Dewi Manyar Putih - Jaka Paksi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dewi Manyar Putih - Jaka Paksi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:24 Rating: 4,5

Dewi Manyar Putih - Jaka Paksi

Dewi Manyar Putih

cinta,cintaku, yang tak kenal lekang,
yang sebandel alang-alang dalam cerita riang
hanya bersarang dalam dongeng, dalam dongeng belaka

tapi seorang lelaki asing
yang datang dalam mimpi perempuan
tiga hari berturut-turut
dengan kembang dan hati yang mengembang
mana mungkin tak berdiam dalam dongeng?

seekor naga jahat menyaru menjadi lelaki yang lain
dan seorang lelaki jelmaan naga menyaru jadi matahari
"namaku bagaskara, dan aku tak pernah
mengenal senja, seperti aku tak akan berada
di ufuk timu, ufuk kaum jajahan"

seorang pangeran yan kehilangan tuah ciuman
namun senantiasa menemukan cara untuk bangkit dari kematian
yang matanya mampu menangkap segala kecantikan dari kematian
yang matanya mampu menangkap segala kecantikan, juga yang paling samar,
bahkan yang tersaput kerentaan dan kerentanan
berujar, "aku datang dari negeri orang-orang tidur
demimu semata, demimu manyar putih"

ia bukan bapak bangsa,
ia tak mampu berpidato di lapangan raksasa
tapi ia tahu mendatangkan malam
lalu mengabadikannya (namanya jaka lintang, dan
seperti bintang-bintang, cahayanya tampak hanya ketika gelap tiba)
dan seekor naga, naga terakhir di semesta itu
akan segera menghilang, kembali ke apa
yang hanya ada dalam kekata tanpa makna

barangkali hanya mereka
orang-orang yang bisa bahagia
di luar semesta dongeng
tak peduli seorang penyair nyinyir
tak jemu-jemu menulis:
burung dan bintang tak pernah bisa disebut orang, tak pernah


Jaka Paksi 

"seorang kakang, bagaskara, dari seorang perempuan
akan selamanya jadi pepalang
bagi siapa saja yang ingin mencuri jantung adiknya"

lakon tak akan usai
sebelum ia dua kali mengucap kalimat itu
di depan lelaki yang sama
dan dua perempuan yang seakan berbeda

"jaka paksi, jaka paksi,
kukira paruhmu belaka yang terbuat dari besi
tapi otakmu begitu pula"

"matamu lamur, bagaskara
ilmumu secetek kali gulutan
dan mulutmu selebar batara kala
kembalilah ke asalmu, ke sekolah para keledai"

tapi bagaskara tak kembali
ia pernah kehilangan perawan jelita
dan kini tak ingin melepas seorang perawan tua buruk rupa

dan jaka paksi menabur duri bambu
sepanjang jalan

dan bagaskara terluka dua kali
dengan cara yang serupa


Dadang Ari Murtono lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya, antara lain, Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015)

Rujukan:
[1] Disalin dari karya DadangAri Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Koran Tempo" akhir pekan 11-12 Juni 2016

0 Response to "Dewi Manyar Putih - Jaka Paksi "