Hujan Pertama - Lonceng Mereka - Kopi | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Hujan Pertama - Lonceng Mereka - Kopi Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 04:48 Rating: 4,5

Hujan Pertama - Lonceng Mereka - Kopi

Hujan Pertama 

Keheningan terpapar begitu luas
dan panjang.

Di luar,
pekarangan rumah menjelma halaman,
sebuah buku purba
entah siapa
penulisnya.

Dan rerintik hujan itu,
rintik-rintik hujan pertama,
menjelma kata-kata
jajaran kata yang tumpah dari
langit.

Frasa demi frasa pun terbentuk
kalimat demi kalimat tersusun
paragraf demi paragraf berjajar
di tanah,
hamparan yang kini basah.
Dan kilat, petir
juga guruh dan guntur
menjelma tanda baca:
koma, titik, titik-koma,
tanda seru,
tanda tanya.

Dan kau, aku
juga mereka
hanya bisa bertanya
apakah cerita yang sedang dikisahkan,
di sana?

Lonceng Mereka 

mengerumuni mayat perempuan yang
tergantung di ruang tengah itu. Dua orang lelaki
mendekat: seorang mendekap dan mengangkat
tubuhya, seorang yang lain berusaha melepaskan tali
yang menjerat lehernya. Namun tali itu ternyata begitu
kencang, hingga tak mungkin diudar dengan tangan.
Kedua lelaki itu lalu melepaskan mayat perempuan itu,
turun, mencari pisau, mungkin gunting.

Di sela keheningan, dari kerumunan, sebuah bisik
anak kecil mengusik:
“Dia bergoyang. Dia bergoyang.
Dia bergoyang-goyang seperti lonceng.“

Ya, tubuh itu menggantung seperti kelonengan
sebuah lonceng:
Berayun, bergoyang,
menyebarkan kabar:
Entah panggilan
Entah seruan
Entah peringatan.

Kopi 

Hitam seperti malam
ah, betapa sering terdengar.

Pahit seperti kematian
ini juga kerap dituliskan.

Manis seperti cinta
betapa lazim diucapkan orang.

Panas seperti neraka
sejak kecil kau telah mendengarnya.

Telah lama, dia mengerdil
dalam baju usangnya.
Begitu sering dia menanggung malu
karena celana yang buluk
dan berdebu.

Kini, dia ingin
muncul dengan jubah lain
dengan cadar,
tudung atau kerudung,
yang belum pernah dia kenakan
sebelumnya.

Ingin dia kembali cantik
dan menarik
dengan pakaian baru
dengan dandanan
yang membuat parasnya
semakin ayu
agar aku dan kau,
juga mereka,
bisa mengaguminya lagi
seolah melihatnya
untuk pertama kali
seperti dulu
sebelum waktu dan
matahari
membuatnya kembali kusam
dan kuyu.


Zaim Rofiqi, menulis puisi, cerpen, esai, dan menerjemahkan buku. Buku kumpulan puisinya: Lagu Cinta Para Pendosa (Pustaka Alvabet, 2009); buku kumpulan cerpennya: Matinya Seorang Atheis (Penerbit Koekoesan, 2011). Buku puisi terbarunya berjudul Seperti Mencintaimu (Q Publisher, 2014).Achmad Faqih Mahfudz, lahir di Buleleng, Bali, 14 Maret 1987. Alumnus Jurusan Ilmu Alquran dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zaim Rofiqi

[2] Pernah tersiar di surat kabar "Media Indonesia" Minggu 19 Juni 2016

0 Response to "Hujan Pertama - Lonceng Mereka - Kopi"