Dunia Hitam Putih | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Dunia Hitam Putih Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:06 Rating: 4,5

Dunia Hitam Putih

AKU menyibak rambutku dengan gusar. Seketika mataku berlarian ke sana, ke mari, berharap seseorang segera menemukanku. Aku mengusap bibirku dengan jari telunjuk, mencoba untuk tenang. Sesegera mungkin aku melihat jam. Jarum panjang sudah menunjuk angka 9. Namun, aku ragu, apakah ini pagi atau malam. Semuanya terasa hitam putih di sini. Sudah waktunya aku pulang setelah siapa pun seseorang yang dapat menyelamatkanku masuk ke dalam ruangan gila yang membuatku sesak nafas. Aku berada di tengah-tengah khalayak banyak, bahkan --karena mungkin aku yang terlalu pendek-- orang-orang bermasker itu menabrakku dengan seenaknya.

LAGI-LAGI mataku bermain. Melihat betapa anehnya dunia ini. Gedung pencakar langit, orang-orang memakai masker tanpa adanya sebab akibat mengapa mereka memakai itu. Aku ingat, aku tergerus oleh waktu sampai akhirnya aku masuk ke dalam zona tidak nyaman ini. Ingin rasanya aku keluar. Begitu seramnya melihat orang-orang bermasker itu terus saja berjalan mengejar waktu. Tak ada sapaan, tak ada kata permisi seperti yang dulu selalu mereka lakukan, tidak ada senyuman pagi karena wajah mereka tertutup masker. Tubuhku gemetar saat mendengar derap langkah kaki dari ujung jalan. Aku berusaha untuk tidak takut akan apa yang sebenarnya terjadi. Aku takut di sini. Ingin rasanya keluar menembus zona waktu dan mengembalikanku ke alam sebenarnya aku ada. Aku yakin dia, seseorang itu, menemukanku karena hanya aku yang berwarna di sini. Sudah kubilang, semuanya terasa hitam putih, tak berwarna. Lagi, aku melihat jam tanganku. Masih sama, jarum jam menunjukkan angka 9. Bahkan jarum jam tak bergerak seinci pun. Begitu juga aku yang malah diam mematung, menakuti semua yang ada di dunia aneh ini. Aku mencoba untuk tersenyum kepada mereka yang berjalan di skeitarku, tetapi tak ada balas. Sial, aku ingin keluar dari sini.

**
"HAI". Suara berat itu terdengar menyeramkan di telingaku. Aku tahu, dia laki-laki yang datang untuk menyelamatkanku. Aku membutuhkannya untuk membawaku pulang dari sini. Aku melihat wajahnya dengan cermat. Dia hitam putih. Laki-laki itu tersenyum remeh melihat tubuhku yang semakin bergetar. Suara gemuruh dari gedung pencakar langit di sebelah utara membuatku terkejut. Aku dan dia, laki-laki itu, menoleh secara bersamaan. Kulihat ada bom yang meledak dari atas sana. Orang-orang bermasker itu berlarian tanpa memedulikan satu sama lain. Aku memainkan kepalaku, menoleh ke kiri dan ke kanan. Tak ada satu pun orang yang sedang berjalan ini peduli bom itu.

Aku ingin berlari, tetapi tangan laki-laki itu sudah menarik pergelangan tanganku lebih dulu. Aku mengerutkan kening. Tak bisakah ia lihat banyak orang berjatuhan dari atas gedung pencakar langit itu? Tidak bisakah ia bersimpati kepada orang-orang yang sudah terkulai lemas itu? 

Aku menutup hidung dengan tangan kiriku, mengingat tangan kananku masih digenggam olehnya. Bau anyir menyusup ke dalam hidungku secara perlahan. Kulihat dia juga menutup hidungnya. Aku memberontak, tetapi dia tetap menggenggam erat tanganku. Aku memandang seorang laki-laki muda perkasa bermasker yang jalan di sampingku. Dia menoleh ke arahku melalui celah matanya yang tertutup poni panjang.

"Kau tidak ingin membantunya? Di mana hatimu?" Aku berteriak lantang. Laki-laki muda perkasa itu hanya memandangku dari atas sampai bawah, lalu berjalan melewatiku dengan santainya. Aku terbengong kaget. Cukup habis kesabaranku. Oh sial, dia masih menggenggam tanganku dengan sangat kuat.

"Bisakah kau melepaskan tanganku?" tanyaku setengah mendesis. Kesal.

Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Suara beratnya mulai terdengar parau. Aku juga bis amelihat kedua matanya sibuk mencari sesuatu. Lagi-lagi, aku bergetar hebat saat melihat seorang wanita paruh baya dengan kasarnya ditendang oleh anak-anak muda. Bukan, bukan ditendang, tapi tertendang mungkin. Aku tidak begitu yakin. Laki-laki itu menarikku untuk mendekati hingga aku bisa melihat apa yang terjadi.

**
JALAN aspal menggeser seketika. Aku menyibak rambutku kembali dengan gusar. Mataku bermain, berkeliling melihat bumi yang bulat. Aku terperangah. Tidak ada lagi gedung pancakar langit. Tidak ada lagi orang-orang bermasjer. Tidak ada lagi bau anyir yang sempat membuatku mual. Laki-laki yang masih setia menggenggam tanganku itu sedikit mengeratkan genggamannya, mencoba mengalihkanku ke zona lain. Aku menatap lurus ke depan. Sebuah teknologi berbentuk persegi digenggam erat oleh orang-orang yang masih berlalu lalang gang sempit. Aku dan dia, laki-laki itu, memperhatikan mereka dari jarak yang cukup jauh.

Aku merasakan dadaku berdesir nyeri sata orang-orang memegang benda kotak itu tidak menghiraukan wanita paruh baya yang sedang duduk di pinggiran. Seperti yang kudeskripsikan sebelumnya, mereka menendang, tak acuh. Bahkan aku melebarkan mata saat melihat ada salah satu dari mereka yang dengan santainya menginjak kaki wanita paruh baya itu karena menghalangi jalan. Tidak. Ini tidak boleh terjadi.

Semuanya masih hitam putih. Aku memainkan jari jemari. Aku gelisah. Aku termakan zona menyeramkan ini. Seharusnya manusia itu saling menghargai. Seharusnya manusia itu saling melempar sapaan dan sopan santun/

Suara ledakan lagi-lagi menyadarkanku. Wanita oaruh baya itu tergeletak dengan badan sudah membusuk dan raut wajah yang terlihat sedih. Atau, hanya aku yang dapat melihatnya?

"Dia menghalangi jalan kita. Baguslah kalau dia sudah tiada."

Itu sbeuah bisikan, tapi aku masih bisa mendengarnya. Entah mengapa suara bisikan itu terdengar begitu kasar di telingaku. Dadaku bergemuruh kesal. Aku berusaha ingin menolong wanita paruh baya yang sudah diperebutkan lalat, tetapi tanganku masih saja digenggam erat oleh laki-laki itu. Aku mencoba memberontak, tapi kekuatannya lebih besar daripada kekkuatanku.

**
TANAH yang kutapaki ini bergetar. Aku menutup mata saat laki-laki itu menarikku dengan kecang ke dalam zona baru. Aku membuka mata. Tak ada lagi wanita paruh baya yang sudah menjadi bangkai. Tak ada lagi benda berbentuk persegi yang sudah mengalihkan mata orang-orang dari dunia nyata. Tapi, semuanya masih terasa hitam putih.

"Kau takut?"

Suara beratnya membuatku terpaksa harus menyadari di mana lagi sekarang aku berada. Aku melirik melalui ujung mata. Laki-laki itu tersneyum remeh kepadaku. Sungguh menjengkelkan. Namun, tak dapat dimungkiri, aku sangat takut berada di dunia hitam putih ini. Aku ingin mataku kembali normal. Aku ingin duniaku kembali berwarna. Ini menakutkan. Zona ini membuatku tak nyaman. Laki-laki itu mengarahkan telunjuk ke ujung ruangan. Aku baru sadar jika aku dan dia berada dalam ruangan dengan hanya satu meja dan satu kursi di tengah ruangan. Sial, bahkan warna tembok dan alat-alat itu saja menjadi hitam putih.

"Bagaimana kerjamu hari ini? Berapa uang yang kaudpaat?"

Aku mendnegar percakapan kedua suami istri itu. Kurasa zona ini lebih bersih dari zona sebelumnya. Aku menyipitkan mata saat sang suami mengeluarkan koper besar dalam tas kecilnya. Tak habis pikir, bagaimana mungkin koper sebesar itu bisa masuk ke dalam tas kecil. Aku melirik ke samping. Dia, laki-laki itu, masih setia menatap adegan yang terpampang di depan kami.

"Banyak, tentu saja. Aku bisa membelikanmu apa pun yang kau mau. Rakyat malang itu sudah memberikan banyak sekali uang kepadaku hari ini. Ah, atau mungkin mereka terlalu bodoh?" jawab snag suami.

Aku mengerutkan kening. Rakyat malang? Rakyat bodoh? Setelah itu aku melihat mereka tertawa bersama. Sungguh, tawanya bagai iblis yang sudah berhasil memengaruhi manusia untuk berbuat dosa. Aku geram. Tubuhku sudah tidak bisa ditahan lagi. Aku memberontak sebisa mungkin supaya lepas dari genggaman laki-laki itu. Kekuatanku semakin besar emlihat sepasang suami istri itu menyebarkan uang hingga tersebar di semau sudut ruangan. Mereka bahagia. mataku menangkap banyaknya sosok orang yanng berdiri di ujung ruangan itu dnegan tampang memelas. Aku terhenyak kaget, bukankah tadi orang-orang itu tidak ada?

Amarahku semakin menjadi-jadi saat orang-orang bertampang melas itu tidak bisa berbuat apa-apa. Aku terlepas dari genggamannya. Aku berlari, menghampiri pasangan suami istri itu. Tapi, ruangan itu semakin menjauh. Lantai pun bergetar hebat, membuat aku menoleh ke belakang, melihat laki-laki itu, tapi akhirnya aku terjatuh.

"Rika bangun..."

Aku terbangun dengan cepat mendengar suara berat itu. Mataku etrbuka lebar. Amarahku masih ada, tapi yang kulihat hanya tumpukan buku-buku yang berjajar rapi di rak perpustakaan. Aku melihat sekelilingku. Hanya ada orang-orang yang saling menyapa untuk menanyakan sesuatu. Hanya ada orang yang masih sempat  mengucapkan kata permisi walaupaun di tangannya tergenggam benda berbentuk persegi yang sudah canggih. Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela perpusatakaan. Ah, ternyata masih ada orang yang dengan senang hati memberi sleembar uang kepada orang lain yang membutuhkan. Aku melihat gedung pencakar langit lalu tersenyum remeh. Kuharap mereka bekerja dengan baik di sana.

"Kau tertidur selama setengah jam."

"Hah, aku suka dunia penuh warna seperti ini."

"Apa yang kau katakan? Setelah tidur, kau maish mengigau?"

Aku menggeleng. Untung saja tadi hanya mimpi. Namun, kurasa, dunia mungkin sebentar lagi akan menjadi hitam putih, tidaka danya kepedulian satu smaa lain. Oh, semoga saja itu tidak pernah terjadi.***

Hani Widiani, tinggal di Tangerang, Banten.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hani Widiani
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 12 Juni 2016

0 Response to "Dunia Hitam Putih"