Plasenta 3 | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Plasenta 3 Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 12:29 Rating: 4,5

Plasenta 3

ORANG menyebut Arian Si Anak Kidal. Panggilan itu pada mulanya membuat Arian harus melepas pakaian di hadapan teman-temannya. Ia seakan terpaksa telanjang bulat. Meski jiwanya memberontak dan merontaronta, ia rela diperlakukan seperti binatang yang tak berdaya. Tangan kirinya yang paling banyak digunakan kadang membuatnya tak siap bertemu dengan siapa pun. 

Sebagian orang menyebut, itu kelebihan Arian. Tapi itu sebenarnya kekurangan yang dirasa oleh dirinya sendiri. Arian selalu memeras keringat dan membanting tulang agar tangan kanannya bisa digunakan dengan baik. Seperti temantemannya yang selalu menggunakan tangan kanannya. Tapi, percuma dan sia-sia. Sekitar lima tahun sejak ia menyadari, usahanya tak pernah berhasil. 

Ia kadang terpaksa dengan susahpayah menggunakan tangan kanannya ketika makan. Tapi ia tetap merasa tak lega dengan usahanya. Sekolahnya pun sering tersendatsendat. Cemoohan dan kata-kata pedas selalu menjewer telinganya. Akhirnya ia memutuskan berhenti sekolah. 

”Bu, Arian tak mau sekolah lagi,” katanya saat bersama ibunya ketika makan malam. 

”La, kenapa Nak?” 

”Malu Bu. Arian tak bisa menggunakan tangan kanan dengan baik. Arian selalu dicaci dan dicemooh,” katanya dengan nada penuh putus asa. 

Saimah hanya terdiam. Secumut nasi yang masuk ke mulutnya dikunyah perlahan. Pikirannya berselancar dalam hamparan hidup anak bungsunya. Ia tak ingin anak terakhirnya harus hidup tanpa pendidikan dan pengetahuan. Sejenak pikirannya berbelok ke arah sebab-sebab anaknya menjadi kidal. Ia teringat saat hamil. Suaminya berpuasa dari segala tindakan terlarang dari keyakinan yang terbangun kuat. 

Ada banyak kutukan pada anak yang dikandung jika seorang ayah melakukan hal yang diyakini membawa nasib buruk bagi anaknya kelak saat lahir. Toni tak pernah memancing. Katanya bisa menjadi kutukan anak yang dikandung istrinya sumbing. Dilarang membunuh ular. Katanya saat anak lahir selalu menjulur-julurkan lidahnya. Ada banyak larangan yang harus dihindari oleh para suami ketika istrinya sedang hamil. Itu semua telah dihindari oleh Toni semenjak Saimah hamil. Tapi, Arian menjadi kidal. 

*** 
Desir-desir angin mengembus daun jendela. Sinar rembulan sudah mulai meredup. Seakan ia mengantuk dan beranjak menyulam mimpinya. Sebagian kokok ayam seakan membangunkan subuh yang masih jauh dinanti. Suara lenguhan sapi karapan di kandang Toni menjadi penghias pekat malam. Saimah dan Toni mencoba menukar isi kepalanya. Arian tak boleh putus dari pendidikan dan tak boleh jauh dari dunia pelajaran.

”Dek, gimana kalau Si Arian kita masukkan ke pondok pesantren saja?” Toni memberi tawaran dengan suara tenang. 

”Sama saja toh mas. Di sana, teman-temannya paling juga tak jauh dengan teman di sekolahnya.” 

”Ya, kalau begitu, Arian tak harus belajar lagi,” sergah Toni dengan nada sedikit pesimis setengah berisi candaan. 

”Hush... Jangan lah Mas. Pokoknya Arian harus jadi anak pintar dan cerdas!” 

Saimah pun memalingkan wajahnya. Tatapannya terpaku pada seonggok meja di sebelahnya yang berjejeran dua cangkir dan asbak rokok. Toni hanya mengelus kumis dan jenggotnya yang tipis. Seakan ideide itu bergelantungan di tiap ujung bulu dagu serta bibir atasnya. Saimah baru saja mengingat tentang saat Toni akan menggantung plasenta Arian. Ia menggunakan tangan kirinya. Kata Toni dulu, takut kotor tangan kanannya. Tepat sekali ingatan Saimah kali ini. 

”Mas, Arian menjadi kidal mungkin karena dulu plasentanya kamu menentengnya dengan tangan kiri saat akan digantung di bawah genteng rumah.” 

Toni tersentak. Tangan kanannya yang membelai-belai kumis tipisnya terlepas begitu saja. Matanya melotot tajam menghadap wajah Saimah yang berbalik menghadap dirinya setelah beberapa saat angannya terombang-ambing di atas mejanya. Toni berusaha menghalau perasaannya yang seakan dipukul dengan kata-kata Saimah. 

”Duh, kamu mulai menyalahkan aku...” kata Toni dengan nada kesal. 

”Lha, emang begitu kenyataannya kok Mas. Dulu para tetangga kan sudah bilang. Kalau meletakkan ari-ari itu jangan menggunakan tangan kiri. Selain tak baik, ya kutukan kidal kini sudah menjadi saksi.” 

Raut wajah Toni seakan ditimpali celana dalamnya sendiri. Ia duduk terpaku dengan berusaha mengingat dan menyambung-nyambungkan keyakinan yang terplihara di lingkungannya. Derit-derit belalang di rerumputan sebelah rumahnya sudah berhenti. Tetes-tetes tangisan malam yang memercik di dahan dan dedaunan terdengar bagai perasaannya yang kini dilanda kemelut beribu pertanyaan. 

”Iya juga sih dek. Peristiwa itu tak harus diceritakan pada Arian. Ia bisa marah padaku. Juga padamu.” Toni berusaha berpikir bijak sebagai orang tua dan kepala rumah tangga. Saimah hanya terdiam dengan mengulum rasa tak terima jika Arian harus juga marah pada dirinya. “Bukan salah diriku, tapi salahmu Mas.” Saimah bergumam dengan raut wajah yang ditampakkan bagai rembulan tanggal lima belas. Malam semakin pekat dan larut, bagai kopi dan gula yang melebur di dalam air. Sari-sari pahit dan manis sama terasa, meski yang tampak pekat hitam kopinya. 

*** 
Menghadapi kenyataan pahit seperti kopi yang selalu diseruput oleh Toni saat malam tercipta, Saimah memutuskan untuk membimbing Arian sendiri. Toni kadang meminta rekannya untuk mengajak Arian agar tak patah semangat supaya selalu belajar serta membaca banyak buku. Kidal pada dirinya tak bisa diobati. Toni dan Saimah ingin cacat itu berubah menjadi mukjizat bagi anaknya. 

Waktu berjalan mengikuti langkah siang dan malam yang terus berjalan beriringan. Arian dengan tangan kidal mampu menjadi anak yang cerdas dan pintar. Bahkan ia tak mendapat cacian atau cemoohan dari suarasuara yang biasanya selalu menghiasi telinganya. Kelopak bunga pujian selalu bermekaran dengan aroma yang membuat Arian ingin kembali sekolah. 

”Bu, Arian ingin masuk sekolah lagi,” katanya di sela-sela makan bersama. 

”Lha, dulu kamu minta berhenti sekolah,” timpal Saimah yang seakan bermekaran bunga kebahagian di dalam hatinya dengan secuil ledekan pada Arian. 

”Enggak kok Bu. Tak masalah Arian kidal asal rajin belajar dan baik pada orang lain.” Arian memberi jawaban yang membuat bangga ibu dan ayahnya. 

Toni berusaha memegang erat keyakinan yang tertanam di dasar hatinya. Ia selalu mengingatkan diri sendiri, sanak famili, dan keluargnya agar tak menyepelekan mitos-mitos yang menjadi buah bibir di daerahnya. Arian pun menerima kenyataan hidupnya sebagai anugerah yang tak perlu ditakuti atau disesali. (92) 

Yogyakarta, 28 Maret 2016 

Tarisman Kalangka, asal Sumenep, lulusan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya. Karyanya dimuat diberbagai media massa. Esainya terangkum dalam kumpulan esai pilihan Riau Pos 2014 dan antologi Novelisme: Pengakuan Pembaca Novel (Bilik Literasi dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Taman Budaya Jawa Tengah 2013).


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tarisman Kalangka
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 10 April 2016

0 Response to "Plasenta 3"