Bebintang Berjatuhan di Pangkuan | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Bebintang Berjatuhan di Pangkuan Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 13:03 Rating: 4,5

Bebintang Berjatuhan di Pangkuan

SEJAK dipecat dari pabrik tekstil karena diduga mencuri kain dari gudang, Mahmud bekerja sebagai tukang aduk pocokan di proyek bangunan. Terkadang ia berangkat seminggu, libur sebulan. Tekadang dapat menafkahi keluarganya sebulan, namun sering memaksanya prihatin tiga bulan. 

Melihat Mahmud sering tampak linglung di teras rumah, tetangga kiri-kanannya merasa iba. Terlebih saat Surti mencaci-makinya sesudah dua minggu tidak memberikan uang belanja. SPP bulanan anaknya yang selalu nunggak. Listrik di rumahnya yang disegel PLN karena telat melunasi iuran bulanan. 

Menanggung beban hidup yang semakin berat, Mahmud sering berpikir buruk untuk bunuh diri. Namun pikiran buruknya itu ditepis jauh-jauh, berkat petuah Kyai Naswan usai salat tarwih di surau. “Jangan suka berpikir buruk! Kamu akan tersesat di jalan iblis. Berpikirlah positif! Karena kamu akan mendapat cahaya Tuhan. Sekarang, pulanglah! Banyaklah mendarus Quran!” 

Mahmud keluar dari surau. Pulang ke rumah yang diterangi lampu minyak. Duduk di kursi bambu untuk merenungkan petuah Kyai Naswan. Tanpa menjenguk istrinya yang telah mendengkur, ia melangkah ke senthong. Usai mendarus Quran, Ia serasa bertemu dengan Tuhannya yang sekian lama tersingsal di bilik hati. 

Malam senyap. Mahmud mensujudkan tubuhnya serupa huruf yaí. Menadahkan kedua tangannya sebentuk bunga teratai. Memohon petunjuk pada Tuhan-nya. Di antara jaga dan tidur, ia menyaksikan bebintang yang mengambang di langit berjatuhan di pangkuannya. 

***
Menjelang azan subuh berkumandang dari surau, Mahmud terbangun. Usai salat subuh, ia kembali tidur. Belum sejam memejamkan mata, Surti membangunkan. ”Dicari Pak Darsuni, Kang.” 

Mahmud bangkit dari ranjang kayu. Tanpa membasuh muka di sumur yang bersebelahan dengan dapur, ia menuju ruang tamu. ìAda apa, Pak Dar? 

“Apakah hari ini kamu tak ada kerjaan?” 

“Bukankah Bapak tahu, kalau aku lama menganggur?” 

“Kalau kamu sedang nganggur, aku menawarkan pekerjaan. Merehab teras rumah Pak Nasri.” 

“Sungguh, Pak? Apa pun pekerjaannya, aku siap melaksanakan.” 

“Kalau begitu, mandilah! Kita berangkat sekarang.” 

Mahmud meninggalkan ruang tamu. Memasuki kamar mandi. Membasuh tubuh. Berganti pakaian. Sesudah memasukkan pakaian kerja di dalam ransel, ia keluar rumah. Membonceng motor Darsuni. Menuju rumah Pak Nasri. Anggota DPRD yang tersohor karena pelitnya. 

***
Sabtu sore. Langit di mata Mahmud tampak cerah. Hatinya berbunga-bunga, saat menerima upah enam hari sebagai tukang aduk. Dengan girang, ia memasukkan amplop putih berisi tiga lembar uang ratusan ribu ke dalam saku celana kerjanya. Karena mengejar waktu buka, ia berpamitan pada Pak Nasri. Pulang ke rumah. 

Setiba di halaman rumah, Mahmud merasa seperti pahlawan yang pulang membawa kemenangan. Disambut ceria di depan pintu oleh Surti yang tengah menunggu waktu buka. Waktu untuk menikmati hidangan yang dibeli di warung dengan uang pinjaman dari Kyai Naswan. 

Bergegas Mahmud ke kamar mandi untuk membasuh tubuh yang berlepotan bekas adukan semen, pasir, kapur, dan remukan batu bata. Mengenakan sarung, baju, dan peci. Berkumpul dengan Surti dan anaknya di ruang tamu yang sering dijadikan sebagai ruang makan. “Berapa utang kita pada Kyai Naswan?” 

“Seratus duapuluh lima ribu.” 

Mahmud beranjak dari kursi. Kembali ke kamar mandi. Di mana celana kerjanya menggantung di cantelan. Wajahnya pasi. Pandangannya berkunang-kunang. Sesudah ia mengetahui kalau amplop gajiannya raib di dalam kantong celana kerjanya yang bolong. Sebelum kembali ke ruang tamu, ia terjatuh pingsan. 

Melihat Mahmud pingsan, Surti berteriak meminta tolong. Tetangga kiri-kanan berdatangan. Mereka saling pandang, saat seorang lelaki asing yang baru turun dari mobil menggotong Mahmud untuk dibaringkan di ranjang. Mengusap-usapkan minyak kayu putih ke leher dan kaki Mahmud yang basah keringat dingin. 

Tetangga kiri-kanan masih bertanya-tanya tentang siapa lelaki yang memberi pertolongan pada Mahmud. Sebagian mereka menduga, kalau ia adalah juru penolong. Sebagian lainnya mengatakan, kalau ia adalah malaikat yang diturunkan Tuhan di bumi manusia pada setiap bulan Ramadan. 

Tengah malam, Mahmud siuman. Surti yang semula mencemaskan keadaan suaminya itu tampak senang. Melihat wajah istrinya yang menyerupai purnama di ufuk timur, ia heran. “Kenapa kamu tampak senang, Surti? Padahal kalau tahu kabar yang akan aku sampaikan, kamu pasti marah. Amplop gajianku terjatuh di jalan.” 

“Lupakan, Kang! Itu bukan rezeki kita. Surti memberikan dua amplop besar pada Mahmud dengan tangan bergetar. ìItu pemberian Pak Achmad yang menolong kamu sewaktu pingsan.” 

“Pak Achmad? Achmad, siapa?” 

“Pimpinan pabrik tekstil, di mana kamu pernah bekerja.” 

Bergegas Mahmud membuka amplop pertama. Mengetahui uang THR lima juta di amplop itu, ia serasa terlempar ke negeri mimpi. Ia semakin berbunga-bunga hatinya seusai membuka amplop kedua. Amplop berisi surat resmi yang menyatakan ia dipanggil kembali sebagai karyawan, karena tidak terbukti mencuri kain dari gudang. Dalam rasa syukur paling puncak, ia teringat kembali tentang bebintang di langit yang berjatuhan di pangkuannya. -k 

Cilacap, 28 Mei 2016 

Sri Wintala Achmad, menulis dalam tiga bahasa (Inggris, Indonesia dan Jawa). Sastrawan tinggal di Cilacap Utara, Cilacap, Jawa Tengah. Email: gununggampingindonesia@gmail.com.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Wintala Achmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 12 Juni 2016



0 Response to "Bebintang Berjatuhan di Pangkuan"