tidak ada lagi negeri yang seperti dulu, di mana kami tidak takut menutup pintu tanpa menguncinya atau menyimpan barang berharga di luar rumah tanpa takut ada yang mencurinya.
TUANKU pernah berkata kepadaku, "Sepeninggalku orang-orang akan saling tinju, saling sikut. Negeri ini akan terasa panas dan kehilangan kesejukannya. Maka carilah negeri yang aman seperti saat ini."

"Di manakah negeri itu Tuan?"

"Waktu yang akan menunjukkannya."

"Bagaimana jika usiaku tidak sampai untuk menemukan negeri itu?"

"Tetaplah yakin bahwa saat itu akan datang. Dan berpegang teguhlah kamu pada keyakinan yang ada dalam hatimu."

"Lalu apa yang harus aku lakukan, Tuan, melihat kehancuran negeri ini sedikit demi sedikit?"

"Kamu sendiri tahu jawabannya. Kamu tidak sendirian. Ada di luar sana orang-orang yang membangun negeri itu. Jika kau yakin, kau akan menemukannya."

**
MENGAPA kehancuran negeri ini justru dimulai dari orang-orang pribumi, anak-anak keturunan Tuanku. Mereka berebut kekuasaan sehingga banyak kelompok yang mendukung salah satu dari masing-masing yang bertikai. Aku hanyalah seorang pelayan yang tidak punya kekuasaan apa-apa untuk melakukan sesuatu, mengembalikan negeri ini seperti dulu. Tuanku memang pernah berkata, akan ada negeri yang aman walaupun tanpa ada seseorang yang memperjuangkannya. Bagaimana dengan aku? Menunggu sampai hari itu datang atau berlari sampai kaki ini berpijak di tanah itu?

Aku memutuskan untuk keluar dari negeri ini walaupun berat rasanya. Aku mulai mencari sesuai petunjuk dari Tuhanku, dengan meninggalkan keluarga dan harta yang tidak seberapa. Aku pernah mendengar cerita dari orang-orang, ada sebuah negeri di mana pemimpinnya sangat arif dan bijaksana. Dia mengayomi masyarakat. Negeri itulah tujuanku.

Aku menumpang kapal pedagang yang hendak pergi ke negeri itu. Kutemui banyak orang dari berbagai negeri. Mereka membawa cerita-cerita darai kampung halamannya. Samudera yang luas membuat kami merasa takut akan keganasan yang akan terjadi di lautan yang terlihat tenang. Semburat senja penuh pesona. Inikah tanda bahwa negeri ini sudah dekat?

Di pesisir pantai, sudah banyak pedagang dari berbagai negeri menjajakan barang-barang khas negeri mereka. Aku berpijak di tanah hijau, di mana setiap biji yang jatuh bisa tumbuh menjadi pohon yang kokoh. Mungkin ini adalah hari keberuntunganku karena aku bertemu penduduk asli sejak di perjalanan. Ia adalah salah satu pegawai negeri ini.

"Wahai kawan, kau sebut apa pemimpin di negerimu ini?"

"Kami memanggilnya Baginda. Itulah sebutan kehormatan untuk tuan kami."

"Bagaimana kehidupan masyarakat di sini, kawan?"

Kami di sini hidup rukun. Tidak ada sedikit pun celah untuk kami berbuat jahat. Kamu tahu? Di sini tidak ada penjara, tempat untuk memenjarakan penjahat, dan tidak perlu petugas keamanan."

"Sungguh, negeri ini adalah negeri yang aku cari. Negeri yang aman dan damai."

"Itu benar, Kawan."

Aku diajak oleh kawan baruku menuju istana baginda, sungguh keanggunan yang luar biasa. Bangunan yang megah berdiri dengan anggun. Dinding-dinding yang kokoh dengan para pengawal yang tegap di sekitar istana. Daun pintu yang menjulang tinggi terbuka lebar. Setiap mata memandangku tajam. Seseorang dengan pakaian merah duduk di atas singgasana, dengan dua perempuan cantik di kiri dan kanan.

"Wahai Baginda, maaf jikalau saya lancang menemui Baginda. Saya membawa seorang kawan dari negeri nun jauh di sana."

"Siapa namamu?"

"Saya, Abu. Maaf jika saya telah lancang datang ke tempat Baginda."

Baginda menatapku, nampak tidak suka akan kehadiranku. Laki-laki itu masih berlutut di hadapan sang Baginda.

"Maaf Baginda, apa ada yang salah dengan penampilanku? Tatapan Baginda membuat saya tidak nyaman, maaf sebelumnya."

"Tentu, kau telah berbuat salah."

"Salah, kesalahan apa yang telah hamba perbuat? Jika berkenan Baginda mengatakannya."

"Apa kau tidak melihat, bagaimana pelayanku itu ketika datang dan berbicara padaku, dia bersujud di hadapanku dengan kesungguhannya. Dan kau berbicara kepadaku seolah kau adalah raja dari negerimu."

"Maaf Baginda, Tuanku tidak mengajarkan kami untuk sujud kepada sesama makhluk karena kami hanya bersujud kepada yang patut disujud."

"Maksudmu, aku ini tidak patut dihormati?"

"Bukan begitu Baginda. Baginda adalah orang yang mulia dan patut untuk dihormati, tapi cara kami menghormati sang pemimpin tidak demikian."

"Baiklah, karena kau orang asing di negeriku ini, aku memaafkanmu. Katakan maksud dari kedatanganmu ke  negeriku ini."

"Aku bermaksud untuk tinggal di negeri Baginda karena negeriku sudah tidak aman lagi. Orang-orang di sana tidak lagi suka bersaudara. Negeri ini adalah negeri yang aman, tempat yang aku cari selama ini."

"Apa kau yakin akan bisa tinggal di tanah ini, mengikuti peraturan yang aku buat? Sebaiknya kau pikirkan lagi sebelum hari penyesalan itu datang padamu."

"Maksud Baginda, penyesalan seperti apa? Orang-orang di sini terlihat sejahtera dan bahagia. Mungkin aku bisa menjadi bagian dari mereka."

"Wahai Abu, aku tidak bisa menjamin apa yang kau inginkan. Saat pertama kau datang dan kau tidak mau bersujud padaku, itu adalah salah satu bentuk pemberontakan. Sebaiknya kau cari negeri yang lain. Aku tidak mau keberadaanmu di sini akan membuat sesuatu yang aku bangun susah payah hancur begitu saja."

"Aku ini hanya seorang pelayan dan tidak ada dalam pikiranku untuk membuat negeri Baginda hancur seperti negeriku. Kalau memang Baginda tidka berkenan, hamba akan pergi dari tanah ini dan mencari tanah lain."

**
BERSAMA desir angin di pantai, aku meninggalkan jejak perjalanan yang belum menemukan akhir, Negeri mana lagi yang akan menjadi muara? Aku hanya mengikuti kata hati. Aku mengikuti serombongan orang melintasi pegunungan dan bukit-bukit. Di balik bukit, ada sebuah desa sederhana. Tanahnya masih subur, seperti tanah negeriku sebelumnya. Penduduknya bekerja siang dan malam. Setiap hasil bumi mereka bawa ke gudang penyimpanan. Setiap musim paceklik tiba, gudang itulah menjadi penyelamat bagi warga di desa ini.

Apakah ini negeri aman itu? Aku berusaha mencari tahu bagaimana pemimpin di negeri ini. Tidak ada satu orang pun yang bisa memberikan informasi yang aku mau. Mereka lebih suka mengurusi sawah dan ladang, tak menghiraukan kedatanganku. Tangan-tangan mereka terlihat kekar dan kulit mereka terbakar sengatan matahari. Meski peluh mengucur deras, mereka tak hirau.

Aku berjalan lagi meninggalkan mereka. Ladang-ladang mereka sangat luas dan sangat sulit menemukan desa lain di negeri ini. Pemandangan yang sama seperti desa sebelumnya. Mereka semua tutup mulut. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Perjalananku di negeri ini berakhir di sebuah batas negeri yang hanya dibatasi oleh hutan. Kutemukan lagi negeri yang baru. Negeri ini ramai, orang-orang hilir-mudik dengan segala aktivitas yang dilakukan. Aku beristirahat di sbeuah surau, melepas lelah dan penat selama pencarianku. Alunan ayat suci Alquran mengalun begitu indah. Perlahan, pandanganku redup sampai akhirnya gelap seluruhnya.

Seseorang membangunkanku untuk bersuci. Dia mengajakku salat berjamaah. Surau dipenuhi jemaah. Dengan khusyuk kami melaksanakan salat Maghrib. Mereka tampak bersahaja. Rukun satu sama lain. Apakah ini negeri yang aku cari?

"Maaf, Tuan, apakah Anda seorang musafir? Nampaknya Anda sudah melalui perjalanan yang sangat jauh. Kalau boleh saya tahu, Tuan hendak pergi ke mana dan dari mana Tuan berasal?" laki-laki yang membangunkanku tadi memulai pembicaraan.

"Aku Abu, datang dari negeri yang dulu aman, tetapi sekarang kacau balau. Tujuanku adalah mencari negeri yang aman."

"Negeri yang aman, di mana itu, Tuan?"

"Justru itu, aku belum menemukannya. Bagaimana dengan negeri ini?"

"Kami hidup rukun, saling membantu. Raja kami sangat peduli dengan kondisi rakyatnya. Pernah suatu saat ketika, raja kami hendka menemui pejabat negara, ia mendapati warganya yang janda tidak mempunyai bahan makanan untuk dirinya dan anak-anaknya. Saat itu itu juga ia menangis karena, selama kepemimpinannya, masih ada warga yang kelaparan. Saat itu juga, ia langsung membawakan sekarung beras dengan lauk pauknya."

"Raja negeri Anda sungguh luar biasa. Tanpa malu ia langsung mengangkut dan memberi bahan makanan itu kepada warganya. Inilah negeri yang selama ini aku cari. Bisakah Anda mengantar saya kepada pemimpin negeri ini? Saya ingin tinggal di tempat ini."

"Tentu saja, tetapi saya tidak bisa langsung mengantar Tuan. Ada kawan saya yang bisa mengantarkan Anda ke sana."

Seorang pemuda dengan perawakan tinggi besar mengantarkanku kepada sang raja. Raja yang kutemui sungguh sederhana. Tidak terlihat kemewahan melekat dalam tubuhnya. Namun, wibawanya membuat aku tak sanggup menatap kedua matanya. Aku dipersilakan untuk tinggal di negerinya selama yang aku suka.

Negeri ini sama seperti negeriku dulu. Penuh dengan kedamaian. Kemakmuran negeri ini terdengar ke pelosok bumi, sampai-sampai setiap orang dari berbagai negeri ingin menjalin hubungan dengan negeri ini. Hasil bumi yang melimpah ruah menjadi sumber penghasilan penduduk. Orang-orang dari berbagai wilayah datang ke negeri ini bukan hanya untuk melakukan kerja sama. Tidak sedikit dari mereka ingin menguasai negeri ini, dengan membawa misi masing-masing. Cara yang mereka lakukan sangat halus, tidak sedikit pun kecurigaan dari raja dan penduduk. Keramahan raja dimanfaatkan oleh mereka. Mereka menerkam sang raja dari belakang sehingga kerajaan jatuh ke tangan orang-orang asing.

"Abu, kini negeri ini sudah tidak aman lagi. Apa kau tetap yakin negeri ini adalah negeri aman yang kau cari? Sementara kau lihat, saat ini, kami tidak lagi hidup bebas seperti dulu."

"Kawan, kau lelaki yang bijaksana dalam mengambil keputusan. Sejak pertama aku bertemu denganmu di surau ini, banyak sekali nasihat yang baik untukku. Sekiranya kau memberikan saran, apa yang harus aku lakukan?"

"Kau tahu Abu, Aku pun menginginkan negeriku seperti dulu."

"Bagaimana kalau kita mencari negeri aman itu bersama-sama, Kawan?"

"Abu, aku tidak akan meninggalkan negeri ini dalam keterpurukan. Tidak selamanya kita di atas. Mungkin ini adalah bentuk kasih sayang Tuhan untuk negeri ini. Mungkin saja selama ini kami terlalu sombong dengan keadaan kami. Aku tidak bisa mengikuti ajakanmu, Abu."

"Lalu, apa yang akan Kau lakukan, Kawan?"

"Aku akan tetap di sini dan mengembalikan negeri ini seperti dulu. Karena Aku tidak sendiri untuk membangun negeri ini. Aku bersama orang-orang yang mencintai negeri ini. Walaupun kekuatan kami baru sedikit, tapi kami yakin pertolongan akan ada dari manapun datangnya. Aku tidak bisa berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Atau mencari keamanan untuk diri sendiri."

"Kau benar, Kawan. Aku bertindak pengecut untuk negeriku sendiri. Aku meninggalkannya dalam keadaan lara. Aku, dengan egois, ingin mencari negeri aman itu. Aku etringat perkataan seorang baginda bahwa kedamaian itu bisa diciptakan."

Senja telah beranjak naik ke peraduan. Kapal-kapal nelayan bersiap menerjang ombak, berharap pulang membawa ikan yang banyak sehingga para tengkulak senang dengan hasil tangkapan nelayan. Berharap istri dan anak bisa bertahan hidup di negeri yang sudah berganti wajah. Angin pesisir menerbangkan serban di leherku. Akan menikmati perjalanan menuju negeri impian.***

Fathaya Asri, tinggal di Cianjur.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Fathaya Asri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran rakyat" Minggu 3 April 2016

0 Response to "Negeri Impian"