Brek | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber-Cerbung, Pantun, Cerpen Koran Minggu
Brek Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 07:58 Rating: 4,5

Brek

“SAYA bukan seorang profesional. Hanya pembisik yang gagal menjalankan tugas karena jatuh cinta. Perempuan itu menangis saat turun dari panggung. Perbuatan saya yang melalaikan pekerjaan mencoreng muka dan menjadikannya bahan tertawaan. Saya tidak takut dan tidak menyesal. Bukan apa-apa. Hanya saja, perempuan itu kalau sudah marah besar hingga menangis malah kian tampak cantik bukan main, ya.”

Brek hanya seorang tukang lampu dan set panggung saat bergabung di sebuah kelompok teater. Ia tinggal di kampung tidak jauh dari sanggar. Awalnya ia tidak sengaja datang dan melihat latihan. Telinganya asing saat mendengar nama-nama aneh disebut; Oedipus, Antigone, Jocasta, Ismene, dan yang lain, namun saat latihan diakhiri, Brek tanpa sadar bertepuk tangan tanpa mengerti sedikit pun Oedipus sesungguhnya bercerita tentang apa. 

Keesokan hari Brek mampir lagi. Saat orang-orang di sanggar kesulitan memindah properti, Brek refleks sigap membantu. Hari berikut dan berikutnya selain memindah level, daftar pekerjaannya bertambah menjadi menyapu dan mengepel lantai sebelum dan sesudah latihan, membikin teh, mengganti galon yang kosong dengan yang isi, hingga ia memberanikan diri bertanya apakah diperkenankan menyumbang tenaga kasarnya, tak digaji gede pun tak apa-apa sepanjang ia diizinkan menonton pertunjukan dengan gratis. Ia diperkenankan untuk itu.

Brek bekerja giat. Pertunjukan demi pertunjukan berjalan lancar salah satunya karena urun tenaga dari Brek. Bila sedang tak ada pertunjukan, Brek memiliki banyak waktu longgar. Pagi hari sekali ia bangun menuju perpustakaan. Ia membaca naskah drama Malam Jahanam milik Motinggo Boesye. Ceritanya menarik—Soleman benar bajingan tengik. 

Brek juga mengira-ngira bagaimana rasanya menjadi Klov dalam End Game-nya Becket yang tidak bisa duduk—apakah punggung dan engsel lututnya tak letih? Kemudian diam-diam ia membawa beberapa naskah ke kamar dan membaca naskah dengan lirih sambil bergaya. 

Ketekunannya membaca menarik perhatian si sutradara. Ia membaca drama Kura-Kura dan Bekicot dari Eugène Ionesco dan Brek mampu menyahut dialog dengan tepat tanpa perlu melihat naskah. Brek sesungguhnya tidak yakin saat mengatakan ya untuk berlatih sebagai aktor. Kakinya gemetaran hebat saat melangkah masuk tempat latihan. Lidahnya kelu. Orang-orang yang menyaksikan di bagian luar membikin Brek keder. Ia tak bisa mengatakan apa-apa kecuali “ah-uh-ah-uh” sembari terus mengusap keringat. Latihan yang sejatinya hanya berlangsung lima menit, baginya terasa seperti seabad. Begitu diakhiri, semua ingatan tentang dialog kembali mengalir lancar. Tak perlu diperjelas lagi; ia sama sekali tak ada bakat menjadi aktor. Brek kembali menjadi tukang lampu dan set panggung.

***
SAAT di sebuah latihan, Brek sedang mengencangkan kawat lampu ketika seorang aktor tiba-tiba terlupa bagian dialognya yang panjang. Sembari terus asyik memuntir, Brek menggumam tanpa sadar, ”Creon, ’Uang! Semua orang berkomplot melawanku lantaran uang! Bahkan para pertapa sudah mulai berkomplot hendak memerasku. Selama ini para penujum memperdagangkan diriku sebagai barang kodian. Bagus! Kumpulkanlah semua emas di jagat. Tak akanbisa dibeli keputusanku! Mayat itu dilarang dikuburkan! Apakah aku bisa percaya begitu saja bahwa dewata bisa dinodai sembarang manusia? Bukankah Dewa itu tinggi dan tidak bernoda? Tetapi kamu mokal-mokal saja. Memutarbalikkan semuanya. Dan barangkali hanya lantaran harta‘.“

Karena payah berakting, sejak hari itu Brek didapuk sebagai seorang pembisik. Saat pertunjukan ia akan bersembunyi di balik layar, atau di belakang dinding, atau di tempat gelap untuk membantu mengucapkan dialog salah seorang atau beberapa aktor melupakan kalimat. 

”Kalau aku boleh berpikir, maka inilah pikiranku. Tuan, aku sudah di sini begitu lama. Tidak pernah memikirkan akan mengubah hidupku. Tuan tidak usah heran. Sebab, masa depan ialah kabut bagi kita. Semuanya masih gelap. Kita dihadapkan pada kerahasiaan yang diam, tetapi yang selalu siap untuk menelan kita. Aku tidak suka bertualang. Aku memilih tinggal di hutan ini, di sini tidak ada rahasia. Tidak ada kecemasan. Sementara waktu berlalu.“

Brek membisikkan dialog Fatmah dari naskah ”Tidak Ada Waktu Buat Nyonya Fatmah, Barda, dan Cartas“ dari Kuntowijoyo. Lain waktu ia membisikkan bagian Gadis dari naskah ”Kisah Cinta Hari Rabu“ yang diilhami dari cerita pendek Anton Chekov: “Terima kasih, Tuan. Tak lain dan tak bukan, alangkah sedapnya kata-kata itu. Sudah kuduga sebelumnya bahwa hari ini adalah hari yang menentukan bagiku. Hari Rabu yang bahagia, yang penuh rahmat. Kawin alangkah indahnya kata-kata itu. Dan tamu yang datang itu masih muda, tidak terlalu bobrok juga wajahnya. Ooh, alangkah manisnya dunia ini. Dia akan jadi suamiku, betapa bahagianya.”

Juga lakon dari Jean Annoulih yang telah disadur ke dalam judul ”Pesta Para Pencuri“: “Sorijuga. Tapi kau mesti ingat, bisnis is bisnis,love is love, copet is copet. Jadi pisahkanlah antara yang satu dengan yang lainnya. Ambilah kesempatan ini sebaik-baiknya. Sesal kemudian tak berguna. Gajah di pelupuk mata harus kelihatan. Semutdi seberang lautan tak kelihatan tak apa-apalah. Kau mengerti pepatah itu? Coba pikirkanlah. Dan hilangkanlah praduga yang mengakibatkan perasaan kita menjadi tak menentu terombang-ambing oleh cinta yang setengah matang.“

***
Suatu hari demi sebuah pertunjukan megah, seorang aktris kenamaan turut mengambil bagian. Menurut sutradara sesungguhnya perempuan itu berotak udang dan berekspresi membosankan, namun kecantikannya mampu menyihir penonton yang akan bertepuk tangan gembira bahkan ketika ia bersin—seolah sedang mendengar petikan harpa dari surga atau bagaimana. Brek tidak ambil pusing dengan segala pertimbangan sutradara dan ketololan si aktris, sang Dewi, ia hanya terpesona pada kecantikannya. Luar biasa. Gingsulnya yang muncul saat tersenyum, lesung pipinya, cekikihan tawanya, jari lentiknya, dan kelambanan otak dan daya ingat yang hanya dipenuhi dengan merek parfum dan busana rancangan desainer ternama dan bukan deretan kalimat naskah, membikin Brek merasa pekerjaannya menjadi begitu istimewa. 

Aktris tersebut enggan mengingat dialog bagiannya—memegang dan membaca naskahpun hanya saat di ruang latihan. Saat rehat, di ruangan yang khusus disediakan untuknya, sang Dewi mengeluh panjang laluberseru memanggil Brek. Sementara ia tiduran, Brek duduk di sebelah membacakan naskah. Begitu si aktris benar-benar jatuh tertidur, Brek tetap membaca pelan-pelan seraya menikmati wajah cantiknya. 

”Aku baru tahu, otak kosong ternyata masih ada gunanya selama kau memiliki wajah ayu.“ Seorang aktor menggerutu sembari mengisap rokok saat Brek keluar kamar. 

”Ia menjadi benar-benar tergantung padamu, Brek,“ sahut aktor yang lain lagi. ”Tak perlu menjadi laki-laki tampan dan kaya, cukup menjadi seorang Brek dan seorang diva bertekuk lutut di bawah ingatanmu yang tajam dan kuat bukan main.“

Tak bisa dipungkiri cuping hidung Brek mekar-kuncup dan hatinya gembira saat menyadari bahwa yang dikatakan orang-orang mengenai si aktris yang sangat membutuhkannya itu benar adanya. 

***
SAAT pertunjukan aktris tersebut berdandan sangat cantik. Laki-laki manapun yang melihatnya pasti akan meleleh hatinya. Terlebih Brek. 

“Saya bukan seorang profesional. Hanya pembisik yang gagal menjalankan tugas karena jatuh cinta.”
Brek bersiap di tempatnya yang gelap. Pertunjukan dimulai. Sang Dewi masuk masih agak nanti. Adegannya ia cemas berlari karena dikejar seorang pria yang tergila-gila padanya. Brek berandai-andai, seumpama ia memiliki kemampuan berakting mumpuni, ia ingin menjadi lawan main sang Dewi—setelah berhasil menangkap, perempuan itu dipeluk dan dihujani ciuman yang segera ditepis keras.  Kena tampar bukan masalah bagi Brek, itu hanya akting dan yang terpenting ia bisa memeluk tubuh perempuan tersebut. 

Sekarang perempuan itu masuk. Ia berlari-lari dan dadanya bergoyang-goyang, aduh. Taburan bedak berkilauan di bagian atas pakaian yang berpotongan leher rendah membikin napas Brek sesak. Brek memperhatikan, sebagian besar penonton laki-laki kini melongo dengan jakun bergerak naik turun. 

Sang Dewi mengucapkan kalimat awal dengan lancar.Brek mengganti posisi duduk menjadi tengkurap dan menyangga kepala mengunakan dua tangan. Seperti remaja kasmaran, tatapannya tak lepas dari wajah ayu dan tubuh molek sang Dewi. Ia lupa daratan—tak melihat apa-apa kecuali Sang Dewi dan tak mendengar apa-apa termasuk juga desis makian Sang Dewi. 

Lawan main sedang mengucapkan dialog panjang miliknya. Perempuanitu berbisik sembari berdesis bertanya apa kalimat miliknya berikutnya. ”Brek... ssstt.... heh!“

Pikiran Brek sedang tak berada di tempat seharusnya. 

”Ah, eh, ah, uh... kau....“ Perempuan itu menjawab gagu.

Lawan main membantu dengan mengucapkan dialog dengan harapan perempuan itu mampu mengingat dialog berikutnya tanpa bantuan Brek. Dasar otak udang, tak ada yang bisa dikatakannya. Begitu terus hingga para penonton bergumam mengomentari sang Dewi yang kini berdiri dengan keringat membanjir di sekujur tubuh—bahkan sampai membuat sebagian make up­ luntur.

Seorang penonton yang berani berujar dengan agak keras, ”Memang tolol ia.“

Sang Dewi tak dapat menahan diri. Ia menangis dan memaki ke arah sebuah sudut gelap, ”Bajingan kau, Brek!“ sebelum berlari keluar panggung. Suasana menjadi riuh. 

Brek tergeragap tersadar. Ia menunggu agak sedikit lama sebelum kemudian beringsut keluar dengan penuh rasa cemas. Si sutradara yang barusan turun panggung menenangkan penonton, menepuk pundak pemuda itu.  ”Pertunjukan yang bagus, Brek. Aku senang kau mengambil keputusan yang tepat,“ katanya.

Brek tak tahu apakah sutradara itu sungguh memuji tindakannya atau sedang berkata satir. 
Liputan pertunjukan di koran dan majalah mengatakan hal-hal yang buruk terutama mengenai sang Dewi. Orang-orang yang membaca cenderung senang dengan berita yang demikian. Sekarang sudah saatnya kesenian tidak lagi hanya mengandalkan wajah cantik dan tubuh molek—intelektual juga perlu, sangat penting malah, kata mereka. Dan sebagainya. Dan sebagainya. 

Brek tidak membaca berita. Ia cukup mendengar dan mengenang sang Dewi sebagai wanita cantik, bersuara merdu, tubuh wangi, desah manja,menggemaskan meski wajahnya penuh air mata berlinang-linang dan segalanya yang baik-baik.

“Saya memang bukan seorang profesional. Tapi, hati saya bahagia.” []

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Desi Puspitasari
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Solo Pos" Minggu 26 Juni 2016

0 Response to "Brek"