Kematian Hang di Payau Deli - Catur Volksraad Nusantara | Kliping Sastra Indonesia | Literasi Nusantara: Puisi, Cerber, Cerpen Koran Minggu
Kematian Hang di Payau Deli - Catur Volksraad Nusantara Reviewed by Kliping Sastra Nusantara on 03:43 Rating: 4,5

Kematian Hang di Payau Deli - Catur Volksraad Nusantara

Kematian Hang di Payau Deli 

1)
para tengku bersama hulubalang
barangkali juga angin keramat
selepas tumbuh musim berburu laba
jatuh dibabat penyusup bernafsu pengerat

babah dan tuan kota pandai menyimpan rupa
memetik-metik rancak gelegak ombak
dihempang di kubang melintang
memetiki kelong, merongrong parang garang
gedebum! sejak kerontang jadi arang
rumah panggung malu berkaki panjang
diserbu rayap-rayap gemerincing, berhati kering
petuah di tiang datuk dihempas berguling-guling
raungnya di raun-raun pantun

ikan-ikan gagal menanam silsilah
pulang di tengah musim
bersama arus-arus pembawa kepiting
dipalan dada tanjung
terusir ke seberang
punah di palung

2)
payau segera mengubur rupa
dibunuh berbatang-batang hantu perantau
dibawa pemuja musim khalwat
tenar sekarang bergelagat di baris pantai
cepat dan pandai mengisi pundi
menguras masa lampau sekukuh mpu
penghulu ikut terpukau
pemburu laut ramai-ramai diserbu racau
dirasuk pelarian hantu bakau
Hang pun terkurung
gagu di lorong lereng karang
berjaga tak segigih pasukan kekar pelebur debur
sia-sia menunggu peziarah bertandang

siapa orang kampung kagum memandang
kalau tak bisa berkacak pendekar
sejantan dua pemarang memuncak perang?
pendekar hanyalah nama
jika terhuyung membawa takdir
tinggal tulang bergelimang gamang
pelan-pelan dikikis habis gerimis tangis

pengakar itikad sepanjang lengan
kekal bermusim-musim menyekap perjalanan selat
menggantang cermat tiap ramapsan sebunting tandan
segagah armada bertaji maut, serakus gerigis bergelut
menyeruput kering air tubuh negeri
terkubur si buyung lupa berniat laksamana

3)
selagak-lagak lanun berguru di pangkal
tuan Demang ikut berakal dangkal
serupa koloni tumbuh bermuslihat nakal 
sepakat meliang-liang maksud menggoyang hikayat
sungguh tak disangka pendek tirakat
nakal berbisik-bisik mengguling Hang
menggulung jasadnya serahasia payau hilang
lihat, mesti banyak serempak doa berkalang
dalam sekejap tak ada kubur penanda maut dapat kau susur
ombak terperangkap tak mau menunjuk sisa bencana
di tanjung yang kau pikir asal hikayat
hanya kabar-kabar burung mati mengapung

penghulu kampung takkan membawa sesaji
tanda sepakat menyanjung ruh jembalang laut
menghujat Hang dan laut sekedar penepi
pecahan sekutu ombak tak setia di musim maut
penyebab lambung sekampung borok berkarat
tak patut disanjung, sebab menggiring
hanya sekerat berkat dapat dijerat
di muara ramai pengerat

pada koloni menggangtung pundi berikat-ikat
tuan demang, penghulu dan sekampung sungguh kepincut
genap menyerah sembah, mau dipasung mengusung-usung mimpi
gadis-gadis penunggu emas pun rela menanggal cemas
bosan menunggui Hang berjuang tiba
pulang paling merayu di pantun purnama

Catur Volksraad Nusantara

menabalkan akal, duli mengangkat kuli
raja tuli memungut siasat Sisah
percaturan satu serdadu dituntun jadi tujuan
tujuh bidak jelata sudah kurban membuka jalan
dua gajah mati di sisi petak satu dan delapan
dihimpit benteng idaman di langkah sembunyyi tiran

delapan tumbal gugur satu-satu
menggenapi sejarah jangan rubuh masa lalu
tak satu sempat menagih-nagih
janji semusim upah

di atas dua barak rubuh, dikubur para serdadu
tumbuh kastil penggiring penjuru
bidak tanggal belulang dikurung waktu
raja berkilah itu menara dituju
jelma kemakmuran upah serdadu
dua tempat raja dan ratu bercumbu
di dua persil menteri perdana memetak ragu
bermain umpet dan dadu
menakar-nakar peluang tak tentu
dikawal dua jago tega sekebal batu penjuru
berkuda inkarnasi bayangan

tak nampak murung mesti dibedaki
mata berlinang tak melarung daki
hitam-putih di petak tampak tumbuh serasi
sudah punah dataran hijau-kuning
dua raja di luar kastil akur bermain seluncur kalbu
mengulur-ulur waktu
dalam perang tak kalah-kalah menunggang ragu
kemenangan tak jadi mangsa diburu-buru
dipakai cincai separo-separo



Bresman Marpaung, lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, 15 April 1968. Lulusan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Kini tinggal dan bekerja di Medan.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bresman Marpaung
[2] Pernah tersiar di surat kabar "KOMPAS" edisi Sabtu 4 Juni 2016

0 Response to "Kematian Hang di Payau Deli - Catur Volksraad Nusantara"