Jendela | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Jendela Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 22:26 Rating: 4,5

Jendela

JIKA kalian hendak ke Teluk Awur, mari mampirlah sejenak ke rumahku. Letak rumahku searah ke sana, hanya tinggal belok ke Gang Melati. masuklah ke situ, amati rumah yang berjubel, berjalanlah sampai ke ujung gang. Jangan khawatir, sejak jalannya dicor semen, sepeda motormu tak mudah terkotori lumpur asin. Tapi, jika kau bawa mobil, parkirlah di mulut gang. Nah, rumahku ada di ujung gang itu, tepat di pinggir laut. Kita bisa ngobrol apa saja di sana, di teras rumahku, sambil memandangi laut lepas. Tentang Pungkruk, tentang pembangkit listrik tenaga nuklir yang sampai hari ini hanya menjadi kabar angin, tentang Karimun, tentang para bos mebel, atau tentang berita apa saja yang masih hangat di kotaku.

"ARIII... ambilkan jarum!" Itu suara emakku. Suaranya memang keras dan cempreng. Beliau hilang kelembutannya semenjak bapak menghilang, bertahun silam. Laut tak pernah mengembalikan sosoknya, bahkan juga perahunya.

Kadangkala aku bersyukur bahwa tahun-tahun kemarin masih bisa turut menjaga rumah tinggalan bapak ini. Lemari jati yang kubelikan terlihat masih kukuh meski bagian bawahnya pernah tergenang rob. Beberapa baju Ari, Ahla, dan Sol yang dulu kubelikan juga masih layak pakai. Kuhaap emak tak pernah melupakan jasa-jasa kecil itu. Seperti halnya ketiga adikku yang masih berharap aku bisa keluar rumah untuk cari uang lagi. Aku benar-benar kesepian di dalam kamar.

Malam itu, aku sengaja menyuruh Ari membeli kacang rebus dari penjual keliling dan membawanya ke dalam kamarku. Itu adalah cara terbaik untuk memanggil keramaian ke dalam kamarku. Beberapa hari lalu, aku sempat tak berani melakukan ini dan sedikit menjauh dari mereka.

"Tidak menular, jangan khawatir, asalkan tidak terjadi kontak cairan tubuh," jawaban itu kuyakinkan berkali-kali ke perawat yang menanganiku.

Namun, ada yang lebih kuinginkan dari hal itu, yakni ketika emak mampir ke dalam kamarku.

"Mayatnya sudah ditemukan, Mbak," ujar Ari dengan antusiasnya. Mitos bahwa kacang bisa menumbuhkan banyak jerawat tak berarti sama sekali buatnya. Aku pernah menggodanya dengan kata 'pacar'. Dia bilang ingin kerja dulu. Jawaban yang membuatku sedikit tenang saat memikirkan masa depan mereka.

"Di mana?" tanyaku.

"Di dekat rumahnya Midin. Karena sudah gembung, sempat disangka bangkai kambing oleh embahnya Midin," sahut Ahla cepat.

"Katanya hampir saja dihanyutkan ke tengah laut....," Sol tak mau kalah.

Cerita tentang perahu yang terbalik saat bertolak ke Karimun kembali memenuhi kamarku. Lima hari silam, saat laut sedang buruk-buruknya dan Emak memutusan berburu pekerjaan apa saja ke kampung-kampung sebelah.

"Semoga saja hantunya, nanti malam, sudah pergi," ujar Ari lagi. Kedua matanya tak lepas dari jendela kamar yang sengaja belum kututup.

Kulihat mata Sol berkelana ke langit-langit kamar, "Pokoknya aku masih ingin tidur dengan Emak." Ia bergidik.

"Kemarin malam, aku masih mendengarnya," susul Ahla. "Jam delapan malam. Aku tak bisa tidur sampai subuh."

Kalimat itu membuat Sol langsung merapat kepadanya.

Tiba-tiba ada sedih menyelinap saat mataku menemukan adik perempuanku yang satu ini. Sepertinya, dialah yang paling terpengaruh. Membuatku sedikit menyesal karena telah menceritakan hal buruk kepada mereka. Tapi, lagi-lagi kubayangkan, andai cerita ini tak ada, tentu sepi akan semakin menyiksaku. Hanya jendela yang hadap ke laut itu yang bisa membebaskan.

Saat malam larut membuat jiwa-jiwa yang masih kecil itu nyenyak sembunyi di bawah selimut dan jendela menjadi sesuatu yang mereka takuti, tidak denganku. Masih kuingat dengan baik ketika emak masih senang mampir di tepi pembaringanku. Hampir setiap malam. Ia membawa bermacam-macam cerita yang sungguh ajaib. Cerita-cerita yang mampu mengubah pemandangan di balik jendela yang sebenarnya hanya ada sampah, bangkai, beling, bau busuk, dan cerita-cerita tentangga di sana. ENtah ramuan apa yang digunakan emak.

Suatu malam, aku pernah melihat serombongan penunggang kuda yang melintasi laut, menuju satu titik yang aku yakin itu pastilah kediaman Nyi Roro Kidul. Pakaian yang mereka kenakan indah sekali. Pakaian zaman kerajaan, seperti yang pernah diceritakan emak. Mereka juga menenteng aneka senjata, semacam tombak, busur, pedang, dan tameng. Aku mematung melihat iringan-iringan itu. Takut jika mereka menoleh ke arah jendela ini lalu datang menjemputku.

"Itu Nyai Roro Kidul sedang mantu. Jika sampai diambil mereka, kau akan dijadikan pelayan seumur hidup. Kau mau?"

Aku menggeleng keras. Merinding membayangkannya.

"Kau takkan bisa lagi bertemu emak bapak. Kau akan diajak tinggal di dalam laut sana," lanjut Emak.

Hampir setiap malam Jumat, aku mendengar gemerincing kuda dari balik jendela itu, juga suara hantu-hantu orang yang tenggelam di laut. Konon, arwah-arwah mereka kadang merupa perahu-perahu yang pada malam-malam tertentu menampakkan diri di lautan lepas.

***
SAAT itu, umurku sudah lima belas. Orang-orang di kampungku sedang dibuat gelisah oleh kabar akan dibangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Bagaimana jika itu nanti bocor atau bahkan meledak? Tentu akan ikut matilah kami semua. Peristiwanya terjadi tepat pada hari ke-40 setelah hilangnya bapak. Malam itu, bapak mengunjungiku, mengajakku berlayar. Tapi, subuhnya, aku diketemukan oleh Dhe Marno--anak Mbah Margono--sedang berkecipak berjalan di pantai samping perkampungan kami. Kaki kiriku berdarah terkena pecahan piring. Pantai itu memang kotor. Orang-orang kampungku suka buang sampah ke sana. Tapi, jangan khawatir. Jika kalian memang penyuka laut, tentu hal itu bukan masalah besar kan? Toh kalian bisa mencari titik lainnya.

Setelah kaki kiriku sembuh, anehnya, ketakutanku akan hantu mulai sirna. Setiap malam Jumat, aku bahkan selalu menantang diri sendiri untuk melihat iring-iringan Nyai Roro Kidul, dengan harapan mereka sudi membawaku serta. Aku ingin dipertemukan dengan bapak. Aku kangen sekangen-kangennya. Aku yakin, bapak telah diculik rombongan Nyai Roro Kidul. Tapi, keinginan itu tak pernah wujud. Iring-iringan Nyai Roro Kidul hilang secara misterius.

Aku mulai melupakan jendela itu ketika emak mulai mengeluh soal uang. Ketiga adikku sedang dalam masa pertumbuhan. Bukan hanya soal makan, kata emak, sekolah juga penting agar kami tak senasib dengannya. Dengan bekal pendidikan yang kurasa sudah cukup untukku, aku pun mulai sibuk mencari pekerjaan.

Dengan ijazah sekolahku, sangat sulit mencari pekerjaan yang menyenangkan. Dari buruh menjahit, kacung rumah, sampai perawat orang sakit, pernah kulakoni. Hingga akhirnya, oleh Warni--temanku semasa masih kacung di sebuah rumah bos mebel--, aku diperkenalkan dengan sebuah tempat bernama Pungkruk.

"Apa enaknya?" kupertanyakan kata 'enak' yang dikatakan Warni kepadaku.

"Setidaknya kamu enggak akan kelaparan!" Dia meyakinkanku. Aku memang sudah bosa jadi babu.

**
HAL pertama yang membuatku senang dengan Pungkruk adalah pantainya. Tak seorang pun tahu--bahkan Warni sekalipun, jika setiap jeda waktu pagi menjelang siang aku selalu menyisihkan waktu untuk menengok laut. Aku masih berharap bapak pulang meski hanya jasadnya sekalipun.

Apakah menurut kalian aku terlalu konyol? Terhadap para pengunjung yang umurnya tak lagi muda pun kadang aku masih termakan halusinasi. Aku berharap, slaah satu di antara mereka adalah bapak, betapapun aku sadar, bapak takkan mungkin tersesat ke tempat semacam itu.

Aku bertambah kerasan ketika sadar bahwa di tempat itu uang begitu mudah didapat. Lambat laun, aku juga semakin kenal siapa itu lelaki. Gara-gara para lelaki itulah, dengan alasan lembur, aku kerap membohongi emak. Aku sempat hampir jatuh cinta dengan seseorang. Tapi, setelah berpikir bahwa itu akan sangat merepotkan, akhirnya kubunuh perasaan itu sesadar-sadarnya. Aku mulai belajar mengelola cinta, sama seperti ketika mengelola uang. Dua-duanya sama penting.

Selama dua tahun di Pungkruk, emak tak pernah tahu pekerjaanku seperti apa. Aku jarang pulang ke trumah. Aku berbohong bahw apabrik mebel kerap lembur. Capek jika harus bolak-balik ke rumah. Lagi pula, aku tak lagi takut dengan gelap malam, hantu, dan semacamnya. Aku tahu, mereka tak lebih mengerikan daripada para lelaki ketika sudah terbebat nafsu birahi. Tanpa kusadari, aku bahkan telah memiliki keberanian sejauh itu. Aku telah memiliki beragam cara untuk memanen uang dari pelbagai tipe lelaki.

**
BATUKKU semakin parah. Meski kata perawat penyakit utamaku bukanlah batuk, tapi gejala itulah yang kurasakan paling menyiksa. Tubuhku rasanya semakin tak karuan. Tapi, emak masih saja terlihat tak peduli dengan cerita tangisan dari arah laut yang membuat ketiga adikku langsung tak beranjak dari bawah selimut saat malam perlahan merangkak. Tangisnya yang terdengar lebih nyaring dari jendela kamarku. Emak bahkan hampir tak pernah lagi membukakan jendela itu untukku. Ia selalu hanya menanyakan kondisi tubuhku saat sesekali mengantarkan nasi ke dalam kamarku. Tak ada lagi cerita-cerita yang bisa mengajakku keluar dari rasa sakit ini. Sejak aku tak bisa lagi memberinya uang, sepertinya emak tak bisa lagi sekadar menyisihkan sedikit waktunya untuk bersantai.

Kabar mengenai penutupan Pungkruk aku dengar dari percakapan Dhe Marno dan Kang Peno saat memperbaiki jaring. Lantaran tubuhku yang tak kuat berlama-lama duduk di teras, tak kupedulikan lagi percakapan mereka selanjutnya. Lagi pula, seperti itulah percakapan kebanyakan lelaki jika menunya adalah Pangkruk. Kadangkala terdengar menjijikkan, padahal tak semua perempuan yang terperangkap di sana seperti itu.

Tiba-tiba saja, aku rindu ingin segera dipeluk malam. Sering kubayangkan ada yang mengetuk daun jendela kamarku dan lalu mengajakku pergi ke dunia jauh, bertemu bapak. Aku sudah bosan bohong kepada emak bahwa penyakitku bisa disembuhkan. Karena itulah, jika kalian hendak ke Teluk Awur yang sangat indah itu, mari mampirlah sejenak ke rumahku. Aku sudah tak betah kesepian.***

Kalinyamatan, Jepar, 2015.

Adi Zamzam, cerpenis; saat ini, bersama kawan-kawan, sedang aktif mengawal berdirinya sekolah kepenulisan 'Akademi Menulis Jepara.'

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Adi Zamzam
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Pikiran Rakyat" Minggu 5 Juni 2016


0 Response to "Jendela"