Gandasturi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Gandasturi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 15:00 Rating: 4,5

Gandasturi

PINTU diketuk orang. Barangkali sudah lama bunyi ketukan itu. Saya bangun berdebar-debar. Sudah dua minggu ini detak jantung saya terasa lebih cepat. Apa saja dapat membuat detak ini jadi cepat. Yang kemudian diikuti rasa was-was. Apa saja dapat membuat saya was-was. Ketika melangkah ke ruang tamu, adik saya, Sri, ikut bangun. Lalu duduk bengong. Sambil mendahului keluar, dia bergumam tak jelas, lalu buru-buru masuk ke kamar untuk tidur lagi. Jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Saya berusaha mengatur napas. Sambil menyapa siapa yang ketuk-ketuk pintu yang kemudian ada sahutan dari luar, gerendel saya putar dan pintu saya buka.

“Kami petugas,” kata seorang lelaki yang lalu masuk tanpa menunggu saya persilakan lebih dulu.

“Ibumu melarikan diri. Kami harus menemukannya kembali secepatnya,” sambungnya.

Mendengar hal ini saya gemetar seketika. Saya tak mampu berkata-kata. Saya terduduk. Serta-merta petugas itu masuk ke kamar tidur dan memeriksa ruangan. Selimut adik-adik disingkapkannya. Sri melompat dan berdiri mematung merapat tembok sambil menggigiti kedua jari-jari tangannya. Tubuhnya gemetaran dan air matanya deras mengalir, tapi suara tangisnya dia telan. Adik saya yang laki, Ton, melungker pulas. Sedang Si Kembar, Pipin dan Nining, berpelukan di lantai karena kegerahan kalau bertahan di kasur. Petugas itu tiarap dan menyemprotkan senter ke kolong dipan. Korden yang menggumpal disibakkannya. Lemari pakaian dibukanya lebar-lebar dan diaduk-aduknya isinya. Lemari dapur, kamar mandi, tak ketinggalan diperiksanya. Lalu petugas itu kembali ke kamar tamu dan disambut seorang temannya yang mencari Ibu di luar. Boleh jadi petugas itu memanjat pohon dan menggoyang-goyang cabangnya. 

“Plafon,” kata petugas pertama yang membuat petugas kedua langsung mencari lubang plafon. Meja kamar makan diseretnya ke bawah lubang plafon, setelah segala sesuatunya yang ada di atasnya disingkirkannya. Lalu diambilnya satu kursi ditaruhkannya di atasnya dan ia memanjatnya. Senternya memeriksa seluruh ruangan plafon. Ia lalu turun dan mengembalikan meja dan kursi itu tanpa berkata apa pun. Ini artinya tak ada Ibu bersembunyi di atas sana. Kedua petugas itu sejenak duduk di kamar tamu, lalu seorang di antaranya berkata kepada saya:

“Ibumu lari ke sini, kan?”

“Tidak, Pak,” jawab saya gemetar. “Kapan Ibu lari, Pak?”

“Ibumu punya saudara, kan? Di mana saja?”

“Di Rawamangun … Gandaria … Kalideres.”

“Ibumu paling sering ke mana?”

“Tidak tentu, Pak.”

Sebelum kedua petugas itu membawa saya, saya pamit pada Sri yang masih gemetaran mepet tembok di kamar tidur, isaknya kedengaran lirih. 

“Sri. Jika Subuh nanti saya belum datang, kamu yang menggoreng kue. Awas, jangan sampai gosong.”

Jip hardtop yang reot itu menggeram seperti sedang menenggak bensin sepuasnya, membawa saya di antara dua petugas itu. Saya tidak habis mengerti bagaimana mungkin Ibu bisa melarikan diri dari selnya. Seingat saya belum pernah ada seorang wanita yang berhasil melarikan dari dari penjaranya. Dalam hati, saya justru menyalahkan penjaga yang lalai itu yang tak becus menjaga satu orang cuma, lagian seorang perempuan tua. Seandainya Ibu jagoan, juga tetap sulit untuk bisa lolos begitu saja tanpa diketahui.

Apa pun usaha Ibu—yang akhirnya dipisahkan di satu sel, sendirian, karena tak mau makan-tak mau minum-tak mau tidur-tak mau ngobrol, hingga wanita-wanita teman sepenjara lainnya ketakutan, yang kemudian memrotes dan memaksa supaya Ibu dikucilkan—ketika mencoba membuka gembok sel yang cukup membutuhkan waktu, pasti diketahui penjaga.

Setiba di sel Ibu, saya dapati gembok sel itu terkunci. Ketika saya mau memegangnya, petugas melarang. Lalu saya diperingatkan untuk tidak menyentuh apa pun. Saya undur dan memandangi sel itu berjarak. Petugas bercerita bahwa ketika Ibu melarikan diri, diketahui gembok itu tetap terkunci. Itu bisa saja terjadi ketika seseorang berhasil keluar dari sel, ia menutup pintu dengan menguncikan gembok kembali. Hanya saja, biasanya tidak mungkin itu sempat dilakukan, mengingat sangat terbatasnya waktu. 

Semua penjaga pada malam ketika Ibu melarikan diri, diperiksa. Mereka tampak keluar masuk ruangan, yang membuat suasana kelihatan agak sibuk. Saya diizinkan duduk di lantai teras, menunggu di situ. Taman penjara yang cukup luas itu dipenuhi tanaman dapur—tomat, kacang panjang, cabai, kangkung, bayam—yang barangkali saja Ibu ikut menanamnya. Paling tidak ikut menyiraminya. Pemandangan ini menyegarkan, yang membuat saya mengantuk. Saya menyandar di tiang kayu. Angin membuai. Sampai petugas membangunkan saya dan menyuruh saya masuk. Jam di dinding menunjukkan waktu yang memberi tahu saya sudah tertidur selama satu jam. 

Pertanyaan-pertanyaan yang sudah diajukan petugas di rumah, ditanyakan kembali di kantor penjara ini. Apakah Ibu lari ke rumah untuk menemui anak-anaknya. Mungkinkah Ibu lari ke saudaranya. Ke saudara yang mana Ibu biasa pergi. Apakah Ibu suka pinjam uang dari saudaranya. Selain saudara di Jakarta, di mana tinggal saudaranya yang lain. Di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, atau di mana di luar Jawa. Yang selalu ditegaskan petugas adalah bahwa saya harus berkata jujur, ke mana Ibu lari. Tetapi dari semua pertanyaan yang diajukan kepada saya itu, tersembul satu pertanyaan yang tetap menjadi rahasia yang saya ajukan namun petugas tidak mau menjawabnya, yaitu bagaimana cara Ibu melarikan diri. 

Ya, bagaimana cara Ibu melarikan diri. Apakah Ibu membuka gembok dengan peniti atau kawat atau apa. Apakah Ibu sungguh bisa melakukannya. Kenapa Ibu menutup pintu lalu menggemboknya lagi. Ibu sungguh sempat berbuat seperti itu? Kenapa penjaga tak mengetahuinya. Ke mana penjaga pada waktu itu. Dari semuanya itu tentu tidak selesai begitu saja, sebab Ibu masih harus melewati sel-sel yang berisi teman-teman sepenjaranya yang tentu tak semuanya sedang tidur. Setelah lolos dari semuanya itu, Ibu harus memanjat tembok. Bagaimana cara Ibu memanjat tembok. Ya, bagaimana? Ibu harus menegakkan tangga dulu. Dari mana Ibu mendapatkan tangga. Begitu Ibu sampai di atas, tentu para penjaga di menara sedang pulang, lalu meluncurlah Ibu ke bawah. Meloncat? Saya rasa teori yang paling mendekati adalah bahwa Ibu berhasil menerobos sejumlah pintu dan sejumlah penjaga yang sedang tidur. Ibu lalu membuka gembok pintu dengan kawat atau semacamnya dan kabur. Sungguh, seperti itu? Aneh, para petugas tidak bersedia sama sekali memberi keterangan.

Ibu dikenakan hukuman dua tahun, dan ketika baru di dalam penjara dua minggu, Ayah, seorang pegawai negeri, meninggal kena serangan jantung. Praktis seluruh tanggung jawab keluarga berpindah ke pundak saya, seorang yang hanya jebolan SMA, yang belum bekerja. Dengan empat adik-adik kecil, Sri (kelas satu SMP), Ton (kelas enam SD), dan Si Kembar, Pipin dan Nining (masih di TK), saya putuskan jualan kue untuk menyambung hidup. Sri dan Ton, yang tak mungkin melanjutkan sekolahnya, dengan saya bergantian berbelanja, membuat dan menggoreng kuenya. Dari kue Gandasturi, yang terbuat dari kacang hijau dan gula merah, dibentuk bundar kecil yang dilapisi terigu, lalu digoreng, inilah napas kami sehari-harinya. 

Warung Gandasturi kami buka jam enam pagi, dengan harapan anak-anak sekolah pada sarapan kue ini. Lumayan juga, sasaran kami mengena. Ada saja yang beli. Termasuk bapak-bapak. Ada yang membeli untuk dimakan sambil jalan ke kantor. Begitu habis, kami menggoreng lagi. Terus-menerus. Sampai pada waktu ashar masuk, biasanya, alhamdulillah, warung kami tutup. Setelah salat, saya tidur siang untuk satu-dua jam. Sedang Sri dan Ton menyiapkan kue setelah isya, sambil terkantuk-kantuk. Terus terang, saya tidak memiliki naluri dagang, hingga hasilnya sering acak-acakan. Sri lah pemilik warung ini yang sesungguhnya. Dia bisa mengatur uang dengan baik.

Putusan pengadilan yang mengurung Ibu dua tahun penjara sungguh suatu pukulan telak bagi keluarga kami. Ayah langsung jatuh sakit yang obat apa pun tak mampu menolongnya. Sandal jepit saya yang membawa tanah kuburan yang merah warnanya itu masih saya bersihkan di keran kebun ketika Sri tiba-tiba jatuh pingsan di dapur. Saya dan Ton menggotongnya ke tempat tidur. Sri sangat dekat dengan Ayah. Kehilangan Ayah bagi Sri seperti kehilangan nyawa sendiri, barangkali seperti itu. Saya takut sekali Sri bakal menyusul Ayah. Semalaman saya tunggui tidurnya, pikiran saya berputar-putar sekitar Ibu, apa benar Ibu telah melakukan pencurian selama satu tahun di tempat pekerjaannya. Ibu, yang jujur itu, telah melakukan pencurian? Ibu yang mengabdikan diri untuk melayani orang-orang sakit selama 15 tahun dengan penuh kesabaran, tanpa membeda-bedakan siapa pun, telah melakukan pencurian? Dari tiga kapsul sehari yang seharusnya disajikan kepada pasien untuk pagi, siang, dan sore, di antara sejumlah kapsul dan obat yang lain, Ibu mengantungi tambahan penghasilan yang tetap juga belum mencukupi untuk menghidupi lima anak, mengingat gaji Ibu hanya seratus ribu rupiah sebulan dalam pengabdiannya selama 15 tahun, biarpun ditambah gaji Ayah sekitar seratus dua puluh lima ribu rupiah. 

Pertanyaan dan jawaban yang kadang menegangkan di pengadilan, tuduhan dan tangkisan yang mengharukan, mewarnai sidang pengadilan Ibu. Kemarahan dan belas kasihan, jalin-menjalin dilontarkan para pengunjung kepada Ibu yang duduk tenang, kadang terlalu tenang, seperti suatu persiapan untuk menerima risiko yang sudah sewajarnya diterima yang dipersiapkan jauh hari yang tentu bisa menimpa siapa pun. Seorang pengunjung meneriaki Ibu. Jaksa penuntut menudingkan jarinya ke arah Ibu. Air mata saya mengalir menyaksikan Ibu yang tak berdaya, sekalipun punya pembela, sekalipun anak lelakinya hadir di dekatnya. Juga para saksi sangat memberatkan Ibu. Mereka dapat bercerita yang mempengaruhi hakim maupun pengunjung tentang cara-cara Ibu melakukan pencurian, yang kedengaran keterlaluan.

“Bagaimana kalau pasien mati akibat dikuranginya jatah obat yang seharusnya diminum?” sergah jaksa.

Ibu tidak menjawab. Atau Ibu tidak mampu menjawab. Air matanya deras mengalir, tanpa isakan. Saya menutup muka melihat Ibu yang kelihatan tersiksa. Ruang sidang berdengung. Pengunjung gaduh. Hakim mengetokkan palunya. Penjaga yang bersenjata berdiri tegak tak terpengaruh, seperti juga panitera yang sibuk dengan catatan-catatannya. Ketokan palu terdengar lagi berulang-ulang. 

“Ibu mengadukan diri bahwa selama lima belas tahun Ibu mengabdi, gaji hanya seratus ribu rupiah sebulan,” kata jaksa sambil menghampiri Ibu. “Tapi itu bukan alasan untuk melakukan penyelewengan.”

Ibu diam menunduk. Pengunjung diam. Ruang sidang lengang. “Banyak pegawai dengan masa kerja yang lebih lama dengan gaji yang lebih kecil dengan beban keluarga yang lebih besar, tetapi tetap tabah mengabdi,” lanjut penuntut.

Ibu diam menunduk. Pengunjung diam. Ruang sidang lengang. 

Rasanya, hari-hari sidang perkara Ibu merupakan hari-hari paling berat. Sebelum Ibu masuk penjara, bayangan beban berat hidup keluarga menggelantung di depan saya. Bagaimana saya harus menanggulanginya—pikiran yang sangat berat bagi saya ini—saya belum bisa membayangkan. Alhamdulillah, pikiran berat ini selalu berakhir dengan tidur. Hanya tidur yang bisa menyelamatkan saya. Sampai benar-benar Ibu masuk penjara dan kami selalu menengoknya dengan kiriman makanan atau buah-buahan sekedarnya. Namun, di luar dugaan, Ibu tak pernah makan kiriman itu. Juga jatah makanan penjara tak pernah disentuhnya. Kami dan para penjaga penjara sungguh tak bisa mengerti apa mau Ibu. Apakah Ibu sedang melancarkan mogok makan?

Sering Ibu diinterogasi. Tapi sungguh Ibu tak bergeming. Jangankan ngobrol dengan sesama orang penjara, menjawab pertanyaan para interogator pun tidak. Diam, ya, diam, itulah yang dilakukan Ibu dalam penjara. Apakah diam merupakan tameng Ibu? Sampai datang waktu Ibu ditempatkan di satu sel sendirian. Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan Ibu, tentu hanya Ibu sendiri yang tahu. Jika saya lihat ketika kami menengok selnya, Ibu kelihatan terbebani pikiran berat yang harus segera dipecahkan. Kepada kami pun Ibu tak mau berbincang-bincang, sampai membuat Si Kembar, Pipin dan Nining, menangis. Selalu setiap kali menengok, Si Kembar menangis. 

Untuk dapat berbincang dengan Ibu, saya coba datang sendirian menengoknya. Barangkali Ibu mau menemui kalau saya datang sendirian. Ternyata dugaan saya meleset. Ibu tetap membiarkan saya berkata-kata sendirian. Ibu duduk di atas dipannya menatap tembok dan menatap tembok. Sungguh persis patung. Bahkan gerakan dadanya yang menandakan tarikan napasnya sedikit pun tak kelihatan. Ibu kelihatan tak bernapas. Lihatlah matanya, mata itu tak berkedip. Saya coba mengorek keterangan dari penjaga, yang kemudian memberi tahu bahwa sejak Ibu dipindahkan ke sel itu keadaannya sudah seperti itu. Hingga ketika ketahuan Ibu melarikan diri, para penjaga merasa terkecoh. Sungguh suatu siasat yang jitu, kata seorang penjaga. Benarkah Ibu bersiasat seperti itu?

Sebelum jatuh sakit dan meninggal, Ayah sempat menengok Ibu sekali. Barangkali saja Ayah sangat malu oleh musibah ini. Kadang saya berpikir, orang yang sehat kemudian jatuh sakit karena sesuatu di luar dirinya, lalu meninggal, itu sama dengan bunuh diri. Tidak mungkin sebenarnya Ayah begitu mudah meninggal dunia hanya karena kesedihan. Dokter yang memeriksa Ayah mengatakan bahwa Ayah meninggal karena serangan jantung. Padahal Ayah tak punya kelainan pada jantungnya. Atau saya yang tidak tahu. Ah, pikiran saya yang tidak sepertinya ini, sebaiknya saya buang saja. Saya percaya, orang bisa meninggal karena sedih, karena malu, karena putus asa, karena bergembira yang berlebihan, karena cinta, karena jantungnya, karena hatinya, karena ginjalnya. Dan banyak lagi. 

Saudara-saudara kami, Pakde atau Paklik sekeluarga, yang ikut mengantar Ayah sampai ke tempat tidurnya yang terakhir, berdatangan kembali. Ada yang ingin mengasuh Si Kembar, ada yang ingin menyekolahkan Sri, ada yang ingin membawa Ton keluar Jawa. Tapi adik-adik ternyata tidak ada yang mau. Mereka tetap ingin tinggal satu atap dengan kakaknya. Ini membesarkan hati. Sekaligus menantang. Apakah saya mampu menghidupi mereka. Ini berat. Tapi apa mau dikata. Harus dicoba. Bagaimana kalau tak sanggup. Jangan pikirkan dulu. Lakukan saja sebisanya. Alhamdulillah, kue Gandasturi kami berjalan lancar. Ada kue, ada yang beli. Warung kami benar-benar tumpuan hidup kami satu-satunya. Kami masih tetap mampu menyekolahkan Si Kembar. Dari warung inilah kami sedikit-sedikit bisa menabung. 

“Mengapa para petugas tidak mau berterus terang tentang cara Ibu melarikan diri?” kata Sri, menjelang tidur di antara Si Kembar yang sudah pulas sejak sore. 

Ton kelihatan tidak suka mendengar pembicaraan tentang Ibu. Ia melengos sambil membalikkan tubuhnya dan menutup mukanya dengan selimut. 

“Kelihatannya memang ada sesuatu yang dirahasiakan,” sahut saya sambil menyeruput kopi di meja kamar tidur tempat Ibu biasa menaruhkan kain-kain jahitannya. “Kelihatannya mereka juga tidak habis mengerti. Tetapi ketidakmengertian itu tidak pernah mereka kemukakan.”

Setelah empat puluh hari Ibu di penjara, pada keesokan harinya Ibu melarikan diri. Beberapa surat kabar memberitakan pelarian itu di halaman pertama. Dan para aparat keamanan pelit sekali memberi keterangan pers. 

“Mengapa Ibu tidak menengok kita?”

“Barangkali takut ketahuan.”

“Apakah Ibu tidak mau bertemu kita lagi?”

“Saya tidak tahu.”

“Apa kita bisa melacak Ibu?”

“Seluruh saudara kita di Jakarta dan di Jawa Tengah sudah didatangi para petugas dan saudara-saudara kita juga ikut mencari Ibu.”

“Apakah Ibu lebih baik di penjara atau lebih baik bersembunyi di luar?”

“Saya tidak tahu.”

“Apakah Ibu akan tertangkap kembali?”

“Biasanya orang yang melarikan diri dari penjara dapat ditangkap kembali.”

Esoknya, suratkabar-suratkabar memberitakan tentang ratusan obat yang ditarik dari peredaran karena berbahaya. Di antaranya termasuk obat yang dicuri Ibu. Obat-obat itu sudah lama dikonsumsi begitu bebasnya oleh seluruh lapisan masyarakat. Mendengar hal ini hati saya menggelegak. Saya tidak tahu kenapa. Apakah saya sedang mencari pembenaran untuk kelakuan Ibu itu. Entahlah. Seandainya saya bisa bertemu Ibu dalam waktu dekat ini. Ah, tapi, saya rasa Ibu juga sudah mendengar berita ini.

Pada hari Jumat yang cerah, angin bertiup keras, kami berangkat untuk berziarah ke kuburan Ayah. Apakah saya akan membisikkan ke telinga Ayah yang terbaring di bawah sana tentang ratusan obat yang ditarik dari peredaran itu? Hari Jumat warung kami memang tutup setiap minggunya, supaya bisa khusyuk beribadah. Insya Allah.

Pada Jumat pagi itu cukup banyak juga yang berziarah ke kuburan masing-masing keluarganya. Kami berlima menuju ke gundukan kuburan Ayah dengan beberapa bungkus kembang yang kami tenteng di dalam bungkus plastik. Pagi itu Sri tak banyak ngomong. Ton lebih banyak menggerundel. Sedang Si Kembar nampak bergembira dengan meloncat-loncat. Sesampai di gundukan tanah kuburan Ayah, bukan main terkejut kami karena di sisinya terbujur gundukan tanah kuburan baru. Kembang-kembang yang ditaburkan di atasnya masih segar yang merata sampai ke gundukan kuburan Ayah. Serta-merta Sri menghambur ke papan nisan untuk mengetahui siapa yang dikuburkan di sisi Ayah itu dan berteriaklah Sri menangis sejadi-jadinya mencakar-cakar ingin membongkar kembali tanah gundukan itu sambil menjerit-jerit:

“Ibu! Ibu! Ibuuuuu!”

Ton dan saya terpaku berdiri, seluruh tubuh gemetaran, jantung berdentang-dentang lebih keras dan lebih cepat, keringat deras mengalir, tangan mencengkeram Si Kembar yang menangis ketakutan. 

Tangerang, 19 Juni 1992


Danarto. Apa pun yang ditulis, cerpen sebenarnya hanya omong kosong. Kenapa ia ditulis terus? Karena ada saja orang yang ingin membaca perihal omong kosong. Dan itu sedikit banyak mendatangkan kegembiraan. Asal masih bisa bergembira, itu sudah cukup. Danarto percaya itu. (Matra, Agustus 1992)


***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Danarto
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Majalah Matra" edisi Agustus 1992



0 Response to "Gandasturi"