Amnesti | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Amnesti Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:19 Rating: 4,5

Amnesti

KETIKA KAMI MENDENGAR BAHWA IA DIBEBASKAN, AKU MENGHAMBUR KE LAHAN PERTANIAN DAN MELEWATI pagar ke lahan pertanian tetangga untuk memberi tahu siapa saja. Baru kutahu belakangan bahwa pakaianku robek lantaran kawat berduri, dan ada luka berdarah di pundakku. 

Ia pergi dari sini sembilan tahun lalu, ditugaskan untuk bekerja di kota untuk apa yang mereka sebut perusahaan bangunan—membangun tembok kaca yang menjulang ke langit. Pada dua tahun pertama ia pulang di akhir pekan sekali sebulan dan dua minggu pada hari Natal; itulah ketika ia menemui ayahku, melamarku. Dan ia mulai membayar. Ia dan aku mengira bahwa dalam tiga tahun ia sudah membayar cukup sehingga kami bisa kawin. Tetapi ternyata ia mulai memakai kaos oblong itu, katanya ia menjadi anggota Serikat Buruh, ia memberitahukan kami soal pemogokan, tentang bagaimana ia termasuk orang-orang yang berunding dengan majikan karena ada yang di-PHK setelah berlangsung pemogokan. Ia selalu lihai dalam berbicara, bahkan dalam bahasa Inggris—ketika menjadi murid di sekolah yang ada di lahan pertanian dulu ia pernah menjadi juara, ia selalu membacai koran-koran yang dipakai oleh orang India pemilik toko untuk membungkus sabun dan gula yang mereka jual. 

Ada masalah di tempat penginapannya, muncul kerusuhan soal sewa penginapan di tempat pemukiman kulit hitam dan ia memberitahuku—hanya aku, bukan yang tua-tua lainnya—bahwa kalau orang-orang melawan cara mereka diperlakukan, maka itu adalah untuk kami semua, baik yang di lahan-lahan pertanian maupun yang di perkotaan, dan serikat ada di pihak mereka, ia memihak mereka, menulis pidato, unjuk rasa. Pada tahun ketiga, kami dengar ia dipenjara. Bukannya kawin. Kami tidak tahu di mana bisa menjumpainya sampai ia diadili. Itu terjadi di sebuah kota yang jauh. Aku tidak selalu bisa ke pengadilan karena pada saat itu aku sudah lulus Standard 81 dan aku sudah bekerja di sekolah yang ada di lahan pertanian. Lagian orang tuaku juga tidak punya uang. Dua saudara laki-lakiku yang pergi jauh bekerja di perkotaan tidak mengirimi kami uang; aku kira mereka tinggal bersama pacar-pacar itu. Ayahku dan saudara laki-laki lainnya bekerja di sini untuk Boer2 dan upah mereka sangat kecil, kami memiliki dua ekor kambing, kami juga diijinkan untuk merumputkan beberapa ekor sapi dan mengolah sepetak tanah yang oleh ibuku ditanami sayur-sayur. Dari sini tidak dihasilkan uang. 

Ketika aku melihatnya di pengadilan ia nampak ganteng dalam jas biru, hem setrip-setrip dan dasi coklat. Semua pesakitan—kamerad­nya, katanya—berpakaian bagus. Serikatlah yang membawa pakaian itu sehingga hakim dan jaksa penuntut tahu bahwa mereka tidak mengadili orang-orang kulit hitam bodoh yang ABS dan tidak tahu hak-hak mereka. Hal-hal seperti ini dan hal yang lainnya tentang kehakiman dan pengadilan dijelaskannya kepadaku ketika aku diijinkan menjenguknya di penjara. Anak perempuan kami lahir ketika pengadilan masih berlangsung dan ketika untuk pertama kalinya kubawa bayi kami ke pengadilan supaya ia bisa melihatnya, kamerad-kameradnya memeluknya lalu memelukku, melampaui batas untuk para pesakitan, dan mereka mengumpulkan uang sekadarnya sebagai hadiah untuk si bayi. Ia menamai anak perempuan kami Inkululeko.

Lalu pengadilannya selesai dan ia mendapat enam tahun. Ia dikirim ke Pulau3. Kami semua tahu tentang Pulau itu. Para pemimpin kami sudah lama mendekam di sana. Tetapi aku belum pernah melihat laut, kecuali warnanya yang biru, itu pun dulu di sekolah. Dan aku tidak bisa membayangkan sejengkal tanah yang dikelilingi olehnya. Aku hanya bisa membayangkan sepotong kotoran sapi yang terapung di atas kubangan air hujan, yang mencerminkan warna langit, biru. Aku malu hanya karena berpikir seperti ini. Kepadaku ia berkata bahwa dari tembok-tembok kaca itu tercermin deretan pohon dan bangunan-bangunan lain yang ada di jalan itu, termasuk warna mobil-mobil dan mendung yang nampak kepadanya ketika anjungan yang mengangkutnya naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi dan lebih tinggi lagi ke atas untuk bekerja di puncak gedung itu. 

Ia diijinkan menerima satu surat sebulan. Itulah suratku, karena orang tuanya tidak bisa menulis. Aku pernah menemui mereka, ke tempat kerja mereka di lahan pertanian lain untuk bertanya pesan apa yang ingin mereka sampaikan. Ibunya selalu menangis dan menaruh tangan di kepalanya serta tidak berkata apa-apa, dan ayahnya, yang berkhotbah kepada kami tiap minggu, berkata, katakan kepada anakku bahwa kami berdoa, Tuhan akan membereskan semua untuknya. Ia pernah membalas, Itulah masalahnya—orang-orang kita di lahan pertanian, mereka dikelabuhi bahwa Tuhan akan memutuskan apa yang baik bagi mereka sehingga mereka tidak merasa perlu untuk berbuat apa saja dalam rangka memperbaiki hidup mereka. 

Setelah dua tahun berlalu, kami—orang tuanya dan aku—sudah punya tabungan cukup untuk pergi ke Cape Town menjenguknya. Kami naik kereta api dan tidur di lantai di stasiun dan keesokan harinya bertanya jalan menuju ferri. Orang-orang baik hati; mereka semua tahu bahwa kalau perlu ferri maka itu karena ada sanak saudara di Pulau. 

Dan itulah—itulah lautnya. Warnanya hijau dan biru, naik dan turun, memecah putih, sepanjang jalan menuju langit. Sesekali angin yang sangat kencang menerpanya; laut itu menyembunyikan Pulau, tetapi orang-orang lain seperti kami yang juga menanti ferri, menunjuk di mana letak Pulau, sangat jauh di laut yang tidak pernah saya bayangkan benar-benar ada. 

Ada juga perahu-perahu lain, dan kapal-kapal sebesar bangunan-bangunan yang bisa berpindah ke tempat lain, di seantero dunia, tetapi ferrinya hanya untuk menuju ke Pulau tidak ke seantero dunia, hanya ke Pulau. Maka mereka yang menunggu adalah menunggu Pulau, makanya tidak mungkin kalau kami kesasar. Kami membawa gula-gula dan kue-kue, celana dan pakaian panas untuknya (seorang perempuan yang berdiri bersama kami berkata bahwa kami tidak akan diperbolehkan memberinya pakaian) dan tidak kukenakan lagi baret tua seperti yang dikenakan oleh perempuan-perempuan lahan pertanian, kubeli pengulas kulit dari orang yang bersepeda menjajakan barang-barang di dalam kotak di sepanjang lahan-lahan pertanian. Rambutku tersisir di bawah kerudung, tapi anting-anting berwarna emas yang tergantung pada kedua telingaku masih kelihatan. Ibunya menalikan selimut sepanjang dada meliputi rok yang dikenakannya, seorang perempuan tani, tetapi aku tampil secantik perempuan lain yang ada di sana. Ketika ferrinya siap mengangkut kami, kami berdiri berdesak-desakan dan diam seperti ternak yang menunggu dilepas. Seorang pria terus-terusan menengok keliling dengan dagunya yang naik turun, ia sedang menghitung, nampaknya ia khawatir terlalu banyak penumpang dan ia takut tidak diijinkan ikut. Kami semua bergerak menuju polisi yang bertugas dan semua yang berada di depan kami pergi ke ferri. Tetapi ketika giliran kami tiba, polisi itu membalik telapak tangannya, meminta sesuatu, aku tak tahu apa. 

Kami tak memiliki ijin. Kami tidak tahu bahwa sebelum sampai ke Cape Town, sebelum naik ferri ke Pulau, tiap orang harus punya ijin polisi untuk mengunjungi tahanan di Pulau. Aku berusaha meminta kepadanya dengan baik-baik. Angin menghembus suara yang keluar dari mulutku. 

Kami ditolak. Kami melihat ferrinya tergoyang-goyang, mengenai anjungan tempat kami berdiri, bergerak, diangkat dan dijatuhkan oleh air, menjadi makin kecil dan kecil sampai kami tidak tahu lagi apakah kami masih bisa melihatnya, atau apakah itu seekor burung yang kelihatannya berwarna hitam, naik turun di jauh sana. 

Satu-satunya hal yang mengobati kekecewaan kami adalah salah satu orang yang berangkat ke Pulau itu bersedia membawakan gula-gula dan kue-kue untuknya. Ia mengirim surat sudah menerimanya. Tetapi itu bukanlah surat yang baik. Tentu saja tidak. Ia marah kepadaku; seharusnya aku cari tahu, aku sudah harus tahu tentang ijin itu. Ia benar—akulah yang membeli karcis kereta api, akulah yang bertanya di mana ferri, aku harus tahu tentang ijin itu. Aku sudah lulus Standard 8. Ada sebuah kantor yang membantu mengurusi semua ini di kota, yang menjalankan adalah gereja-gereja, katanya dalam surat itu. Tetapi lahan pertanian begitu jauh dari kota, kami di lahan pertanian tak tahu apa-apa tentang hal ini. Memang seperti yang dikatakannya; kebodohan kami adalah cara untuk merendahkan kami, kebodohan ini harus lenyap. 

Kami pulang naik kereta api dan tidak pernah lagi pergi ke Pulau—tidak pernah bertemunya dalam tiga tahun berikut ketika ia masih di sana. Tidak sekalipun. Kami tidak punya uang untuk kereta api. Ayahnya meninggal dan aku harus membantu ibunya dari gajiku. Bagi orang-orang seperti kami yang selalu mengkhawatirkan adalah uang, begitu kutulis kepadanya. Kapan kita akan punya uang? Lalu ia mengirim sebuah surat yang baik. Itulah sebabnya aku berada di Pulau, jauh darimu, aku di sini supaya suatu hari orang-orang kita bisa memenuhi kebutuhan, tanah, pangan, dan berakhir kebodohan. Masih ada yang lain—masih bisa kubaca kata ‘kekuasaan’ yang dihitamkan oleh penjara. Semua suratnya bukan hanya untukku; pegawai penjara sudah membacanya terlebih dahulu, sebelum tiba giliranku.

Ia pulang hanya setelah lima tahun!

Itulah yang nampak padaku, ketika kudengar—lima tahun itu tiba-tiba lenyap—tidak ada lagi!—tidak ada setahun lagi yang harus dinanti. Kepada anak perempuanku, anak perempuan kami, kuperlihatkan kembali gambarnya. Inilah ayahmu, ia pulang, kau akan berjumpanya. Ia memberi tahu anak-anak lain di sekolah, aku punya ayah, seperti ketika ia memamerkan anak kambing yang dimilikinya di rumah. 

Kami ingin supaya ia pulang secepatnya, dan pada saat yang sama kami membutuhkan waktu untuk bersiap-siap. Ibunya tinggal bersama salah satu pamannya; kini setelah ayahnya meninggal tidak ada lagi rumah ayahnya yang bisa dipakainya untuk menampungku segera setelah kami kawin. Kalau ada waktu, ayahku bisa menebang galah, ibuku dan aku bisa mencetak bata, menebasi jerami dan membangun rumah untuknya dan untukku serta si anak. 

Kami tidak yakin bahwa harinya akan tiba. Kami hanya mendengarnya melalui radioku, namanya dan nama-nama orang lain yang dibebaskan. Kemudian di toko orang India kulihat surat kabar The Nation buatan orang-orang kulit hitam, dan pada gambar depan nampak banyak orang yang menari dan melambai-lambai—segera kukenali ferrinya. Beberapa di antara mereka ada yang diangkat di atas pundak orang-orang lain. Ia tak bisa kulihat di antara orang-orang itu. Kami menanti. Ferri telah membawanya kembali dari Pulau, tapi kami ingat Cape Town sangat jauh dari rumah kami. Akhirnya ia benar-benar pulang. Pada hari Sabtu, sekolah libur, sehingga aku bekerja bersama ibuku, mencangkul dan menyiangi rumput-rumput yang tumbuh di sela-sela labu dan semangka, rambutku yang ingin kuatur rapi, kuikat dengan kerudung. Sebuah mobil kombi datang dan kameradnya mengantarnya pulang. Aku ingin berlari dan membersihkan diri tetapi ia berdiri membuka kakinya lebar-lebar, berseru hei! hei! sementara kameradnya membuat kegaduhan, dan ibuku mulai berteriak-teriak dalam gaya kuno aie! aie! dan ayahku bertepuk tangan dan berlari ke arahnya. Ia membuka lengannya lebar-lebar menyambut kami, orang besar ini berpakaian kota, sepatunya disemir mengkilat, dan sepanjang saat ketika ia memelukku kusembunyikan tanganku yang kotor, penuh lumpur, di belakang punggungnya. Giginya menghantamku keras melalui bibirnya, ia menjangkau ibuku sementara ibuku berjuang untuk mengangkat anak kami ke arahnya. Kukira kami semua akan berjatuhan! Lalu semua diam. Anak kami bersembunyi di balik ibuku. Ia mengangkatnya tetapi anak itu menarik kepalanya ke bahu ibuku. Ia berbicara lembut kepadanya, tetapi ia tidak bersedia menjawabnya. Ia sudah hampir berusia enam tahun. Kepadanya kukatakan jangan seperti bayi. Katanya, itu bukan dia. 

Kameradnya tertawa semua, kami tertawa, anak kami berlari dan katanya, Ia butuh waktu untuk menyesuaikan diri denganku.

Berat badannya bertambah, ya; banyak. Sulit untuk mempercayainya. Ia pernah begitu kurus sampai kedua kakinya kelihatan terlalu besar untuk badannya. Aku pernah merasai tulang-tulangnya tetapi sekarang—malam itu—ketika ia tidur di atasku ia begitu berat, aku tidak pernah ingat ia seberat itu. Waktunya memang lama sekali. Aneh, menjadi kuat di dalam penjara; semula kukira ia tidak mendapat cukup makan dan akan datang dalam keadaan lemas. Semua orang berkata, lihatlah dia!—ia seorang pria, sekarang. Ia tertawa dan menepuk dadanya, kepada mereka diceritakannya bagaimana para kamerad berlatih di sel-sel mereka, ia berlari sampai tiga mil sehari, naik turun di dalam satu tempat di atas lantai sel sempit tempat ia mendekam. Setelah kami bersama kembali, malam hari biasanya kami lama berbisik-bisik tetapi sekarang bisa kurasa bahwa ia sedang memikirkan beberapa hal yang tidak kuketahui dan aku juga tidak bisa membuatnya khawatir dengan ceritaku. Aku juga tidak tahu harus omong apa. Bertanya kepadanya bagaimana rasanya lima tahun mendekam di sana; atau menceritakan sesuatu tentang sekolah atau tentang anak kami. Apalagi yang sudah terjadi di sini? Tidak ada apa-apa. Hanya menanti. Kadang-kadang di siang hari aku berusaha menceritakan kepadanya bagaimana keadaanku, di rumah di lahan pertanian ini, selama lima tahun. Ia mendengarkanku, ia nampak tertarik, seperti juga ia menjadi tertarik kalau ada orang dari lahan pertanian lain bertandang dan berbicara dengannya tentang hal-hal kecil yang mereka alami ketika ia selama lima tahun itu berada di Pulau. Ia tersenyum dan mengangguk, mengajukan beberapa pertanyaan lalu berdiri dan menarik diri. Kuamati, itulah caranya memberi tahu pihak lain bahwa ia sudah cukup mendengarkan omongan mereka, pikirannya kembali pada sesuatu yang sudah menyibukkannya sebelum mereka tiba. Dan kami orang-orang petani sangatlah lambat; kami menceritakan semuanya dengan lambat, seperti yang juga pernah dilakukannya.

Ia masih belum ditugaskan untuk pekerjaan lain. Tetapi ia tidak bisa tinggal bersama kami; kami kira, setelah lima tahun di sana di tengah-tengah laut hijau dan biru itu, ia akan beristirahat bersama kami untuk beberapa waktu. Mobil kombi atau jenis lainnya datang menjemputnya dan ia berkata, jangan khawatir, aku tidak tahu kapan kembali pulang. Semula kutanya, berapa minggu, minggu depan? Ia berusaha menjelaskan kepadaku; dalam Pergerakan bukan lagi seperti dalam Serikat, di mana orang bekerja tiap hari dan setelah itu sibuk rapat; dalam Pergerakan tidak ada yang tahu kapan harus pergi dan apa yang berikutnya akan terjadi. Begitu juga dengan uang. Pergerakan bukanlah seperti pekerjaan dengan gaji tetap—aku tahu itu, ia tak perlu menjelaskannya—seperti pergi ke Pulau, Kita berbuat untuk orang kita yang menderita karena tidak punya uang, tidak punya tanah—lihat, katanya, bicara tentang orang tuaku, rumahku, rumah yang sudah menantinya, bersama anaknya: lihatlah tempat ini di mana orang kulit putih memiliki tanah dan membiarkanmu berkubang di dalam lumpur dan tinggal di gubuk ini hanya selama kau bekerja untuknya—Baba4 dan ibumu menanamkan tanaman sang majikan dan memelihara ternaknya, Mama membersihkan rumahnya dan kau di sekolah tanpa punya kesempatan untuk dididik secukupnya sebagai guru. Kita ini milik Boer, katanya. 

Kupikir, kami belum punya rumah karena tidak ada waktu untuk membangun rumah sebelum ia kembali dari Pulau; tetapi kami tidak punya rumah sama sekali. Sekarang aku paham.
Aku tidak bodoh. Ketika para kamerad datang mengendarai kombi untuk berbicara dengannya di sini, bersama ibuku aku tidak menyingkir setelah kami menyuguhkan teh atau (kalau ibu membikinnya untuk akhir pekan) bir. Mereka menyukai bir ibuku, mereka berbicara tentang kebudayaan kami dan ada satu di antara mereka yang menyatakan pendapat dengan merangkul ibuku, menyebutnya ibu mereka semua, ibu Afrika. Kadang-kadang mereka sangat menggembirakan ibuku dengan menceritakan kepadanya bagaimana mereka pernah bernyanyi di Pulau lalu memintanya menyanyikan sebuah lagu lama yang kami semua tahu dari nenek. Kemudian mereka ikut bernyanyi dengan suara kencang. Ayahku tidak suka mendengar bising ini sampai ke lahan pertanian; ia takut kalau-kalau Boer mendapati bahwa laki-lakiku giat berpolitik, pernah mendekam di Pulau, dan tengah mengadakan pertemuan di tanah Boer, ia bisa-bisa mengusir ayahku untuk pergi bersama keluarganya. Tetapi ibuku berkata, kalau Boer bertanya sesuatu katakan saja itu adalah doa bersama. Lalu nyanyi-nyanyinya berakhir; ibu tahu ia harus masuk rumah. 

Aku tetap tinggal, dan mendengarkan semuanya. Ia lupa aku masih berada di antara mereka ketika ia berbicara dan berdebat tentang sesuatu yang kurasa penting, lebih penting dari apa saja yang pernah kami ucapkan satu sama lain ketika kami berdua saja. Tetapi kadang-kadang, ketika salah satu kamerad berbicara, kulihat ia memandangiku seperti ketika aku memandangi murid kesukaanku di sekolah untuk mendorongnya mengerti pelajaran. Laki-laki ini tidak berbicara denganku, dan aku diam saja. Salah satu yang mereka bicarakan adalah mempersatukan orang-orang di lahan pertanian—para buruh, seperti ayah dan saudara laki-lakiku, seperti juga orang tuanya. Aku jadi mengerti tentang: upah minimal, pembatasan jam kerja, hak untuk mogok, cuti tahunan, tunjangan kecelakaan, pensiun, libur karena sakit dan melahirkan. Aku hamil lagi, paling sedikit tumbuh anak lain dalam tubuhku, tetapi itu urusan perempuan. Kalau mereka bicara tentang Orang Besar, Orang-orang Tua, aku tahu apa artinya: para pemimpin kami yang juga kembali dari penjara. Kuberi tahu tentang kedatangan anak kami lainnya; katanya, Dan ia masuk negara baru, ia akan membangun kebebasan yang kita perjuangkan! Aku tahu ia ingin supaya kami kawin tetapi untuk sekarang masih belum ada waktu. Ia hampir saja tidak punya waktu untuk membuat anak ini. Ia datang padaku seperti kalau ia makan atau mengenakan pakaian bersih. Kemudian ia menggendong gadis kecil kami dan menimangnya ke sana kemari!—selesailah, ia kembali masuk mobil kombi, ia kembali berpaling kepada kamerad-kameradnya, wajahnya hanya tahu tetang apa yang ada di dalam benaknya, kedua matanya yang bergerak cepat seperti sedang mengejar sesuatu yang tidak kelihatan. Gadis kecil kami tidak punya waktu untuk membiasakan diri dengan pria ini. Tapi aku tahu, ia akan membanggakannya, pada suatu hari!

Bagaimana bisa menceritakan semua ini kepada seorang anak berusia enam tahun. Tetapi kuceritakan padanya tentang Orang Besar dan Orang-orang Tua, para pemimpin kami, supaya ia tahu bahwa ayahnya pernah bersama mereka di Pulau, bahwa orang ini orang besar juga. 

Di hari Sabtu, sekolah libur dan aku menanam serta menyemai benih bersama ibuku, ia menyanyi tapi kukira aku tidak. Di hari Minggu tidak ada pekerjaan, hanya persekutuan doa di luar lahan pertanian di bawah pohon-pohon, dan minum bir di atas lumpur di dalam gubuk di mana para Boer mengijinkan kami untuk berteduh di tanah mereka. Aku pergi menyendiri seperti yang sering kukerjakan ketika masih kecil, mengkhayalkan permainan dan berbicara dengan diriku sendiri tanpa harus didengar atau dilihat orang lain. Aku duduk di atas batu hangat di suatu sore, di atas bukit, dan ngarai di bawah kakiku nampak seperti jalan setapak di sela-sela bukit. Itulah lahan pertanian para Boer, tetapi itu tidak benar, lahan itu bukan milik siapa-siapa. Ternak-ternak itu tidak tahu bahwa mereka milik seseorang, kawanan kambing—mereka berwarna abu-abu seperti batu, dan dari jauh mereka seperti ular gemuk yang tengah meliuk-liuk—juga tidak tahu. Gubuk-gubuk kami dan pohon bebesaran yang tua dan secarik tanah coklat yang digali ibuku kemarin, jauh di bawah sana, serta lebih jauh lagi rimbunan pepohonan di sekitar cerobong-cerobong asap dan barang yang bersinar itu adalah pesawat televisi milik yang punya lahan pertanian—semuanya bukan apa-apa, di atas punggung bumi ini. Semuanya bisa tertelan habis seperti yang dikerjakan anjing terhadap lalat. 

Aku tinggi bersama mendung. Matahari di belakangku sibuk mengubah warna langit dan mendung juga mengubah diri, pelan-pelan, pelan-pelan. Ada yang berwarna merah muda, ada yang putih, bergumpal-gumpal seperti gelembung busa. Di bawahnya sederetan tipis berwarna abu-abu, tidak cukup untuk menghasilkan hujan. Yang terakhir ini makin panjang dan makin gelap, berkembang menjadi hidung tipis dan tubuh panjang dan di akhirnya terdapat buntut. Ada tikus raksasa berwarna abu-abu bergerak di atas langit, memakan langit. 

Anakku ingat gambar ayahnya; katanya itu bukan dia. Aku duduk di sini di tempat aku sering datang ketika ia masih berada di Pulau. Aku datang untuk menjauhkan diri dari yang lain, untuk menanti sendirian. 

Kupandangi tikus raksasa yang mulai buyar, bentuknya, makan langit, dan aku menanti. Menantinya pulang. 

Menanti.

Aku menanti untuk pulang kembali.

Keterangan:
[1] Standar 8: Semacam sekolah menengah pertama. Lulusan sekolah ini, terutama mereka yang berkulit putih, akan bisa menjadi pegawai administrasi kantoran. Tentu saja nasib orang kulit hitam dan kulit berwarna lainnya tidak semujur itu. 
[2] Boer: Julukan untuk tuan tanah kulit putih yang kebanyakan konservatif dan berbahasa Afrikaans, salah satu bahasa resmi di Afrika Selatan, selain bahasa Inggris
[3] Pulau (dalam kalimat Ia dikirim ke Pulau): Tak pelak lagi yang dimaksud Nadine Gordimer dengan Pulau di sini adalah Roffineiland (atau Robbin Island (Pulau Robbin) tempat para pemimpin kulit hitam, antara lain Nelson Mandela, pernah disekap oleh pemerintahan kulit putih-apartheid Afrika Selatan.
[4] Baba: Ini sebutan lain untuk majikan/tuan tanah kulit putih pemilik lahan pertanian


Nadine Gordimer. Pengarang Afrika Selatan, kelahiran tahun 1924. Pemenang hadiah Nobel Kesusastraan Tahun 1991. Telah menerbitkan banyak buku, baik kumpulan cerpen, novel maupun esei. Juga menang berbagai macam hadiah, antara lain Hadiah Booker dari Inggris, hadiah Malaparte dari Italia, hadiah Nelly Sanchs dari Jerman dan Grand Aigle d’Or dari Perancis. (Matra, April 1994)

***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nadine Gordimer yang dialihbahasakan oleh Joss Wibisono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi April 1994


0 Response to "Amnesti"