Bagai Lelaki Besar Pemberani | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bagai Lelaki Besar Pemberani Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 16:01 Rating: 4,5

Bagai Lelaki Besar Pemberani

ANEH memang, di lingkungan keluarga kami cinta selalu berawal dengan kejatuhan sesuatu. Pikiran ini menganggu benakku ketika cinta pertamaku tiba. Aku terjaga semalaman memikirkannya, sampai keburu ayam jago berkokok dan ibu bangun menyiapkan makan pagi, aku belum juga mendapatkan jawabnya. 

Ketika Kakek masih hidup, kerap kali dia bercerita kepadaku di sela-sela batuknya tentang apa yang terjadi sewaktu dia berusia 15 tahun. Suatu hari dia tertidur di tepian sungai setelah lelah berenang ketika terjadi angin kencang. Pohon kelapa yang ada di dekat tempat tidurnya terguncang-guncang sehingga sebutir buahnya jatuh bagai sebatang balok menimpa bahu kirinya. Kakek menjerit kesakitan, jeritnya terlontar keras sekali sehingga gadis-gadis yang sedang mandi segera melilitkan sarung-sarung mereka dan berlari menolongnya. Karena gugup, rupanya ada salah seorang di antaranya yang lupa melilitkan sarung dan hanya berlari menentengnya. Melihat adegan itu, kakek segera lupa rasa sakit yang dideritanya—dan, satu tahun kemudian, gadis ceroboh itu resmi menjadi nenekku. 

Sewaktu berumur 16 tahun, ayahku terjatuh dari rakit bambunya dan nyebur ke sungai Malaming yang deras arusnya dan diselamatkan oleh seorang pencari ikan. Ayah segera berangsur-angsur sembuh dari lukanya karena tangan hangat lembut milik gadis puteri si pencari ikan yang setia membalut dan mengganti perban luka di keningnya. Gadis itu cantik sekali, sehingga pertama kali ayah membuka mata dari pingsannya, dia mengira berada di surga dalam perawatan bidadari jelita. Sekarang ini, meskipun sangat yakin bahwa yang dialaminya itu bukan surga, ayah tetap yakin bahwa gadis tersebut adalah seorang bidadari. Gadis itu tak lain adalah ibuku sendiri. 

Juga, sering kali kapan saja bibi Clara sedang berbelanja ke pasar, paman Ciano akan bercerita kepadaku sewaktu dia berumur 17 tahun, begitu tergila-gilanya pada bibi Clara sehingga dia benar-benar terjatuh dan pingsan di pelukannya. 

“Aku tidak pernah tahu apa yang menimpaku saat itu,” kata paman selalu, “Tetapi kemudian aku tak bisa lepas dari tangan-tangan yang merangkulku pada peristiwa itu.” Ayah selalu tertawa geli setiap kali mendengar pernyataan itu, namun ibu akan menatap tajam kepada ayah dan paman Ciano lalu merajuk. 

Lalu, suatu hari giliranku sendiri tiba. Waktu itu hari Minggu ketika aku mendapatkan upah 5 pesos dari penjualan sabut kelapa. Orang-orang Philipina menggunakan sabut kelapa untuk melicinkan lantai rumah yang terbuat dari kayu. Karena hari-hari itu adalah minggu menjelang pesta bersih desa untuk menghormati orang suci penjaga kota kami, tiap orang sibuk membersihkan rumah mereka masing-masing. 

Bagai seorang lelaki dewasa pemberani, setelah menerima upah tersebut aku memutuskan untuk melakukan apa yang telah lama aku rencanakan selama berminggu-minggu. Aku membolos dari sekolah minggu Romo Sebastian, dan dalam hati mentertawakan anak-anak kecil yang tersiksa di bangku mereka mendengarkan Romo itu bercerita tentang badai di laut yang menyediakan jalan bagi Yesus, hujan roti dan ikan, atau tentang malaikat-malaikat angkasa yang menyambut kita di surga kalau nanti kita meninggal—jika kita selalu berbuat baik selama hidup. 

Waktu itu bulan Januari yang cerah, dan gemerincing uang logam di saku membuatku lupa bahwa aku masih mengenakan celana pendek yang amat kubenci. Saat itu aku baru 13 tahun, dan sepanjang perjalanan menuju kota aku merasa bagai paman Delfin yang pemberani. Pamanku itu mempunyai 12 anak, 4 senapan dan berani tertawa sekeras-kerasnya ketika Romo Sebastian yang gemuk itu tersandung dan jatuh ketika menaiki altar selesai memberikan kotbah panjang tentang malaikat yang jatuh dari langit. Isterinya menatap tajam, namun dia terus terbahak-bahak. 

Dalam perjalanan ke kota, di sepanjang pinggiran jalan propinsi, ada banyak warung makan kecil yang selalu menjadi tempat mangkal anjing-anjing kurus dan kumal untuk bermalas-malasan di setiap pintu masuk. Aku mampir ke salah satu di antaranya untuk makan kue nasi dan selabat segar, minuman dengan rasa jahe. Ada banyak laki-laki di tempat itu. Rupanya baru saja selesai pesta sabung ayam. Beberapa lelaki menyulut cangklong di tangan mereka, dengan cangklong itu mereka menghembuskan asap tembakau yang tebal terus-menerus. Mereka tertawa keras-keras dan kadang-kadang bernyanyi. 

Beberapa orang yang lain telah mematikan cangklong mereka, menaruhnya di samping tempat duduk dan bermalasan di sudut-sudut ruangan memperlihatkan gigi di antara bibir-bibir mereka yang bergetar mengikuti yang lain-lain tertawa-tawa dan bernyanyi. Sering kali terdengar mereka melontarkan kata-kata yang kotor. 

Pedro, tetanggaku, ada di ruangan itu pula duduk di pojokan kelihatan sangat sedih. Senang juga melihat orang yang kukenal di tempat asing seperti itu, sehingga aku beranjak pindah ke mejanya. Sewaktu aku hendak duduk, seseorang menarik kursi rotan yang mau kududuki sehingga aku jatuh terduduk dengan kesakitan yang luar biasa di pantat di balik celana pendekku. Sebuah koor tawa keras-keras langsung mengikutinya, bagaikan letusan sederet petasan pada pesta-pesta perayaan. Bahkan laki-laki yang duduk di pojokan ikut tertawa, juga Pedro. Asap cangklong semakin mengepul tinggi dan kental. 

Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Mukaku panas dan berkeringat mulai membanjir keluar. Betapa aku sangat berharap paman Delfin hadir di sini dengan sebuah senapan, atau ayah dengan sebuah pisau panjangnya—atau bahkan bibi Clara dengan lidahnya yang tajam itu. 
Pada waktu aku bangkit dari lantai, aku mendengar suara wanita meneriaki para lelaki yang masih tertawa-tawa.

“Kalian bajingan, memalukan!” Lalu dia menoleh ke arahku dan berkata, “Jangan hiraukan mereka. Mereka mabuk sehingga lupa adab. Ini! Gunakan kain ini untuk membersihkan celanamu!”

Sungguh sebuah suara yang bersahabat. Seolah-olah semua asap dan bau ayam di ruangan itu menghilang, digantikan aroma angin segar yang bertiup masuk dari hamparan padi yang sedang masak di persawahan. 

Aku menatapnya, dan dia tersenyum. Sangat cantik. Dia segera mengingatkanku pada bidadari-bidadari cantik yang tentunya sedang diceritakan oleh Romo Sebastian kepada anak-anak pagi itu. 

Segera semuanya kembali tenang. Aku melihat laki-laki yang mengerumuni meja hampir semuanya meniup cangklong. Asap semakin tebal dan semakin menyengat. 

“Namaku Rosa. Kedai ini milik ibuku,” gadis itu memperkenalkan diri. Aku masih berpikir tentang bidadari cantik dalam cerita Romo Sebastian dan mencoba membandingkannya dengan bidadari di hadapanku ini. Serta merta aku menjadi mengerti mengapa tiap lelaki ingin masuk surga. 

“Apakah kau kenal Romo Sebastian?” tanyaku.

“Tidak,” jawabnya. “Mengapa?”

Aku sadar telah mengajukan pertanyaan yang sangat bodoh. Aku menjadi sangat malu. 

“Nona Rosa …” kataku dengan lembut. “Terima kasih sekali. Namaku Crispin dan ayahku mandor di perkebunan Spanyol.”

“Kau pasti putera Mang Thomas,” sahutnya dan matanya berkilat bagaikan koin perak. “Aku kenal dia,” lanjutnya.

Sebuah ketakutan tiba-tiba meliputiku ketika dia menyatakan kenal ayahku. Namun karena dia tetap tersenyum dan baik hati, ketakutan itu segera pergi secepat kedatangannya. 

“Selamat tinggal, nona Rosa,” kataku, “kau baik sekali.”

Hatiku hampir pecah oleh suatu perasaan sensasi yang luar biasa. Aku teringat saat hujan lebat dan langit redup ketika Mang Tonia, tuan tua berewokan itu, memborong semua sabut kelapaku dan membayar dengan bayaran yang layak sehingga aku meluap kegirangan. Perasaan itu mirip sekali dengan yang kini sekali lagi aku alami. 

Di pintu aku melihat seekor anjing putih kurus dan aku merasa kasihan kepadanya aku berjongkok dan menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut. Anjing itu mengibas-ngibaskan ekor kesenangan. 

Waktu aku dalam perjalanan pulang, aku berpikir tentang bidadari lagi. Aku bersiul dan bernyanyi: “Angel singing from heaven above …. Fill my heart with heavenly love.”

Lalu aku tiba-tiba merasa kasihan dengan Romo Sebastian karena telah beberapa kali mbolos dari kelasnya. Aku juga menyesal karena suatu kali, dengan sembunyi-sembunyi aku mentertawakannya ketika dia bercerita kepada kami tentang hujan roti dan ikan. Aku pikir dia pasti terlalu banyak minum pada misa di pagi harinya. 

Malamnya aku tak bisa tidur. Pada saat tergolek risau di kasur, aku melihat kunang-kunang masuk melalui jendela dari pohon camachile di kebun belakang, tampak seperti lentera prosesi yang selalu kami nyalakan menjelang matahari terbit di hari Easter, saat orang-orang kampung berperan sebagai sekumpulan orang kudus. Biasanya gadis yang tercantik di kampung dipilih Romo Sebastian untuk memerankan Bunda Maria. Paman Delfin selalu menyatakan keberatannya terhadap gagasan ini, karena menurutnya para pendeta sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang wanita. 

“Tetapi para pendeta lebih tahu tentang peranan Maria,” bantah ibu selalu menanggapi keberatan Paman Delfin. Lalu kami semua tertawa mengingat ibu sendiri pernah terpilih memerankan perawan suci Maria. 

Jika teringat hal-hal seperti ini, aku berangan Rosa pasti cocok sekali memerankan perawan Maria. Senyumnya, matanya, segala sesuatu mengenai dirinya sangat menyerupai sosok perawan Maria yang cantik. 

Di kegelapan malam itu aku merasakan sebuah tangan hangat mengelus bahuku penuh kasih, lalu kudengar suara ibu. 

“Apa yang membuatmu risau, nak?”

“Bukan apa-apa, bu,” kataku. “Masihkan ibu menyimpan foto ibu memerankan perawan Maria?”

“Jesus yang bersih hati!” cetus ibu. “Apa gerangan yang membawa pikiran itu ke kepalamu?”

Aku tersenyum di kegelapan kamarku dan begitu gembira mengetahui ibu tidak melihat senyumku. Namun, aku berharap ibu mendengar denyutan di kepalaku, sehingga aku tak perlu menjelaskan apa yang terjadi denganku. Rasanya bagaikan mendengar ribuan ayam aduan yang terus menerus berkokok bernafsu hendak membunuh lawannya. 

“Engkau takkan mengerti, bu,” kataku. Aku tak mengatakan padanya bahwa aku tahu hanya laki-laki bisa memahami laki-laki lain. 

“Sebaiknya kau segera tidur, nak. Kau harus segera mandi pagi-pagi besok.” Tangan hangat itu segera pergi dan malam itu tiba-tiba menjadi dingin, lalu aku tertidur. 

Waktu makan pagi keesokan harinya, semua orang di meja membicarakan aku. Sekali lagi ibu menanyakan apa yang membuatku resah semalam. 

“Ada dengungan hebat di kepalaku,” jawabku sambil sia-sia berharap akhirnya ibu bisa memahami.

“Nyamuk!” teriak ayah, lalu tertawa. Aku mengira atap rumah telah runtuh.

“Menurutku tidak,” kata ibu. “Yang dia butuhkan hanya mandi pagi yang nyaman di sungai yang berair dingin.” 

Cukuplah untukku. Bukan hanya atap runtuh, namun lantai telah memberikan jalan juga. 

“Bukan, bukan mandi air dingin,” bantah paman Ciano. Dia selalu berlagak bagai seorang filsuf. “Dia butuh obat cuci perut. Mungkin sesuatu yang dia makan memberinya kesulitan, bahkan mungkin mengganggu hatinya, yah boy?”

Semua orang lalu tertawa. Oh, anak geledek! Aku berkata pada diriku sendiri. Aku cepat-cepat makan tanpa menghiraukan mereka. Beberapa waktu kemudian, aku telah berjalan melintasi sebidang tanah kecil yang penuh ditumbuhi lobak menuju ke sungai, dan ketika menengok ke belakang aku melihat mereka semua berdiri di balik jendela memandangiku. Para wanita tampak menggeleng-gelengkan kepala. Ayah tampak tersenyum dan paman bahkan memicingkan mata ke arahku. Aku segera berlari ke sungai dan mandi berlama-lama. 

Aku kembali ke warung pinggir jalan siang itu. Aku melihat Rosa sedang melayani orang-orang yang duduk di sekeliling meja-meja makan. Warung tak terlalu ramai. Ketika melihatku Rosa segera datang menghampiriku. 

“Kini kau mengenakan celana pendek yang baru dan bagus,” katanya. Aku merasa sekumpulan mega lewat di depan mataku. Jadi ia masih ingat kejadian kemarin. Ingat aku jatuh. Ingat sepasang celana pendek yang kotor. Sejenak aku merasa malu dan tidak bisa berkata-kata. 

“Mau makan apa hari ini?” tanyanya. “Kue nasi? Salabat?”

Aku menatapnya dan tersenyum sendiri merasa dungu. Wajahnya kembali mengingatkanku pada Romo Sebastian dan perawan Maria. Tak ketinggalan dengungan pusing kepala ikut kembali juga. Apakah diakibatkan oleh nyamuk atau kepak sayap para bidadari, hal ini sejenak menggangguku. 

Lalu samar-samar aku mendengar Rosa berbicara, “Sementara kau menentukan pilihan, anak muda, biarkan aku melayani yang lain dulu.” Rosa beranjak ke meja lain yang ditempati oleh seorang lelaki tinggi tegap berkumis. Lelaki itu memesan basi, sejenis anggur dari beras yang kuat. Rosa mengambilkan basi untuknya, mereka bicara sebentar. Sewaktu kulihat Rosa tersenyum manis kepadanya, dengungan di kepalaku semakin menjadi-jadi. Oh, betapa aku berharap saat itu seorang menarik kursiku dari belakang sehingga aku terjatuh lagi. 

Setelah beberapa lama, Rosa kembali mendapatkanku. 

“Sekarang, apa jadinya?”

Aku menatap meja-meja lain, lalu menatap wajahnya, dan bagaikan seorang lelaki dewasa pemberani, aku berkata, “Tolong segelas basi untukku!” Jantungku berdetak keras sekali. Ini pernyataan berani yang pernah aku buat. 

“Maaf,” jawab Rosa. “Segelas basi terakhir yang tersisa hari ini sudah diminta Andres, lelaki yang duduk di sana itu. Lagipula tidakkah kau mengerti bahwa basi bukanlah jenis minuman untuk anak-anak semacam kau?”

Seolah-olah ribuan buah kelapa berjatuhan dari pohon langsung menimpaku. Aku terbatuk-batuk dan menatapnya. Aku menentang matanya, mata yang sangat hitam, dan aku berangan tentang danau yang dalam dan luas, hitam dan tenang dan begitu misterius yang bahkan paman Ciano sendiri, sang filsuf, tak bakal mengerti apa yang tersimpan di bawahnya. 

“Aku sudah besar,” kataku dengan bangga. “Hanya … aku mengenakan sepasang celana pendek. Aku lebih tua dari yang kau kira. Aku pikir … ya, aku kira aku tidak terlalu muda dibandingkan dengan lelaki di sana itu, Andres.”

“Andres?” Rosa terbeliak. “Andres cukup tua untuk kawin dan pantas punya anak.”

Untuk kawin? Punya anak. Aku menentangnya dengan berani, “Aku dapat melakukannya juga, tahu. Aku bisa kawin, jika aku mau. Dan aku juga bisa punya anak bilamana membutuhkan. Percayalah padaku, nona Rosa, aku bukan lagi anak-anak.”

Aku tidak tahu mengapa aku mengucapkan kata-kata tersebut. Aku bahkan tidak tahu pasti apa maksudnya. Namun aku bukan lagi anak kecil, benar demikian, dan aku harus membuatnya mengerti hal itu. 

Rosa tertawa dan menepuk belakang kepalaku. 

“Oh, kawan kecilku yang nakal,” katanya. “Kau harus banyak makan nasi.”

Sore itu aku jadinya memesan kue nasi dan salabat dan sengaja meninggalkan separonya tersisa. Dengan marah aku beranjak dari tempat itu. Aku merasa ingin sekali menendang anjing putih kurus sakit-sakitan yang ada di pintu, namun aku hanya menyumpahinya. Anak geledek! Anak setan jalanan!

Menginjak saat makan malam kejengkelanku masih membekas di wajahku. 

“Kepalanya panas,” kata ayah.

“Bukan di kepala, Thomas,” sahut paman Ciano. “Di hati. Lihatlah jerawat besar di pipi kirinya. Itu berbahaya. Itu tanda cinta.”

“Apapun omongan kalian, yang pasti dia butuhkan adalah mandi air segar dingin di sungai untuk kedua kalinya besok pagi,” sergah ibu sambil membawa piring-piring ke tempat cuci. 

Aku tidak menanggapi semua omongan mereka. Lagian, mereka tak mungkin memahami aku. Berdasarkan pengalaman, menghadapi saat-saat seperti itu lebih baik diam saja. 

Menjelang tidur, aku mencoba membicarakannya dengan paman Ciano. 

“Paman,” kataku membuka percakapan, “Apakah kawin dan mempunyai anak itu mudah?”

“Anak kambing hitam!” dia terpekik. “Engkau bicara apa?”

“Tolonglah, paman, aku sangat mempercayaimu.”

“Baik, kawin itu mudah sekali. Romo Sebastian adalah kawanku. Tetapi mempunyai anak-anak … ah … hah … itu sulit. Tak seorang pun kecuali Tuhan menentukannya.”

“Apakah Tuhan membantu ayah?” tanyaku. 

“Jika Dia tidak membantunya, di mana gerangan kau saat ini?”

Paman tertawa keras-keras dan bibi Clara terbangun dari tidur lelapnya. 

“Ciano,” sentaknya, “jika kau tidak mau tidur, biarkanlah aku tidur.”

“Apakah Tuhan menolong paman?” tanyaku lagi.

“Aku sangat religius, jadi Tuhan menolongku. Namun Clara, bibimu—dia lebih suka tidur,” katanya hampir bersedih. Lalu dia berdiam diri, dan aku sadar telah bertanya terlalu banyak.

Pada saat aku terbaring di atas tempat tidurku malam itu, aku berpikir tentang pengaruh menjadi religius bagi manusia. Tak perlu dipertanyakan lagi paman Delfin mempunyai banyak anak. Dia menyumbangkan sebuah lonceng untuk gereja beberapa tahun lalu. Kemudian aku jadi tertawa geli membayangkan berapa banyak anak Romo Sebastian seandainya dia menikah. 

Sebelum mataku terpejam malam itu, aku mengambil keputusan untuk kembali pada Rosa besok dan meyakinkannya bahwa aku sudah dewasa. Bahwa aku religius. Jika dia religius juga, Tuhan pasti akan membantu kami berdua. Aku berjanji kepada diri sendiri juga bahwa aku tak akan lagi membolos dari sekolah minggu. 

Keesokan harinya adalah hari aduan ayam jantan. Di warung makan, kumpulan ayam jantan terdengar riuh sama dengan keriuhan pemilik-pemiliknya. Di balik asap rokok tebal yang memenuhi ruangan, aku melihat Andres duduk sejauh tiga meja dari tempatku. Darahku mendidih saat aku melihatnya. Lalu, Rosa memasuki ruangan dan menaruh segelas basi di meja Andres. Dia segera duduk di dekat Andres dan menatap manis ke arahnya. 

“Rosa,” panggilku, “Berikan juga segelas basi untukku,” aku sengaja membesarkan suara dan orang-orang segera menatap ke arahku. Aku melebarkan dadaku dan berdiri beberapa saat, cukup untuk menunjukkan celana panjang yang aku kenakan kepada mereka. Celana yang aku kenakan dulu kepunyaan ayah, tetapi cocok kupakai kini. 

Aku melihat Andres menatapku juga. Pada saat mata kami bertemu, aku mencoba menatap segarang-garangnya. Dia kelihatan tidak perduli. Anak geledek! Seorang pengecut!

“Itu bukan sejenis minuman untukmu, Crispin,” sahut Rosa.

“Biarlah,” desakku. “Biarlah, Rosa. Berikan aku segelas basi sekarang juga!”

Rosa menatap Andres lalu mengangkat kedua bahunya dan segera mengambilkan segelas basi untukku. 

“Aku masih menyarankan kau untuk tidak minum-minuman keras semacam ini,” katanya sambil menaruh gelas di mejaku. 

“Aku seorang laki-laki dewasa sekarang, Rosa. Biarlah kukatakan kepadamu bahwa seandainya saja kau ….”

Rosa segera menghentikan kalimatku. 

“Minumlah basi-mu sementara aku melayani tamu-tamu lain.”

Andres menatapku lagi. Kemudian meraih gelas basinya dan meneguk kuat-kuat. Aku menatapnya juga, dan berkata pada diri sendiri—aku juga bisa melakukannya. 

Dan aku benar-benar melakukannya. Sesuatu yang sangat panas terasa mengaliri tenggorokanku. Rasanya ada sebuah lentera yang menyala menyumbat tenggorokanku dan mengalir ke bawah, terasa perih, panas dan menyakitkan. 

Aku melihat Rosa kembali duduk di samping Andres. Mereka tampak bercanda. Mereka berpegangan tangan, sebuah pemandangan yang sangat romantis. 

Pelan-pelan dan sedikit terhuyung aku berdiri dan berjalan menuju meja Andres. Hampir aku roboh, tetapi begitu aku meraba lututku yang terbalut celana panjang mampu membuatku lebih gagah. 
Andres berdiri juga saat melihatku. 

“Hendak ke mana kau lelaki kecil?” sapanya. 

“Kau tahu aku hendak ke mana,” sahutku dingin dengan suara yang besar angkuh sambil membusungkan dada. Aku menyambar gelas kosong dan bermaksud melemparkan ke arahnya. 
Baru saja kuayunkan gelas tersebut, keburu tangan Andres menangkap lenganku dan gelas jatuh berserakan di lantai. 

“Anak gila,” cetus Andres. “Jangan katakan, kau jatuh cinta pada Rosa?”

“Ya, benar,” jawabku. 

Rosa datang menghampiri kami. Aku meraih kedua tangannya. Aku menatapnya terus menerus dan hampir-hampir dengan rasa permintaan yang sangat aku berkata: “Rosa—apakah kau … apakah kau religius?”

Rosa menatapku bengong, melepas tangannya lalu menoleh ke arah Andres.

“Tuhan tahu, aku telah memperingatkannya untuk tidak minum basi.”

“Apakah kau religius, Rosa?” ulangku. Kali ini aku mencoba tersenyum.

“Aku kira demikian,” sahutnya. “Romo di wilayah kami pernah memilihku untuk memerankan perawan Maria pada minggu Easter.”

Memerankan perawan Maria! Aku sudah menyangka sejak semula. Aku segera mendengar kepak-kepak sayap malaikat langit turun di sekelilingku. 

“Hebat sekali, Rosa. Kau tahu, aku … aku religius juga,” kataku dengan perasaan asing dan aneh di kepalaku. 

Rasanya banyak sekali terdapat kata-kata yang menyumpal dan berloncatan di kepalaku mencari jalan keluar, namun bibir-bibirku bergetar gugup, tenggorokanku terasa panas, dan aku tak mampu berkata-kata. Kepalaku terasa pening dengan kata-kata yang berdengung kian kemari. 

Kulihat Andres mengangguk kecil ke arah Rosa dan Rosa segera memegangi tanganku yang lembut. Aku melihat matanya dan menyaksikan kedua mata yang hitam itu penuh dengan air mata. 

“Aku benar-benar minta maaf, Crispin. Andres dan aku telah dua tahun ini bertunangan, kami akan segera menikah,” katanya. “Aku benar-benar menyesal dan minta maaf.”

Pusing di kepalaku semakin menjadi-jadi, seakan lentera menyala-nyala di kepala di dalam tubuhku dan sejuta kelapa jatuh menimpa tubuhku yang telanjang. 

“Aku juga minta maaf, Rosa.” Suatu kejutan yang sakit tiba-tiba menyerangku. Kupikir jantungku meloncat ke luar. Aku sangat lemah. Aku mencoba bertahan dalam keseimbangan, mencoba menyembunyikan kelemahanku dengan cara tersenyum kepada Andres dan Rosa. Mereka membalas senyumku. 

“Andres,” kataku. “Apakah kau religius?”

“Ya, Crispin,” jawab Andres sambil tetap tersenyum. “Paling tidak aku beranggapan demikian. Aku mengunjungi gereja tiap minggu dan pendeta di wilayah kami adalah teman dekatku.”

“Kalau begitu,” lanjutku dengan tersenyum, “aku merasa sangat gembira dengan kalian. Tuhan akan menolong kalian. Ya, Andres, Tuhan pasti menolong kalian berdua.”
Rosa mulai menangis. 

“Dia tidak mengerti apa yang dia katakan. Tuhan tahu, aku telah melarangnya minum basi. Dia mabuk,” kata Rosa tersengal-sengal, lalu terisak-isak di bahu Andres, dan Andres mengelus rambutnya penuh kasih. 

Ya, boleh jadi aku mabuk. Namun Tuhan pasti tahu bahwa aku mengerti apa yang aku ucapkan. Seandainya paman Ciano hadir di sini pada saat itu, dia juga pasti mengerti bahwa aku paham dengan apa yang aku katakan. 

Aku segera mengucapkan selamat tinggal dan berjalan keluar. Sekali lagi kulihat anjing putih kurus yang sakit-sakitan. Aku merasa ingin menendangnya untuk selama-lamanya, tetapi udara di luar yang menerpa dari tanah lapang menyingkapkan celanaku. Aku segera melupakan anjing itu dan suatu perasaan baru yang menarik datang memenuhi hatiku. Aku merasa seakan-akan baru saja melampaui sebuah jembatan yang panjang, sempit dan sangat tinggi dengan selamat—sesuatu yang tak pernah dialami oleh teman-teman lain dari kelas Romo Sebastian.

Aku menghirup udara sore dalam-dalam, membuka dada dan memandang lurus ke muka. Aku bersiul, lalu bernyanyi dan berjalan pulang cepat-cepat. 

Dialih bahasakan oleh Endi Haryono

Calso Al Carunungan, lahir di San Pablo City-Pilipina, dari keluarga penulis-penerbit. Mendapatkan pendidikan di Universitas Columbia di AS. Mulai menulis sejak kecil. Tahun 1947, memenangkan hadiah pertama kontes penulisan cerpen di Pilipina. Tahun 1949 hijrah ke AS, menetap di New York dan terus menulis. Cerpen “LIKE A BRAVE BIG MAN” yang diterjemahkan ini adalah cerpen pertamanya yang diterbitkan di Amerika. (Matra, November 1991)


***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Calso Al Carunungan yang dialihbahasakan oleh Endi Haryono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi November 1991


0 Response to "Bagai Lelaki Besar Pemberani"