Riak dan Menjejaklah - Padamu Kubisikkan Sesuatu - Aku Sedang Tak Nafsu Nulis Puisi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Riak dan Menjejaklah - Padamu Kubisikkan Sesuatu - Aku Sedang Tak Nafsu Nulis Puisi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:26 Rating: 4,5

Riak dan Menjejaklah - Padamu Kubisikkan Sesuatu - Aku Sedang Tak Nafsu Nulis Puisi

Riak dan Menjejaklah

dinipagi jengah melangkah
harihari kian lelah
mimpimimpi tambah kalah
maka

bebas dan lepaslah
sebab tak selamanya
langit mengabarkan duka dan luka

riak dan menjejaklah
sebab tak seterusnya
hidup menelurkan peluh dan keluh

genggam erat semangat
peluk mesra gembira

pada segala harapan dan perjuangan itu
: selamat datang

170216 | 0:51 

Padamu Kubisikkan Sesuatu

serupa anakanak menggugu mainan baru
lena kita tapaki dengan setia
riuh yang begitu menyeluruh
riang yang lamalama menyerang

dan jamurjamur makin melebur di ketiak negeri
oleh kita yang terlampau mudah latah
oleh segala musik dan goyang berstyle itu

maka padamu kubisikkan sesuatu
: sempurna sudah kita menjadi piatu

081013 

Negeri Sunyi

aku merindu deru
datang dari pasang legammu
pandang yang lama telah dilupa sapa

aku merindu deru
datang dari terbit sabitmu
percakapan yang lama sudah menemu buntu

sebab telinga jelma kekinian
dimana tiada jadi biasa
olehsebab dunia begitu surga,
di jemarimu yang lebih letih melangkah
di pematang qwerty dan layar sentuh itu
061013 


Aku Sedang Tak Nafsu Nulis Puisi 

i
dunia terlampau penyair
duka telanjur berair

ii
sebab kau yang lebih dulu terbit
dan matahari yang terlalu sibuk di sebelah barat
sebab sembap yang lebih dulu berkarat
dikubur padam dan ruam ruam padah

aku sedang tak nafsu nulis puisi
mbaringkan tetiap sajak
dalam jejak tetiap trotoar
sementara ruparupanya
perjalanan kita memang hanya sebentar

sudahi kecemasan perihal hari yang berlubang
sebelum segala njelma santapanmu
hingga jengah hingga lelah
hingga kalah
hingga kau seketika itu,
aku
230316 | 18:50 


Februari Lengkap Sudah

Februari. Hujan lebih dini. Meninabobo sepi yang kelewat
sunyi. Malam masih menyisakan helanya di mesin mesin
pencari. Berharap ada namamu yang muncul dalam layar
monitor itu. berlompatan di tiap jemari dan gigil abjad
abjad. Sore telah mendaki paginya yang paling purba.
Selengkap aku melelapi tubuhmu dalam utopis-romantis
berpeluk picis. Ah, kita tak ubahnya sepasang penari.
Berputar, melingkar, meliuk diri.
Sudahkah kau amini percakapan kita dini tadi. tepat ketika
lampu-lampu beranda telah menanam sunyi pada krik-krik
jangkerik. Ah, sunyi ini menjadi milik sesiapa saja, bukan.
Seketika kita begitu lihai memintal sulam. Menenun tekun
yang teramat sangat. Sementara kesenian, aksi, dan
underbow-nya masih saja panas di lidah kita. Haha, ten
goklah. Bukankah kita telah menapaki purba yang teramat
dalam. Dinding dinding paling palung. Meneriakkan narasi
narasi besar pada ruang orasi bernama diskusi. Menadi
betah pada panggung panggung dan sorot lampu. Di
kanan-kiri beragam banner bertuliskan kemanusiaan men
gudara dengan jumawa. Duh!
Buah apa lagi yang kau makan itu.
120215 



Himas Nur lahir di Semarang, 2 Desember 1995. Menulis puisi, esai, dan skenario film pendek. Beberapa puisinya pernah menjadi juara di tingkat lokal dan nasional. Beberapa karyanya dimuat di beberapa media cetak dan termuat dalam antologi bersama. Bianglala, Komidi Putar, dan Negeri Dongeng ialah antologi puisi tunggal perdananya. Saat ini ia mengelola laman himasnur.wordpress.com(92)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Himas Nur
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Suara Merdeka" Minggu 10 April 2016

0 Response to "Riak dan Menjejaklah - Padamu Kubisikkan Sesuatu - Aku Sedang Tak Nafsu Nulis Puisi "