Sepasang Sayap untuk Marlia | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Sepasang Sayap untuk Marlia Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:45 Rating: 4,5

Sepasang Sayap untuk Marlia

AKU menemukan satu sayap di depan pintu dalam mimpi menjelang pagi. Sayap yang cantik berbulu putih halus, tetapi ada sebaris luka di bagian bawah. Sayangnya, sampai mimpiku berakhir, aku tidak kunjung menemukan pasangannya. Barangkali, nanti, dalam mimpi yang lain, aku bisa menemukannya.

AKU terbangun oleh aroma parutan bawang merah yang menyengat. Ibu mencampurnya dengan minyak kelapa, lantas membalurkannya ke dada dan punggung adikku. "Panas adikmu tinggilagi. Semalaman, dia mengigau terus," ucap ibu sambil terus menggosok punggung Dede. Anak lelaki 13 tahun itu terkulai lemah dengan kelopak mata merah dan sembap.

Aku berniat membawa Dede ke puskesmas, pagi ini, sebelum pergi bekerja. Namun, ia menolak karena merasa sudah lebih baik. Aku meraba dahinya yang masih hangat, tidak sepanas subuh tadi.

"Kemarin, ada Suta datang ke sini, sampai dua kali. Katanya, ada hal yang mau dibicarakan." Ibu bicara sambil melipat baju-baju yang belum disetrika kemudian ia susun di dalam keranjang plastik. "Pasti tentang kegiatan kamu."

"Menurut Ibu, dia akan setuju atau protes seperti orang-orang?"

Ibu hanya menggerakkan bahu, Aku tahu, siapa pun --termasuk ibu-- meragukan kampanye yang terus aku lakukan dalam beberapa bulan terakhir ini tentang penghentian penambangan di Gunung Pongkor.

"Seperti mencacah air, Lia. Yang kau lakukan itu sia-sia."

Aku menarik napas dalam sambil memutar sendok di dalam gelas, menyaksikan butir-butir gula yang larut dan menghilang.

"Aku hanya ingin alam kita lestari, Bu, tidak terus menerus dirusak. Tidak ada lagi limbah air raksa yang mengalir di selokan-selokan warga lalu masuk ke sungai. Tidak ada lagi orang berebut lahan galian. Dan.....," aku menggantung kalimatku.

Ibu tahu betul, salah satu alasanku melakukan semua ini adalah agar tidak ada lagi kepala keluarga yang terperangkap di dalam lorong-lorong pengap, tertimbun, dan keluar hanya tinggal nama.

"Bapakmu bukan orang pertama yang tersedot, Lia. Itu memang takdirnya."

Ingin rasanya aku mengatakan, ada banyak takdir yang bisa diubah dengan usaha manusia. Aku menyesap teh manis yang aku buat. Aku tidak tahu kapan terakhir kalinya aku meminum teh manis senikmat ini. Rasa manisnya pas dan hangatnya membangunkan syaraf-syarafku yang masih bergerak malas.

Mungkin ras anikmat teh manis itu berasal dari ramuan yang aku tambahkan. Ramuan yang berupa kelegaan setelah melihat demam Dede berangsur turun. Selain itu, aku pun sudah bisa mengurangi beban ibu dengan penghasilanku meski tidak terlalu besar.

Aku berdiri dan mencium tangan ibu, lebih lama dari biasa, ingin merasakan guratan usia dan otot kerja keras yang bertonjolan. Tangan yang aku genggam ini masih sering masih menerima jahitan dan pesanan kue, tetapi sudah sedikit berkurang atas permintaanku. Ibu tersenyum dan mengusap puncak kepalaku. Pagi dengan ini semua adalah pagi yang mewah untukku.

Aku mengayun langkahku dengan ringan sambil terus menoleh ke belakang. Menatap pesona Gunung Pongkor yang menjadi rebutan, tempat semua orang menggantungkan harapan-harapan pada kemilau emas yang terpendam.

Para pria --baik tua maupun muda-- mengenakan celana panjang lusuh, sepatu boot sebatas lutut, dan helm. Mereka berlomba menuju lubang galian masing-masing. Beberapa orang masih berkenan menyapa. Selebihnya, cukup melirik dengan ujung mata.

**
MELALUI salah satu teman kerja, aku kenal dengan Amran. Lelaki yang membuka mataku tentang lingkungan hidup dan menyadarkan betapa yang selama ini ada di sekelilingku telah mengoyak alam dengan sangat menyedihkan.

"Pekerjaan bapakku, masuk ke lorong-lorong kecil yang panjangnya bisa puluhan meter ke dalam bumi. Keluar dengan membawa karuung-karung berisi bongkahan tanah yang mengandung bijih-bijih emas. Ada belasan lubang penambangan. Bapakku salah satu yang dituakan di salah satu lubang itu. Ada banyak yang lebih muda mengikuti dirinya." Itu ceritaku kepad Amran pada pertemuan pertama kami.

Aku tidak menduga, ternyata Amran sudah mengetahui banyak hal tentang penambangan emas di dekat tempat tinggalku sekaligus dengan kerusakan alam yang sangat ironis. Sebuah kawasan hutan lindung, tetapi di bagian bawahnya dibuat terowongan-terowongan panjang yang menembus satu sisi bukit menuju sisi bukit yang lainnya. Setiap hari, terdengar ledakan untuk menggerus bebatuan yang mengandung emas. Ditambah dengan air raksa yang mengalir ke Sungai Cikaniki setiap hari, semua berasal dari penambangan yang legal dan ilegal.

"Kami berjuang di wilayah atas agar pemerintah bisa membuat kebijakan untuk menutup perusahaan tambang resmi. Sementara kamu bisa memulai dengan memberi informasi tentang lingkungan dan bahaya limbah kepada penambang emas ilegal. Setelah itu, kami bantu untuk mengalihkan sumber penghasilan mereka."

Dari situlah aku memulai semuanya, dengan keyakinan, satu demi satu para gurandil --sebutan untuk para penambang emas ilegal-- akan meninggalkan pekerjaan mereka sebagai penambang emas. Namun, kenyataannya sangat jauh dari harapan. Satu demi satu tetangga menjauh dan menuduhku sebagai utusan perusahaan tambang legal untuk memukul mundur para gurandil.

Puncaknya pekan lalu, ketika aku datang ke acara perayaan kemerdekaan yang diselenggarakan oleh ketua RT. Aku meminta waktu sejenak untuk menjelaskan bahaya limbah air raksa jika terus menerus mengalir ke sungai dan mencemari ikan-ikan yang hidup di sana.

"Hei, Lia. Lalu kami harus mencari uang dengan  cara apa?" teriak seorang pria.

"Kamu lupa, ya. Kamu dibesarkan oleh Bapakmu yang juga seorang gurandil?" ucap seseorang serasa menyentil jantungu.

Aku mengangguk sebelum melanjutkan. "Bukan hanya kerusakan alam yang terjadi, melainkan masalah sosial bermunculan. Antarsaudara berebut lubang galian hingga bertengkar dan bermusuhan," kataku. Aku mengingat malam sebelum bapak tertimbun. Beberapa orang gurandil bertemu dan meminta bapak menukar lubang miliknya dengan milik mereka, tetapi bapak menolak.

Ucapan-ucapan tidak nyaman semakin terdengar. Lalu, sedikit demi sedikit, orang-orang yang hadir berkurang hingga akhirnya hanya menyisakan Suta yang duduk di kursi paling belakang.

"Suta, aku lihat kau sudah semakin sering menambang sekarang." Suta menempati lubang galian yang sama dengan bapak dahulu. Suta adalah teman masa kecilku. Kami selalu sekelas dari kelas 1 SD hingga lulus ketika SMA. Dia teman pertama yang datang menghibur ketika bapak meninggal dan sempat berjanji bahwa ia tidak akan menjadi penambang emas demi menjadi temanku.

"Kebutuhan, Lia. Mencari kerja sangat susah. Mau berdagang, aku belum punya modal. Lagi pula, dari kakekku, kemudian bapakku, lalu sekarang aku. Kami semua penambang di sini."

"Kau tadi lihat kerusakan yang kalian buat? Yang aku perlihatkan gambar-gambarnya?"

Suta menegakan punggung tanpa menjawab pertanyaanku. "Jangan terlalu berani bicara, Lia. Orang-orang sini kurang suka. Mereka sudah cukup pusing dnegan ketegangan antara kami dan perusahaan, saling berebut lahan penambangan. Aku mohon, kamu jangan menambah-nambah dengan ide agar kami menghentikan semua ini." Suta menatapku lekat-lekat.

Aku menggeleng lalu berkata, "AKu sudah memulai, Suta, dan meyakini bahwa aku mengajak kepada sesuatu yang benar."

"Benar itu relatif, Lia. Benar katamu, salah kata kami. Lalu benar menurut kebenaran yang hakiki." Suta berdiri, memperbaiki manset kemeja yang lipatannya lepas. Kemudian, ia pergi meninggalkanku, seperti yang lainnya.

**
KETIKA jam kerjaku di sebuah mini market berakhir, Suta sudah menunggu di atas motor tuanya. Aku mendekat tanpa menunggu ia melambaikan tangan.

"Kata ibu, Kau mencariku?"

Suta mengangguk dan mengajakku naik di belakangnya.

Ia mengajakku ke sebuah warung. "Aku minta Kau menghentikan kegiatanmu, Lia. Aku mohon."

"Aku selalu berharap, satu hari nanti, Kau berdiri di sampingku, Suta, dan mengatakan kepada semua orang bahwa penambangan harus dihentikan."

"Marliaaa." Suta menarik napas dalam, menyebut namaku dengan kesal. "Aku mengkhawatirkanmu."

"Aku memintamu untuk tidak menambang karena aku jauh lebih mengkhawatirkanmu," ucapku melemparkan tatapan ke jalan raya yang sepi.

Pada tingkatan tertentu, perasaan bisa bermutasi menjadi apa saja, tidak melulu perasan cinta atau rengekan rindu. Bagi dua orang seperti kami, yang tidak pernah mengumumkan isi hati, kekhawatiran satu sama lain yang lebih mendominasi telah menjelaskan segalanya.

Suta membukakan minuman ringan dingin untukku. "Minumlah, sedari tadi, Kamu belum minum apa-apa."

Kendati itu bukan minuman kesukaanku, aku tetap meminumnya sedikit demi sedikit.

"Apa yang bisa menghentikanmu, Lia?"

"Tidak ada."

"Baiklah, mari kita pulang."

Yang aku ingat terakhir kalinya adalah aku naik ke atas motor dan berpegangan ke pinggang Suta. Setelah itu, sebagian ingatanku lenyap. Kesadaranku kembali ketika tubuhku dipindahkan ke sebuah mobil dan beberapa orang berbicara sambil berbisik.

Tubuhku seperti tanpa tulang, lemas, dan sulit bergerak. Telapak tanganku berada di atas saku celana tempat aku menyimpan telefon seluler, mengira-ngira tombol untuk membuka kunci dan menekan huruf A. Hanya satu nama yang dimulai dengan huruf A. Semoga Amran sedang senggang dan bisa mendengar semuanya yang terjadi.

Aku melihat dari ketinggian ketika mereka menemukanku, membawaku ke sebuah rumah sakit, dan tidak berapa lama Amran dan teman-temannya datang. Aku mendengar Amran membicarakan tentang Suta dan beberapa kawannya yang ditangkap.

Suta menjelaskan bahwa semua dilakukan karena perebutan wilayah penambangan. Ia menuduh aku melakukan kampanye penambangan ilegal itu semata-mata untuk mengalihkan lubang penambangan almarhum bapak kepada orang lain yang bersedia membayar.

Duhai, Suta. Sependek itu pengetahuanmu tentang diriku? Ternyata, kita benar-benar tidak saling mengenal.

Bapak berdiri di sampingku. Ia memberikan satu sayap untukku dan membantu aku untuk mengenakannya. Mimpi ini seperti terlalu cepat datang. Aku tidak hanya telah menemukan pasangan sayap yang aku temukan tadi pagi, tetapi kini aku memakai keduanya.***


Adya Pramudita, tinggal di Bogor

Rujukan:
[1] Dislain dari karya Adya Pramudita
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" edisi 17 April 2016

0 Response to "Sepasang Sayap untuk Marlia"