Catatan Senja - Pada Bulan Sabit - Bersatulah Wahai Warna - Kepada Pembatas Imsyak - Merangkai Kejadian - Jendela Subuh - Air Mata | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Catatan Senja - Pada Bulan Sabit - Bersatulah Wahai Warna - Kepada Pembatas Imsyak - Merangkai Kejadian - Jendela Subuh - Air Mata Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 02:16 Rating: 4,5

Catatan Senja - Pada Bulan Sabit - Bersatulah Wahai Warna - Kepada Pembatas Imsyak - Merangkai Kejadian - Jendela Subuh - Air Mata

Catatan Senja

Tangan-tangan kecil
mencatat jejak langkah
keindahan senja di ujung hari
menarikan jemari yang usang

Pada ujung pelangi
tetap dijaga dalam nafas
menjadi satu untuk perjalanan
tarian zaman semakin tertinggal jauh

Di pertigaan bumi
masih sama untuk dihitung
bagian ini, masih ada
menunggu roda berhenti
: Lampu merah menyala

Pada Bulan Sabit

Semua orang masih menunggu
dengan mata yang mengambang
permainan waktu terus menjadi prasasti

Tetap sama memberi tanda
pada awal berjabat mata
bulan terjaga di antara awan

Sore tetap datang
seperti biasanya berjalan
menggenapi hari telah pasti

Bersatulah Wahai Warna

Warna yang bertebaran di jagat raya
guratan melingkar kanvas luas
memberi lukisan alam begitu indah
memenuhi segala permainan coretan
memberi tanda : Semua berjalan sempurna

Kepada Pembatas Imsyak

O, pembatas itu masih melingkar-lingkar
dengan jarak tergambar dalam bentangan
tetap masih samar menjalani batas bayangan
di antara pertanyaan yang terus berlari
menuju akhir permainan nafsu

Merangkai Kejadian

Biarlah, semua akan membagi
perjalanan dalam hitungan satu
kembali pada mula dilahirkan

Pada telinga , kembali mendengar
hati membatu , meleleh
kaki kaku, melangkah
otak membeku, berpikir

Mengumpulkan kejadian
dalam langkah kekalahan
kembali pada kefanaan, biarlah!

Jendela Subuh

Jendela yang tertutup rapat
angin terus bergerak mengoyak pagi
membawa kabar salat lebih mulia
daripada tidur yang tak bermakna

Milik siapalagi jendela tertutup rapat
kalau hanya mencari mimpi pada dingin
selalu menawarkan selimut dunia
pada kefanaan yang selalu menggoda

Masih sama, dalam pencarian
untuk membuka jendela
selalu memberi kedamaian
tak pernah bisa dihitung dunia

   Padhepokan Djagat Djawa, Magelang puasa 2016

Air Mata

Di setiap jengkal
pada sajadah panjang
mengurai keterasingan jarak
kembali menjadi saksi
membasahi bumi tandus
      Padhepokan Djagat Djawa, Magelang puasa 2016



Triman Laksana, menulis dalam bahasa Jawa dan Indonesia. Tahun 2012 mendapat Penghargaan Sastra untuk Pendidik Nasional, dari Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Pusat Bahasa) Kemendikbud. Buku Antologi Geguritan ‘Sepincuk Rembulan’ mendapat Penghargaan Sastra Rancage 2015. Novelnya ìMenjaring Mata Anginî (Penerbit Maharsa, Yogyakarta, 2015). Mengelola Padhepokan Djagat Djawa (Komunitas Sastra Magelang). Tinggal di Soto Citran. Jln Raya Borobudur Km 1. Citran. Paremono. Mungkid. Magelang 56551



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Triman Laksana
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kedaulatan Rakyat" Minggu 26 Juni 2016

0 Response to "Catatan Senja - Pada Bulan Sabit - Bersatulah Wahai Warna - Kepada Pembatas Imsyak - Merangkai Kejadian - Jendela Subuh - Air Mata"